Sentuhan itu memang ringan, namun nyatanya ia bisa menggetarkan seluruh jiwa dan raga Vero dengan debaran jantungnya yang berpacu bertalu-talu, tubuh yang rasanya gemetar pelan, pikiran yang terus menuju pada satu hal sama secara terus menerus, serta sensasi unik dari tubuh yang seakan dialiri listrik.
Sederhana memang ucapan pujian dari Sassa yang terdengar oleh Vero tersebut. Bahkan bisa dibilang itu bukan benar-benar sebuah pujian. Hanya ungkapan hati yang sedikit menyentuh hati. Bagi orang lain mungkin saja ungkapan itu tidak ada artinya, tapi bagi Vero jelas itu semua sangat berarti.
“Dianggap sebagai sumber keberuntungan olehmu, bukankah artinya kamu membutuhkan aku agar bisa tetap beruntung!” benak Vero kemudian dengan hatinya yang berbunga bak taman bunga di musim semi.
Merasa dibutuhkan oleh wanita yang ia cintai, tentu saja sudah membuat Vero bahagia luar biasa. Arti kata lainnya, Sassa mengakui keberadaan Vero di sisinya. Menjadi salah satu pria yang bisa diandalkan oleh Sassa. Meski begitu, ternyata Vero sama sekali tidak bisa menyembunyikan tindakan canggungnya itu. Ia malah tanpa sengaja menginjak rem mobil dan memperlihatkan sisi paniknya. Namun, di saat genting itu pula tangan hangat Sassa menyentuh kulitnya.
Tangan hangat yang lembut dan kecil itu justru seakan tidak hanya menyentuh kulitnya saja melainkan juga menyentuh hati Vero. Seiring dengan sentuhan ringan Sassa, hati Vero juga ikut berdebar dibuatnya. Lalu, yang paling membuat jantung Vero seakan hendak meledak adalah tangan Sassa yang tidak dilepaskan meski mobil tersebut sudah kembali melaju. Membuat Vero bahagia dan juga kalut dalam waktu yang bersamaan.
“Dia tidak melepasnya!”
“Bagaimana ini?”
“Aaah, aku gugup sekali!”
Vero bergejolak dengan seluruh isi pikirannya yang kalut. Ia berdebar, senang dan juga gugup di waktu yang bersamaan. Hasratnya pun tidak bisa berbohong, Vero benar-benar sangat menyukai momen tersebut.
“Tuhan, bolehkan aku serakah?”
Rasanya saat itu juga Vero ingin waktu bisa berhenti dan menikmati saat indah bersama dengan Sassa. Ini adalah pertama kalinya Sassa yang menyentuh dirinya terlebih dahulu, meski sebenarnya sebelumnya Vero juga canggung menyentuh Sassa. Tapi, selama ini tidak pernah ada sentuhan yang memang tidak penting seperti saat ini.
“Tidak-tidak, ini justru sentuhan yang sangat penting!” menjeda sendiri isi pikirannya sambil tersipu malu, ia menggelengkan kepalanya dengan penuh keyakinan. Meyakini bahwa memang benar bahwa sentuhan kali ini dilakukan memang hanya untuk saling menyentuh bukan karena alasan lain yang jauh lebih kuat lagi. Buktinya, Sassa masih terus memegang tangan Vero sampai sekarang dan itu benar-benar membuat Vero kalang kabut.
“Tangannya lembut, hangat, dan jemarinya benar-benar indah!”
“Aduh, bagaimana ini. Aku jadi ingin menggenggam tangan itu dengan erat!”
Hampir gila dengan isi pikirannya yang terus semakin liar. Sungguh, Vero justru salah tingkah dengan sentuhan mendebarkan tersebut. Ia bingung harus apa atas tindakan Sassa saat ini, tangan yang digenggam oleh Sassa itu membuatnya hanya bsia mematung. Ia bahkan tidak berani bergerak agar tangan Sassa tidak beranjak dari punggung tangannya dan membuat waktu saling menggenggam mereka jauh lebih lama lagi.
Sesekali Sassa justru melihat Vero yang menahan napasnya agar tidak mengusik genggaman tangan tersersbut. Lantas, Sassa yang melihat tingkah menggemaskan dari Vero itu pun kemudian mengatakan hal yang rasanya bisa langsung membuat Vero pingsan di tempat.
“Tidak akan aku lepaskan. Jadi, menyetirlah yang aman dan bawa aku ke masa depan yang indah!”
Keadaan berbalik untuk saat ini, Vero yang biasanya menggoda Sassa kini justru digoda oleh Sassa. Tapi yang lucunya adalah reaksi Vero yang sama saja dengan Sassa, malah jauh lebih buruk lagi dari kecanggungan yang biasa Sassa tunjukkan. Vero jauh lebih terlihat canggung dan kikuk, ia bahkan sekali lagi langsung mengerem mendadak mobil mereka. Untung saja mereka memang sudah tiba di tempat tujuan dan tepat saat mobil tersebut hendak di parkir. Namun, itu cukup membuat guncangan luar biasa saat Vero menginjak rem tersebut dengan tiba-tiba. Guncangan yang membuat kepala Sassa nyaris terbentur dan tubuhnya juga lebih condong ke depan.
“Ah, maafkan aku.”
“Kamu sih, bercandanya kelewatan!”
Vero yang cukup panik itu langsung mengusap perut Sassa tanpa permisi, malah mungkin tanpa Vero sadari jika telapak tangannya sudah berada di perut Sassa. Ia hanya mengusap perut itu dengan ekspresi cemas di wajahnya dan sekali lagi memastikan kondisi Sassa yang baik-baik saja atau tidak.
“Kamu tidak kenapa-kenapa, kan?”
“Hmmm.. perutnya tidak sakit?”
“Tadi itu guncangannya pasti parah banget. Untung saja kamu memakain sabuk pengaman di mobil.”
Kepanikan Vero terus merekah, menyisir seluruh tubuh Sassa dengan kedua matanya. Memastikan semua tetap aman dan tidak ada hal buruk yang terjadi.
“Ah, kalau kamu mual atau perutnya sakit, bilang ya! Agar kita bisa memeriksakannya ke dokter langsung!”
Penuh perhatian Vero terus mengomel tentang banyak hal, ekspresi sesal pun terlihat jelas di wajah Vero, ia malah berulang kali mengatakan bahwa ia tidak sengaja mengerem mendadak seperti itu dan membahayakan Sassa untuk kedua kalinya.
Wajah Vero benar-benar pucat, ia terlihat sangat cemas, matanya sibuk terus menyisir tubuh Sassa. Sampai mungkin, Vero sendiri tidak sadar akan dirinya yang saat ini terlihat begitu panik.
“Sassa, lain kali jangan bercanda ketika sedang menyetir. Bahaya!”
“Kalau kenapa-kenapa nanti bagaimana?”
Karena masih dalam keadaan panik dan cemas dengan kehamilan Sassa, tanpa Vero sadari lagi, ia malah semakin mengusap perut Sassa dengan tangannya yang lebar dan bidang tersebut, lalu Sassa pun menyambut tangan tersebut. Mendekap tangan itu di perut Sassa dengan kedua tangan Sassa menahan tangan Vero di perut tersebut.
“Aku tidak apa-apa, Vero!” ucap Sassa lembut yang seketika itu juga membuat Vero tersentak, malu, memerah dan kuncup seketika. Bak tanaman putri malu yang baru di sentuh.
“Eh!!!”
Saat itu juga Vero baru sadar dengan apa yang ia lakukan pada Sassa. Tangan itu sudah di perut Sassa dengan nyaman, menemukan kedamaiannyanya dan mungkin terkubur dalam kebahagiaan. (Etis, bukan seperti itu) maksudnya karena merasa sangat malu dan tidak tahu harus berbuat apa. Vero rasanya ingin segera menggali lubang yang dalam dan bersembunyi di sana. Ia baru menyadari telah berbuat tidak sopan pada Sassa. Menyentuh perut Sassa tanpa izin, padahal dia bukan siapa-siapa untuk Sassa.
“Ma-maafkan aku lagi!”
Suara Vero sudah benar-benar serak, ia malu bukan main. Lalu, parahnya lagi saat Vero meminta maaf. Sassa malah mengatakan hal yang kembali membuat Vero lebih baik pingsan saja di saat itu juga, sangking terkejutnya ia akan ucapan dari Sassa tersebut.
“Jangan meminta maaf!”
“Kamu tidak salah kok, bila menaruh perhatian pada anakku!” kata Sassa dengan suaranya yang lembut. Lalu, ia mendelik, mendekatkan wajahnya pada Vero yang sudah mematung.
“Ah, siapa juga yang bercanda. Aku serius kok!”
Sassa tersenyum lebar membiarkan Vero terdiam seperti itu dan hanya bernapas sambil mengedipkan matanya saja dengan cepat. Tanpa bicara apa pun dan dengan tatapan mata Vero yang seakan mencoba mencerna apa yang baru saja Sassa katakan.
“Tu-tunggu! Serius yang mana, nih?” tanya Vero, masih dengan ekspresi bingung di wajahnya itu.
Vero yang penasaran itu mencoba menerka-nerka apa yang dianggap serius oleh Sassa. Tentang kondisinya yang baik-baik saja saat ini, tentang serius untu, memaafkan tangan nakal Vero yang sudah ada di perut Sassa sedari tadi dan malah sampai sekarang masih menyentuh perut Sassa, atau karena alasan lain yang Vero sendiri tidak berani untuk menyimpulkan.
“Mungkinkah, kamu serius saat mengatakan bahwa aku boleh membawa Sassa ke masa depan yang indah?”
Apa pun yang ada di dalam pikiran Vero, tampaknya tidak ada niatan dari Sassa untuk mempertegas mana bagian yang ia anggap serius. Sassa justru menikmati setiap hal kecil yang terlihat dari ekspresi terkejut Vero yang menggemaskan itu. Vero sendiri bagai buih soda yang masuk ke dalam mulut, meledak tanpa aba-aba, menyengat dengan riang dan memberikan sensasi unik penuh kesegaran.
Bisa dibilang lagi, menurut Sassa seluruh tindakan tidak sengaja yang Vero lakukan sudah bisa menunjukkan seperti apa sosok Vero yang sebenarnya. Mana ada orang yang tidak tulus mau mencurahkan seluruh kasih sayang dan perhatian secara spontan seperti itu. Justru, tindakan langsung dari Vero yang tidak ia sadari itu lah, yang membuat Sassa yakin akan ketulusan dari Vero. Sebuah ketulusan yang sebenarnya tidak ia dapatkan bahkan dari suaminya sendiri dari ayah kandung anak yang ada di dalam kandungannya.
Bersama dengan keheningan dan kebingungan yang masih Vero rasakan. Sassa kemudian terdengar sedang menggumamkan sesuatu. Sebuah hal yang membuat Vero benar-benar semakin terkejut lagi.
“Bila aku benar bercerai, apa benar aku boleh datang padamu?”
Pertanyaan itu hanya terdengar samar karena suara Sassa yang memang pelan. Lantas, setelah beberapa detik keheningan tercipta, Sassa yang masih memegang tangan Vero di perutnya itu langsung melepaskannya dan turun dari mobil begitu saja. Meninggalkan Vero yang masih kaku di dalam mobil.
Tidak terhitung jumlahnya Sassa mengejutkan Vero hari ini. Kali ini pun, hal itu malah menjadi misteri bagi Vero. Seluruh hal ambigu yang terjadi membuat Vero benar-benar sulit untuk mengendalikan dirinya.
“Sassa, jangan buat aku tidak bisa menahan diri!”
“Aku akan melukaimu jika seperti ini!”
Naif dan penuh kegilaan Vero sungguh nyaris pada batas dirinya yang mendambakan sosok Sassa. Ia pun mendengus perlahan, menatap hampa ke luar kaca mobil dan dengan desah napas beratnya. Vero kembali mengeluh, “Ah, dia benar-benar membuatku ingin menjadi pria yang serakah!”
Sungguh, rasanya Vero ingin mengejar Sassa saat ini, menariknya dengan cepat dan memeluk tubuh mungil itu dengan erat. Ia ingin memaksa Sassa untuk menjelaskan apa maksud dari ucapannya itu, Vero sangat ingin mengatakan bahwa ia jatuh cinta pada Sassa, bahwa ia mencintai Sassa dengan segenap hatinya. Bersama seluruh perjuangan yang pernah ia lakukan demi bisa memantaskan dirinya untuk bisa bersanding dengan Sassa.
“Huuuft.. tapi, aku tidak bisa seperti ini. Aku harus bersabar.”
“ Sadarlah Vero, kamu tidak boleh merebut istri orang lain.” Sambil menampar kedua pipinya, Vero mencoba menyadarkan dirinya kembali.
Vero harus bisa menempatkan dirinya dengan baik jika ia memang ingin tetap berada di sisi Sassa nantinya. Ia tidak boleh menggoyahkan hati Sassa yang sedang sensitif.
“Sassa seperti ini pasti karena sedang hamil.”
“Katanya wanita hamil memang sering sensitif dan malah ada yang bilang jadi benci sama suaminya, atau bertingkah aneh yang sulit untuk dimengerti!”
Yakin dengan pendapatnya itu, Vero berusaha untuk menepis keganjilan yang ia dapatkan dari Sassa. Namun, bila Sassa memang sampai Sassa bisa mengatakan hal seperti itu di hadapannya, artinya bisa saja itu menjadi sebuah hal yang seirus. Membuat Vero sedikit menyesal telah menggoda Sassa dengan cara seperti itu. Walau sebenarnya di dalam hati ia sangat senang saat Sassa sedikit menaruh hati untuknya. Tapi, saat ini rasanya itu saja sudah cukup. Vero benar-benar tidak ingin merusak hubungan Sassa dengan suaminya.
“Ah, gila!”
“Aku benar-benar ingin serakah.”
Vero pun membenamkan wajahnya di setir mobil, ia sangat ingin menangis karena luapan hatinya yang terus membara.
“Aku harus sadar! Ini tidak boleh dibiarkan lagi.”
“Semua sudah terlambat Vero. Sassa sudah menikah, dia bahkan sedang hamil. Kamu tidak punya lagi harapan untuk ada di sisinya!”
“Jangan membuat anak tidak bersalah menjadi korban karena keegoisanmu Vero!”
Bersama pikirannya yang kacau, Vero merasa bersalah telah mengganggu Sassa. Ia memang mencintai Sassa, tapi bila memang sudah terlambat mau apa lagi, ia hanya bisa menyerah dan berusaha untuk bisa berteman dengan Sassa. Berada di sisi Sassa sebagai seorang teman baik rasanya sudah cukup untuk Vero. Ia tidak ingin anak Sassa nanti malah menjadi korban, ia juga tidak mau Sassa di anggap hina bila berselingkuh dengannya dan merusak rumah tangganya.
“Sial, perjuangan kerasku sampai di titik ini, apakah jadi sia-sia?” Vero mengumpat untuk dirinya sendiri yang ternyata sudah sangat terlambat.
Putus asa dengan harapan besarnya yang langsung sirna, Vero menggigit ujung bibirnya. Rasa sakit itu benar-benar luar biasa, di saat Vero tahu bahwa wanita yang ia cari dengan segenap hati, wanita yang ia cintai dengan seluruh ketulusannya, sosok yang selalu ia bayangkan ada di masa depannya itu, justru telah menikah dengan pria lain. Lantas, meski ia bisa membuat Sassa mencintai dirinya, maka penghinaan lah yang akan Sassa dapatkan nantinya dan Vero tidak ingin itu semua terjadi.
“Hmm.. semoga saja Sassa hanya bercanda dan dia tidak punya niat untuk bercerai seperti yang ia katakan.”
“Sassa seperti ini, pasti karena dia sedang hamil!”
Hanya harapan itu lah yang menggantung di hati Vero sambil menatap ke arah telapak tangannya yang masih bisa merasakan kehangatan dari tubuh Sassa.
“Tuh, kan. Andai aku yang menjadi suaminya!”
Menggaruk kepalanya yang tidak gatal, Vero yang merasa bahwa dirinya sangat meneydihkan telah menggoda istri orang itu pun kini hanya meratapi nasibnya.
“Aku ingin memutar kembali waktu!”
Itulah yang terus keluar dari mulutnya yang kini tiba-tiba ikut di sahut oleh Lori.
“Sama aku juga ingin memutar kembali waktu!” seru Lori yang mendapati Vero berjalan dengan lunglai di parkiran.