Sebelum baca jangan lupa tekan love!
Happy reading guys!
~M E M O R I E S~
Ben kembali memejamkan matanya. Hal yang paling tak disukai oleh Dara sejak dulu, bahkan sejak hubungan mereka masih baik-baik saja. Saat Ben masih ingat segalanya tentang Dara dan justru menciptakan banyak kenangan manis setiap harinya. Kenangan yang pada akhirnya harus Dara simpan dan kembali muncul ke permukaan di saat-saat seperti ini.
Sejak dulu, Dara tak pernah suka saat Ben terlelap di perpustakaan sementara ia masih sibuk dengan tugas sekolah yang belum selesai. Dara tak pernah suka saat Ben terlelap lebih dulu saat keduanya menonton film di rumah, sementara film belum berakhir dan Dara harus terjaga sendirian. Karena gadis itu selalu benci kesepian, terlebih harus ditinggalkan oleh orang yang ia sayangi meski hanya perihal tidur.
"Ben, janji sama gue. Jangan pernah ninggalin gue buat tidur duluan."
Cowok itu mengerutkan dahi menatap Dara penuh tanya. Kenapa cewek ini selalu meminta hal yang nggak masuk akal? Lebih tepatnya terlalu sederhana.
"Kenapa? Kan kamu tau aku gampang tidur."
"Pokoknya jangan! Gue nggak suka ditinggalin dengan alasan apapun," potong Dara, cewek itu bahkan meletakkan telunjuknya di atas bibir Ben sehingga kerutan di dahi Ben semakin menjadi.
Cowok itu kemudian mengangkat kelingkingnya ke atas, membuat sepasang mata Dara menatapnya sesaat sebelum kemudian menyatukan kelingkingnya mereka berdua.
"Gue usahain, ya!" kata Ben sambil mengacak puncak kepala Dara dengan lembut.
Segaris senyum di bibir Dara semakin melebar, gadis itu kemudian merentangkan kedua tangannya ke atas memberikan kode pada Ben bahwa ia ingin dipeluk. Setelah tertawa pendek, Ben pun memeluk istri kecilnya itu dalam pelukan. Ia tak pernah tau bahwa berawal dari sebuah pertemanan dengan cewek mungil ini, akan membuat Ben bahkan berhasil memiliki Dara seutuhnya. Cowok itu merasa sangat bersyukur telah memenangkan hati Dara. Satu-satunya cewek ajaib yang pernah ia temui di muka bumi ini.
"Gimana caranya aku bisa ninggalin cewek paling ajaib kayak kamu, sih Ra?" kekeh Ben malam itu.
Setitik air mata jatuh meluncur dengan lancar dari kelopak mata Dara. Gadis itu masih memejamkan mata. Menutup wajahnya dengan kedua tangan setelah menatap wajah Ben yang terlelap cukup lama. Untuk saat ini, Dara hanya merasa tak yakin dengan pilihannya sendiri.
"Lo bohong lagi Ben. Lo bohong sama gue," gumam Dara.
Bisakah ia melepaskan Ben seperti apa yang baru saja terfikir dalam benaknya itu?
Sedangkan kenangan yang ia miliki bersama Ben terus menari-nari di setiap sudut kosong dalam diri Dara. Di setiap kesepian yang sejak tahun lalu lebih banyak Mendominasi kehidupannya. Bagaimana tidak?
Setelah kecelakaan yang menimpa Ben, Dara tak pernah lagi terikat dengan kegiatan kampus seperti sebelumnya. Tak pernah lagi pergi keluar bersama teman-teman satu angkatannya. Cewek perang yang pada dasarnya tak bisa diam itu mendadak lebih suka menyendiri, Dara bahkan keluar dari ekskul jurnal di kampusnya. Padahal semua orang tau Dara lah yang paling berminat dan paling menonjol dalam kegiatan itu. Namun, secara tiba-tiba, Dara menyatakan bahwa ia mengundurkan diri dari ekstra yang sudah sempat membesarkan namanya itu.
Setelah hari itu yang bisa Dara lakukan hanyalah mengamati Ben dari kejauhan, menjaga jarak dan terus menjaga dirinya sendiri agar tak bertindak gegabah dengan mendekati cowok itu meskipun Dara setengah mati merindu.
Lantas apakah perjuangan Dara benar-benar harus berhenti sampai di sini saja? Atas semua rasa sakit yang pernah ia terima dan rasakan sendiri, apakah gadis itu harus mundur begitu saja?
"Mm-maaf, Ra."
Sekali lagi, hanya karena kalimat itu Dara merasa galang. Pasalnya Dara sangat yakin bahwa kalimat itulah yang diucapkan Ben saat cowok itu kembali terjatuh tak sadarkan diri.
Masih ditatap wajah Ben yang terlelap dengan tenang di atas brankar. Cairan infus milik Ben malam itu tersisa setengah, kata Dokter Gito besok Ben sudah boleh pulang. Sedangkan Dara? Meski sejujurnya ia sudah boleh kembali ke rumah untuk segera beristirahat di rumah, tapi ia masih memutuskan untuk tetap di rumah sakit demi mengawasi Ben tanpa ketara.
Dara nggak bisa!
Cewek itu sudah terlanjur mencintai Ben dengan sepenuh hatinya. Sehingga Dara hanya bisa kembali menangisi keputusannya. Meski dalam hati ia benar-benar yakin bahwa suatu saat ia akan dipersatukan kembali dengan Ben. Entah bagaimana caranya, semua itu Dara pasrahkan kepada Tuhan yang akan mengatur semuanya.
The smile on your face lets me know that you need me
There's a truth in your eyes saying you'll never leave me
The touch of your hand says you'll catch me wherever I fall
You say it best, when you say nothing at all
Dara mengangkat kepalanya setelah ia dengan jelas mendengar suara lemah Ben melantunkan lagu milik Ronan Keating yang dirilis pada tahun seribu sembilan ratus sembilan puluh sembilan tersebut. Lagu yang sering dinyanyikan oleh Ben dulu saat ia sedang duduk berdua. Jantung Dara seolah berhenti berdetak melihat Ben membuka matanya menyanyikan bagian reff lagu tersebut dengan gamblang.
Sehingga perlahan tatapan Ben jatuh tepat pada sepasang mata Dara yang basah nan sembab. Lama, sangat lama keduanya saling pandang dalam kebisuan dan menatap lebih dalam satu sama lain. Saat itu juga tangan Ben meraih jemari Dara dan menggenggamnya cukup erat.
"Maaf, Ra," ucap Ben serak, "maaf udah biarin elo berjuang sendirian."
Sepasang mata Dara membulat sempurna, bahkan bibirnya terbuka tak percaya melihat sosok Ben kini menangis di depannya.
'Nggak mungkin!'
~M E M O R I E S ~
Tak ada sedikitpun cahaya yang menerangi langkah Ben malam itu, semuanya gelap gulita. Dalam lorong panjang tak berujung itu pula Ben masih melangkah terseok meski sudah lelah ingin berhenti. Sunyi, terlalu sepi sampai Ben tak dapat mendengar apa pun selain suaranya sendiri.
Namun, di depan sana dengan jarak sekitar satu meter mendadak sebuah cahaya yang begitu terang menyorot datang ke arah Ben. Dengan kecepatan tinggi cahaya itu melintas secepat kilat, sehingga membuat Ben sempat memejamkan mata karena silau. Selang beberapa detik, ia mendengar suara rintihan pelan, derai hujan turun dengan deras ikut mendominasi suasana kelam malam itu. Dan saat Ben menoleh, betapa terkejutnya lelaki itu saat mendapati dirinya tengah terkulai tak berdaya dengan kepala bersimbah darah.
Di dekatnya seorang lelaki yang tak Ben kenal berdiri, hanya siluet yang tak begitu jelas yang bisa Ben lihat.
Selebihnya, kini suara seorang gadis yang menangis di sisi Ben. Kedua tangannya yang dingin dan terkulai lemah itu digenggam pula dengan erat.
'Dara.'
Gadis itu Dara. Menangis tersedu di sisi Ben dengan air mata yang sudah terbiaskan oleh hujan sekalian. Detik berikutnya, Ben hanya mendengar dentingan panjang yang membuat telinganya terasa nyeri. Lelaki itu bahkan sampai menutup kedua telinganya dengan kedua tangan sampai kedua kakinya ikut bersimpuh.
"Ben, bangun! Ngapain masih di situ?"
Entah bagaimana caranya, mendadak suasana gelap dan dingin itu digantikan dengan keadaan yang cerah nan hangat. Ben merasa semua ini tak nyata, lelaki itu masih melongo menatap sekelilingnya yang tak lain dan tak bukan adalah taman. Dan lagi, ada sosok Dara yang kembali berdiri di sana. Menggenggam sebuah es krim milik Ben sambil menyuguhkan senyum kepadanya.
"Ayo, Ben! Cepetan, keburu mencari es-nya!" teriak Dara dari kejauhan.
Ben masih tak bereaksi, lelaki itu masih bingung sekaligus tak mengerti dengan apa yang ia lihat saat ini.
"Lo tuh, ya. Kalau dipanggil sama istrinya gerak cepet kenapa sih? Gue cium, nih," kata Dara lagi.
Yang entah sejak kapan gadis itu sudah berdiri di depannya sambil mengulurkan tangan menunggu diraih oleh Ben. Untuk beberapa saat ia mematung menatap Dara yang masih menyuguhkan senyum manis kepada Ben. Kini tatapan cowok itu beralih pada tangan kanan Dara yang terulur di depan Ben.
Ada sebuah cincin emas putih sederhana yang melingkar indah pada jari manis Dara. Dan saat Ben meraih tangan itu ...
Ia seperti ditarik oleh medan magnet paling kuat ke dalam kilas masa lalu yang menampakkan dirinya mengenakan setelah jas hitam dengan gagah, tertawa bersama seorang gadis, bahkan menciumnya.
Namun, samar ....
Semua itu samar, bayangan wajah gadis itu tak sepenuhnya dapat dilihat Ben dengan jelas.
Saat itu juga Ben tersentak dalam kesadaran penuh dengan satu tarikan napas panjang. Ia seperti telah dikembalikan ke dunia nyata setelah diajak berkelana ke negeri antah berantah. Di saat itu juga, yang pertama kali Ben dengar adalah suara parau milik Dara.
"Lo bohong sama gue, katanya lo nggak bakalan ninggalin gue," gumam Dara.
Suara itu seperti telah menyadarkan Ben sepenuhnya. Tatapan Ben kini jatuh ke arah Dara yang duduk tak jauh dari ranjangnya. Gadis itu tampak tengah menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan. Punggungnya naik turun menahan isak yang setengah tertahan. Melihat itu semua, sekaligus mengingat mimpi yang masih begitu abstrak hati Ben ikut merasa sakit.
Entah karena alasan apa ia menangis malam itu melihat Dara. Lagipula kenapa juga Dara yang muncul dalam mimpi Ben? Kenapa gadis itu ada di sana menggunakan cincin yang sama dengan cincin di tangannya dalam mimpi itu? Ada banyak pertanyaan yang masih begitu abu-abu. Hanya saja ... hanya saja Ben sungguh tak bisa menahan diri untuk tak menyentuh jemari Dara, yang sontak membuat cewek itu menoleh kepadanya.
"Ben?" gumam Dara setengah terkejut, "ll-lo udah bangun?"
Wajah yang biasanya ceria itu tak dapat Ben temukan malam ini. Hanya menyisakan raut sendu, mata sembab dan basah yang menghiasi wajah Dara.
"Maaf, Ra." Ben berucap lirih. "Maaf udah biarin elo berjuang sendirian selama ini," imbuh Ben menatap Dara lurus tepat pada manik mata gadis itu.
'Nggak mungkin?' batin Dara terkejut setengah mati mendengar ucapan Ben. Tapi, untuk beberapa saat saja gadis itu sudah merubah ekspresinya menjadi se-natural mungkin.
Ditatap Ben dengan hangat, gadis itu tersenyum dan menyentuh telapak tangan Ben seperti biasa.
"Maaf buat apa? Lagian lo nggak salah apa-apa, Ben," kata Dara.
Sedetik kemudian, Ben menarik tangan Dara dalam genggamannya. Menarik gadis itu ke dalam pelukan dan mendekapnya erat. Tentu saja Dara tersentak kaget dengan perlakuan Ben barusan. Ia tak tau apa yang terjadi, tapi mendengar ucapan Ben barusan.
Apakah mungkin?
"Maaf, Ra. Gue minta maaf." Lelaki itu terisak kencang dalam dekapan Dara.
Tak pelak hal itu membuat Dara ikut kembali menumpahkan air matanya. Meski sejujurnya ia tak sepenuhnya yakin apa yang kini terjadi pada Ben, Dara tetap mengusap lengan Ben dengan lembut.
"Maaf. Karena gue udah lupain semuanya," ucap Ben dalam pelukan Dara.
~M E M O R I E S~
-B e r s a m b u n g-
-Ronan Keating : When you say Nothing at all-
It's amazing how you can speak right to my heart
Without saying a word, you can light up the dark
Try as I may I can never explain
What I hear when you don't say a thing
The smile on your face lets me know that you need me
There's a truth in your eyes saying you'll never leave me
The touch of your hand says you'll catch me wherever I fall
You say it best, when you say nothing at all
All day long I can hear people talking out loud
But when you hold me near, you drown out the crowd
Try as they may they could never define
What's been said between your heart and mine
The smile on your face lets me know that you need me
There's a truth in your eyes saying you'll never leave me
The touch of your hand says you'll catch me wherever I fall
You say it best when you say nothing at all
The smile on your face lets me know that you need me
There's a truth in your eyes saying you'll never leave me
The touch of your hand says you'll catch me wherever I fall
You say it best, when you say nothing at all
That smile on your face (You say it best)
The truth in your eyes (When you say nothing at all)
The touch of your hand (You say it best)
Lets me know that you need me (When you say nothing at all)
Nothing at all
(You say it best when you say nothing at all) Nothing at all