Sebelum baca jangan lupa tekan love!
Happy reading, guys!
~M E M O R I E S~
"Kamu yang masukin kotak ini ke kamar Ben, 'kan?"
Cowok itu diam mematung. Tanpa ketara jemari yang sedari tadi saling meremas gelisah itu kini beralih masuk ke dalam saku celana jeans yang ia kenakan. Padahal hari ini ia masuk ke kamar Ben untuk mengambil beberapa keperluan cowok itu karena permintaan Riki. Sudah sejak semalam ia mendapat kabar bahwa Ben masuk ke rumah sakit, Riki bahkan langsung bergegas pergi mengunjungi Ben tanpa dirinya yang memang sedang lembur di kafe. Dan pagi tadi Riki sudah kembali meneleponnya untuk datang ke Rumah sakit, bahkan sebelum cowok itu sepenuhnya mengumpulkan nyawa selepas tertidur semalaman.
Namun, niat baiknya itu malah terpaksa berhenti saat sudah mendapati sosok Kunti yang duduk di sofa mini kamar Ben. Kamar itu agak berantakan memang, tak seperti biasanya. Ben memang tak seperti kebanyakan para lelaki, cowok itu sangat menjaga kerapian di kamarnya. Ia bahkan tak segan untuk mengusir siapa pun yang masuk ke sana untuk merusuh.
"Hanif?" ucap Kunti, "nama kamu Hanif, 'kan?"
Sepasang mata Kunti yang sebagian tertutupi dengan rambut panjang hitam itu, kini menyoroti cowok berwajah manis yang paling tak banyak bicara setelah Ben.
Kunti maju selangkah, meski dikenal sebagai gadis tak waras. Nyatanya tak demikian, Kunti adalah gadis normal, hanya saja memang cara berpakaiannya yang abnormal. Tak ada satu pun yang tau identitas Kunti dan latar belakang gadis itu. Sehingga tak ada seorang pun yang mau menerima Kunti dengan menjadikannya teman. Kecuali Ben.
Cowok yang bahkan rela berbagi minuman dan mie instan kepada Kunti. Satu-satunya cowok yang tak pernah melecehkan Kunti dan berkata kasar. Karena itu Kunti merasa telah menemukan teman yang mau menerimanya apa adanya. Karena itu pula Kunti melakukan hal ini, mencari tau siapa orang yang berniat melukai Ben dengan kemampuannya melihat masa lalu seseorang.
"Oh, kamu cuma suruhan ternyata." Gadis itu kembali bersuara. Ia mundur lagi selangkah dan menjaga jarak dengan Han.
Sontak hal itu berhasil membuat Hanif menautkan kedua alisnya heran.
"Maksud lo apa sih? Kebiasaan nggak jelas deh," balas Hanif menginterupsi.
"Kamu yang masukin ini ke sini." Kunti mengucapkan itu seraya menunjuk sebuah kotak berisi barang-barang milik Ben yang berada tak jauh darinya.
Rasanya Hanif seperti sedang di adili oleh cewek di depannya itu. Tapi, ia juga tak bisa mengelak, sebab tatapan datar dari Kunti cukup membuat cowok itu terdiam menelan rasa bersalahnya kepada Ben. Lagipula, ia melakukan perintah itu tanpa tau yang sebenarnya. Hanif sedang sangat butuh uang, sedangkan di waktu yang tepat bosnya memberikan tugas dengan upah yang lumayan. Untuk anak orang tak punya sekaligus statusnya sebagai mahasiswa kere itu. Tak ada alasan untuk Hanif menolak perintah tersebut. Lelaki itu hanya berusaha untuk bersikap realistis bahwa uang adalah segalanya di dunia ini.
Dan Kunti bisa melihat itu semua pada sepasang manik mata Han.
"Kamu nggak bisa hidup tanpa uang, tapi kamu lebih nggak bisa lagi hidup tanpa sesama manusia."
Hanif kembali menatap Kunti yang masih berdiri di depannya. Entah kenapa gadis yang biasanya hanya diam, datang untuk makan dan menemui Ben itu, pagi ini terlalu banyak bicara padanya.
"Minta maaf sama Ben sebelum semuanya terlambat."
"Oke. Emang gue yang masukin kotak itu ke sini, tapi lo nggak tau apa-apa soal hidup gue. Jadi, nggak usah ngatur hidup gue, ngerti."
Setelah mengucapkan kalimatnya itu, Han memutar tubuh. Mengabaikan permintaan Riki untuk mengambil keperluan Ben. Lagipula hari ini ia juga memiliki perkejaan lain, ia harus lulus tahun ini, ia harus menghasilkan banyak uang untuk keluarganya. Han hanya perlu fokus pada kehidupannya, bukan orang lain.
Tapi, belum sempat langkahnya melewati pintu. Suara Kunti kembali membuat langkah cowok itu berhenti.
"Kalau kamu mau cerita, aku bakalan denger semuanya." Ucapan Kunti barusan entah kenapa berhasil membuat hatinya tergetar.
Han menunduk sejenak, menahan napasnya yang berat dan terasa sesak.
"Kita semua cuma manusia, nggak ada yang sepenuhnya jadi makhluk paling menderita. Aku yakin kamu tau kalau bumi ini luas, dan hari ini ...," ucap Kunti menggantungkan kalimatnya.
Ia mengamati Han yang detik itu juga mengangkat kepala sehingga tatapan keduanya saling bertemu. Meski samar, dengan jarak sedekat ini, di depan Kunti. Sepasang manik mata hitam legam itu seolah menghipnotis Han yang mendadak diserang kebisuan.
"Mungkin aja hari ini, ada yang kehidupannya lebih berat dari kita semua," kata Kunti, "cari aku kalau kamu udah siap buat cerita, Hanif."
Gadis itu berbalik dan menarik knop pintu hingga terbuka. Kunti meninggalkan Han yang masih mematung di dalam kamar Ben tepatnya di depan pintu. Cowok itu meresapi semua kalimat yang baru saja ia dengar. Karena seumur-umur, sampai ia sedewasa ini tak satupun orang yang mengatakan kalimat itu padanya.
Sekalipun itu sahabat terdekatnya. Meski bisa dikatakan bahwa Ben dan Riki memang selalu ada untuknya, mereka bertiga malah saling bantu satu-sama lain. Namun, sebagai sesama laki-laki. Pada hubungan normal sekalipun tak ada yang akan saling berbicara mengenai masalah mereka dengan serius. Termasuk dengan Hanif. Dan lagi, ia tak memiliki siapa pun untuk membagi keluh kesahnya, setidaknya hanya untuk mendengar ceritanya.
Han tak pernah memiliki itu, sehingga tanpa disadari ia tenggelam dalam kesendirian yang mengurungnya dalam kegelapan. Mendadak Han terduduk di sana meraup wajah yang terasa panas. Lelaki itu menangis di sana tanpa seorang pun yang dapat melihatnya.
~M E M O R I E S~
Dokter Gito memasukkan kembali senter medis yang baru saja ia gunakan untuk memeriksa pupil mata Ben, tentunya setelah melakukan banyak pengecekan organ vital lainnya. Dan syukurnya memang dari awal semua organ vitaal Ben sangat baik. Pria paruh baya yang rambutnya sudah banyak memutih itu menatap Ben dengan bangga. Tangannya terulur menepuk punggung Ben, cowok yang duduk di atas ranjangmya itu tak mengerti harus mersepon seperti apa.
Apalagi saat ini, hampir semua orang yang ia kenal berada di ruangan itu menatap Ben dengan tatapan yang tak bisa diartikan oleh cowok itu. Andina—mama Dara yang kini berdiri di dekat Dokter Gito, berulang kali mengucapkan syukur meski dengan suara pelan, tapi Ben dapat mendengarnya. Di sebelah Andina, Anggar berdiri memeluk ibunya dari samping. Ada Riki pula yang masih berdiri di ujung ranjang memeluk dua botol akua berukuran besar. Dan, jangan lupakan lelaki tak dikenal yang tadi sempat Ben lihat sedang tertawa bahkan memeluk Dara. Sedangkan Dara sendiri duduk di atas ranjang yang sama dengan Ben, tak sedikitpun cewek itu memalingkan pandangannya dari lelaki yang sudah melewati banyak masa sulit itu.
"Jadi, sebenernya saya ini kenapa, Dok?" tanya Ben.
Mereka semua berkumpul, tepat setelah Dara memanggil Dokter Gito karena perilaku dan ucapan Ben yang membuatnya kebingungan, sehingga gadis itu tak berani mengambil keputusan sendiri yang pada akhirnya akan membuat Dara semakin kecewa.
"Seperti yang kamu lihat di mimpimu itu, Ben. Kamu mengalami kecelakaan yang sangat parah satu tahun silam, dan Galang yang sudah membawa kamu ke sini," jelas Dokter Gito sambil menunjuk Galang dengan sopan.
Sontak hal itu membuat seluruh pasang mata yang berada di sana menatap ke arah Galang, membuat cowok itu merasa kikuk tak nyaman. Galang hanya melemparkan senyum tipis, setelah mengangguk pada Ben yang tak menunjukkan reaksi apa pun.
"Karena cedera parah yang melukai sel otak, kamu kehilangan sebagian memori. Dan, ini adalah sebuah keajaiban bahwa kamu bisa melihat semua itu kembali. Setidaknya, walaupun masih samar, 'kan?"
Ben hanya mengangguk sekilas meski tak sepenuhnya yakin. Ia kembali menatap satu persatu orang-orang yang kini berada di dalam satu kamarnya itu. Entah kenapa, ada perasaan hangat yang menyusup ke dalam hati Ben yang selama ini terasa kosong. Kehampaan itu tak lagi terasa dalam dirinya setelah melihat bahwa ternyata masih ada orang-orang yang peduli padanya. Bahwa nyatanya, ia tak sepenuhnya sendirian meski Ben memang lebih suka menyendiri.
Hanya saja kali ini cowok itu tak merasa kesepian seperti sebelumnya. Ben tertunduk, tak mengerti harus mengucapkan apa dan bereaksi seperti apa. Di sisi lain ia merasa tak lagi kesepian, tapi di lain sisi pula ia masih merasa bingung dengan kehadiran banyak orang di hidupnya itu.
Saat itu juga Ben merasakan tangannya di remas oleh Dara, sontak hal itu membuat Ben mendongak menatap Dara yang senantiasa menyuguhkan senyum manis padanya itu.
'Ada gue di sini.'
Tatapan Dara pada Ben seolah mengatakan bahwa gadis itu akan senantiasa menemani Ben sampai cowok itu sepenuhnya pulih. Sejurus kemudian ia mendongak, menatap Andina yang juga menatapnya penuh haru. Lihat saja, sepasang mata sendu wanita itu masih basah karena air mata.
"Maaf," ucap Ben.
Entah untuk apa ia mengucapkan sebuah kata maaf. Hanya saja Ben merasa telah melakuakan banyak hal yang membuat satu keluarga itu terluka, bahkan menjalani kehidupan yang penuh air mata.
"Nggak apa-apa. Gue bantu lo sampai pulih kayak dulu lagi," kata Dara menenangkan.
Bahkan ia memeluk cowok itu di depan semua orang. Membuat Ben memberontak pelan dalam pelukan Dara berusaha melepaskan pelukannya. Meski saat ini Ben menyukainya, tapi saat ini bukanlah waktu yang tepat. Ada terlalu banyak orang yang menyaksikan pikir Ben.
"Nggak usah malu, kalian berdua emang udah seharusnya begitu," ujar Andina mengimbuhi.
Suasana haru itu mendadak terasa agak menggelikan. Semua orang tertawa kecil menyaksikan tingkah kedua insan yang sudah terlalu lama dipisahkan karena keadaan itu. Setelah sekian lama perjuangan Dara menanti Ben dengan penuh kesabaran dan air mata tentunya. Akhirnya laki-laki yang ia cintai itu kembali meski belum sepenuhnya. Setidaknya kini ada secercah harapan yang terlihat menerangi jalan panjang menuju lorong yang belum nampak ujungnya tersebut.
'Makasih banyak Tuhan!'
Katakanlah Dara munafik, karena saat ini ia benar-benar menelan kembali perkataannya tentang keajaiban dari Tuhan. Dan kenyataannya saat ini, Dara tengah menerima keajaiban yang datang kepadanya.
Semua orang di sana tengah berbahagia sekaligus kebingungan, terlebih untuk Riki yang tak tau menahu soal apapun. Hanya saja melihat reaksi Ben seperti ini, membuat cowok itu yakin bahwa kejadian yang tak ia ketahui itu adalah sesuatu yang sudah pasti dapat mengisi kembali kekosongan dalam diri Ben.
Kecuali Galang yang menatap Ben dan Dara dengan sorot mata tak terbaca, tak ada ekspresi senang maupun sedih atau marah. Yang pasti, kedua tangan dalam saku jaket itu terkepal dengan erat sehingga buku tangan Galang nampak.
~M E M O R I E S~
-James Arthur & Anna Marie : Rewrite the Stars-
You know I want you
It's not a secret I try to hide
I know you want me
So don't keep sayin' our hands are tied
You claim it's not in the cards
And fate is pullin' you miles away
And out of reach from me
But you're here in my heart
So who can stop me if I decide
That you're my destiny?
What if we rewrite the stars?
Say you were made to be mine
Nothing could keep us apart
You'd be the one I was meant to find
It's up to you, and it's up to me
No one can say what we get to be
So why don't we rewrite the stars?
Maybe the world could be ours
Tonight
You think it's easy
You think I don't wanna run to you
But there are mountains
And there are doors that we can't walk through
I know you're wondering why because we're able to be
Just you and me within these walls
But when we go outside, you're gonna wake up and see
That it was hopeless after all
No one can rewrite the stars
How can you say you'll be mine?
Everything keeps us apart
And I'm not the one you were meant to find
It's not up to you
It's not up to me
When everyone tells us what we can be
How can we rewrite the stars?
Say that the world can be ours
Tonight
All I want is to fly with you
All I want is to fall with you
So just give me all of you
It feels impossible
It's not impossible
Is it impossible?
Say that it's possible
How do we rewrite the stars?
Say you were made to be mine?
Nothing can keep us apart
'Cause you are the one I was meant to find
It's up to you
And it's up to me
No one can say what we get to be
And why don't we rewrite the stars?
Changing the world to be ours
You know I want you
It's not a secret I try to hide
But I can't have you
We're bound to break and my hands are tied
~M E M O R I E S~
-B e r s a m b u n g! -