Ruangan bernuansa merah gelap dan bercahaya temaram yang khas seakan menambah kesan gairah seksualitas. Tidak ada ungkapan yang lebih cocok dalam mendeskripsikan kamar VVIP itu selain kapal pecah. Botol-botol minuman keras beserta gelasnya yang telah kosong, tergeletak tak beraturan di atas meja. Juga pakaian dan sepatu turut andil berserakan di atas lantai. Sementara di atas ranjang queen size berseprai merah, tidur seorang pria yang tertutupi selimut tebal mencapai pinggangnya. Siapapun yang melihat situasi ini, sudah tentu bisa menebak apa yang telah terjadi semalam. Namun, tidak terlihat atau terdengar sedikitpun tanda-tanda kehadiran seorang wanita di kamar tersebut. Hanya keheningan hampa yang mengisi kamar, sebelum suara desahan keluar dari sosok pria tampan yang baru terbangun dari tidurnya itu.
Xavier menyerngitkan dahinya kala bola matanya yang hendak terbuka, disorot langsung oleh bias-bias cahaya matahari. Tubuh atletis miliknya yang turut bermandikan sinar sang surya membuat Xavier tampak seperti dewa yunani. Sekali lagi suara erangan berat khas pria itu keluar dari mulutnya. Tangannya terangkat berusaha menutupi sinar matahari di depan wajahnya. Barulah kedua netra berwarna biru laut cerah yang sangat cantik itu terlihat. Ia menoleh ke samping dengan alis menyerngit sambil mengubah posisi tubuhnya menjadi duduk. Mengetahui tidak ada orang lain di atas kasur, Xavier mengedarkan pandangan, meneliti seisi kamar.
“Olivia …” Dia memanggil nama wanita yang semalam ia ajak untuk menjadi teman kencannya ke klub mewah ini.
Setelah beberapa detik tidak ada jawaban, ia turun dari ranjang dan memakai kembali pakaiannya. Pemandangan paling aneh untuk pertama kalinya dalam hidup Xavier setelah bercinta dengan seorang wanita. Wanita manapun yang berhubungan dengannya, tidak akan mungkin meninggalkannya. Terlebih wanita itu adalah Olivia, selebriti muda pendatang baru yang namanya baru-baru ini tengah naik daun. Tidak ada siapapun yang tidak tahu bagaimana Olivia tertarik pada Xavier. Dia melangkah pelan menuju kamar mandi untuk memeriksa keberadaan wanita itu, tapi tidak ada siapapun.
Tingkat kepercayaan diri yang begitu tinggi dan dipenuhi kebanggaan selama ini, hancur begitu saja. Xavier kembali ke sisi ranjang dan berdiri di sana dengan ekspresi buruk, berpikir sejenak sebelum akhirnya tertawa sumbang. Mengira bahwa Olivia ternyata sama brengseknya dengan dirinya. Ketika Xavier hendak kembali melangkah ke arah sofa dan memikirkan apa yang sebaiknya ia lakukan terhadap gadis yang sudah berani menginjak harga dirinya, netra tajam sebiru sapphire itu menangkap sesuatu yang berkilauan di atas kasur. Tangannya terulur menyingkap selimut lalu mengambil benda bulat yang berkilauan itu.
Sebuah anting yang tampak tua dan sudah ketinggalan mode, tapi kilaunya seolah menunjukkan kemewahan yang tidak bernilai. Ini bukan barang milik Olivia yang dikenal sangat modis dan fashionable sesuai profesi dan karakteristiknya. Xavier membeku beberapa detik, otaknya yang jenius segera menyadari bahwa yang menghabiskan malam dengannya bukanlah Olivia. Tidak mungkin manajer dari klub mewah ini tidak berhati-hati dalam memperingatkan para pekerja wanitanya. Xavier adalah pria yang tidak akan tidur dengan wanita tanpa kualifikasi, apalagi wanita tidak dikenal, khususnya wanita malam, demi keamanan dan kesehatannya. Karena itulah wanita yang sejauh ini sudah berhubungan dan berkencan dengannya dikenal baik olehnya sendiri.
Xavier duduk di sofa sambil memandangi anting berwarna merah muda tersebut. Tatapannya lalu beralih pada kasur berantakan yang basah itu, tepatnya pada bercak noda darah yang ikut menghiasi. Sekuat apapun ia berusaha mengingat siapa gadis itu, kondisi mabuknya sudah sangat diluar kendali. Tidak ada yang bisa diingat mengenai kejadian semalam.
“Sial!” umpatnya pelan seraya menghela napas dalam sambil menyandarkan punggungnya ke sofa. Memilih menyerah sekaligus menelan kekesalannya yang membuncah.
Reputasi XV Nightclub yang sangat baik dan diagung-agungkan sebagai surga dunia di Las Vegas, nyatanya tidak sebagus itu. Klub termewah dan termahal ini tidak bisa menjaga keamanan dari tamunya, terlebih tamu VVIP. Kecuali gadis itu juga adalah tamu VVIP dan menggunakan kamar lain di lantai ini, tetapi berakhir dengan kesalahan. Xavier mengangkat tangannya untuk sekali lagi memandang anting tersebut lalu melirik ke arah noda darah di atas ranjang yang masih ada. Rasa bersalah tiba-tiba menghinggapi, tapi terkikis oleh kekesalan. Harga diri miliknya yang sedikit tersentil, setidaknya sedikit terobati. Ia mengambil keputusan untuk melupakan hal ini begitu saja sebagai kecelakaan, dan menganggap semua impas.
Xavier menegakkan tubuhnya kembali dan mengambil ponsel yang tergeletak di atas nakas sisi ranjang. Untuk menelpon sekretaris sekaligus orang kepercayaannya. “Edwin, XV Nightclub kamar VVIP no. 3.”
“Ah, dan berikan sedikit teguran pada klub ini tentang ketidakpuasanku.”
***
Satu minggu berlalu, San Francisco, California
Hari-hari sibuk kembali pada Xavier, meski di perusahaan cabang sekalipun. Alasan ia datang kemari adalah untuk mengurus pekerjaan, karena itulah ia sekalian mengambil waktu beristirahat ke Las Vegas satu minggu lalu. Tidak disangka bahwa dirinya akan mendapat pengalaman yang tidak pernah dimiliki sebelumnya. Xavier tidak terlalu merasa menyesal atau jengkel lagi setelah datang kemari.
Keputusan dan rencana tinggalah nama, pengalaman itu membawa Xavier pada ketidakrasionalan ini. Sejauh ini, tidak ada wanita manapun yang berhasil membuat seorang Xavier Lawrence memikirkannya begitu intens. Hanya karena sebuah anting, berhasil membuat Xavier selalu mengingatnya selama satu minggu penuh. Tidak ada hari dimana ia tidak menatap anting tersebut, meski ia telah menyimpannya. Seperti sekarang, Xavier lagi-lagi mengambil kotak perhiasan berwarna putih yang berada di sakunya. Sebelum suara ketukan pintu meraih kesadarannya yang baru saja akan terhisap masuk ke dalam anting merah muda itu.
Xavier berdehem sebelum menjawab sambil memasukkan kotak perhiasan tersebut kembali ke saku jasnya. Tak lama seorang pria masuk membawa beberapa dokumen dan meletakkannya di atas meja. Edwin Scott, sekretaris, tangan kanan, atau orang kepercayaannya, yang telah bekerja dengannya sejak awal ia terjun ke perusahaan. Mereka telah saling mengenal dan mengetahui satu sama lain karena berteman sejak bangku sekolah. Ini merupakan sebuah keuntungan bagi Xavier karena ia tidak perlu kesulitan dengan masalah posisi sekretaris sejak awal. Namun, akhir-akhir ini ia sedikit cemas kalau-kalau Edwin mengundurkan diri dan tergantikan oleh seorang wanita. Xavier tidak masalah jika dia adalah wanita yang kompeten, tapi ia ragu jika wanita itu akan bertahan dengan pesonanya. Satu aturan penting lainnya dalam hubungan, Xavier tidak akan mengencani pekerjanya sendiri.
“Apa Anda masih suka memperhatikan anting Nona anonim itu?” tanya Edwin.
Xavier mengalihkan atensinya dari dokumen yang baru ia buka pada Edwin. “Tidak.”
“Untuk apa?” Tatapannya hanya sekilas, sebelum kembali pada dokumen yang masih ia pegang.
“Yaa, saya pikir itu menjadi sebuah kebiasaan baru bagi Anda.” Xavier menutup dokumen yang sudah ditandatangani dan memberikannya dengan sedikit kasar pada sekretarisnya. “Tuan Scott, sepertinya Anda masih kurang pekerjaan hingga memiliki waktu luang untuk memperhatikan kebiasaan bosmu?”
“Saya minta maaf.” Edwin menundukkan kepala dengan sopan setelah menerima dokumen tersebut.
Xavier menghela napas sekaligus mengakhiri ketegangan formalitas di antara mereka. Ia sedikit bersantai dan mengubah cara bicaranya pada Edwin. “Bagaimana Direktur? Apa dia sudah dihubungi dan menyelesaikan pekerjaan yang kuminta? Masalah ini membuat aku turun tangan langsung kemari, benar-benar menjengkelkan.”
“Aku akan menghubunginya lagi. Ah, dan di ruang tunggu ada Olivia ingin menemuimu. Dia sepertinya tidak dalam kondisi mood yang baik, apa aku usir saja?” Setelah mengingat tujuannya kemari, Edwin memberitahu Xavier.
Xavier yang mendengar kedatangan Olivia, sudah mengetahui apa tujuannya kemari. Karena sedikit rasa bersalah, ia mengizinkan gadis itu masuk. Jam sudah menunjukkan waktu makan siang sebentar lagi, jadi Xavier beranjak dari kursinya. Bertepatan dengan itu, seorang gadis cantik dengan perawakan tinggi seperti model-model kebanyakan, masuk tanpa mengetuk pintu.
“Hai, Oliv.” Tidak marah atau menegurnya, Xavier menyambut hangat kedatangan Olivia. “Aku baru akan makan siang, bagaimana kalau kita makan siang bersama?”
Otot wajah Olivia yang mengeras dan jelas penuh kemarahan, siap melemparnya pada Xavier, perlahan melembut setelah mendengar ajakan pria itu. Ia menelan kekesalannya yang akan menanyakan janjinya pada Xavier tentang minggu lalu, untuk menerima keuntungan ini. Siapa yang akan menolak ajakan makan siang dengan pria kaya yang tampan dan terkenal seperti Xavier, jika dia bukan wanita bodoh. Itu bisa semakin menaikkan popularitas dirinya hanya dengan terlibat nama bersama pria ini. Tidak masalah ia tidak menghabiskan malam dengannya, foto dirinya dan Xavier yang masuk ke XV Nightclub sudah lebih dari cukup.
“Baiklah, ayo. Ada yang ingin aku bicarakan juga denganmu.” Xavier merangkul pinggang wanita itu dengan mesra, merasa berhasil menjinakkan satu wanita lagi.
-
-
-
To be continued