Aileen membuka matanya cepat dengan degup jantung yang kencang hingga rasanya telinganya mendengar suara degupan tersebut. Netra abu-abu terang miliknya segera menangkap langit-langit ruangan yang berbeda dari kamarnya sebelum terakhir kali ia tertidur. Mimpi yang sama lagi yang membuat Aileen mulai ketakutan dan terserang panik. Ini sudah terjadi selama satu minggu penuh dan dimulai dari adegan yang sama. Karena itu, sebelum semua terulang kembali, Aileen dengan cepat turun dari ranjang dan berlari ke arah pintu.
Namun, secepat apapun ia berlari di dalam mimpi, seolah mimpi ini tidak membiarkan Aileen sedikitpun mengubah alurnya, adegan selanjutnya kembali terulang. Ketika tangan Aileen baru menyentuh kenop pintu, sebuah tangan lain yang lebih kekar dan besar darinya, melingkari pinggangnya dan membuat tubuhnya berbalik. Pada akhirnya, wajah itu yang lagi-lagi dia lihat. Wajah yang selalu menghantui mimpi Aileen, yang menjadi penyebab ia selalu ketakutan bahkan untuk tertidur.
Pria tersebut menatap Aileen dengan netra sayu berwarna biru shapirenya. Tidak menyembunyikan seringaian yang terbentuk di bibirnya kepada Aileen. “Hei, are you lost baby girl?”
Bahkan suara berat khas miliknya, Aileen tidak bisa lupa. Sekuat apapun ia memberontak dari kukungan pria ini, semua sudah diatur untuk terjadi, seperti yang sudah terjadi di dunia nyatanya. Aileen hanya berharap ia bisa segera terbangun dari mimpi sialan ini. Sebenarnya, dia sudah mengetahui apa penyebab dari mimpinya terus berulang, tapi dia tidak mengetahui bagaimana cara menghentikannya. Tidak ada yang mengetahui cara menghilangkan masa lalu yang sudah terjadi. Mimpi itu terbentuk karena kejadian satu minggu lalu, dimana Aileen kehilangan kehormatannya, menjadi korban pemerkosaan. Traumanya masih ada sampai sekarang, bahkan ia masih merasakan rasa sakit itu seolah baru terjadi kemarin. Ditambah kejadian ini yang terus terulang di mimpinya, seakan terus mengingatkan Aileen, tidak membiarkan ia untuk dilupakan.
Setelah bersusah payah mendorong dirinya untuk terbangun, netanya dengan cepat terbuka lagi. Seperti deja vu, tapi kali ini Aileen melihat langit-langit kamarnya di apartemen, menandakan bahwa ia sudah ada di dunia nyata. Degup jantungnya masih kencang, sekujur tubuhnya tegang, bulir-bulir keringat dingin turut keluar membasahi. Aileen segera mengatur napas lebih dulu untuk membuat tubuhnya yang tegang sedikit lebih relax. Setelah lebih tenang, dia bangun, menjuntaikan kakinya ke lantai. Tangan kanan Aileen mengusap pelipis kanannya yang bercucuran keringat. Pandangan matanya kosong ketika meneliti seisi kamar yang cukup gelap karena bercahaya lampu tidur. Begitu hening selain suara jarum jam weker yang terletak di atas meja nakas.
Aileen memutuskan untuk tidak tidur lagi karena ketakutan masih benar-benar ia rasakan. Dia beranjak dari ranjang ke arah meja belajar. Bersamaan dengan tangannya yang menarik kursi, ponsel yang ada di atas meja belajar, bergetar menandakan panggilan video masuk.
Senyum mengembang ketika melihat siapa gerangan yang menelpon. Tidak peduli jam masih menunjukkan pukul 4 pagi, Aileen mengangkatnya. “Miss you, Mom, Dad.”
“Hai, Honey, we miss you too.” Pasangan paruh baya muncul di layar ponsel Aileen setelah dia mengangkat telpon. Senyuman hangat khas ibunya turut menyambut gadis itu, tidak seperti ayahnya yang tampak lebih terkejut.
“Nona muda, apa yang kamu kerjakan hingga pukul 4 pagi? Beristirahatlah dengan baik.” Sepertinya ayahnya itu tidak mengira ia akan mengangkat telpon mereka.
“Saya tidak bergadang, saya baru saja bangun dari istirahat yang sangat baik. Sebaliknya, kenapa Tuan Smith masih bekerja hingga tidak membiarkan ibu saya beristirahat dengan baik?”
Elle tertawa di samping Deon, menertawakan suaminya yang tidak bisa berkutik di depan perdebatan putri mereka. Deon melirik ke arah Elle, mulutnya kelihatan ragu untuk mengatakan sesuatu. Elle menyadari, tapi dia tidak peduli atau menghiraukan, atensinya kembali pada Aileen. “Bagaimana kabarmu di sana, Sayang? Lalu Derick dan Irish baik-baik saja, kan?”
Ketika pertanyaan mudah yang sudah menjadi rutinitas kedua orang tuanya saat mereka bertelpon keluar, rasanya menjadi pertanyaan yang sulit bagi Aileen sekarang. Sangat berat untuk mengatakan bahwa dia baik-baik saja, seperti kala ia berbohong kepada kedua sahabat baiknya setelah kejadian tersebut.
“Aku … baik-baik saja, mereka berdua juga.” Seperti yang diduga, ia terlalu takut mengecewakan Deon dan Elle.
“Liar!” bantah sang ayah sembari mendengus curiga.
“Dad, apa kamu tidak pernah kuliah dan mengalami masa transisi? Ayolah, ini hanya masalah perkuliahan, tidak ada yang lain lagi.” Tidak seperti Derick dan Irish yang tahu batasan mereka, kedua orang tuanya yang paling khawatir tidak bisa menahan diri mereka. Aileen tahu itu dan batinnya semakin tersiksa karena berbohong.
“Hoo … apa jangan-jangan sekarang kamu merasakan patah hati?”
“Apa itu benar, Aileen?” Mendengar pertanyaan istrinya, Deon menjadi lebih heboh, bersiap mengintrogasi putrinya lebih jauh.
“Deon, putri kita sudah berusia 24 tahun, tapi dia belum pernah berkencan sekalipun! Itu semua karena kamu yang posesif padanya.”
“24 adalah usia yang sangat muda untuk berkencan!”
Mereka berdua berdebat di depan Aileen yang tersenyum, merasa terhibur dengan situasi yang sudah lama tidak dilihat. Ketakutan dan rasa bersalah berganti dengan rasa rindu pada rumah yang tiba-tiba meluap di hatinya. Sebelum perdebatan mereka berdua semakin panjang, Aileen memotongnya lebih dulu. “Aku tidak berkencan dengan siapapun, hentikan. Ini hanya tentang perkuliahanku saja, sebentar lagi aku akan lulus, aku sedikit gugup.”
Deon dan Elle memiliki ekspresi yang berbeda ketika mendengar pernyataan Aileen. Deon lantas lebih dulu berbicara, “Aileen, sebaiknya kamu kembali ke New York dan bekerja di sini saja. Kamu sudah cukup merantau selama 6 tahun dan jauh dari kami.”
Aileen terdiam memandangi mereka berdua. 6 tahun lalu, susah payah ia membujuk ayahnya yang posesif agar bisa pergi ke California dengan alasan kuliah. Tidak dipungkiri bahwa sikap Deon membuat Aileen terkekang, karena itulah dia berusaha untuk memisahkan diri dan hidup mandiri di sini. Dia telah berencana untuk bekerja dan hidup lebih lama di kota ini, tapi kejadian itu membuat Aileen berpikir ulang. Jika ingin melupakannya, maka mau tidak mau ia harus menjauh.
“Baiklah, akan aku pikirkan lagi. Hari ini aku akan keluar untuk jogging dan menghabiskan waktu bersama Derick dan Irish. Sampai jumpa lagi, Mom, Dad, I love you.”
“We love you more, Honey. Hati-hati.”
***
Hari dimana ketiga sahabat itu pergi menghabiskan waktu, cuaca cukup terik dan cerah di Kota California. Mereka tiba di cafe lebih lambat dari waktu yang ditentukan. Jam sudah menunjukkan waktu makan siang, sehingga cafe lebih ramai dan padat. California adalah kota yang cukup banyak diisi oleh cabang perusahaan-perusahaan besar. Tidak heran jika para pegawai itu memilih salah satu cafe populer ini untuk tempat makan siang mereka.
“Sepertinya kita tidak akan mendapat tempat duduk,” ucap Derick sembari menoleh ke sekitar.
“Apa sebaiknya kita datang lain kali di jam yang tidak sibuk?” sambung Irish, turut menyetujui pendapat Derick.
Aileen tidak terlalu mendengarkan dan melihat ke sekitar. Dia hanya berjalan di belakang mereka sambil membuka ponselnya karena hal mendesak. Sampai ia menabrak seseorang dan orang itu mengaduh, Fokusnya buyar dan Aileen tersadar. Mereka berdua bukan Derick dan Irish yang ada di depannya seperti terakhir kali.
Sebelum sempat Aileen berucap maaf, wanita yang ia tabrak tadi lebih dulu marah dan membentaknya. “Apa kamu tidak bisa menggunakan matamu saat berjalan?! Fokuskan matamu ke sekitar, bukannya ke ponselmu!”
“Sudahlah, Olivia, jangan membuat keributan.”
Suara pria di samping wanita itu membuat Aileen terkejut. Dia tidak terlalu memperhatikan karena kejadian ini begitu cepat. Barulah Aileen mendongak dan menatap ke arahnya sehingga menimbulkan reaksi yang lebih jauh pada tubuhnya. Dia membeku, tatapannya tidak bisa lepas dari netra biru shappire tersebut yang tidak melihat padanya. Degup jantungnya perlahan meningkat dan keringat dingin terbentuk. Ketakutan mulai menguasai dirinya sehingga rasanya sulit untuk sekedar mengalihkan pandangan.
“Tapi, Xavier, dia bahkan tidak meminta maaf.” Setelah wanita di depannya memanggil nama pria itu, Aileen berusaha keras mengendalikan diri. Dia membuang wajah ke samping, berusaha lagi untuk keluar dari situasi ini.
“Nona, apa kamu tidak akan mengatakan sesuatu?” Suara pria itu lagi-lagi terdengar, kali ini membuat Aileen gemetar dan kembali menciut.
“Kami minta maaf–”
“Tidak, saya salah, saya minta maaf.” Dengan terburu-buru dan tidak jelas, Aileen berkata maaf sebelum akhirnya keluar setengah berlari seolah kabur. Ia juga tidak menghiraukan kedua sahabatnya yang memanggil-manggil namanya.
-
-
-
To be continued