“Ini tidak mungkin terjadi …”
Air mata sudah tidak bisa tertahan lagi. Tangannya gemetar, menjatuhkan benda yang ia pegang. Tulang-tulang kerangka yang menopang tubuhnya ikut lemas seolah mencair sehingga ia turut luruh ke lantai. Aileen menjambak rambut blonde miliknya dengan perasaan frustasi, menyalurkan kebencian yang sudah terbentuk untuk dirinya sendiri. Dia menggeleng, menolak kenyataan yang baru diketahui. Menangis semakin menjadi di atas lututnya yang ditekuk sambil memeluk kedua kakinya.
Aileen kesulitan menenangkan diri setelah pertemuan singkat mereka terakhir kali tanpa sengaja di cafe minggu lalu. Dia berusaha terus menguatkan dirinya bahwa pria itu tidak mengenal apalagi mengingatnya. Mensugesti dirinya bahwa ia hanyalah seorang gadis biasa dari sekian banyak wanita di sekeliling Xavier Lawrence. Tidak ada yang tidak tahu tentangnya, termasuk Aileen yang jelas mengetahui rumor pria playboy itu. Dia tidak mungkin mengenal, mengingat, apalagi sampai mencarinya. Butuh waktu satu minggu untuk Aileen menenangkan ketakutannya, tapi sekarang masalah lain muncul. Bagaimana bisa dia mengandung anak dari pria seperti Xavier Lawrence?
Selain ketakutan, Aileen sekarang kebingungan setengah mati. Rencana untuk hidup tenang dengan pergi dari California dan melupakan semua yang terjadi menjadi semakin sulit. Kehamilan anak ini memaksa Aileen untuk terus menerus mengingat kejadian itu. Tidak hanya di dalam mimpi pria itu menerornya, kini benihnya juga turut membuat Aileen semakin tertekan.
***
Dua hari kemudian
“Tolong keluarlah dan makan sedikit atau minum sesuatu.”
“Aileen, aku akan mendengarkan ceritamu, tolong katakan pada kami.”
Suara Derick dan Irish di luar kamar Aileen telah terdengar selama satu menit, tapi sang pemilik kamar sama sekali tidak menghiraukan mereka bahkan sekedar berniat membukakan pintu. Namun, sahabat mana yang tidak khawatir ketika sahabatnya sudah tidak keluar kamar selama dua hari tanpa mendapat asupan apapun. Walau ini bukan pertama kalinya Aileen mengurung diri di kamar, ini pertama kalinya dia menunjukkan perubahan. Itu dimulai sejak mereka kembali dari Las Vegas. Derick dan Irish tidak banyak bertanya lebih jauh ketika Aileen menutupi sesuatu karena takut membuat dia tidak nyaman. Melihat bagaimana sifat Aileen, mereka sangat yakin cepat atau lambat dia akan memberitahu karena memang pada dasarnya mereka selalu seperti itu. Ini sudah dua minggu lebih dan Aileen tidak kunjung membuka mulut, tapi justru semakin tertutup dan berubah. Dipastikan bahwa yang terjadi di Las Vegas bukan sesuatu yang mudah diceritakan.
Memilih menyerah karena merasa tidak ada tanda-tanda dari Aileen, mereka berdua kembali ke ruang tamu. Tidak banyak berbicara santai atau berusaha mencairkan suasana di antara mereka, keduanya sudah mengetahui apa yang dipikirkan masing-masing. Kekhawatiran pada Aileen.
“Apa kita katakan ini semua pada Tuan dan Nyonya Smith saja?” tanya Irish setelah sekian lama terdiam, mengutarakan apa rencana yang ia pikirkan.
“Tuan Smith pasti akan sangat khawatir kalau begitu,” timpal Derick menyanggah, tidak setuju dengan saran Irish. Dia masih ingin berusaha untuk membuat Aileen berbicara pada mereka.
“Kita juga sama khawatirnya dan Aileen tidak ingin berbicara pada kita! Aku khawatir sesuatu yang besar telah terjadi padanya. Bukankah dia sangat aneh belakangan ini?”
“Aku tahu, tapi kedua orang tuanya sudah menitipkan Aileen pada kita!”
Ketika perbedaan pendapat terjadi, mereka saling membentak dan berdebat. Apalagi masalahnya adalah Aileen yang selalu menjadi penengah di antara mereka. Baik Derick maupun Irish sudah mengenal dan berteman dengan Aileen sejak mereka kecil. Rasa sayangnya sama-sama besar, begitu juga sebaliknya. Terutama Derick yang diam-diam menyukai Aileen sejak kecil, di atas nama persahabatan. Karena itulah dia tidak ingin mengecewakan kedua orang tua Aileen dan memilih untuk membujuknya lagi.
“Sejak awal kita seharusnya tidak ke Las Vegas dan minum di sana!” seru Irish, menyalahkan Derick atas usulannya yang mengajak pergi ke XV Nightclub.
“Kita berdua bertanggung jawab atas apa yang terjadi pada Aileen!” Derick yang seorang pria, tidak ingin mengalah pada Irish dan bertindak defensif di depannya.
Di tengah perdebatan mereka yang justru semakin panas dan panjang, atensi Irish tiba-tiba teralihkan. Ekspresi wajahnya berubah kala melihat ke belakang Derick, bersamaan dengan berhentinya argumen yang keluar dari mulutnya. Derick juga telah sadar, tapi sebelum pria itu berbalik, Irish lebih dulu pergi mengabaikannya. “Aileen!”
“Kamu baik-baik saja? Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa kamu bertingkah tidak seperti biasanya? Ceritakan padaku apapun itu.” Irish sudah tidak bisa menahan diri lagi atas kekhawatiran yang dimiliki. Jadi, dia mengutarakan semua yang dipikirkannya.
“Aileen …” Sebelum sempat menjawab, Derick memanggil namanya.
“Maaf sudah mengkhawatirkan kalian, teman-teman. Yang terpenting sekarang aku sudah baik-baik saja. Ini tidak akan lama, tapi boleh aku keluar menghirup udara segar sendirian?”
Aileen sedikit merasa bersalah pada mereka karena telah membuat khawatir. Setelah berpikir ribuan kali apa yang harus dilakukan, dia memutuskan keluar kamar menemui dua sahabat baiknya. Pertama-tama menenangkan mereka, lalu menceritakan semuanya setelah ia keluar untuk menguatkan keputusan yang sudah diambil dengan hati-hati.
“Biar aku menemanimu, Aileen. Hari sudah cukup malam sekarang, sekalian aku akan pulang.” Aileen menatap Derick yang memohon, tapi tetap menggelengkan kepala. “Menginaplah di sini, aku akan menceritakan semuanya setelah kembali. Aku berjanji.”
Derick dan Irish lama tidak menjawab, memikirkan keputusan mereka. Melihat netra Aileen yang sangat bertekad, mereka tahu tidak ada pilihan selain mengizinkan. Aileen yang mereka kenal tidak akan pernah mengingkari janjinya. Namun, tidak ada yang tahu jika ini bisa merupakan pertemuan terakhir ketiganya untuk waktu yang lama.
***
Xavier lagi-lagi terhanyut dalam gemerlap anting tua itu yang tanpa sadar selama ini tidak pernah ditinggalkan. Sebelum suara ketukan pintu dari luar ruangannya terdengar, membawa kembali kesadaran pria itu. Dia berdehem dan menjawab, kali ini tidak menyembunyikan aktivitas sebelumnya pada Edwin. Kotak perhiasan itu masih ada di tangannya. Tanpa repot-repot berbalik, ia menatap sekretarisnya dari pantulan kaca besar di depannya, menunggu laporan yang dibawakan.
Edwin menyiapkan suaranya sebelum berbicara. Ia menyerahkan sebuah dokumen yang dibawa bersamanya, “Ini adalah gadis yang Anda cari.”
Barulah Xavier menghadap pada Edwin dan mengambil dokumen tersebut lantas membukanya. Bunyi suara kertas yang dibalik terdengar di tengah keheningan ruangan di antara mereka berdua. Xavier menutup kembali dokumen itu, tidak berbicara sama sekali dalam beberapa detik. Edwin menunggu dengan sedikit heran, memperhatikan bagaimana ekspresi bosnya. Ini pertama kalinya ia melihat pria itu tidak terbaca, bahkan olehnya sekalipun yang sudah mengenal baik dirinya. Entah apa yang sedang dipikirkan oleh Xavier.
‘Rupanya kita pernah bertemu.’ Xavier tengah mengingat wajah gadis yang pernah dilihatnya ini di suatu tempat.
“Hah! Jadi, ini alasan gadis itu bersikap sangat ketakutan saat di cafe,” gumamnya pelan sembari tertawa kecil.
Edwin menerima kembali dokumen yang disodorkan oleh Xavier. Dia tidak bisa menahan diri untuk tidak melontarkan pertanyaan yang ada di dalam kepalanya. “Apa kau benar-benar mencarinya hanya untuk memastikan kalau dia hamil anakmu atau tidak?”
“Tentu saja, memangnya untuk apalagi?” Xavier menjawab cepat sambil menoleh ke arahnya dengan tatapan meyakinkan.
Mendengar jawaban bosnya membuat Edwin justru tidak merasa yakin. Itu seperti tatapan seseorang yang berambisi untuk mengurung seorang gadis karena dia sudah terobsesi padanya. Namun, seorang Xavier Lawrence yang ia kenal tidak mungkin akan berbuat demikian. Jadi, Edwin memutuskan untuk percaya saja dan melakukan apa yang diinginkan oleh pria yang menggajinya ini.
“Kau tidak tahu apapun tentang gadis ini, dia hanya salah satu dari sekian banyaknya gadis yang menghabiskan malam denganmu. Bisa saja dia memiliki kekasih, melupakan malam itu sebagai angin lalu atau kenangan manis saja. Walaupun dia hamil, tidak ada yang bisa memastikan bahwa itu benar-benar anakmu.”
“Edwin, kau hanya perlu mengikuti perintahku.” Edwin sedikit terkejut dengan nada dingin yang keluar dari Xavier. Dia terdengar marah, entah untuk alasan apa.
Gadis tidak biasa itu tidak mungkin melupakan malam mereka. Jelas saat di cafe ia mengenalinya dan ketakutan saat melihat dirinya. Mana mungkin gadis berusia 24 tahun ini memiliki kekasih saat dia yang merenggut keperawanannya. Dari sana juga Xavier yakin, kalau dia bukan tipe gadis yang akan berhubungan dengan sembarang pria. Walau ini sebuah kecelakaan dan dia tidak berhati-hati saat berhubungan, Xavier tidak terlalu merasa gelisah atau kesal pada gadis yang berani menginjak harga dirinya itu. Malahan, dia merasa sedikit senang?
“Aku harus menemukannya.” Xavier menatap sekali lagi anting berkilau di dalam kotak perhiasan tersebut.
-
-
-
To be continued