Meski hujan mengguyur cukup deras di siang hari yang seharusnya cerah, tidak mengurungkan niat para pegawai dari berbagai gedung perusahaan untuk makan siang. Rutinitas kegiatan di ibukota tidak pernah berhenti atau berubah. Tak terkecuali dengan Xavier yang semakin sibuk setelah kembali ke kantor pusat. Dia berdiri di depan jendela besar, tidak jauh dari letak meja kerjanya berada. Menikmati setiap tetesan air hujan yang membasahi jendela lalu menciptakan embun. Awan gelap tampak menutupi seluruh gedung-gedung pencakar langit di depan gedung LW Ent. yang kini ia pijak.
Sudah satu minggu ia kembali ke Washington D.C. Semua tampak normal dan biasa bagi Xavier, tapi ia belum tenang karena menunggu kabar dari Edwin mengenai Aileen. California adalah kota yang kecil jika dibandingkan dengan orang yang dikerahkan, tapi dia masih belum bisa melaporkan hasil pencariannya. Ditambah semua data-data tentang Aileen sudah diketahui. Tidak akan sulit menemukan dan membawa satu orang gadis saja. Lagipula dia tidak akan menculiknya, hanya ingin berbicara sebentar untuk memastikan sesuatu. Setelahnya ia akan memberikan barang milik gadis itu lalu semua hal-hal yang mengganggu ini selesai. Xavier pikir semua ini adalah akibat dari kekhawatiran mengenai gadis itu yang mengganggunya.
Sebuah pemikiran terlintas di dalam kepala. Xavier secara tiba-tiba. Dahinya berkerut dan tubuhnya membeku beberapa detik, memikirkan kemungkinan yang ada di dalam otaknya. Dia menggosok-gosok bibirnya menggunakan ibu jari. Jika gadis itu sampai saat ini memang sengaja menyembunyikan diri karena tahu ia sedang dicari, maka memang ada kemungkinan dia mengandung anaknya. Jika dia mengandung, Xavier tidak memikirkan keputusan apa yang harus diambil.
Bertepatan dengan Xavier yang memikirkan tentang Aileen, suara ketukan pintu terdengar. Tanpa menunda, Xavier membiarkan Edwin masuk untuk membicarakan hal ini. Mereka duduk di sofa di depan meja kerja Xavier, tempat biasa menerima tamu di ruangannya.
“Apa kucing itu sudah ditemukan?” tanya Xavier to the point.
‘Kucing?’ Edwin semula menyerngit tidak mengerti dengan apa yang dimaksud oleh bosnya, tapi segera menyadari.
“Nona Smith menghilang.” Xavier yang duduk bersandar dan bersantai, segera menoleh dan menatap sekretarisnya. Lalu mengusap daun telinganya, memastikan bahwa pendengarannya masih baik-baik saja. “Bisa katakan sekali lagi?”
“Nona Smith menghilang,” ulang Edwin.
Setelah mendengar dua kalimat sama yang dikatakan Edwin, barulah Xavier menegakan tubuhnya untuk mendengar lebih serius. “Jelaskan padaku apa maksudnya.”
“Keluarga Smith juga kini sedang mencari keberadaan putri mereka yang sudah menghilang selama satu minggu di California. Tidak ada jejak apapun yang ditemukan setelah terakhir kali kedua temannya berinteraksi dengan Nona Smith. Detektif mengatakan dari keterangan kalau dia meminta izin pada dua temannya untuk berjalan-jalan keluar pada malam hari. Setelah itu dia menghilang. Detektif itu juga mengatakan kalau Nona Smith mengatakan akan kembali untuk menceritakan semuanya. Dikatakan oleh kedua temannya kalau itu berhubungan dengan Las Vegas, alasan dia terlihat murung beberapa hari sebelumnya.”
“Terlihat murung?” tanya Xavier setengah bergumam.
“Itulah yang dikatakan oleh kedua temannya yang sangat dekat dengan Nona Smith. Mungkin alasannya memang karena malam bersamamu.”
Edwin sesekali melirik ke arah Xavier, terlihat ragu-ragu untuk melanjutkan laporan hasil pencariannya. Belakangan ia menyadari bahwa bosnya ini sedikit berbeda jika menyangkut Aileen Smith. Ia menebak kalau Xavier begitu tertarik dengan gadis itu adalah karena perbedaannya dengan gadis-gadis lain sejauh ini.
“Detektif itu menarik kesimpulan dari keterangan-keterangan bahwa kemungkinan Nona Smith pergi dalam keadaan stres atau mungkin depresi lalu memutuskan untuk bunuh diri,” ucap Edwin setelah mengumpulkan keberanian.
Menyadari tatapan mengintimidasi dari Xavier, Edwin cepat-cepat melanjutkan, “Tapi masih banyak kemungkinan lain. Sampai saat ini pun belum ditemukan tanda-tanda jasad seseorang yang diduga Nona Smith.”
“Dan keluarga serta kedua temannya juga tidak mempercayai kemungkinan itu karena mereka kenal baik Nona Smith tidak akan mungkin melakukan tindakan gegabah.”
Lagi-lagi Edwin tidak tahu apa yang dipikirkan oleh Xavier lewat ekspresi wajah yang sama sekali tidak terbaca itu. Dia semakin ragu kalau Xavier memang hanya ingin sekedar memastikan saja. Melihat bagaimana dirinya bekerja sampai saat ini untuk mencari Aileen Smith, menunjukkan ambisi tidak biasa dari Xavier.
Xavier berdiri dari duduknya tanpa memberikan perintah apapun. Suara langkah kakinya yang bersepatu pantofel, terdengar di tengah suara hujan yang mengguyur. Dia kembali ke posisi dimana saat sebelum mereka duduk dan berbincang. Tangan kanannya keluar dari saku celananya bersama kotak perhiasan yang selalu ia bawa. Menatap lamat anting berkilau yang ada di dalamnya. Tanpa sadar ia memegang kotak perhiasan itu dengan kuat hingga urat-urat di tangannya menonjol terlihat. Menandakan bahwa kemarahan benar-benar menguasai dirinya.
Tidak hanya pertama kali seorang gadis meninggalkannya setelah berhubungan, tapi dia juga adalah gadis pertama yang menghilang. Seakan berhubungan dengannya adalah sebuah aib yang membuatnya gila dan malu hingga memutuskan mengakhiri hidup. Harga diri Xavier tidak mengizinkan ini berlalu begitu saja.
“Sewa detektif terbaik di negara ini dan kerahkan seluruh orang-orang kita untuk mencari keberadaan Aileen Smith. Walaupun dia mati, bawa jasadnya.” Suara dinginnya menyatu dengan udara di dalam ruangan. Edwin berdiri dan melaksanakan sesuai perintah Xavier tanpa banyak bertanya lagi.
***
Satu tahun berlalu
“Masuk!” Xavier tidak mengalihkan atensinya dari komputer ketika mendengar ketukan pintu dari luar ruangan.
“Kejutan!” Seruan kencang dari seorang wanita barulah membuat Xavier menoleh. Kerutan di dahinya yang menandakan konsentrasi penuh, seketika hilang begitu saja melihat kedatangan wanita tersebut. Dia berdiri dan melangkah ke arahnya, menyambut dengan senyuman hangat. “Hei, beautiful, long time no see. I miss you.”
“I miss you too.”
Wanita tersebut segera melompat masuk ke dalam pelukannya, setelah mencium singkat pipi Xavier. Pria itu tampak nyaman dengan perlakuan yang diberikan. Dia membalas pelukan wanita itu sambil mengusap beberapa kali surai panjangnya.
“Kapan kamu tiba di Amerika, Louis? Bagaimana Paris, apa menyenangkan?” tanya Xavier setelah melepas pelukan, membawa wanita yang dipanggil Louis itu ke sofa untuk melanjutkan pembicaraan mereka.
“Yaa … tidak buruk juga, tapi Amerika lebih baik. Karena di sini aku bisa bersamamu.” Sekali lagi Louis memeluk leher Xavier setelah mereka duduk di sofa.
Xavier tertawa dan membiarkan saja. Ia hendak berdiri untuk ke arah mesin kopi berada. “Apa kamu masih menyukai minuman Amerika?”
“Hei, kamu memperlakukan aku seperti turis asing,” ujar Louisa bernada seakan ia tersinggung.
“Aku tidak ingin minum apapun, aku hanya ingin melepas rindu dengan sahabat baikku saja.”
Xavier menuruti keinginan tamu pentingnya ini yang baru tiba. Karena dia adalah Louisa Davies, seorang artis sukses yang terkenal di seluruh mancanegara, sekaligus sahabat baiknya sejak kecil. Sudah satu tahun lebih mereka tidak bertemu, ini adalah pertemuan kembali mereka. Xavier memang tidak berbohong jika dia memang merindukannya. Hanya wanita inilah yang bisa sangat dekat dengannya, selain keluarganya karena hubungan baik mereka yang sudah terjalin. Dia melirik ke arah jam tangan yang melingkari, sebentar lagi adalah waktu makan siang. Sambil menghabiskan waktu, Xavier menarik beberapa paper bag yang dijatuhkan oleh wanita itu segera setelah datang, membuka salah satu.
“Apa ini hadiahku dari Paris?”
“Tentu saja, bukalah. Ini semua hadiah untukmu.” Louisa juga menarik paper bag tersebut dan ikut membukanya, memperlihatkan hadiah-hadiah yang ia bawa.
“Apa kamu sudah bertemu kedua orang tuamu?” tanya Xavier saat Louisa tengah menempelkan dasi hadiah itu, seolah mencocokan dengannya.
“Belum, aku langsung kemari begitu tiba di bandara.” Xavier mengangguk, tapi mengajukan kembali pertanyaan, “Lalu dimana hadiah untuk kedua orang tua–”
“Ngomong-ngomong, sepertinya saku celana milikmu ini sangat penuh sesak, ya?” Sebelum selesai menyelesaikan pertanyaan, Louisa lebih dulu memotong ucapannya. Ia melirik ke arah saku celana Xavier yang tampak menonjol, tanpa permisi merogoh sakunya dan mengambil benda di dalamnya.
“Itu …” Penjelasan Xavier terlambat sebab wanita itu sudah lebih dulu melihat. Sebelum ia mengatakan sesuatu lagi, suara ketukan pintu dari luar ruangan lagi-lagi menghentikan Xavier.
Mereka berdua mengalihkan atensi pada Edwin yang baru masuk. Seperti biasa, Edwin tidak peduli atau cuek kepada Louisa yang sedang bersama Xavier. Di wajahnya hanya terlihat pekerjaan yang akan dikatakan kepada Xavier.
“Ada apa, Edwin?” Xavier memperhatikan ekspresi Edwin yang tidak biasa, dia menunggu apa yang akan dikatakan oleh sekretarisnya ini hingga membuat ia ragu.
“Dia diperkirakan sudah ditemukan.” Walaupun ‘dia’ tidak disebutkan dengan lugas, tapi Xavier segera menyadari siapa yang dimaksud.
‘I got you!’ Edwin dan Louisa tersentak ketika melihat seringaian seram yang terbentuk di bibir Xavier.
-
-
-
To be continued