Pria yang datang ke rumah Evelyn tidak bisa bernegosiasi, sehingga akhirnya diputuskan bahwa ia akan ikut dengan mereka malam itu juga. Setelah membawa barang-barang yang diperlukan saja, Evelyn dan rombongan pria ini pergi terlebih dahulu ke rumah Margot. Syukurlah Rosie tertidur lelap, meski keadaan rumah cukup ramai, begitu diantar ke rumah kedua orang tuanya. Sayang sekali Evelyn tidak bisa mengambil kesempatan ini untuk menghabiskan lebih banyak waktu dengannya, tapi tidak ada pilihan lain.
Margot yang membuka pintu untuk Evelyn malam itu, cukup terkejut dengan pria-pria yang datang bersamanya juga. Tidak banyak yang mereka bicarakan selain pamitan singkat. Kabar ini mungkin akan segera menyebar esok harinya jika Margot mengetahui kepergiannya. Ini bisa menjadi kesempatan bagi Evelyn kalau-kalau orang-orang yang membawanya bukan orang baik, tapi semoga saja itu tidak terjadi.
Evelyn satu mobil dengan Edwin dan satu orang supir. Sementara pria-pria bodyguard masuk ke dalam mobil yang lebih besar, mengikuti dari belakang mobil mereka seolah mengawalnya. Perjalanan cukup lama untuk sampai ke jalan utama, entah akan dibawa kemana setelahnya. Mungkin sekitar 3 jam lebih, antara Evelyn dan Edwin saling diam. Sampai di sebuah bandara yang pertama kalinya Evelyn datangi, mereka berhenti dan membuat ia terkejut.
“Kita sudah sampai di pemberhentian pertama kita, Nona Smith, maksud saya, Nona Evelyn.” Lagi-lagi nama Smith yang keluar dari mulut pria itu. Ini bukan yang pertama kali sejak pertemuan pertama mereka tadi dan Evelyn mulai merasa aneh.
“Tunggu, Tuan Scott. Anda tidak pernah bilang kalau kita akan naik pesawat. Sebenarnya kemana kita akan pergi?” Evelyn membiarkan yang tadi berlalu, ia menoleh ke samping, tepat dimana Edwin mengulurkan tangannya untuk membawanya keluar. Ia masih belum turun, menunggu jawaban dari Edwin.
“Bos saya tinggal di Washington D.C.” Mendengar jawaban Edwin justru semakin membuat Evelyn menganga terkejut. Ia mengerutkan dahi dan berkeringat, mulai merasa enggan jika destinasi tujuannya sejauh itu dari rumahnya.
“Kebetulan saya tidak memiliki paspor,” ucap Evelyn mencari alasan. Namun, Edwin telah bertekad tidak membiarkan Evelyn mundur dari keputusannya.
“Itu tidak diperlukan, kita akan naik jet pribadi Tuan Xavier dan masalah surat lainnya akan dibuat menyusul.” Sempat terkesima dengan aset yang dimiliki oleh bos dari Edwin, tapi ia tetap enggan dan berpikir keras untuk menolak. Tiba-tiba Edwin membungkuk, mendekat ke arah wajah Evelyn yang berkeringat gugup menjadi semakin gugup. “Saya tahu Anda memilih pilihan ini karena Anda cerdas, jadi sebaiknya Anda tidak salah sekarang.”
Wajah datar dari pria yang baru saja mengancamnya itu menjauh. Udara di sekitar yang telah dingin, semakin bertambah minusnya selaras dengan nada dari ucapan Edwin. Untuk sesaat pipi Evelyn memerah dan degup jantungnya meningkat karena ketakutan. Sejak awal Evelyn memang tidak memiliki pilihan selain ikut dengan mereka. Setelah menghembuskan napas dan mengumpulkan keberanian serta tekadnya, dia keluar dari mobil.
Edwin berjalan menyusul ke depan, memimpin mereka semua. Rombongan mereka terlalu mencolok hingga menimbulkan banyak atensi yang mengarah kemari. Beruntung tidak perlu menunggu seperti yang dilakukan orang-orang kebanyakan, jadi tidak perlu menarik atensi lebih banyak dan lebih lama lagi. Melihat bagaimana otot wajah Edwin yang tidak berubah sedikitpun, menandakan bahwa pria itu sudah terbiasa dengan situasi ini.
Ketika berada di dalam pesawat, netra Evelyn yang dimanjakan oleh kemewahan untuk pertama kalinya, tidak bisa menahan untuk tidak menangkap semua dan menyimpannya di dalam memori. Edwin mempersilahkan Evelyn duduk di salah satu kursi dekat jendela lalu menawarkannya makanan atau minuman. Karena Evelyn belum sempat makan, dia meminta sandwich dan segelas teh hangat. Setelahnya pria itu pergi ke ujung lorong dan berbelok.
“Nona Evelyn, jika Anda ingin beristirahat, silahkan masuk ke dalam kamar yang ada di sana.”
Edwin tidak lama kembali dan duduk berhadapan dengan Evelyn setelah sebelumnya menunjuk ke arah pintu yang ia maksud kamar. Tidak hanya bebas makanan, tapi juga tempat tidur. Sungguh luar biasa. Evelyn menahan untuk tidak berdecak kagum pada semua yang ia rasakan sekarang. Tidak lama pesawat mulai lepas landas dengan lancar setelah instruksi pemakaian sabuk pengaman. Padahal ini pertama kalinya Evelyn naik pesawat, tapi rasanya ia tidak terlalu takut dan seakan terbiasa.
“Apa saya bisa bertanya, Tuan Scott?” Karena sepanjang jalan tadi mereka tidak berbicara dan sekarang harus berhadapan dalam waktu yang lama lagi, Evelyn berusaha membuka pembicaraan agar lebih nyaman.
“Pertanyaan Anda dan semua jawabannya bisa dikatakan pada Tuan Xavier nanti setelah bertemu.” Niat baik dan keberanian Evelyn pecah berkeping-keping seperti sebuah gelas yang dijatuhkan ketika mendengar jawaban dingin dari Edwin.
Sekarang suasana menjadi semakin canggung, tapi hanya ia yang merasakannya. Betapa menyebalkannya hal ini dan pria bernama Edwin Scott di depan Evelyn. Dia sangat terang-terangan dengan pendapatnya. Evelyn memutuskan untuk tidak berbicara lagi. Sang pramugari datang menyelamatkan situasi ini dengan membawakan makanan dan minuman yang tadi ia inginkan. Tidak lagi mengajaknya berbicara, Evelyn tidak repot-repot menawari Edwin.
Waktu penerbangan dari Alaska ke Washington kira-kira adalah 8 jam atau lebih. Mereka pergi saat sore hari dan naik pesawat saat pukul 9 malam. Setelah makan malam dan belum beristirahat, Evelyn tidak bisa menahan kantuknya lagi.
***
Sepertinya cukup lama Evelyn tertidur karena ketika ia terbangun bukan lagi di pesawat. Pemandangan pertama yang dilihat adalah jalan raya lenggang. Ternyata mereka sudah kembali menggunakan jalur darat yang mengartikan bahwa mereka sudah tiba di ibukota. Langit juga sudah berwarna jingga, menandakan hari telah pagi. Lagi-lagi yang berada dalam satu mobil dengannya adalah Edwin dan satu supir. Pria itu tampak tengah berbicara di telpon.
“Mansion? Kenapa tidak di penthouse kau saja?”
Cara bicaranya sama seperti ia berbicara padanya atau orang-orang di sekitarnya. Seolah Edwin dilahirkan sejak awal untuk memiliki hati yang dingin. Padahal wajahnya cukup tampan bagi sebagian besar wanita, Evelyn bisa menjamin itu. Entah sedang berbicara dengan siapa, Evelyn tidak berniat untuk memberikan tanda bahwa ia telah bangun. Dia juga tidak berniat menguping, tapi situasi ini membuatnya seakan seperti penguping.
“Xavier, kau …” Ucapan Edwin tidak selesai karena melihat pergerakan Evelyn yang disengaja.
“Aku akan ke mansion.” Edwin melirik ke arah Evelyn sebentar sebelum pada sang supir yang telah mengerti dari tatapan matanya.
Pada akhirnya Evelyn tanpa sengaja menguping dan mengetahui kemana mereka akan pergi. Orang yang berbicara dengan Edwin pastilah Xavier Lawrence, bosnya sendiri. Seberapa dekat hubungan mereka hingga memanggil satu sama lain dengan nama. Evelyn menahan diri untuk tidak bertanya atau berbicara hal-hal yang bisa membuat Edwin tambah jengkel. Dilihat dari raut wajahnya yang kelelahan, Edwin tidak dalam suasana hati yang baik.
Perjalanan kali ini lebih cepat dari jalur darat sebelumnya di Alaska. Mereka mulai berbelok ke jalanan yang di sisi kanan dan kirinya ditumbuhi pohon tinggi yang Evelyn sendiri tidak tahu apa nama pohonnya. Sekitar satu menit setelah melewatinya, di ujung jalan ini terdapat sebuah pagar tinggi. Pintu gerbang tersebut terbuka secara otomatis dan membiarkan mobil lewat. Evelyn bisa melihat, di balik pagar tadi terdapat sebuah mansion mewah nan besar. Mobil yang mereka tumpangi berhenti tepat di pekarangan yang luas.
Edwin turun lebih dulu disusul oleh Evelyn yang tidak perlu menunggu Edwin membukakan pintu. Lagi-lagi Evelyn tidak bisa menahan kedua netranya untuk menatap penuh kagum pada mansion di depannya. Tanpa sadar ia sudah mendecakkan lidahnya.
“Ayo masuk, Nona. Tuan Xavier sudah menunggu.” Suara Edwin membawa kesadaran Evelyn. Ia mengikuti pria itu yang lagi-lagi memimpin jalan masuk.
Ketika masuk pun, Evelyn tidak bisa untuk tidak menoleh ke sekitar menikmati setiap kemewahan yang memanjakan mata. Suhunya dingin, meski tidak sedingin Alaska, tapi juga dingin dalam artian lain. Bangunan sebesar ini, sepanjang perjalan mereka ke lantai dua, tidak satupun orang menampakkan diri. Entah memang hanya Xavier Lawrence yang menghuni tempat ini seorang diri.
Edwin membuka pintu besar di depan mereka tanpa mengetuk lebih dulu–yang notabenenya adalah ruangan Xavier–setelah tiba di depan ruangan pertama yang dijumpai di lantai ini. Evelyn masih setia mengikuti Edwin menghadap seorang pria yang membelakangi mereka.
“Aku akan mengambil hakku sebagai manusia.” Kali ini nada bicaranya sedikit tajam, menunjukkan jelas kekesalan.
Edwin keluar dari ruangan meninggalkan Evelyn bersama pria itu, tanpa mengatakan apapun. Evelyn tidak sempat mencegah dengan kata-kata, selain tangan yang menggantung di udara, menahan kepergian Edwin yang sudah hilang. Dia menoleh lagi ke depan, dimana pria itu duduk di depan perapian yang menyala. Hanya suara perapian tersebut yang berbunyi secara halus di antara mereka. Baik Evelyn maupun Xavier belum membuka pembicaraan satupun.
Setelah beberapa detik yang cukup lama, tiba-tiba Xavier berdiri dan berbalik pada Evelyn yang tidak jauh darinya. Dalam waktu singkat, Evelyn terpesona pada ketampanan pria itu yang dilihatnya secara langsung. Karisma yang ia rasakan lebih kuat, walaupun pakaiannya casual, Evelyn bisa merasakan seluruh gerakannya penuh wibawa. Tidak hanya tampan, ia dipastikan adalah sosok yang cerdas hanya dengan melihat netra biru shapirenya.
Semakin lama dan semakin dalam, Evelyn tersentak ketika Xavier mendekat. Semakin dekat, ia bisa melihat bagaimana raut wajah dan tatapan pria itu padanya sangat menusuk melebihi bagaimana Edwin memperlakukannya tadi. Walau Edwin sangat dingin, tapi dia memberikan rasa hormat. Namun Xavier, dia seolah menunjukkan kedudukannya tanpa berkata-kata lewat apa yang ia miliki.
Kedua netra shapire yang tersembunyi dibalik rambut poni berantakannya seakan menyala. Membuat degup jantung Evelyn mau tidak mau berdetak cepat karena visual menawan ini sekaligus kegugupannya. Ketika tangan kanan Xavier keluar dari saku celananya dan terangkat mengarah padanya, Evelyn dengan siaga memperhatikan. Rasionalitas dan ketidak rasionalitasannya di sini diuji.
“Tuan Xavier, saya sudah mendengarnya dari Tuan Scott sebelum datang kemari. Apa kita bisa membicarakan tujuan saya datang kemari?” Tangan Xavier yang berada tepat di samping wajahnya terhenti, sehingga tidak benar-benar menyentuh Evelyn.
Hembusan napas keluar dari mulutnya dan ekspresi wajahnya tiba-tiba berubah. Sekilas Evelyn melihat kilatan lain dari ekspresi tersebut. Xavier berjalan melewati Evelyn begitu saja ke arah pintu. Sebelum benar-benar keluar ia berkata, “Beristirahatlah dulu, kita bicarakan nanti. Aku harus bekerja hari ini.”
Lagi-lagi Evelyn terlambat untuk mencegah dua orang itu meninggalkannya.
-
-
-
To be continued