“Apa kamu tidak bisa menggunakan matamu saat berjalan?! Fokuskan matamu ke sekitar, bukannya ke ponselmu!”
“Sudahlah, Olivia, jangan membuat keributan.”
“Tapi, Xavier, dia bahkan tidak meminta maaf.”
“Nona, apa kamu tidak akan mengatakan sesuatu?”
“Tidak, saya salah, saya minta maaf.”
Pada mulanya itu bukanlah sebuah ingatan yang istimewa bagi Xavier, tetapi ketika berkaitan dengan satu nama penting, ia tidak bisa melupakannya begitu saja. Bagaimana nada suara, gestur tubuh, sampai ekspresi wajahnya saat mereka berhadapan. Dia memiliki kecantikan di atas rata-rata seorang gadis kebanyakan, tapi tidak secantik wanita yang berkencan dengan Xavier sejauh ini. Tidak ada yang istimewa juga darinya, tapi perbedaannya membuat ia menjadi istimewa.
Sejak awal, sejak gadis itu meninggalkan dirinya, Xavier harus mengakui keberaniannya yang berhasil mengusik egonya. Saat Edwin melaporkan hilangnya Aileen, ia sangat marah dan berpikir semakin buruk mengenai gadis itu karena ketidaksukaannya. Namun, hari dan bulan yang terlewat tanpa mendengar hasil apapun mengenai Aileen Smith membuat Xavier dirundung rasa takut tidak nyaman. Bagaimana jika dia tidak akan bertemu lagi dengannya?
Pada akhirnya setelah satu tahun, itu tidak akan terjadi karena Xavier telah melihat dan sebentar lagi bertemu dengannya. Senyuman serta raut penuh kekaguman polos yang dia tunjukkan sangat berbeda jauh dengan yang terakhir kali Xavier lihat. Mendengar dia yang dengan sukarela datang kemari, seakan ia adalah orang berbeda dengan Aileen Smith satu tahun lalu. Karena itulah Xavier akan mencari tahu siapa dia sebenarnya dan apa saja yang disembunyikan. Seberapa lama Aileen Smith atau Evelyn akan mempertahankan semua kepolosan dan kepura-puraan tersebut.
Kesadaran Xavier kembali pada pekarangan rumah, kedua orang yang ia perhatikan sudah tidak ada, menandakan bahwa mereka sebentar lagi akan masuk. Ia melangkah ke arah sofa yang berada di depan perapian, menunggu Edwin membawa Aileen.
Tidak menunggu lama, tiba-tiba pintu ruangan terbuka tanpa ketukan terlebih dahulu, disusul dua pasang langkah kaki. Lalu suara tajam Edwin terdengar, “Aku akan mengambil hakku sebagai manusia.”
Brak!
Sampai Edwin pergi dengan tidak sopan, Xavier tidak menegurnya sama sekali. Ia akan memaklumi karena sejak sabtu lalu sekretarisnya telah bekerja keras dan hari ini mereka akan berangkat ke kantor. Sekarang fokusnya adalah Aileen yang ada bersamanya. Xavier sudah menunggu momen ini selama satu tahun, sudah membayangkan apa saja yang akan ia lakukan dan katakan pada momen ini di dalam kepalanya.
Xavier berdiri dan berbalik menghadap Aileen yang tidak berada jauh darinya. Rambut blonde cantik itu tidak berubah. Kedua netra abu-abu terang yang pernah menatapnya ketakutan, kini menatapnya seperti cara wanita lain. Itu mengusik Xavier karena Aileen yang sekarang sangat berbeda dan sama dengan wanita lainnya.
Netra biru shapire miliknya berubah tajam sebelum akhirnya mendekat ke arah Aileen. Tanpa sadar tangannya bergerak hendak menyentuhnya dan ia siap melontarkan pertanyaan yang selama ini melekat. Namun, suara Aileen menghentikan tangan Xavier dan membuyarkan ekspektasinya.
“Tuan Xavier, saya sudah mendengarnya dari Tuan Scott sebelum datang kemari. Apa kita bisa membicarakan tujuan saya datang kemari?”
Xavier menurunkan tangannya dan menghembuskan napas, menetralkan ekspresi wajahnya. “Beristirahatlah dulu, kita bicarakan nanti. Aku harus bekerja hari ini.”
***
Edwin menghembuskan napas panjang, membuang keletihannya yang belum benar-benar pulih walaupun telah berendam di dalam bathup air hangat. Bisa dirasakan wajahnya sangat kacau sekarang, meski tidak terlihat di cermin saat ia tadi melihat. Namun, yang bekerja dengan nyaman di rumah selama akhir pekan, terlihat memiliki kondisi sama sepertinya. Bagaimana bisa Xavier memiliki keletihan yang sama dengan yang ia alami. Sungguh tidak masuk akal.
Satu alasan yang membuat Xavier seperti ini adalah sebuah penyesalan. Dia sudah menyusun rapi rencana, skema, dan semua kemungkinan ketika bertemu dengan Aileen, tapi satu kalimat gadis itu menghancurkannya. Semua tidak tercurahkan dengan baik dan ia sulit berkomunikasi hal yang penting dengannya. Ia tidak percaya pada dirinya sendiri, seorang Xavier Lawrence bisa sulit mengendalikan diri di depan seorang wanita.
“Lihatlah dokumen ini.” Edwin menyodorkan sebuah berkas kepadanya, mengabaikan penampilan dan apa yang dipikirkan Xavier.
Xavier yang duduk membungkuk, menutupi wajahnya dengan satu tangan, kembali tegak dan mengambil berkas yang disodorkan. Melirik pada jam tangan, waktu mulai bekerja mereka masih 15 menit lagi, bahkan ini masih dalam perjalanan di dalam mobil. Meski begitu Xavier tetap membacanya.
Belum satu halaman selesai, ia telah menutupnya dan menoleh pada Edwin yang sama-sama telah mulai bekerja di tablet. “Bagaimana pencarian Aileen Smith di keluarganya?”
“Wajahnya saat di bandara telah terlihat yang mungkin akan menjadi petunjuk bagi mereka, ditambah wajahku juga ada di sana.” Dengan tenang Edwin menjawab tanpa mengalihkan atensi.
“Urus itu sampai urusanku dengannya selesai.” Kali ini perkataan Xavier berhasil mengambil atensi dari Edwin. Ia menyerngit dan menaikkan nada suaranya, “Kau akan melakukan penculikan, apa kau gila?”
Edwin mengatakan apa yang ia khawatirkan selama ini. Sejak awal ia sudah ragu dengan rencana Xavier membawa Aileen ke mansion beralasan introgasi atau apapun itu. Mereka akan terlibat dengan sesuatu yang merepotkan nantinya, Xavier tidak mungkin tidak mengetahuinya. Sejak terlibat dengan nama Aileen Smith, Xavier jadi sangat banyak berubah. Lihat bagaimana dia sekarang tidak menghiraukan apa yang dikatakan olehnya. Edwin semakin curiga bahwa apa yang diinginkan oleh Xavier lebih dari apa yang ia katakan.
“Xavier, apa tujuanmu benar-benar hanya untuk memastikan bahwa dia adalah Aileen Smith dan mengenai peristiwa satu tahun lalu?”
“Bukannya aku sudah mengatakannya berulang kali?”
“Katakan benar kalau dia adalah Aileen Smith. Apa kau lupa penyebab yang diduga kenapa dia menghilang satu tahun lalu? Itu bisa berkaitan denganmu, kalau dia memiliki trauma padamu dan semakin parah karenamu, ini akan menjadi semakin rumit.”
“Kita masih belum mengetahui apa yang sebenarnya terjadi padanya bahkan kita tidak tahu kalau dia Aileen Smith atau bukan. Jadi, karena itulah kita harus mencari tahu. Kalau kau sangat mengkhawatirkannya, maka cari tahu sendiri dan aku akan mencari tahu dari gadis itu.”
Edwin mendengus kesal lagi-lagi kalah dalam perdebatan. Xavier memiliki seribu satu alasan untuk menyangkal sekarang, jika itu berkaitan dengan Aileen. Secara tidak langsung, mau tidak mau ia harus mencari tahu mengenai peristiwa yang terjadi pada Aileen Smith.
“Kalau kita sudah selesai dengan gadis itu dan benar, kita akan lebih banyak membantu keluarganya, kan?” Tidak ada jawaban dari Edwin. Firasatnya mengatakan kalau masalah ini tidak akan selesai hanya dengan pengakuan dari gadis itu atau hasil dari pencariannya.
“Aku sudah memperingatkan sejak awal, Xavier.”
Setelah perkataan Edwin, mobil berhenti tepat di depan sebuah gedung perkantoran yang tinggi dengan nama LW Ent. di atasnya. Supir membukakan pintu untuk Xavier dan Edwin menyusul keluar. Mereka berjalan beriringan masuk ke dalam kantor dengan beberapa sapaan yang menyambut dari karyawan. Begitu menginjak lantai lobi, ekspresi wajah, gestur, dan cara mereka berbicara mulai berubah profesional layaknya atasan dan bawahan. Telah melupakan perdebatan yang beberapa saat lalu terjadi di dalam mobil.
Xavier dan Edwin masuk ke dalam lift khusus para eksekutif untuk mencapai lantai tertinggi, dimana ruangan CEO berada. Baru saja keluar dari lift, seorang wanita terlihat menunggu di sofa dekat meja resepsionis, dimana biasanya tamu menunggu untuk bertemu Xavier. Karena suasana hati yang tidak mendukung untuk berhubungan dengan wanita, Xavier sama sekali tidak menyembunyikan emosinya. Ia berjalan terus masuk ke dalam ruangannya, tanpa menghiraukan wanita itu sama sekali.
“Xavier!” panggil sang wanita ketika menyadari keberadaan orang yang ia cari.
Edwin yang bisa membaca keadaan, segera menghalangi Olivia yang hendak menyusul. Ini bukan hal yang terjadi sekali atau dua kali. Ia melirik ke arah resepsionis untuk menanganinya. Resepsionis itu mengerti dan ikut membantu, setelah sebelumnya memanggil security.
“Biarkan aku bicara sebentar dengannya,” ucap Olivia memohon.
“Nona Lee, sekarang sudah jam kerja, saya mohon untuk pergi karena bos saya sibuk.”
Setelah resepsionis menanganinya, Edwin juga melanjutkan langkahnya untuk masuk ke ruangan Xavier. Agenda sudah disusun dan hendak dilaporkan pada bosnya yang akan melaksanakan. Karena suasana hati bosnya tadi terlihat tidak bagus, Edwin berusaha untuk hati-hati agar tidak menyinggung. Namun, saat ia masuk dan melihat Xavier, dia tampaknya telah mengembalikan mood.
“Apa yang sedang kau lakukan dengan tablet itu hingga kau kembali cerah?” tanya Edwin setelah berdiri di depan meja Xavier yang tidak disadarinya. Ia melirik ke dalam layar tablet yang menampilkan CCTV, semakin membuat Edwin curiga.
“Katakan urusanmu kemari, Edwin.”
-
-
-
To be continued