Pintu mobil dengan otomatisnya terbuka perlahan, beberapa orang yang disekitar ternganga melihat aksi Anisha. Kedua bola mata wanita itu nyaris keluar dari tempatnya, tubuh mungilnya mendadak gemetar disertai keringat panas dingin. Seketika raut wajahnya menciut kala harus berhadapan dengan orang yang pernah membuat janji bersamanya.
“Tidak ada waktu banyak, cepat bicara! Ada permasalahan apa?” Haidar menatap Anisha intens.
“Ma-maf Pak, saya yang tidak sengaja. Saya yang bersalah karena ku-kurang berhati-hati,” ucapnya sembari mengangguk. Ingin sekali Anisha menghilang sekejap dari muka bumi ini, wajahnya memerah bak kepiting rebus.
Pria itu hanya menarik ujung bibirnya saja, selepas itu langsung melenggang pergi. Dibuntuti dengan dua pengawal sigap yang sedari tadi melototi Anisha sangat tajam. Melihat jejak langkahnya saja sudah membuat wanita itu bergidik ngeri, bisa-bisanya dia lupa akan janjinya.
“Mampus! mati gue,” gerutu batinnya.
Jam makan siang telah tiba, di mana para karyawan menggunakan waktu sesingkat 20 menit dengan sebaik-baiknya. Sebagian ada yang masih bekerja sesuai dengan sipnya. Anisha bersama dua temannya kebetulan mendapat jam makan siang hari ini. Cacing-caing yang ada didalam perutnya sudah mulai berdemo.
“Shel! Makan diwarung sebrang sana aja, harga-harganya lebih terjangkau. Dibanding kita cuman makan stick … sekali makan harganya sampai dua puluh lima ribu,” tutur wanita yang mengenakan seragam yang serupa dengan Anisha.
Anisha dan Shela perlahan mengangguk. Mereka berteman baik sejak satu tahun lalu bekerja sebagai office girls. Suasana warung yang tampak ramai, membuat Anisha malas untuk mengantri. Terlebih jam istrihat tersisa hanya 10 menit, mana cukup untuk melahap makanan dengan tenang.
“Vin! Shel! Gue balik lagi ke mess deh,” ucap Anisha.
“Huft … kita belum juga makan Nis. Dikata gue laper banget.” Vina mengelus-elus perut buncitnya. Ia paling tidak bisa tertinggal makan disaat jam istirahat.
“Yaudah, gue sama Vina makan dulu. Lo gapapa kan balik sendiri ke mess?” tanya Shela menyambung.
Anisha mengangguk setelahnya.
Di antara bangunan dan jalan yang terbelah dua, ia memilih jalan sepi dari pengendara motor. Hanya ada beberapa satpam yang berjaga di depan kantor mereka. Ia sengaja melewati jalan tersebut karena terdapat taman yang tidak terlalu luas. Namun, dapat memanjakan mata seorang wanita kelahiran Bandung tersebut.
Lamat-lamat kedua bola matanya tertuju pada sepasang sejoli yang tengah melakukan adegan romantis. Ia pikir apa mungkin dirinya bisa memiliki kekasih tampan yang memperlakukan dirinya bak seorang ratu. Namun, tiba-tiba dering ponselnya menyala, berhasil membuyarkan semua lamunan Anisha.
“Rara?” ungkapnya.
Ia sengaja tidak mengangkat telfon karena sudah malas dengan orang tersebut. Anisha hanya mengirimkan pesan singkat pada Rara. Usai kejadian yang telah terjadi kemarin, ia lebih memlih resign dari pekerjaannya sebagai barista club.
“Ra, sudah berapa kali aku bilang. Aku tidak mau lagi bekerja di sana, terlebih setelah kejadian kemarin. Cukup jadi pelajaranku saja.” Kira-kira seperti itulah pesan singkatnya.
***
Sekitar 5 menit baru tiba di kantor tidak lama Shela dan Vina kembali menyusul. Keduanya menatap wajah Anisha yang memberengut. Hingga keduanya saling melepar pandangan.
“Sudah gue bilang, makan sudah pikiran mumet pun hilang … hahaha” ledek Vina.
“Nis lo kenapa? Nahan laper ya?” sambung Shela memastikan.
Belum Anisha menjawab, tiba-tiba seorang pegawai mengampiri mereka. Ia terkejut melihat siapa yang datang, beliau merupakan manajer tampan yang selama ini di dambakan para wanita. Vina dan Shela seolah di hipnotis, hampir tidak berkedip.
“Selamat siang, atas nama Anisha asma habiba?”
“Ya saya sendiri?” Anisha menjawab dengan nada bertanya-tanya.
“Anda dipanggil oleh atasan. Silahkan segera menemui beliau di ruangan atas sebelah ujung kiri.” Mereka yang mendengar pun tercengang. Sebelumnya Anisha tidak memiliki masalah dan tidak pernah keterlibat dengan hal apapun.
Tidak berpikir panjang saat itu juga Anisha memberanikan diri untuk menemui atasan. Jejaknya terhenti saat kedua kakinya menatap kedua pintu besar yang sudah terbuka, ruangnya juga tampak sepi bahkan jarang orang yang beralalu lalang. Pikiran Anisha sudah berkelana.
“Apa jangan-jangan cowok itu …” cepat-cepat ia menepis kembali pikiran negative tersebut.
Sekuat, setegar apapun tetap saja Anisha merasa takut. Terlebih ia mendengar kabar kalau Ceo yang sekarang sudah diganti dengan yang baru. Baru saja hendak masuk, tiba-tiba dua orang pengawal yang ia temui sejak pagi itu keluar.
“Ya ampun! Apa jangan-jangan bener kalau ....”
“Masuk!!” suara khas yang tidak asing lagi terdengar bak petir yang menggelegar.
Tubuh Anisha yang sudah bergemetar terdorong dengan suara perintahan atasannya tersebut. Pria itu berdiri tegap sembari menatap Anisha, ia menyiapkan kursi untuk Anisha. Wanita itu menelan ludah hingga sayup-sayup matanya terlihat ingin menangis.
“Mana bisa kamu lari dari janji saya? Apa kamu ingin menipu saya!” pertanyaan yang mengingatkan Anisha pada kejadian kemarin.
“Hahh … ti-tidak tuan, saya tidak bermaksud menipu tuan. Biar saya beri penjelasan,” sahut Anisha gelagapan.
“Saya tidak ingin mendengar penjelasan apapun dari kamu.”
Haidar yang tampak kesal menarik lengan Anisha begitu erat, menetapkan wajah tidak senang tepat dihadapan wanita itu. Namun, tidak lama kemudian datang seorang pegawai lain yang masuk tanpa mengetuk pintu. Hingga kedua aksi mereka buyar.
“Ehem …”
“Ma-maf Pak, saya sepertinya telah menganggu,” ucapnya hampir berbalik badan.
“Tidak!”
“Masuklah!” pinta Haidar nada keras.
“Awas kamu urusan kita belum selesai,” tutur Haidar nada mengancam. Anisha yang mendengar langsung merunduk ketakutan.
Wanita berumur dua puluh satu tahun itu dibuat ketar ketir dengan ucapan Haidar, perlahan ia meninggalkan ruangan tersebut. Ia kembali ke tempat kerja, shela dan Vina pun sudah lumayan lama menunggunya. Seharian ia tidak fokus bekerja, memikirkan hal apa lagi yang akan terjadi.
Sialnya wanita itu bukan malah mendapat ganti kerugian dari motornya yang rusak. Malah keadaannya kini semakin rumit. Bahkan bude dan pakde pula ikut heran, belakangan ini Anisha sering melamun dan nafsu makannya pun menurun tidak seperti biasa.
“Nis, kamu ada masalah? Cerita ke bude,” tanya bude cemas.
Anisha memegang halus tangan bibinya itu. “Tidak apa-apa bude, biasa Nisha hanya kelelahan bekerja. Bude kan tahu di minggu-minggu ini Anisha keseringan berangkat pagi pulang malam.” Bude tersenyum tipis.
“Emm … yasudah kamu istirahat sana, jangan sampai badan kamu sakit karena terlalu keras bekerja.” Nasihatnya di angguki langsung oleh Anisha.
***
Di sebuah caffe yang terbilang mahal, terdapat beberapa orang yang tengah asik nimbrung. Di hidangkan berbagai macam menu makanan dengan harga yang fantastis, mungkin hanya orang tertentulah yang makan di sana. Mereka mengambil potret yang tidak perlu diragukan lagi kualitas kejernihannya.
“Huuh … seru nih. Bro! kita harus post foto yang ini nih,” ucap salah seorang pria sangat antusias.
“Wih siapa tuh? Cantik juga,” sosor teman sebelahnnya. Ia menggulir kembali layar galeri pria yang baru saja mengepost foto.
Ia kembali merebut handponenya. “Shutt! Ada lah rahasia.”
“Tidak salah dia pakai seragam Og?” pertanyaan itu membuat semua teman-temannya penasaran.