Mereka yang berlomba-lomba berebutan ponsel, akhirnya di rampas kembali oleh sang pemilik. “Dar! Boleh kali gue embat tuh cewek?” Mendengar itu semua temannya tertawa.
“Coba aja kalau lu bisa,” sahutnya langsung melenggang pergi meninggalkan teman lainnya.
Tidak biasa jika pria itu melewatkan masa libur kerjanya. Setiap minggu ia pasti mendatangi club malam yang kabarnya sedang ramai pengunjung. Bosan dengan kegiatan bekerja ia malah lebih memilih mengambil libur cuti panjang untuk bersenang-senang.
Baru hendak memarkirkan mobil mewah ke tempat tujuan, tetapi tiba-tiba dering ponselnya menyala. Ia sangat terganggu sekali dengan panggilan tersebut, sehingga ia sengaja tidak mengangkatnya. Namun, lagi-lagi ponsel kembali menyala, terpaksa ia angkat.
“Haidar! Dimana kamu?” tanyanya terdengar keras.
“Pulang sekarang ada yang papah ingin bicarakan,” lanjutnya.
Haidar terdiam sejenak. “Emm … Iya-ya ini Haidar pulang ko Pah,”
Usai mematikan telfon, Haidar memutar kembali mobilnya menuju arah menuju pulang. Untung saja jaraknya tidak terlalu jauh paling lambat hanya membutuhkan 7 menit dari tempat lobi ke rumah. Sesampainya di sana beberapa penjaga membukakan pintu gerbang besar dengan tombol otomatis, sungguh sudah terbayang seberapa kaya pria itu.
“Haidar,” panggil seorang pria paruh baya, tetapi tetap terlihat gagah.
Ia duduk di samping sang ayah. “Sudah berapa kali papah bilang! Perusahaan itu kamu yang kelola sekarang, jangan seenaknya ninggalin pekerjaan begitu saja. Mengerti maksud papah?” tanyanya penuh harap.
Haidar hanya mengagguk.
***
Cuaca yang tidak menentu membuat Anisha sedikit susah untuk beraktifitas, terlebih hujan pun mulai turun bersamaan dengan waktu ayam berkokok. Tetapi, 2 hari kemarin hati Anisha merasa lega karena pandangan pria tampan itu tidak nampak lagi. Menyelam sebagai office girls sudah tugas wajib untuk datang tepat waktu meski sekalipun cuaca tidak mendukung.
“Bau-bau hati bahagia nih,” ledek Vina menyenggol tubuh Anisha yang baru saja datang.
“Udara segar taman sekitar segar pasti manusia sekeliling pun ikut segar dan bersemangat. Yak kan?”
Vina heran dengan perubahan sikap Anisha hari ini. Ceria dan begitu antusias, padahal tidak seperti biasa. Dengan tubuh gemuknya ia berusaha mengejar Anisha yang tanpa sadar meninggalkannya sendirian.
Ketika hujan mulai reda, para petugas sudah ada yang membersihkan bahkan menyapu halaman. Anisha dengan dibantu ketiga temannya untuk membersihkan semua ruangan kantor yang berada di lantai kedua. Wanita itu ketar ketir kala mengingat kembali kejadian kemarin bersama bosnya.
“Gue bersihin ruangan ini ya. Nis lo sama Vina bersihin ruangan sebelah sana biar cepet kita mencar,” tutur Shela sembari menyodorkan pembersih lantai pada Vina.
Anisha mengerutkan kening. “Kenapa lo Nis takut ya?” tanya Vina menyambung.
“lagian pak atasan kan sudah 3 hari ini tidak masuk.” Anisha tidak bergeming.
“Ahh … udah lah ayo gaada ini ko pak atasannya.” Vina menarik lengan Anisha hingga tepat di depan pintu yang dituju.
Pintu yang setengah terbuka hingga tampak beberapa barang yang berserakan sampai-sampai buku-buku di sana sudah tidak tertata rapih lagi. Vina mulai mengambil beberapa gelas yang tidak terpakai dan sengaja ia akan pindahkan ke ruangan lain. Sementara Anisha disibukkan dengan menata barang-barang ke tempat asal.
“Dasar bos jorok! Ruangan sendiri saja tidak diurus. Harus kita pula yang ngebersihin,” Protes Anisha dengan judes.
“Ehemm!”
“Ya ampun pak, ma-af saya bukan lancang. Saya cuma diberi tugas membersihkan ruangan ini saja.” Dengan rasa takut Anisha mencoba mengundurkan diri. Ia tidak percaya bagaimana mungkin pria itu dengan cepat sudah di tempat yang sama. Kemana perginya Vina.
“Tamat gue! Kemana lagi si Vina?” batinnya seolah berperang dengan pertanyaan temannya yang mendadak hilang.
Dengan wajah memerah Haidar menarik lengan Anisha sampai wanita itu nyaris terjatuh. Posisi jarak dekat keduanya membuat Anisha salah tingkah.
“Lancang sekali kamu! Masuk tanpa seizin saya!” pria itu benar-benar marah. Kedua celak matanya membulat sempurna.
Anisha meringis ketakutan. “Ma-” Baru hendak bicara Haidar memotong ucapan Anisha.
“Kamu masih ingat dengan janji saya malam itu? Dan hari ini juga kamu harus memenuhi janji itu!” Suara pria itu membuat wanita selugu Anisha bergidik ngeri. Ditambah lagi postur tubuhnya yang tinggi, besar. Bagaimana mungkin tubuh mungilnya bisa memberontak.
Kesepakatan malam itu seolah menjadi malapetaka dihidupnya. Selepas pekerjaan selesai Haidar mengajak Anisha untuk berbelanja ke sebuah mall langganannya. Haidar memilah-milah baju dengan ukuran yang terbilang minim, dress selutut berwarna biru berhasil membuat bos tampan ternganga sampai-sampai tidak mengerjapkan mata sekalipun.
“Mba!” panggil Anisha.
“Tidak ada ukuran baju yang lebih longgar dari ini?” tanya Anisha wajah polos. Kedua penjaga itu saling bertukar pandangan.
Haidar yang mendengar langsung melotot tajam. “Eh … tidak perlu Mba, cukup ini saja.”
Kali ini Anisha merasa dirugikan, belum lagi kerusakan motornya yang sampai saat ini masih belum betul. Bos itu memang pelit dan licik. Sekitar pukul Sembilan malam Anisha merebahkan tubuhnya diatas kasur, menatap sekeliling kamar hingga terlihat baju dres cantik yang tergantung rapih dipaku. Sejujurnya dia enggan memakai dress itu, tetapi bagimana lagi bahkan pria itu meminta esok malam untuk mengenakannya.
Keesokan malam, mobil mewah milik sang pengusaha muda sudah siap untuk tancap gas. Pesona aura Anisha terpancar begitu sempurna, polesannya pula membuatnya semakin cantik. Ia dihantar oleh asisten Haidar untuk segera memasuki mobil. Pandangan Haidar berpaling menatap Anisha, ia terkagum-kagum dengan pesona Anisha yang jarang ia lihat dari wanita-wanita lain.
“Kita akan pergi kemana Pak,” tanya Ansiha memberanikan diri. Sekilas ia menatap Haidar yang sudah siap dengan stylan baju yang begitu mewah, ia menelan saliva. Setampan itu pria itu.
“Sudah kamu jangan banyak tanya.” Balasnya singkat.
Dari sana tidak ada obrolan lagi, Haidar sedari tadi sibuk dengan ponselnya. Sementara Anisha hanya duduk seribu bahasa, ia menatap jalanan yang ramai. Mereka dihantar oleh sopir pribadi Haidar.
Kurang lebih 20 menit dalam perjalanan, Akhirnya mereka tiba di sebuah gedung yang terlihat indah dan mewah. Bahkan jika boleh jujur, tempat yang belum sama sekali Anisha temui sebelumnya. Lampu-lampu kecil yang menerangi setiap sudut, didominasi pernak-pernik yang memenuhi setiap dinding serta kue-kue besar yang Anisha tahu hanya ada di dunia fantasi.
“Ayo pegang tangan saya,” ucap Haidar nada memaksa.
Pria itu memberi ancang-ancang, supaya Anisha cepat merespond. “Haa ….” Anisha ternganga.
“Mana mungkin saya pegang tangan Bapak,” sambungnya masih tidak percaya.
Tanpa aba-aba lagi Haidar yang memegang langsung tangan wanita itu, ia dibuat heran. Apa maksud pria itu, dengan anggun Anisha segera keluar mobil dibantu oleh Haidar. Malam ini seperti pristiwa malam Cinderella, ia diperlakukan bak seorang putri mahkota.
Seketika keduanya menjadi sorotan setiap pasang mata. Banyak sekali bisikan-bisikan yang Anisha dapat. Entah kenapa genggaman tangan pria itu, berubah terasa nyaman. Gila memang.
“Pak, apa yang harus saya lakukan?” tanyanya lagi polos. Namun, tidak ada tanggapan dari pria yang kian seketika menghilang dari pandangannya. Anisha tidak sadar jika Haidar pergi begitu saja.
Anisha sangat geram. Kemana perginya pria itu, bisa-bisanya meninggalkan Anisha yang tidak tahu apa maksud dan tujuan mereka kemari. Apa mungkin bos itu hanya mengerjai Anisha saja.