Pesta acara itu benar-benar ramai, sangat sulit sekali Anisha menemukan Haidar. Sudah 10 menit Anisha mengelilingi tempat itu, tetapi tetap saja usahanya nihil. Tak lama kemudian, ia tanpa sengaja menoleh ke arah sudut ruangan yang minim dengan cahaya. Terlihat pasangan sejoli yang tengah asik berbincang, postur tubuh pria itu sudah Anisha kenali.
“Tenang saja sayang dia kan cuman-”
“Pak Haidar! Seenaknya pergi meninggalkan saya,” ucap Anisha memotong pembicaraan. Nadanya sedikit keras karena wanita itu benar-benar di buat sial.
Tanpa berkata-kata wanita itu melenggang pergi begitu saja. Tatapannya sungguh membuat Anisha ngeri, entah ia pacarnya atau pun tidak Anisha sudah tidak perduli. Mendengar alunan music yang indah, Haidar malah menarik lengan Anisha dan mengajaknya berdansa.
Wanita itu mengangkat sebelah alisnya.
“Maaf Pak, saya tidak bisa berdansa,” tutur Anisha gugup. Perlahan Haidar menuntun tangan Anisha. Hal itu membuat jantungnya nyaris copot dari tempatnya.
“Sudah ikuti saja.” Begitu lihainya Haidar, sampai-sampai membuat seluruh pasang mata terkagum-kagum padanya.
***
Pristiwa kemarin seolah menjadi kejadian melegenda dalam hidupnya, seakan seperti mimpi tapi memang benar nyata. Keduanya bak pangeran dan ratu yang menghadiri pesta meriah, semua orang menatapnya dengan wajah girang. Anisha terperanjat, bisa-bisanya Vina membuyarkan lamunan wanita itu.
“Astaga naga! Vina kaget banget gue!” gerutu Anisha. Pemilik badan gemuk itu tertawa lepas, dengan jailnya ia mencolek dagu Anisha.
“Gue perhatiin dari semenjak lo kerja pagi sampai sekarang lo banyak melamun deh. Mikirin apaan sih?” tanya Vina penasaran.
“Ah … siapa juga yang melamun,” sahutnya wajah polos. Padahal vina mengenal betul karakter Anisha yang tidak biasanya ia seperti itu.
“Eemm … awas lo kesambet hantu berdasi.” Cemooh Vina sembari melahap jajanan yang sedari tadi Anisha pegang.
Anisha terkesiap. “Dasar bu doser! Makanan terus incarannya!”
Tepat pukul 17.30 Anisha dengan kedua temannya, Shela dan Vina berencana pulang bersama. Jarak rumah mereka tidak begitu berjauhan. Sebenarnya mudah sekali jika Anisha berkeinginan mengajak salah satu temannya entah bermain, menonton bioskop, ataupun mengunjungi café-café yang saat ini tengah viral. Namun, Anisha berpikir ada hal lain yang lebih penting untuk dikerjakan.
“Nanti saja kita kan bisa ngambil minggu depan buat liburan,” ucap Anisha pada kedua temannya.
“Kalau ditunda-tunda biasanya suka gajadi Nis. Percaya deh sama gue,” sahut Shela memberi keyakinan pada Anisha.
“Ah … sudahlah minggu depan saja ya.”
Di depan teras rumah Anisha sengaja melanjutkan kegiatannya. Selain mendapat udara sejuk ia pun bisa kembali merefres pikirannya yang seharian penuh bekerja. Membaca sudah menjadi hobi Anisha yang mendarah daging, apalagi membaca setiap status yang terkait dengan beranda social medianya.
“Nisha, kamu punya handphone baru?” tanya Bude menghampiri Anisha.
Anisha terkesiap. Beberapa hari lalu Haidar memberikannya sebagai ucap terimakasih pada Anisha. Dan kebetulan sesuai dengan keinginan yang memang benar-benar Anisha butuhkan saat pula. Jadi ia tidak segan untuk menerima.
“Emmm … i-iya Bude. Alhamdulillah Nisha dapat rizki tambahan,” balasnya sedikit ragu. Sengaja Anisha rahasiakan hal ini karena bude benar tidak mengetahui akan hal itu.
“Syukurlah kalau begitu. Yaudah Bude masuk duluan ya kedalam, kamu juga Nis istirahat jangan begadang.”
“Siap Bude.”
Keesokan harinya, seperti biasa Anisha disibukkan dengan berbagai pekerjaan dari mulai membersihkan rumah hingga bersiap untuk pergi ke kantor. Semua ia lakukan dengan penuh senang hati, terlebih Bude dan Pade begitu perhatian pada Anisha. Pagi ini wanita itu memilih rambutnya dibiarkan terurai, terlihat cantik natural dengan gaya model tersebut.
Di tengah perjalanan mendadak motor Anisha mogok, ia heran baru saja kemarin ia service tetapi entah selalu saja motor birunya itu tidak bisa diajak kompromi. Wanita berumur dua puluh satu tahun itu berjalan gontai menyusuri tepi jalan.
“Ahh ya tuhan! Pantes saja mati bensinnya habis.” Gerutunya sembari memukul jok motor.
10 menit kemudian.
Tepat pukul 08.15 Anisha baru saja tiba di depan gerbang kantor. Berbarengan dengan itu gerbang pun sudah di tutup rapat, ia mencoba bernegosiasi agar gerbang dapat dibuka kembali, Namun. Tetap saja para penjaga itu malah bersih keras mengusir Anisha untuk tidak diam saja ditempat.
“Mba ini sudah menjadi peraturan perusahaan! Jangan membantah dan jangan seenaknya masuk begitu saja!” gertak satpam tegas.
“Tetapi Pak-“
“Tidak! Segera pergi atau saya akan panggil atasan kemari.” Mendengar perihal atasan membuat pikirannya kembali mengingt pada hal yang pernah terjadi.
Menit kemudian, seorang wanita yang tampak elegan mengenakan stylan kemeja dengan dres selutut berwarna abu menghampiri keduanya. Kedua satpam itu menunduk setelah sadar akan kehadiran wanita tersebut. Berbeda dengan Anisha, wanita polos itu malah balik menatapnya dengan instens.
“Berani sekali kamu menatap saya seperti itu,” ungkapnya kesal.
Anisha tercengang. “Kamu …? Perempuan yang malam itu bersama pak-” Wanita itu memotong langsung ucapan Anisha.
“Sudah! Kamu pergi dari sini sekarang. Dasar og tidak disiplin!!” sentak wanita itu tanpa meindahkan perkataannya.
Tanpa berpikir panjang Anisha pergi dengan hati yang sudah di selimuti rasa kekesalan, sungguh ia tidak menerima perkataan wanita tersebut. Bisa-bisanya wanita itu mengusirnya begitu saja, memang dia siapa. Ia berniat akan mengambil libur dua hari sementara, karena malas jika harus bertemu dengan wanita sombong tersebut.
***
Di ruangan tempat Haidar bertugas terdapat beberapa orang yang tengah berbincang-bincang. Ditengah kesibukan mereka tiba-tiba wanita yang mengenakan dress berwarna abu muda datang dengan sangat tidak santun.
“Apa sih kamu sayang, ko bisa ada foto si cewek kampung itu di galeri kamu?” tanyanya mengejutkan setiap pasang mata. Salah satu karyawan berbisik-bisik pada teman sebelahnya sementara Haidar diam seribu bahasa.
Haidar memberi kode agar wanita itu segera meninggalkan ruangannya. Namun, karena keras dan Manja wanita itu malah menaruh ponselnya dengan asal di depan Haidar, pria itu geram. Sudah pasti para karyawan dengan spontan menebak jika wanita itu kekasih dari bosnya.
“Kalian boleh keluar,” pinta Haidar. Ketiga karyawannya itu menunduk setelahnya.
“Issh ko begitu ya pacarnya pak Haidar,” bisik karyawan yang baru saja meninggalkan jejak
Langkahnya.
Mata Haidar membulat sempurna. “Sudah ku bilang dari awal jangan berbicara sembarangan disini. karena yang tahu hal ini hanya kita berdua dan satu lagi … jangan mengaku berbicara bahwa kamu adalah kekasihku?” jelasnya. Wanita itu memutar bola malas.
Merasa geram dengan perlakuan wanita itu, akhirnya Haidar melenggang pergi begitu saja. Entah apa maksud mereka. Nyatanya Haidar memiliki rencana lain hingga melibatkan wanita yang ia sebut-sebut sebagai wanita kampung.
Satu jam telah berlalu. Ia yang tengah fokus dengan layar laptop dikejutkan dengan ponselnya yang berdering. Ia tersenyum merekah kala melihat siapa yang memanggil. “Selamat siang dengan tuan Haidar cakra wijaya, untuk berkas dan dokumen lainnya segera saya berikan secepatnya. Tuan besar berharap agar tuan Haidar pulang lebih cepat dari biasanya. Ada beberapa hal yang ingin tua besar tanyakan perihal calon pendamping tuan,” tuturnya nada sopan. Pria itu tersenyum seringai.
“Rencana gue berhasil!” batin Haidar meronta.
“Hmm … siap saya laksanakan dengan senang hati.” Haidar langsung mengakhiri panggilan.