"Lihatlah Putri kesayanganmu akhirnya pulang juga." Sindir sang Ibu, masih menyiapkan makan malam untuk Ayah.
"Hmm, kenapa tubuhmu penuh dengan memar? Jangan bilang baru hari pertama engkau sudah membuat keributan di sekolah, hingga membuatmu pulang terlamabat?!" Tanya sang Ayah, mencurigai Rika, yang seharusnya sudah pulang sebelum matahari terbenam.
"T-Tidak Ayah, Rika tidak membuat keributan di sekolah." Jawab Rika sambil menunduk, menahan sakit dan lelah setelah berusaha membeladiri dari gengster kecil yang menghadangnya.
"Hanya saja tadi ... dalam perjalanan pulang R- ..."
"Sudahlah!" Potong sang Ayah.
"Cepat bersihkan dirimu, jangan sampai selera makanku hilang karenamu!" tambah sang Ibu, memalingkan wajahnya.
Rika langsung berlari ke kamarnya, menutup pintu perlahan, membanting tasnya ke kursi, tersungkur dilantai dan bersandar di pintu kamarnya. Rika mendadak sesak nafas, menahan tangis, karena janjinya, menahan rasa sakit disekujur tubuh, menahan rasa lelah, dan menahan amarahnya. Rika berteriak tanpa suara sekuat tenaga, dan terengah-engah, melihat sebuah bingkai foto di mejanya. Rika mulai meneteskan air mata.
***
Rika tinggal bersama kedua orang tuanya. Rumah mereka tidak terlalu luas, kira-kira rumah type 24, namun tingkat 2. Lantai bawahnya, dari pintu masuk berupa lorong kecil, menuju ruang basah (kamar mandi, toilet, dan mesincuci), di depan ruang basah ada tangga, setelah tangga ada dapur dan ruang makan, lalu di balik dinding lorong ruang keluarga. Lantai atasnya, dari tangga sebelah kiri (atas ruang basah) kamar Ayah dan Ibu. bersebelahan dengan dek rumah. Seberang kamar mereka adalah kamar tak berpenghuni, namun ditata rapi yang diisi barang-barang milik Raka. sebelahnya tentu saja kamar Rika. Mereka tinggal dirumah kecil bukan karena tidak mampu menyewa rumah yang lebih luas. Hanya saja karena pekerjaan sang Ayah, yang selalu berpindah dari suatu Sektor ke Sektor yang lain tiap tahunnya. Maka lebih baik menyewa tempat tinggal sementara yang murah namun memiliki tiga kamar.
***
"Rika ... banguun! Bangun Rika ... segera bersihkan dirimu ... kalau tidak ... luka di tubuhmu akan semakin parah, Rikaaa ...," (suara laki-laki) Rika terbangun setelah beberapa saat tertidur kelelahan.
"Uugh ... Hup ...," Rika mencoba berdiri.
"Aku pulaaang," sapa Rika, tersenyum melihat kearah bingkai foto di meja belajarnya .
"Hmm apa kau ingin tau, bagaimana hari pertamaku disekolah tadi?" Ucapnya, sambil melepas seragam sekolahnya.
"Sejauh ini tidak ada yang spesial, namun tidak lebih buruk dari pada sekolah sebelumnya." Lanjut Rika sambil berpakaian.
"Mmm kita lanjutkan nanti. Seperti yang kaukatakan aku harus bergegas membersihkan badanku." lanjut Rika.
Segera turun masuk ke kamar mandi, membersihkan diri, kemudian ikut bergabung makan malam.
***
Orang yang ada dalam foto tersebut ialah kakak Rika yang bernama Raka. Jarak usia Rika dengan Raka adalah 6 tahun, cukup jauh dari jarak usia ideal menurut pakar psikologi di 'berkeluarga.id' yaitu 3-4 tahun.
Sebenarnya 3 tahun setelah melahirkan Raka, ibu Daryanto telah mengandung kembali. Namun saat usianya hampir memasuki 8 bulan, sang ibu kehilangan bayinya, akibat terjadi komplikasi pada kandungannya. Keluarga Daryanto sangat bersedih kehilangan calon putra keduanya.
Dua tahun kemudian sang ibu hamil lagi. Awalnya mereka sangat bahagia, terlebih Raka yang sangat menginginkan kehadiran seorang adik. Namun 5 bulan kemudian Ayah dan ibu nampak tidak bahagia, seperti saat mengandung bayi keduanya. Ternyata hasil USG sang ibu menyatakan bahwa bayi mereka adalah cewek. Mereka kompak bahwa memiliki anak perempuan maka pengeluaranpun akan lebih banyak. awalnya sang ayah sampai nekad meminta sang ibu untum menggugurkan kandungannya. Untungnya sang ibu menolak, bagaimanapun yang akan merasakan sakit dikemudian hari adalah sang ibu. Akhirnya dengan berat hati mereka tetap memutuskan untuk melahirkan bayinya.
Hari kelahiran pun tiba, bayi ketiga keluarga Daryanto terlahir sehat, parasnyapun cantik dan menggemaskan. Baik dokter maupun perawat disana sangat ingin mengunjungi bayi mereka. Namun Ayah dan ibu tampak biasa saja, melihat bayi kedua mereka lahir, tidak seperti Raka yang kegirangan ketika mendengar adiknya lahir dengan sempurna.
Dua hari berlalu, sambil menunggu proses administrasi, Raka bertanya kepada sang ibu, "Ibu, siapa nama adikku?" tanyanya gemas. Sang ibu langsung memandang suaminya yang berkewajiban memberi nama anak mereka.
"Hmm Ayah belum menemukan nama yang bagus. Apa kau mau memilikan nama untuk Adikmu?" tanya sang Ayah. yang sama sekali tidak memikirkan sebuah namapun.
"Benarkah, aku boleh memilihkan nama untuknya?" tanya Raka dengan polos, menatap kedua orngatuanya yang membalas dengan senyuman.
"Hmm entah mengapa Raka ingin memanggilnya Rika?" ucap Raka yang masih mengerutkan dahinya mencari nama untuk sang adik.
"Jika kau ingin memanggilanya begitu, maka mulai hari ini, Dia bisa kau panggil Rika." ucap sang Ayah.
"Benarkah?!" ucapnya sedikit berteriak karena terlalu antusias. Raka yang masih polos sangat senang ketika ia bisa memberikan nama untuk adiknya.
Lalu salah satu perawat masuk ke ruangan mereka untuk melengkapi data persalinan.
"Maaf, untuk menyelesaikan proses administrasi kami perlu tahu nama si bayi, apakah kalian sudah memmutuskan nama untuk si bayi?" tanya sang perawat.
"Rika!" celetuk Raka.
"Baru saja Aku memilikan nama untuknya." kata Raka.
Sang perawat melihat ke arah orang tua nya, dan mereka hanya tersenyum dan mengangguk.
"M-mm baiklah nama pertamanya adalah Rika, lalu?" tanya sang perawat ke pada Raka.
Raka hanya terdiam melihat sang perawat, ia tidak mengerti apa yang dimaksud si perawat.
"Mm apakah namanya hanya Rika saja, atau ... "
"Ah.. Cahya .. nama keduanya Cahya" potong Raka, sesaat memahami apa yang hendak diucapkan oleh si perawat.
"B-baiklah nama keduanya adalah Cahya. Lalu un ...,"
"Rika Cahya, nama putri kami Rika Cahya." Jelas sang Ayah.
"Mm baiklah, terimakash atas kerja samanya, mohon tunggu dulu, kami akan melanjutkan proses administrasinya." kata sang perawat.
"Cepatlah, aku sudah bosan menunggu." jawab sang ayah ketus.
Raka yang baru berumur 5 tahun menuju 6 itu, tidak tau kenapa sang Ayah yang biasanya sangan ramah dengan orang lain itu, baru saja terlihat bersikap kurang baik kepada si perawat.
***
Ruang makan,
"Jangan lupa kau bersihkan semuanya setelah selesai makan." kata sang Ibu, sambil meletakkan piring kotor mereka berdua ke bak cucian, meninggalkan Rika yang belum menghabiskan makanannya.
"Ayah kau juga belum mandikan?" tanya ibu, manja.
"Ah tidak apa, besok pagi saja, aku sudah kenyang dan mengantuk." Bisik sang ayah, masuk dan mengunci pintu kamar mereka.
Rika menyelesaikan makannya dan melaksanakan perintah ibunya. Usai bersih-bersih, Rika segera mematikan lampu ruang makan, dan kembali ke kamarnya, mengerjakan tugas yang ada, membuat catatan tentang pelajaran hari ini, lalu bergegas tidur sambil memeluk buku harian Raka yang ia ambil dari rak buku dimejanya.
***
Ketika Ayahnya dipindah tugaskan ke Sektor B beberapa hari setelah Kelulusan Rika di SMP. Saat mengemasi barang-barang kakaknya, Ia menemukan buku yang bertulisan 'My Dear Diary, From Raka and My Litle Sister'. Rika yang baru pertama kali melihatnya, diam-diam ia memasukan buku kak Raka kedalam bajunya.
-Selama ini ibulah yang mengepak barang-barang milik kakak. Namun karena mereka pindah mendadak, ibu mengijinkan Rika membantu mengepak barang-barang peninggalan sang kakak.-
Kemudian Rika mencari dimana sang ibu saat itu, sambil terus mengepak barang lain kedalam kardus. Ketika ibu meminta Rika mengambilkan kardus lagi, itu merupkan kesempatan bagi Rika untuk membawa buku harian kak Raka ke kamarnya. Agar ibu
tidak curiga, langsung saja ia lempar buku itu kedalam kamarnya. Itu pertamakalinya ia tahu kalau sang kakak punya buku harian, karena selama ini yang mengepak barang kakanya hanya sang ibu. Namun karena mereka pindah mendadak, ibu mengijinkan Rika membantu mengepak barang-barang peninggalan sang kakak.
***
Keesokan paginya, "Twit..twit ... twiiit ... Twiiit..twit ... ." Rika terbangun, bergegas mematikan alarmnya, lalu turun ke bawah menuju kamar mandi.
"Rika," panggil Ibu dengan lembut, ketika Rika hendak masuk ke kamar mandi.
"Oh tidak, apa yang terjadi? kenapa ada banyak lebam di lenganmu?" tanya ibu, sambil memegang kedua tangan Rika.
"Tidak apa ibu, ini sudah biasa terjadi, memar ini akibat aku berlatih seni bela diri sepulang sekolah. Memar seperti ini itu wajar bagi kami." jawab Rika, dan tersenyum.
"Apa kau sudah mengompresnya dengan air Es? tanya ibu, khawatir.
Rika tersenyum, "Tenang saja ibu, anak mu ini sudah bisa menjaga dirinya sendiri." ucapnya.
"Dasar, lekas mandi, nanti ibu bantu oleskan obat ke bagian yang memar."
Tanpa merespon balik, Rika masuk ke kamar mandi.
"Sayang ... apa sarapan sudah siap?" tanya Ayah yang sudah rapi, siap berangkat kerja.
"Tentu saja, ayo kita makan ... ." Jawab Ibu.
Sementara itu di kamar mandi, Rika kembali tersungkur dan terdiam dalam tangis yang tak bersuara.
"Kak ... aku harus bagaimana?" rintihnya. Kemudian beranjak dari depan pintu dan mulai membersihkan diri.
***
Seperti yang telah terjadi sebelumnya, kedua orang tua Rika sama sekali tidak menanggapi apa yang ingin dikatakan Rika sepulang sekolah. Malam itu, mereka bersikap tidak acuh, namun tetap menganggap Rika itu ada, hanya saja tanpa kasih sayang. Rika yang menjadi anak kedua keluarga Daryanto, yang terlahir sebagai anak perempuan, sangat tidak dibanggakan oleh Ayah dan Ibunya.
Mungkin banyak keluarga lain yang merasa sangat senang ketika dberikan anak perempuan, namun sebaliknya keluarga Daryanto sangat membenci anak perempuan terutama sang Ayah. Dimana seluruh keturuan keluarganya hanya melahirkan anak laki-laki, atau hanya mengijinkan istri mereka melahirkan anak laki-laki. Itulah mengapa sang ayah menyuruh ibu untuk menggugur bayinya ketika pertamakali mengetahui jika bayinya perempuan. Namun sang ibu, walaupun iya juga tidak suka mengapa bayi ketiganya adalah perempuan, tetap memaksa untuk bisa melahirkannya. Karena menurut keterangan dokter, jika mereka memutuskan menggugurkan bayi mereka yang sudah berumur 5 bulan, dampak yang akan diterima, bisa mengakibatkan kematian bagi sang ibu. Awalnya mereka berencana meninggalkan bayi perempuannya dipantiasuhan tanpa memberinya nama. Namun berkat Raka, mereka terkpaksa harus membesarkannya. Lagi pula, pihak keluarga sang Ayah, sudah mengucilkan mereka karena mereka memutuskan untuk melahirkan bayi perempuan.
Sesampainya dirumah, Rika ditidurkan di tempat tidur yang sudah disiapkan sebelumnya di kamar Raka.
"Karena kaulah yang memberi nama adikmu, mulai sekarang engkaulah yang paling bertanggung jawab merawatnya." ucap sang ibu.
"Baik Ibu. Aku akan berusaha menjaganya dengan baik." Ucap Raka dengan bangga. Ibu hanya tersenyum melihat Raka, sambil memegang wajahnya, lalu pergi keluar dari kamar.
Setelah 3 tahun berjalan, Raka yang sudah duduk kelas 3, akhirnya menyadari bahwa kehadiran sang adik tidak begitu diharapkan oleh kedua orang tuanya. Raka yang setiap harinya selalu mendapat kecupan didahi oleh ayah saat pulang kerja, bertanya-tanya kenapa sang ayah tidak pernah mengecup adiknya walau adiknya sedang duduk di pangkuan Raka bahkan melihat kerahanya pun tidak. Ketika Raka bertanya apa alasan sang ayah, ayahnya hanya membalas dengana tersenyum lalu melanjutkan aktifitasnya. Begitupula dengan sang Ibu, Raka tidak pernah melihat ibunya bersama Rika, kecuali saat memberinya Asi dan memandikannya. Bahkan Raka pernah mendapati Rika sedang menagis dilemari pakaian gantung orangtunya, sepulang sekolah, sedangkan sang ibu sedang mengambil dan melipati jemuran yang sudah kering. Kemudian Raka yang teringat dengan ucapan sang ibu dihari pertama Rika datang ke rumah mereka. Dia berusaha sebaik mungkin memberikan kasih sayang kepada sang adik, dan mulai mengikuti pelatihan seni bela diri, agar ia cukup kuat ketika membopong adiknya saat menangis.
Rika yang sudah mulai memahami situasinya, diamana sang ibu dan ayah yang samasekali tidak pernah melihat dan atau berbicara kepadanya pun tumbuh kembang dengan perhatian dari kakaknya. Setiap kakanya pulang dari sekolah Rika selalu menyambutnya dengan tawa bahagia.
Lalu pada suatu hari ketika, Raka telah duduk di bangku SMA. Raka yang hendak mengikuti kompetisi seni bela diri karateka tingkat Nasional mewakili SMA, mengalami kecelakaan lalu lintas dijalan bebes hambatan saat akan menghadiri acara pembukaan kompetisi seni beladiri tersebut. Dalam kejadian tersebut, Raka dan dua orang pendampingnya mengalami luka yang cukup parah, masih sempat dibawa kerumah sakit, sedangkan sang sopir meninggal ditempat kejadian. Kedua orangtuanya yang langsung menagis ketika mendapat kabar duka tersebut, segera menuju rumah sakit, meninggalkan Rika yang masih menunggu kepulangan sang kakak dikamarnya.
Dua hari sejak keluar dari ruang oprasi, Raka masih belum sadarkan diri. Rika yang masih belum tau kejadian tersebut, masih menunggu berita tentang kakaknya mengenai hasil pertandingan kakaknya di hari pertama kompetisi. Ia bahkan tidak mengetahui mengapa Ibu dan ayahnya sering bergantian pulang ke rumah.
Sampai ketika Rika hadir di kelas tambahan seni bela diri (yang sama dengan kakaknya), peserta yang lain melihat kerahnya sambil berbisik satu sama lain. Sang guru yang terkejut melihat Rika hadir di pelatihan hari itu, memanggil Rika, mengajaknya keluar ruang pelatihan, dan meminta sang asisten pelatih memulai kelasnya. Di luar ruangan, ia menanyakan kabar mengenai Raka kepada Rika. Rika yang mendengarnya malah kebingungan, ia kira, gurunya akan menyampaikan sesuatu mengenai kompetisi kakaknya seperti sebelum-sebelumnya.
Melihat ekspresi Rika yang kebigungan, sang guru pun akhirnya menyadari kalau orang tuanya belum memberitahukan apa yang terjadi pada sang kakak. Rika yang masih penasaran dengan pertanyaan gurunya, bertanya balik mengenai maksud sang guru yang malah bertanya kabar sang kakak kepadanya. Tanpa berfikir panjang sang guru langsung menceritakaan apa yang telah menimpa kakanya. Rika yang masih terkejut, setelah mendengarnya, dengan pandangan yang masih kosong, Rika melangkah mundur dari gurunya. Berjalan kembali ke dalam kelas, mengambil tas punggungnya, memakai sepatu, lalu berjalan pulang. Ia bahkan idak mendengar suara sang guru yang terus memanggil namanya.
Sesampainya di rumah, Rika mendapati pintu rumah yang terkunci. Rika yang masih terngiang oleh ucapan sang guru, hanya duduk terdiam didepan pintu. Matahari telah terbenam, lampu jalanan mulai menerangi malam, namun tidak dengan rumah Rika yang masih gelap. Rika mulai merasakan lapar dan haus, teringat jika ia membawa beberapa snack bar pemberian sang kakak, yang selalu dibelikan setiap satu minggu sekali dengan uang saku sang kakak. Rika mengambilnya dari dalam tas, memandangi sejak, lalu membukanya secara perlahan. Ketika Rika mulai memasukan snack kedalam mulutnya, air mata pun mulai membasahi pipinya. Kilas gambaran tentang kakaknya terus bermunculan diingatan Rika.
"Rika..."(suara laki-laki memanggilnya), "Bangunlah, jika kau tertidur disana kau bisa sakit." ucap sang laki-laki. Rika membuka matanya, melihat bayangan sang kakak yang berdiri di bawah lampu jalan sebrang rumah.
"Hmm Kakak, kau sudah pulang?" tanya Rika yang masih setengah tertidur didepan rumah.
Sang kakak tersenyum lalu berkata, "Rika ... Maafkan kakak yang tidak bisa lagi menepati janjiku kepadamu."
Rika berusaha untuk bangun dan mengahmpiri sang kakak namun gagal, tubuhnya terasa sangat berat.
"Jadilah anak yang baik, hadapi segala sesuatunya dengan senyumsm, walau hanya dalam hati, itu sudah cukup, untuk membantumu tumbuh menjadi anak yang baik. Mungkin kau merasa mereka mengabaikanmu, tapi cobalah mengerti mereka, mereka akan mengakui kehadiranmu." ucap sang kakak berpesan kepada adiknya, sambil tersenyum namun meneteskan air mata.
"Ah, kakak harus segera pergi, sekali lagi maafkan kakak yang tidak bisa menemanimu lagi dan memintamu melakukan hal yang sulit bagimu. Berbaktilah kepada mereka berdua, jadilah anak yang berprestasi, dan jaga kesehatan. Selamat tinggal adikku tersayang." ucap sang kakak, yang menghilang perlahan dari pandangan Rika.
Rika terbangun, merasakan pegal di lehernya. Karena terlalu lama tertidur dan menyandarkan lehernya. Kakinya pun mati rasa, kedinginan. Melihat sekeliling dengan seksama, melihat lampu jalanan, menyadari rumahnya masih gelap. Mengumpulkan bungkus-bungkus snack yang bertebaran di sisi kirinya, lalu mengantonginya untuk di buang ke tempat sampah nanti. Dan Kembali duduk bersandar di depan pintu, menunggu kedua orang tuanya, segera pulang, dan mencari tau apa yang terjadi pada kakaknya.
Sementara itu, di rumah sakit tempat Raka dirawat. Ketika sang ibu dan Ayah sedang berbicara dengan dokter disisi Raka. Tiba-tiba mendengar suara Raka memanggi nama adiknya dengan lirih. Mereka langsung terkejut dengan sedikit merasa senang melihat Raka yang telah sadarkan diri. Dokter langsung melakukan hal yang perlu dilakukan.
"Ibu-u ... I-Ibu ... , " panggil Raka dengan lirih dan terbata. dokter langsung memanggil sang Ibu. Sang ibu pun segera mendekat dan memegang tangan kanan Raka.
"Ibu ..." ucap Raka, "Maaf aku telah membuatmu khafatir." lanjut Raka.
sang ibu hanya sanggup menggelengkan kepalanya, terjebak diantara sedih dan bahagia.
"Maaf aku telah merepokan Ibu, dan akan merepotkan Ibu kelak," tambahnya, sang ibu masih hanya bisa menggelengkan kepalanya.
"Ibu, terimakasih telah mengizinkan Raka untuk memilihkan nama adikku." Sang Ibu terdiam. Sang ayah mendekat dengan perasaan yang sedikit terusik.
"Ibu ... maaf ... Raka titip adikku, Rika, kepada Ibu ..., tolong jaga dia sampai ia bisa hidup mandiri." Sekali lagi sang Ibu menggelengkan kepalanya.
"Kau tidak usah memikirkan hal itu, segeralah sembuh. Itulah yang terpenting." Bisik sang ayah, sambil memegang kepala Raka dengan lembut.
Raka tersenyum sambil menahan rasa sakit.
"Sekali lagi ... terimakasih Ibu, Raka titipkan Rika pada Ibu, maaf telah merepotkan Ibu ... Raka pamit dulu ... ... ..." kata-kata terakhir dari sang kakak kepada ibunya. Sang ibu langsung beteriak memanggil nama Raka berulang kali. Sedang sang ayah melangkah mundur, lalu tersungkur di lantai, bersandar didinding kamar. Sang Dokter dan para perawat langsung berdatangan dan melakukan tindakan darurat. Namun Raka tetap tidak sadarka diri. Dokterpun menyatakan Raka telah tiada. Sang ibu menagis hingga lemas, segera dibantu oleh para perawat. Sebagian perawat membantu sang ayah berdiri.
Keesokan harinya. Mereka kembali kerumah menaiki taxi. Setelah turun dari taksi, mereka terkejut melihat putrinya tertidur didepan pintu rumah. Sedangkan Rika terbangun ketika mendengar suara dari pintu mobil yang tertutup, dan mendapati kedua orang tuanya sudah di depannya. Namun Rika tidak bisa mengeluarkan suaranya, karena tenggorokan yang kering. Tanpa mempedulikan Rika, Ayah langsung membuka pintu, dan keduanya langsung masuk rumah, sesaat kemudian disusul oleh Rika. Melihat ibu yang menangis sambil memegangi foto Raka. Dan teringat tentang mimpinya semalam. Tanpa pikir panjang Rika langsung berlali kekamarnya, lompat ke atas kasur, menutupi wajahnya dengan banta, berteriak sekeras-kerasnya, dan menangis.
Kepergian Raka, sangat mengguncang keluarganya. Bagi Ayah dan Ibu, kehilangan Raka, sama saja dengan kehilangan Anak semata wayang. Setelah kejadian itu, ibu jatuh sakit, karena sedih yang berlebihan. Sampai suatu hari, Ibu menganggap Rika adalah anak laki-lakinya yang kedua. Sesaat Ibu perhatian pada Rika, lalu kembali menjadi tak peduli sesaat kemudian.
***
"Terimakasih atas makanannya," ucap Ayah, menyeruput teh, bersantai sejenak sebelum berangkat ke kantor.
Tidak lama, Rika keluar dari kamar mandi, segera lari ke kamarnya, berganti seragam, menyiapkan buku-buku yang perlu dibawa, dan mengambil beberapa snack bar dari lemari. Lalu turun ke bawah, untuk sarapan.
"Sayang, aku berangkat dulu, jika tidak ada masalah, aku akan pulang seperti biasa." ucap Ayah, berdiri, mengenekan jasnya.
"Baiklah, hati-hati di jalan. Kudengar dari tetangga ... beberapa Blok dari rumah kita, sering terjadi pencopetan, dan perkelahian antar kelompok atau mereka menyebutnya gengster." Cerita Ibu, yang khawatir dengan keselamatan Ayah.
"Terimakasih." Ucap Ayah tersenyum, menerima tas yang diambilkan oleh ibu.
"Tenang saja, aku akan baik-baik saja. Lagi pula kantorku berlawanan arah dari daerah yang kauceritakan itu." ucap Ayah, sambil mencium kening ibu.
Ayah bekerja di Sektor D yakni daerah perkantoran besar atau perusahaan dengan saham yang tinggi. Tidak seperti Rika yang memilih berjalan ke sekolah untuk membuang waktu, sang Ayah memilih menggunakan sarana umum yang ada, untuk mempersingkat waktu.
"Aku berangkat." salam Ayah.
Mendengar cerita sang ibu, Rika hendak memberitahukan ibunya kalau ia akan selalu pulang pergi ke sekolah melewati Blok H yang dimaksdukan sang ibu. Berharap ibunya akan memberikan respon yang diinginkan Rika selama ini.
"Ibu ... ," sapanya.
"Kenapa kau masih belum menghabiskan sarapanmu? segera habiskan dan pergilah bersekolah. Kami sudah membayar uang sekolahmu, awas saja kalau kau tidak belajar dengan baik." ucap sang ibu, yang sudah kembali bersikap seperti biasanya. Rika yang tadinya ingin memberitahu ibunya, memilih untuk tetap diam dan menghabiskan makanannya.
Setelah selesai membersihkan meja makan dan mencuci semua peralatan makan yang kotor, Ia berpamitan pada sang ibu.
"Rika berangkat bu," kata Rika melihat ibunya yang sudah mulai melanjutkan rajutannya yang belum selesai.
-Ayah, adalah Bapak Daryanto, bekerja di bidang Humas dalam suatu perusahaan Asuransi ternama. Sedanbkan sang ibu, yang merupakan istri dari Bapak Daryanto tentu saja. Bukan hanya seorang ibu rumah tangga biasa, namun berkat hobby yang beliau tekuni sejak kecil, ia juga menjadi salah satu pengrajin barang rajutan, yang hasil produknya cukup diminati banyak orang. Hampir tiap minggu ibu mendapat orderan dari para eksekutif.-
Rika mengenakan jaketnya, sambil menunggu jawaban dari sang ibu, yang tak kunjung bicara. Rika akhirnya memutuskan untuk segera keluar dari rumah. Berjalan ke arah pintu, mengenakan sepatu, dan entah mengapa, semakin hari rasanya semakin berat untuk melangkah ke sekolah. Meski begitu, setiap ia merasa sedih, ia selalu merasakan kehadiran sang kakak yang tersenyum ke arahnya. Dan teringat dengan janjinya kepada sang kakak.
"Hufh," hempas Rika, sambil berdiri setelah selesai memakai sepatunya. "Ibuu ... aku berangkaat ... !" ucap Rika lagi dengan semangat, mengenakan tudung jaketnya, dan keluar dari rumah.
Di depan rumah, sambil melangkah dengan mantab, Rika melihat ke langit biru bersih dengan sedikit awan tipis.