Mengingat pagi yang sudah semakin terang, Rika pun mempercepat langkahnya menuju sekolah. Hingga sesampainya ia di blok H. Dari sudut jalan, Rika melihat lima orang yang sepertinya ia kenal sedang bergerombol di depan food truck, semakin Rika melangkah mendekat semakin jelas siapa mereka. Ternyata mereka adalah gengster yang kemarin menghadangnya sepulang sekolah. Rika menarik tudungnya, sehingga wajahanya hampir setengah tertutup. Rika sedikit mempercepat langkahnya, dengan tetap tenang dan siaga.
"Boss! Gadis baru itu sudah terlihat, ia sudah semakin dekat." ujar Punki.
"Kakak kedua, kemarin dialah yang telah membuat kami seperti ini." kata Papa Ban, berbicara kepada seseorang yang sedang menyiapkan bahan makanan di dalam food truck. Ia adalah kapten dari salah satu gengster kuat di Blok H , yang merupakan senior dari Geng Papa Ban.
"Jadi kau merengek padaku, hanya karena kau kalah melawan seorang gadis, seperti dia. Tidak hanya dirimu, bahkan kalian berempat." ucap Kapten Gun, menatap wajah mereka satu persatu yang penuh dengan plaster dan lebam dibeberapa bagian wajah, juga melihat Rika yang berjalan melewati mereka dengan cepat. Papa Ban, menundukan kepalanya, menggenggam tangannya sekencang mungkin, merasa jengkel dengan ucapan Kapten Gun, sayangnya ia tidak bisa berbuat apa-apa.
Papa Ban saat ini hanya bisa menggigit giginya, sambil melihat Rika yang berjalan melewati mereka.
"Jika nanti kita bertemu lagi, aku akan membalas semuara rasa malu yang kudapatkan darimu." Ucap Papa Ban, pelan, didepan anak buahnya, yang masih terus melihat tajam ke arah Rika yang semakin menjauh.
Disisi lain, Rika yang mencoba berjalan tanpa menarik perhatian mereka, " Ugh ... malas sekali jika harus melayani mereka saat akan menuju ke sekolah." Ucap Rika, mengeluh di dalam hati, sedikit melirik (melihat dengan sudut pandangan) saat akan melewati mereka, namun dengan kepala yang sedikit menunduk.
"Huhf" Rika menarik nafas panjang dan melepasnya dengan cepat. Merasa lega setelah berjalan cukup jauh keluar dari area Blok H. Sambil melanjutkan perjalanan Rika ke sekolah Rika melihat-lihat apakah masih ia masih akan melewati Toserba atau Minimarket untuk membeli beberapa snack tambahan. Tadinya Rika ingin membeli snack bar di daerah pertokoan Blok H, namun karena ada hal yang menghalangi, Rika pun mengurungkan niatnya untuk mampir ke Toserba atau minimarket disana. Sayanganya sepanjang jalan yang dilewati oleh Rika, tidak ada satupun toserba atau minimarket yang terlewat.
Sekolah Rika berlokasi di Blok F, yakni daerah yang berlokasi di antara Blok Pusat Pebelanjaan Moderen dan area perkantoran swasta industri kecil Blok G, sedangkan rumah Rika berada di daerah Blok J. Jadi untuk memperpendek jarak Rika melilih jalan jalan kecil di area perkantoran.
"Yaah ... Jika saja tadi mereka tidak disana, aku pasti sudah memenuhi tas ku kembali," keluh Rika, sesampainya ia di depan gerbang sekolah, yang belum sempat membeli camilannya untuk jam istirahat nanti.
"Hmm kukira ... aku akan terlambat di hari keduaku masuk sekolah. Untungnya mereka hanya duduk-duduk saja di sana." pikir Rika, melanjutkan jalannya memasuki bangunan sekolah, untuk menuju kelasnya.
Rika tiba di sekolah pukul 07.20, sepuluh menit lebih awal sebelum bell pelajaran pertama berbunyi, sehingga hampir semua murid sudah datang dan masuk ke kelas masing-masing, atau masih bergerombol di depan kelas. Namun selain Rika, ada juga beberapa murid yang masih berlari di luar area sekolah, berusaha untuk tiba sebelum gerbang mulai di tutup oleh Penjaga Pintu atau Satpam sekolah.
Rika berjalan dengan santai, menaiki tangga menuju lantai dua. Ketika Rika menginjak lantai dua, tiba-tiba, "DASH!!!", suara bola sepak di tendang dengan keras. Mengarah tepat ke kepala Rika.
"BUUK!!! Buk ... buk ... buk ... srrrrrr." Suara bola sepak yang berhasil ditangkis oleh Rika menggunakan sisi lengan kanannya, lalu menggelinding balik ke arah bola datang, melewati ruang kelas X-A, hingga dihentikan oleh Ian yang berdiri di depan pintu kelas X-B. Suasana lorong kelas langsung hening seketika.
Ian berdiri, menginjak bola sepak dengan kaki kirinya, dengan kedua tangan masuk kedalam saku celana, tersenyum dengan satu sisi mulut terangka , melihat dengan alis sedikit terangkat ke arah Rika yang masih berdiri dan melihat balik ke arah Ian. Kemudian Ian menendang bola sepak di kakinya, bola melambung kehadapannya, menangkap bola tersebut, dan mengopernya ke Yuno. Ian tertawa sambil memasuki kelas, diikuti oleh kedua murid yang selalu menempel pada mereka, Leon dan Bondan yang berjalan dari belakang Rika, menepuk bahu Yuno lalu memasuki kelas. Sedangkan Yuno yang masih memegangi bola Ian, hanya terdiam, melihat tajam kearah Rika, lalu memutuskan untuk masuk ke dalam kelas.
"Aah ishhhhh ... ," Rika menghela nafasnya, sambil mengepal dan membuka telapak tangannya berulang kali, yang mati rasa sejenak akibat menahan hantaman bola sepak yang ternyata di tendang oleh Ian, ketika melihat isyarat dari Leon dan Bondan, yang berdiri dan bersandar didinding seberang tangga, menunggu kemunculannya. Setelah melihat Yuno masuk kedalam kelas, Rika akhirnya memutuskan untuk ikut masuk ke dalam kelas.
Di sisi lain, Dion yang ketika itu sedang akan kembali ke kelas X-B dari ruang kelas X-D. Setelah ia melihat apa yang terjadi barusan dengan Rika, Dion bergegas berlari ke arah tangga lain yang langsung menuju ke kantin di lantai bawah. Lalu membeli minuman botol dingin, dan kembali berlari ke kelas. Ketika Rika sedang akan melangkah masuk kelas, "Tunggu!" panggil Dion sambil terengah-engah setelah berlari. Rika hanya menoleh, namun tetap melangkah maju. Dion langsung memegang pergelangan tangan kanan Rika, dari arah belakang, dan langsung menempelkan botol dingin tersebut ke lengan kanan Rika yang mulai memerah.
"Bawalah! Gunakan ini untuk mengompres lenganmu, agar lekas membaik dan mengurangi rasa pegal." Ucap Dion, yang masih memegangi lengan Rika dan botol untuk mengompres, menunggu tanggapan dari Rika. Rika terdiam, masih terkejut dengan tingkah Dion yang langsung menarik lengannya dan menempelkan botol dingin ketangannya. Kemudian Rika teringat kembali dengan sang kakak.
***
Saat itu Rika yang sudah berusia 6,5 tahun, melihat kakaknya sedang berlatih ilmu bela diri di halaman rumah. Ketika itu, Raka sedang melatih tata nafasnya untuk mengatur stamina dan tenaganya. Kemudian Raka mencoba untuk memecahkan 2 tumpuk batako yang di taruh secara horisontal diantara dua kursi meja makan, dan berjalan dengan sukses. Rika yang kagum dengan hal yang sedang dilakukan sang kakak, mencoba menirukannya. Rika berjalan mendekati Raka, menaruh patahan batako di atas salah satu kursi, berpose seperti sang kakak, dan langsung mengayunkan tangannya ke atas batako. Rika langsung menangis kesakitan. Raka yang awalnya hanya melihat tingkah sang adik dan bertanya-tanya dalam hatinya, tentang apa yang akan dilakukan adik mungilnya itu, langsung menggendongnya, mengambil botol minum dikulkas dan membawanya kedalam kamar, sebelum sang ibu mulai memarahi Rika yang menangis.
"Jangan menangis lagi." kata Raka setelah mendudukan Rika di kasurnya, lalu mengelus-elus dan membersihkan tangan Rika yang mulai memerah, dan menempalkan botol dingin ke lengan Rika.
"Sudah ... sudah ... jika kau berhenti menangis, setelah tanganmu sembuh akan kakak ajarkan padamu cara melakukan hal tersebut," ucap Raka, sambil tersenyum dan mengusap air mata di pipi Rika.
***
"Teng ... teng ... teng ... " bell tanda masuk telah berbunyi. Rika langsung menarik tangan kanannya dan kembali ke kursinya tanpa mengatakan sesuatu pada Dion. Dion yang awalnya sedikit kecewa, menyandarkan dirinya ke daun pintu kelas lalu tersenyum setelah menyadari bahwa Rika membawa botol yang ia beri.
Rika yang tiba-tiba saja teringat tentang kakaknya, tanpa sadar membawa botol minum pemberian Dion. Sesampainya Rika di kursinya, ia duduk dan terdiam melihat botol pemberian Dion.
"Apa yang kau pikirkan ... ," bisik Rika, yang memutuskan untuk meletakkan botol minum tersebut di laci mejanya. Namun, "Apa yang terjadi?!" ucap Rika dalam hati, sedikit terkejut, ketika membuka mejanya. Laci mejanya penuh dengan sampah, beraneka ragam bungkus pelastik snack bar, makanan ringan, dan minuman kaleng yang kosong. Tanpa pikir panjang, Rika mengambil kantong plastik bekas, yang ia simpan setiap kali membeli snack bar dalam jumlah yang banyak.
-Meja yang digunakan oleh SMA Terbang Tinggi yaitu meja berukuran 60 cm x 50 cm x 75 cm, terdiri dari daun pintu meja, dan laci. Hanya bisa di buka sudut 45 derajat saja. Salah satu tujuannya ialah mengurangi kecurangan-kecurangan yang mungkin akan dilakukan murid saat menjalani Test.-
Dengan wajah yang tetap tenang Rika memasukan satu persatu sampah kedalam plastik, lalu membuangnya ke tempat sampah di sudut kelas.
"Hah, jika ia punya bungkus snack sebanyak itu, Ia tidak perlu memukul Ian" ucap salah seorang murid yang duduk di belakang Serena. Sebenarnya Serena tahu siapa yang memasukan semua sampah tersebut kedalam laci Rika, mereka adalah Cika dan Yessy. Meskipun Serena tidak menyukai Rika, sebagai murid baru, namun menurut Serena, asalkan Ia tidak mengganggu jalannya untuk menjadi murid yang berprestasi dan dibanggakan, apapun yang dilakukan murid tersebut ia akan tak acuh pada mereka.
Saat kembali ke kursinya, sebelum duduk, Rika tersenyum, yang membuat semua murid merinding melihatnya.
Pelajaranpun berjalan seperti biasa, hingga 30 menit sebelum pelajaran kedua selesai, ketika Pak Ren sedang menulis di papan tulis. Tiba-tiba 0 gumpalan kertas mendarat di meja Rika. Tanpa membuka kertas tersebut, Rika langsung melemparnya ke depan, dan tepat mengenai tangan Pak Ren yang sedang menulis. Setelah melempar, Rika segera melanjutkan menulis apa yang sedang di tulis oleh Pak Ren di papan tulis, berharap Pak Ren tidak menyadarunya.
Pak Ren sempat menghentikan sejenak tangannya untuk menulis, dan melihat kemana gumpalan kertas mendarat. Sementara itu, semua murid terkejut melihat apa yang telah di lakukan Rika.
Ketika Pak Ren melanjutkan memberikan catatan di papan tulis, semua murid merasa sedikit lega, namun masih menyalahkan perbuatan Rika. Lalu setelah selesai, beliau langsung mengambil gumpalan kertas tersebut. Para murid tegang kembali, gugup melihat Pak Ren yang sedang membuka dan membaca gumpalan tersebut.
"HEI! TEMUI AKU DI BELAKANG KANTIN, USAI PELAJARAN YANG MEMBOSANKAN INI!" Kata-kata yang tertulis di kertas tersebut, tulisannya tidak rapi, semuanya menggunaka huruf kapital namun ada yang besar dan kecil.
Pak Ren yang merupakan guru Fisika sekaligus wali kelas mereka, memiliki daya ingat yang cukup baik. Serta beliau juga sering memberikan tugas mengulas kembali pelajaran yang telah disampaikan. Sehingga mempermudah Pak Ren untuk menghafal tulisan murid-muridnya. Tentu saja setelah membaca tulisan tersebut, walaupun menggunakan huruf kapital, Pak Ren tahu jika yang menulis surat tersebut adalah Ian, dan juga Pak Ren tahu siapa yang telah melempar kertas itu kepadanya. Tidak ada murid lain yang berani mencari masalah di kelas Pak Ren kecuali murid tersebut adalah anak yang benar-benar tisak punya rasa takut, dan atau ia merupakan murid baru. Tentu saja didalam hal ini Rika-lah yang dimaksud.
"Apakah cara mengajarku ini memang membosankan, sehingga kalian tidak sabar menyatakan perasaan kalian lewat kertas seperti ini." ucap Pak Ren, mengingat sekarang sudah jamannya menggunakan smartphone. Mendengar hal itu, para murid yang awalnya tegang, mulai tertawa kecil.
"Hihi, bukankan kah, kertas itu di tulis oleh Ian untuk memberi peringatan pada Rika, atau jangan-jangaaan ... ," ucap Cika kepada teman sebangkunya yang lalu terhenti setelah melihat ke arah Ian.
"Baiklah, bapak ingin kalian membuat 5 soal beserta penyelesaiannya mengenai besaran pokok dan besaran turunan. Bapak minta semuanya ditulis dikertas polio, dan dikumpulkan ke meja saya palinglambat besok sebelum bell pulang sekolah." kata Pak Ren dengan santai, sambil merapihkan bukunya.
"Oke! Sekian pelajaran dari bapak hari ini, jangan lupa dengan tugas yang sudah saya berikan." tutup Pak Ren, langsung keluar ruang kelas. Tidak lama Pak Ren keluar ruangan, bell istirahat pun berbunyi.
"Ah, jika saja anak baru itu tidak melempar kearah Pak Ren mungkin kita tidak akan mendapatkan tugas seperti ini." ucap Yessy dihadapan Serena dan Cika sambil berjalan menuju kanti.
"Iya benar! Bahkan aku saja tidak mengerti apa yang harus aku tulis. Duuh ... ." keluh Cika.
"Huh dasar payah! kau saja yang pemalas." Ucap serena dalam hati.
Sama seperti Cika dan Yessy, beberapa murid tidak terima dengan tugas yang diberikan oleh Pak Ren, merasa tugas yang diberikan terlalu sulit, dan menyalahkan Rika.
"Eh tapi ... aku penasaran dengan apa yang ditulis oleh Ian?" tanya Cika.
"Benar juga, apa Ian benar-benar ingin memyampaikan perasaannya kepada Rika, atau Ian merasa bersalah karena bola yang Ian tendang mengenai Rika?" tany Yessy, saling melihat dengan Cika dan bertanya-tanya, lalu keduanya bersamaan melihat langsung ke Serena. Seakan bertanya bagimana menurutnya.
"Huhf ... jangan asal bicara, untuk apa meminta maaf jika Ian memang sengaja untuk menendang bola ke anak baru itu." jelas Serena sambil membayar makanan yang mereka ambil di kantin.
"Apa yang kau pukirkan?" tanya Yuno, sambil menepuk bahu temannya itu, yang masih terduduk diam penuh dengan amarah melihat Rika, yang seperti biasa membaca buku pelajaran berikutnya dan memakan beberapa snack.
"Sudahlah ... ayo ke kantin, gaegara kau, aku belum sempat sarapan, lagi pula kau hutang satukali makan karena kau kalah dalam permainan kemarin." lanjut Yuno dengan ekspresi wajah yang tegas.
"Ah!" Ucap Ian, dengan kesal, lalu berdiri, melewati lorong yang dekat dengan meja Rika. Berjalan dari belakang sisi kiri Rika, meraup beberapa snack yang ada di mejanya, berjalan keluar dari kelas.
Tidak menaggapi hal tersebut dengan serius, Rika mengambil kembali beberapa snack dari tasnya.
"Argh, Sial!" keluh Ian membanting roti yang baru ia beli di meja kantin. Ian merasa sangat marah, karena sudah dua kali ia dipermalukan oleh Rika di depan kelas. Walaupun yang kedua tidak secara langsung dilakukan oleh Rika.
"Kau sendiri yang cari masalah, apa kau lupa kalau kita sedang mengikuti kelas Pak Ren?!" ucap Yuno, sedikit menyindir Ian.
"Aargh" geram Ian, yang langsung melahap rotinya.
Sementara itu disisi lain, Dion terlihat sedang terburu-buru, membeli beberapa snack, membeli minuman dingin yang kali ini berupa minuman kaleng. Usai membayar, tanpa kantong plastik, Dion memasukan satu persatu barang yang ia beli kedalam saku celananya, sebagian lagi ia pegang dan peluk menggunakan kedua tangannya. Dion melangkah dengan cepat agar bisa segera sampai ke kelas. Namun sesampainya di depan pintu kelas, Dion tidak langsung masuk ke dalam ruangan. Ia berhenti sejenak untuk mengatur nafasnya, meletakkan beberapa snack di lantai agar ia bisa mengusap keringat di wajahnya. Setelah semua terkontrol dengan baik, Dion mengambil kembali snacknya, dan masuk ke kelas. Langsung saja, pandangannya mencari keberadaan Rika, meskipun ia tahu, Rika tidak akan beranjak dari kursinya. Benar saja, Rika masih duduk dikursinya, sedang membaca buku sambil memakan snack dan mengenakan headphonenya.
"Hai ... ," sapa Dion, berdiri disisi kiri meja persis dimana Rika duduk. Namun, Rika tidak meresponnya. Pantang menyerah, Dion langsung meletakkan semua snack dan minuman yang ia pegang dimeja Rika, lalu duduk dikursi depan meja Rika yang kebetulan orangnya sedang keluar. Duduk menghadap ke belakang dengan kursi yang tetap mengarah ke depan, menumpuk kedua tangannya di senderan kursi, menempelkan dagunya, dan fokus melihat wajah Rika yang masih membaca buku.
"Apa yang dia lakukan? mengapa meletakkan semua makanan yang ia beli ke meja ku?" ucap Rika dalam hati, berusaha tidak memperdulikannya.
Kemudian Rika teringat jika cowok yang sedang duduk dan menatapinya terus itu adalah orang yang memberinya botol minum dingin tadi pagi. Rika langsung bergegas mengambil bukunya dan hendak membuka laci mejanya untuk mengambil botol tersebut, dan mengembalikannya. Dion yang terkejut melihat Rika hendak membuka lacinya langsung meraup barang-barang yang ia letakkan di meja Rika.
"Ini ku kembalikan ... ," ucap Rika sambil berdiri dan langsung meletakkan botol minuman tersebut ke tangan Dion yang penuh dengan beberapa snack dan minuman kaleng yang dibelinya. Sebenarnya, Rika sudah membawa obat olesnya sendiri untuk mengobati memar di badan. Jadi menurut Rika ia tidak perlu menempelkan benda dingin ke tangannya.
"Mmm apa kau tau, dimana letak perpustakaan?" tanya Rika pada Dion.
Dion masih terdiam kebingungan karena Rika mengembalikan botolnya.
"Kalau kau tidak tau, nanti akan kucari sendiri usai pelajaran sekolah." Lanjut Rika, karena Dion tidak meresponnya dengan segera.
Ketika Rika akan duduk kembali, tiba-tiba Dion menjatuhkan semua makanan dan minuman yang dibawanya dan memegang tangan kiri Rika.
"Tentu saja aku tahu, akan ku antar kau kesana ..., " ucap Dion, yang hendak langsung membawa Rika ke perpustakan. Namun Rika menahannya, Rika berusaha melepaskan tangannya dari Dion.
"Apa yang kau inginkan?" teriak Rika, yang berhasil melepaskan diri dari tangan Dion.
Dion saat itu terkejut melihat ekspresi Rika yang ketakutan, sambil memegangi tangan kirinya dan segera menjauh dari Dion. Dion beruntung Rika tidak langsung memukulnya dengan keras, jika saja Rika yang sekarang masih seperti Rika yang duduk dibangku SMP, Dion saat ini mungkin sudah dibawa kerumah sakit.
***
Dulu, ketika Rika baru berumur 5 tahun 8 bulan. Yang pada saat itu atas usaha Raka sang kakak, Rika dapat mengikuti pembelajaran di taman kanak-kanak. Yaitu dengan syarat Rakalah yang bertanghung jawab atas antar jemput Rika ke sekolahnya, untungnya lokasi sekolah Raka melewati taman kanak kanak tempat Rika bersekolah. Dalam perjalannan mereka sepulang sekolah, Raka memutuskan untuk berhenti ditoserba yang mereka lewati, guna membeli beberapa snack bar favoritnya, yang selalu ia bagi dengan Rika setiap kali ia memakannya, untuk menambah persedian miliknya yang sudah mulai habis. Raka yang hendak membayar belanjaannya terpaksa harus mengalikan pandangannya sejenak dari sang adik, untuk menghitung jumlah uang yang akan dibayarkan. Tiba-tiba seseorang dengan badan yang tinggi besar, mengenakan jaket kulit berwarna hitam, menggunakan topi hitam polos dan menutup wajahnya dengan masker itu, menarik dan mendekap Rika, yang pada saat itu sedang bermain-main dengan langkahnya ke depan Toko. Raka yang mendengar suara adiknya yang sempat berteriak, memalingkan wajahnya, dan melihat sosok bayangan dari sudut matanya.
"Rika!" Teriaknya. Mengetahui adiknya menghilang, Raka meninggalkan begitu saja barang belanjaan yang ia beli di depan kasir, dan langsung berlari mengejar Rika. Sang penjaga kasirpun lalu menelpon kantor polisi jika telah terjadi penculikan, satu penjaga yang lain segera menyusul Raka mengejar sang penculik. Saat sang pencuri hendak membuka pintu mobil, Raka melempar dengan kencang, buah aple malang yang di pajang di depan toko, dan mengenai tengkuk leher penculik. Spontan, sang penculik langsung melepaskan Rika dari dekapannya. Rika terjatuh dan menangis ketakutan dan kesakitan. Raka langsung menghampiri Rika dan menggendongnya menjauh dari sang penculik. Sedangkan para pelayan toko yang ikut mengejar langsung memukuli sang penculik hingga polisi tiba.
"Sudah ... sudah ..." ucap Raka sambil mengelus-elus punggung Rika yang masih menangis.
"Sudah berhentilah menangis, kakak ada disisimu, selama ada kakak, kau akan baik-baik saja." Ucap Raka sambil mengusap air mata dari pipi sang adik. Meskipun begitu, kejadian tersebut menjadi pemicu Rika merasa takut ketika ada orang yang tak dikenalnya tiba-tiba menarik tangannya. Apa lagi semenjak kepergian Raka, rasa takut itu semakin membesar. Jika saja waktu itu guru seni bela diri Raka tidak menemui Rika dan mengajarinya seni beladiri untuk bertahan. Mungkin saat ini Rika masih mengurung diri dikamarnya.
***
Rika telah berjanji pada sang ayah, untuk berhenti membuat masalah, agar bisa menyimpan buku diary Raka. Dimana waktu itu ayah kemudian tahu jika diary Raka menghilang saat ayah menata ruangan kosong untuk kamar Raka.
Dion masih terdiam, tidak tahu harus berbuat apa. Suasana kelas pun mendadak hening mendengar teriakan dari Rika. Sesaat kemuadian bel masuk pun berbunyi memecah ketegangan. Dion melihat sekeliling dan mengumpulkan snack dan minuman yang terjatuh. Awalnya Rika hanya berdiri melihat Dion mengumpulkan barang-barang yang jatuh. Lalu Rika mengambil botol minum yang menggelinding ke bawah kursinya dan berhenti di dekat kakinya. Ketika ia hendak meberikan kembali botol minum tersebut, Dion menolaknya.
"Bawa dan minumlah, anggap saja ini permintaan maaf dariku yang mengejutkanmu. Lagipula wajahmu tampak pucat." Ucap Dion, yang lalu pergi kembali kekursinya untuk menyimpan snack yang ia bawa sebelum kembali berjaga di pintu. Setelah Dion kembali kekursinya, Rika duduk kembali, namun masih memegangi dan mengamati botol minum pemberian Dion.
"Bruk" suara tubuh Dion yang terjatuh ke lantai akibat di dorong oleh Ian yang hendak masuk ke kelas.
"Minggir! kau menghalangiku." Ucap Ian yang masih kesal dengan kejadian sebelumnya. Rika yang mendengar suara Ian, menggenggam botol minum dengan kencang entah mengapa amarahnya ikut terpancing. Ia lalu melempar botol minum tersebut yang mengarah tepat ke kepala Ian yang sedang menatap tubuh Dion. Untungnya ada Yuno yang persis di belakangnya, dengan sigap menangkap botol tersebut dengan tangan kanannya.
"Beraninya kau melemparku!" Ucap Ian dengan geram, dan mendekati Rika. Namun ketika Ian hendak sampai, Rika keluar dari sisi lain meja, dan berlari mendekati Dion dan membantunya berdiri.
"K-K A U" ucap Ian bergetar, dan menggenggam kedua tangannya dengan sangat kencang. Yuno, Leon dan Bondan, yang masih berdiri didekat Dion, menahan tawanya.
"Hei! Apa yang kalian lakukan? Cepat menyingkir!" teriam Serena yang baru saja sampai di lantai dua, dan melihat murid-murid berkerumun di depan pintu kelas X-B, yang tidak bisa masuk, karena di tahan oleh Leon dan Bondan.
Mendengar teriakan Serena, Leon dan Bondan langsung menjauh dari pintu, begitu pula dengan Yuno, yang langsung kembali ke kursinya. Sedangkan Rika dan Dion menyingkir dengan berdiri mendekat papan tulis, agar tidak menghalangi murid yang hendak masuk.
"Hmm sepertinya telah terjadi sesuatu diantara mereka bertiga, atau jangan-jangan apa yang di ucapkan Pak Ren tadi itu yang sebenarnya!" ucap Serena dalam hati ketika berjalan masuk dan melihat Rika bersama Dion dan Ian yang masih berdiri dengan penuh amarah di sisi meja Rika.
"Jika yang tertulis digumpalan itu benar pernyatan cinta dari Ian untuk Rika ..., berarti cinta Ian bertepuk sebelah tangan, hmm menarik" ujar Serena dalam imajinasinya, terduduk dikursinya lalu tersenyum melihat kearah mereka bertiga.