Masih dihari yang sama, usai jam pelajaran terakhir di sekolah. Rika hendak pergi ke perpustakaan untuk mengerjakan tugas dari Pak Ren. Sebelum berdiri dari kursinya, Rika melihat ke arah Dion, dilihatnya Dion masih sedang membereskan buku-bukunya dan bersendagurau dengan temannya. Rike tersenyum kecil, "Apa yang ku pikirkan, mereka semua sama saja, bukan ingin mengenalmu, hanya menyukai wajahmu, setelahnya mereka akan pergi begitu saja atau melukaimu seperti sebelumnya." ucap Rika dalam hati. Lalu ia berdiri mengenakan tas ranselnya, dan bergegas mencari perpustakaan sekolah.
Tidak seperti perpustakaan sekolah lain yang tutup juga setelah jam pembelajaran selesai, perpustakaan di SMA Terbang Tinggi masih memberikan kesempatan untuk para muridnya belajar disana sampai pukul 16.00.
Setelah bertanya kepada murid dari kelas lain, Rika pun akhirnya sampai ke perpustakaan.
"Waah," ucap Rika pelan, ini pertama kalinya ia melihat perpustakaan sekolah yang sangat luas, terang, bersih, rak buku yang tinggi-tinggi, menyewakan loker, dan cukup banyak murid yang datang ke perpustakaan.
"Hai, ada yang bisa saya bantu?" sapa seseorang yang berdiri di belakang meja yang bertuliskan 'INFORMASI'.
"Oh, Hai, saya Rika, dari kelas X-B, saya ingin mencari beberapa buku mengenai Besaran pokok dan Besaran turunan, kira-kira ada disebelah mana ya?" tanya Rika dengan cepat.
"Hmm saya Tiara, salah satu petugas pepustakaan yang berjaga hari ini, apa ini pertama kalinya kau ke perpustakaan, sepertinya ini baru pertamakalinya saya melihatmu?" tanya Tiara. Rika hanya mengangguk.
"Begitu kah, kalo begitu isi dulu buku tamu perpustakaan di dekat pintu masuk, dan tunjukan kartu pelajar SMA Terbang Tinggi ke padaku." ucapnya. Rika terdiam sejenak, ketika diminta untuk menunjukan kartu pelajar.
"Bagaimana jika aku belum memiliki kartu pelajar SMA Terbang Tinggi?" tanya Rika.
"Kalau begitu kau tidak bisa masuk ke perpustakaan SMA Terbang Tinggi, bagaimana bisa kau belum punya kartu pelajar bahkan ini sudah lewat tengah smester?" jawab Tiara yang keheranan.
"Ah, hmmm itu karena saya baru saja pindah ke sini, ini adalah hari kedua saya di sekolah." Jelas Rika.
"Begitu kah, maaf saja, tapi tanpa kartu pelajar, semua murid tidak bisa memasuki perpustakaan, itu sudah menjadi aturan utama memasuki perpustakaan." Jelas Tiara.
"Tidak bisahkah aku masum tanpa kartu pelajar kali ini saja, karna aku perlu mengerjakan tugas untuk dikumpulkan besok." ucap Rika sedikit meninggikan suaranya.
"Sssssst, peraturan kedua, dilarang membuat suara yang mengganggu pembaca lain. Maaf tapi itu sudah prosedurnya, aku tidak bisa melanggar prosedur yang sudah ada." jelas Tiara menegaskan kondisinya.
Rika terdiam berdiri di depan meja informasi. "Apa yang harus ku lakukan, aku tidak bisa membuat soal-soal tersebut hanya dari satu buku saja, tidak adakah cara lain agar aku tetap bisa masuk, aargh!!" ucap Rika dalam hati, sambil menggenggang tangannya dengan sangat kencang, menahan amarah dan kecewa.
"Bisahkah kau ijinkan gadis itu masuk. Bukan kah ia datang untuk belajar, kenapa kau menghalanginya." terdengar suara laki-laki yang semakin mendekat, dan semakin tercium aroma parfum aqua. Tingginya 170 cm, mengenakan kaca mata, membawa buku yang sedikit terbuka dengan tangan kirinya, berjalan seperti orang yang berwibawa.
"Tapi ... " jawab Tiara yang langsung di potong oleh laki-laki tersebut.
"Tidak apa Miss Tiara, Aku Andrew sebagai Ketua OSIS yang akan bertanggung jawab, ini Kartu Ketua OSIS miliku, sebagai jaminannya." Ucapnya dengan lembut kepada Miss Tiara.
"B-baiklah." ucap Miss Tiara, yang tidak bisa menolak permintaan laki-laki yang telah menjadi idola para murid cewek.
"Hmm Masuklah, akan kutunjukan tempat buku yang kau cari." ucap Andrew tersenyum hangat kepada Rika.
"B-baik, terimakasih." jawab Rika, yang masih kebingungan dengan apa yang terjadi. Seketika itu juga Rika merasakan tatapan dingin dari para siswi yang berada di perpustakaan.
"Hmm tadii buku apa yang sedang kau cari?" tanya Andrew dengan tersenyum hangat, sambil berjalan melewati beberapa rak buku.
"Bukankah seharusnya kau sudah tau, makanya kau memintaku mengikutimu?" ucap Rika ketus, dalam hatinya.
"Buku tentang ... "
Tiba-tiba Andrew yang berjalan di depannya berhenti ketika Rika akan menyebutkan buku yang ia cari.
"Ah kita sudah sampai. Di barisan ini kau bisa menemukan beberapa buku yang mempelajari Besaran pokok dan Besaran turunan, jika kau ingin mencari buku untuk latihan soal, biasanya buku itu ada di baris paling bawah." ucap Andrew menunjukan lorong buku yang dituju.
"Apa! Ia sudah tau apa yang aku cari, kenapa ia bertanya lagi," ucap Rika dalam hati. "Oh, sekali lagi terimakasih telah membantuku, dan maaf telah merepotkan senior." ucapnya kepada Andrew.
"Ah, sudah sewajarnya bagi OSIS untuk membantu siswa baru." ucap Andraw lalu tersenyum hangat.
"Dan jangan panggil aku Senior, panggil saja Andrew, jika kedepannya perlu bantuan lagi, kau bisa mencariku." ucapnya dan tersenyum hangat, lalu pergi meninggalkan Rika.
"Huf, akhirnya aku bisa segera mengerjakan tugasku," ucap Rika lega, sambil mencari buku yang ia butuhkan. Setelah mengambil beberapa buku yang ia perlukan, Rika pergi ke meja yang masih kosong, dan bergegas membuat tugas yang diminta olek Pak Ren.
Waktupun berlalu, "Ding ... Diing ... Selemat sore, pemberitahuan kepada semua pembaca, bahwa 10 menit lagi kami akan menutup perpustakaan sekolah, mohon untuk segera berkemas, dan meletekkan buku yang telah di baca ke bagian pengembalian." Ucap admin perpustakaan. Bagian pengembalian yakni tempat dimana setiap buku yang sudah dibaca tidak langsung dikembalikan oleh si pembaca namun dikumpulkan terlebih dahulu untuk dicek apakah ada perobekan bagian dari buku atau tidak.
"Ah sedikit lagi," ucap Rika setelah mendengar peringatan tersejut. Rika baru saja selesai menulis penyelesaian soal ke 4, butuh menulis satu soal lagi agar ia bisa menyelesaikannya di rumah.
"Seandainya saja aku punya kartu pelajar aku bisa meminjam beberapa buku. Ah tidak ada waktu untuk mengeluh, aku harus cepat mencatatnya." ucap Rika dalam hati, setelah melihat antrian ditempat pengembalian yang cukup panjang.
Tidak seperti murid lain yang bisa mencarinya melalui media online, Rika hanya bisa mengandalkan buku-buku dari perpustakaan sekolah. Rika sudah bersyukur orang tuanya masih mau menyekolahkannya, walau ia sering dipindahkan oleh pihak sekolah, mereka tetap berusaha mengirim Rika untuk pergi ke sekolah.
"Ding ... Diing ... Selamat sore, pemberitahuan kepasa para pembaca, bahwa 5 menit ..." siaran yang hampir sama diputar kembali.
"Ah baiklah-baiklah sedikit lagi," ucapnya dengan pelan. Untungnya masih ada antrian di tempat pengembalian jadi Rika masih memiliki sedikit waktu untuk menyelesaikan menulis soal ke limanya.
Rika berkemas, menumpukan 5 buku yang ia ambil dari rak buku, lalu membawanya ke tempat pengembalian.
"Perlu bantuan" bisik Andrew dari sebelah kiri, memnundukan sedikit badannya agar setara dengan Rika.
"Tidak perlu, terimakasih." ucap Rika datar, sambil melihat antriannya bergerak maju.
"Hmm kalau begitu, apa kau mau bergabung dengan kami, Organisasi Siswa Intra Sekolah, kulihat kau cukup pintar." ucap Andrew kembali tersenyum hangat setelahnya. Rika tidak merespon ajakan dari Andrew.
"Hemmm begitukah, baiklah jika kau berubah pikiran pergilah ke ruang OSIS, bilang saja kau di minta untuk menemuiku." ucap Andrew lalu menepung punggung Rika, dan keluar dari perpustakaan.
"Huh pergi juga, OSIS, Pufttt, mana mungkin aku bergabung dengan OSIS." pikirnya sambil memyerahkan buku ke meja pengembalian.
Ketika keluar dari ruang perpustakaan, Rika melihat Ian, Yuno, Leon, dan Bondan berjalan dari arah kantin. "Aneh bukankah kantin sudah tutup satu jam sebelum pelajaran terakhir selesai," pikir Rika. Ruang perpustakaan bersebrangan dengan Kantin, namun butuh melewati taman dahulu atau berputar mengelilingi taman. Walau merasa aneh, Rika terus berjalan sampai akhirnya mereka bertemu di ruang Piala. Ruang piala ialah ruangan yang selalu dilewati semua orang setiap keluar masuk bangunan sekolah dari pintu utama gedung.
"Hahaha ... lihatlah sang kucing yang kehilangan majikannya." Ucap Leon, melihat Rika yang kebingungan mendengarnya.
"Hei, apa kau ingin tau dimana majikanmu?" ucap Bondan, yang mendekat ke Rika dan hendak merangkulnya. Namun Rika dengan cepat menjauh dari Bondan. Tidak mengerti apa yang dikatakan oleh Leon dan Bondan, Rika menatap Ian yang hanya berdiri dan tersenyum sinis, sedangkan Yuno berdiri di depan pintu hall.
"Ayo kita pergi, hari ini satu saja sudah cukup, sisanya simpan untuk nanti. bye bye ... little kitty." ucap Ian, yang langsung berjalan keluar membelakangi Rika, dengan satu tangan memegangi tas dipunggungnya. Leon dan Bondan menyusul setelah melambaikan tangan selamat tinggal pada Rika, yang hanya terdiam sejak awal berpapasan.
"Dia ada di belakang kantin, bergegaslah, tidak perlu berterimakasih padaku, aku bahkan tidak mengerti kenapa aku memberitahumu." ucap Yuno, setelah Ian dan yang lain berjalan melewatinya.
Rika masih terdiam, tidak mengerti samasekali dengan apa yang mereka katakan, namun mendengar ucapan Yuno, Rika penasaran apa yang ada di belakang kantin. Setelah melihat Yuno berbalik dan menyusul Ian. Rika berjalan menuju belakang kantin, dan didapatinya Dion yang duduk bersandar didinding. Dengan seragam yang kotor, bibir yang berdarah, memar di pelipis mata kanan, dan beberapa luka lecet di tangannya.
"Hei, apa kau bisa berdiri, aku akan membawamu ke UKS," ucap Rika sambil berusaha membantu Dion untuk berdiri dan memapahnya ke UKS. Dari arah belakang, ada sesosok banyangan yang mengintai mereka, dan tersenyum.
Setibanya di depan UKS, pintu yang tertutup membuat Rika khawatir apakah ruang UKS sudah dikunci. Rika menatap Dion yang masih kesakitan, lalu memutuskan untuk membuka pintu.
"Ckrek" pintu terbuka, Rika langsung membawa Dion ke tempat tidur pasien, merebahkannya, lalu mengambil kan air bersih, untuk membersihkan luka-lukanya. "Buka bajumu, sementara akan kucarikan obat pereda nyeri dan obat oles untuk lukamu." ucap Rika. Dion mengangguk mengikuti permintaan Rika, "A-ah" lirih Dion ketika hendak melepas kemejanya.
"Pelan-pelan saja." ucap Rika, sambil mencari dan mengambil beberapa obat dan pembersih luka, lalu kembali ke Dion.
"Ini minumlah, ini akan meringankan rasa sakit, dan setelah meminumnya berbaringlah akanku oleskan saleb ini ke tubuhmu yang mulai memerah." ucap Rika menunggu Dion meminum obatnya. "Biar aku sendiri saja yang mengoleskannya," ucap Dion tersipu setelah meminum obat yang diberikan oleh Rika.
"Apa kau yakin, bagaimana dengan yang dipunggungmu?" tanya Rika, melihat kebagian belakang Dion. Dion terdiam.
"Berbaliklah, akan ku bantu mengenakan saleb di bagian belakang, sementara kau oleskan padabagian perutmu." ucap Rika, sambil mendorong bahu kiri Dion untuk segera menghadapkan punggunya.
"Terimakasih, tidak hanya membantu ku berjalan ke UKS, kau juga telah membantuku mengobati luka yang ku dapat." ucap Dion sambil kembali mengenakan kemejanya. Rika tidak menjawabnya, hanya fokus mengembalikan beberapa obat dan peralatan yang telah ia ambil kembali ketempatnya.
Kali ini Rika merasa seseorang sedang berdiri di depan Ruangan, "jangan-jangan petugas sekolah hendak mengunci ruang UKS," pikir Rika, dengan cepat Rika berlari ke pintu dan membukanya.
"HAI!!" ucap seseorang yang berdiri di pintu, mengangkat kedua tangannya dan tersenyum kemudian.
Rika yang terkejut, mengambil dua langkah mundur. Ia melihat kunci UKS bergantung diantar jari tangan laki-laki tersebut. Ternyata orang tersebut adalah Andrew yang sedari tadi berdiri di depan pintu mendengarkan percakapan mereka. Andrew lah seseorang yang melihat mereka di kantin, dan Andrew juga yang sebenarnya telah membuka kan kunci UKS yang sebenarnya sudah di kunci oleh petugas UKS.
"Apa yang kau lakukan?!" tanya Rika spontan.
"Hmmm bukan kah seharusnya aku yang bertanya, apa yang sedang kalian lakukan di UKS yang seharusnya sudah terkunci ini?" jawab Andrew dengan tersenyum menatap Dion yang masih duduk ditempat tidur, kemudian melihat Rika yang berdiri menempel di lemari sebelah kanannya. Dion terdiam sambil memegangi perutnya, tidak berani menatap Andrew. Rikapun terdiam menatap Andrew menunggu jawaban darinya.
"Heh, ok ok, kau bertanya duluan, seperti yang kau ketahui aku adalah Ketua OSIS, dan ada beberapa hal yang aku butuhkan di UKS sehingga aku meminjam kunci dari Petugas. Lalu ketika aku ingin membuka kunci, aku mendengar suara dari dalam, dan sepertinya kalian sedang sibuk jadi kutunggu dulu saja, jadi bagaimana kalian bisa masuk?" ucap Andrew menjelaskan alasannya yang palsu dan bertanya seolah-olah ia tidak tahu.
"Bohong, kau telah mengikuti kami dari kantin, dan UKS ini tidak terkunci." ucap Rika membantah penjelasan dari Andrew.
"Hmm benarkah, bagaimana bisa aku mengikutimu, sedangkan aku sendiri baru saja kembali dari ruang OSIS bersama yang lain." Ucap Andrew tersenyum, yang lama-lama terlihat menjengkelkan bagi Rika.
"Hmm ... menerobos masuk UKS dan mengambil beberapa obat-obatan, itu bisa merupakan bentuk dari kenakalan murid yang fatal jika kulaporkan." ucap Andrew.
"Apa?! tapi kami tidak menerobos, pintunya tidak terkunci, kami menggunkan beberapa obat di sekolah, bukankah itu semua fasilitas yang diberikan oleh pihak sekolah kepada setiap murid." bantah Rika.
"Benar, semua ini adalah fasilitas yang diberikan sekolah, di jam sekolah, sedangkan kalian?" tanya Andrew berlagak mengetahui semuanya sebagai Ketua OSIS. Rika melihat jam dinding di UKS menunjukan hampir pukul 17.00.
"Itu tidak adil!" ucap Rika.
Andrew pun tersenyum dan berkata, "Tentu saja beda ceritanya jika kau adalah anggota OSIS, dibawah bimbinganku kau bisa menggunakan fasilitas sekolah kapanpun kau butuh." ucap Andrew, yang mulai menunjukan tujuan dari tingkahnya yang nampak aneh itu.
Rika yang dari awal tidak percaya dengan apa yang dikatakan Andrew akhirnya menyadari trik yang dibuat oleh Andrew agar Rika mau bergabung dengan OSIS.
Dengan menahan easa jengkel, Rika menggendong tas ranselnya dan berkata, "Hei, apa kau sudah baikan?" kepada Dion. Sontak Dion terkejut mendengar Rika yang tiba-tiba bertanya padanya. "A-aku sudah baikan," ucap Dion sambil berusaha turun dari tempat tidur.
Rika mengangguk dan berjalan ke pintu UKS berhenti di samping Andrew.
"Laporkanlah apa yang perlu kau laporkan, aku akan bertanggungjawab sepenuhnya," ucap Rika, langsung pergi keluar ruangan, dan melanjutkan pulang ke rumah. Diikuti oleh Dion yang masih belum bisa berdiri dengan benar, berjalan perlahan.
"Huh, keras kepala sekali, namun tetap terlihat imut," ucap Andrew, menutup matanya dengan tanganya dan tersenyum.
"Hei! Rika tunggu!" panggil Dion yang berusaha mengejar Rika dengan menahan rasa sakitnya.
Namun Rika tidak mendengarkan dan terus melangkah dengan cepat, mengingat hari mulai gelap. Karena tertinggal oleh Rika, Dion yang awalnya ingin mengantarnya pulang, memutuskan untuk kembali ke rumahnya.
Hari mulai gelap, lampu-lampu jalan dan pertokoan sudah menyala. Dan Sore itu, Rika merasakan hal yang sama seperti sebelumnya, seperti ada seseorang yang mengamatinya dari kejauhan, namun auranya lebih mencekap daripada sebelumnya. Rika yang saat itu, merasa kelelahan, ia bergegas mencari cara agar tidak tertangkap oleh siapapun itu yang mengintainya, sambil mempercepat langkahnya. Entah mengapa, rasa takut menyelubungi perasaan Rika saat itu, dan Rikapun memutuskan untuk berlari. Sesampainya di Blok H, tekanan tersebut sedikit menghilang, namun Rika masih merasakan ada yang mengikutinya. Rika memutuskan berhenti sejenak di salah satu minimarket terdekat darinya, membeli beberapa snack bar dan minum, sambil menunggu dan melihat apakah orang yang mengintainyaikut masuk kedalam market. Di Blok H suasananya memang cukup ramai, namun jika terjadi sesuatu, seperti pencurian atau perkelahian, tidak banyak orang yang mau peduli, karena menurut mereka hal itu sudah biasa terjadi dan biasanya akibat keisengan salah satu gengster yang ada di sana.
Limabelas menit kemudian, tidak satupun orang yang mencurigakan mengikutinya ke dalam, setelah menenangkan diri dan melepas dahaga, Rika memutuskan melanjutkan perjalanannya pulang. Namun baru saja ia keluar dari market perasaan itu muncul kembali. Kali ini Rika memutuskan untuk berlari, lalu tidak jauh dari minimarket tadi Rika melihat Pos Polisi yang lampunya menyala, "Berarti ada polisi yang berjaga disana," kata-kata yang terlintas dibenaknya. Rika mempercepat larinya menuju Pos Polisi, membuka pintu dan segera masuk.
Rika berhasil masuk ke Pos polisi, benar saja disana ada dua orang polisi yang berjaga dan ada satu laki-laki berseragam sekolah lain yang sedang di tanyai oleh salah satu petugas disitu.
"Hei nak, ada yang bisa kami bantu?" tanya salah satu petugas yang lain, menghampiri Rika yang masih terengah-engah setelah berlari.
Setelah berhasil memgontrol nafasnya, Rika mula bercerita kepada penjaga tersebut, sambil bercerita petugas tersebut membimbing Rika untuk duduk.
"Jadi kau merasa seperti ada yang mengikutimu sejak sebelum kau memasuki Blok H?" tanya petugas yang berada di depan laki-laki yang rambutnya terlihat sedikit berwarna merah gelap, sementara petugas yang satunya keluar untuk mengcek situasi. Rika hanya mengangguk.
"Sepertinya tidak ada yang mencurigakan, mingkin hanya perasaan mu saja." ucap Petugas yang baru kembali dari luar.
Rika hanya terdiam merasa lega namun kecewa karena ia sepetinya tidak dipercaya.
"Ah Baiklah, Namaku Heri dan dia Gery kami adalah petugas keamanan yang akan bertugas selama 2 minggu di Blok H jika kau perlu bantuan datanglah ke sini akan kami layani sebaik mungkin." ucap petugas Heri dengan bangga. Rika terssenyum, entah mengapa ia ingin tertawa mendengan ucapan petugas Heri yang membanggakan pekerjaannya.
"Hahaha konyol." kata anak laki-laki berambut merah tua tersebut.
"Diam kau, kau itu sedang dalam penahanan sebaiknya jangan ikut campur!" ucpa petugas Gery sedikit marah.
"Baiklah siapa namu, dan kau tinggal dimana?" tanya petugas Heri sambil membuka buku catatan pengunjung.
"Namaku Rika Cahya, mmm biasa dipanggil Rika. Aku tinggal di Blok I rumah no. 30." Jawab Rika.
"Hmm No. 30 ya. Rumah paling ujung dekat dengan blok J." ucap petugas Gery.
"Baiklah akan ku telpon keluargamu agar menjemputmu." kata petugas Heri sambil menekan no telpon rumah Rika setelah menumukannya di buku telpon. Semua perumahan di setiap Blok di Sekto B wajib memiliki telpone nearkable, dan semuanya tercatat di buku telpon yang beredar di Sektor B.
"T-tunggu ... " ucap Rika yang ingin petugas Heri membatalkan panggilannya, namun terlambat ayahnya sudah mengangkatnya.
"Selamat Malam, apa benar ini rumah dari Rika Cahya?" tanya petugas Heri. Sementara Rika terdiam dan menutupi wajahnya dengan tudung jaketnya.
"Ah begini, anak anda sekarang sedang berada di pos kami, kami berharap anda bisa datang menjemputnya?" ucap petugas Heri. Mendengar hal itu, Rika semakin panik dan memeluk tas ranselnya.
"Hei pak tua, bukankah itu aneh?" ucap laki-laki si rambut merah tersebut kepada petugas Gery.
"Siapa yang kau panggil pak tua hah, dasar bocah tidak punya sopan santun, jika saja kau bukan anak ... " ucap petugas Gery yanglalu di potong oleh laki-laki si rambut merah.
"Lihatlah! bukan terlihat senang, tapi dia terlihat lebih tertekan dari sebelumnya." jelas laki-laki berambut merah tersebut. Petugas Gery melihatnya juga dan merasa aneh.
"Baik lah akan kami tunggu ke...!" ucap petugas Heri terhenti akibat telpon yang langsung dimatikan oleh sang ayah.
Sementara itu di rumah.
"Hah, Anak itu tidak bisa sehari saja tidak merepotkanku." ucap sang ayah setelah menerima telpon dari petugas Heri.
"Siapa yang menelpon Yah?" tanya ibu yang sedang menyiapkan makan malam di meja makan.
"Ah itu! Salah seorang petugas keamanan di Blok H menelpon untuk menjemput Rika di sana." ucap sang ayah kesal.
"Sudah ayah, jemputlah, kita sudah berjanji pada Raka, untuk mengijinkannya tinggal bersama kita sampai lulus SMA." ucap manis sang ibu kepada ayah, sambil memeluk dan mencium pipi sang ayah.
"Huh baiklah, aku akan menurutimu." ucap sang ayah sambil memakai jaket lalu keluar dari rumah.
Kembali ke pos polisi di Blok H.
"Hey nak, apa yang membuatmu masih dijalan, bukankah jam pulang sekolah pukul 14.00. apa kau mengikuti kegiatan sekolah? tapi seingatku semua kegiatan sekolah di lakukan di hari sabtu bukan?" tanya petugas Gery yang mulai penasaran setelah mendengar ucapan si laki-laki berambut merah.
Rika menatap wajah petugas Gery dengan tajam, yang membuat petugas Gery sedikit tersentak mundur.
"Hahahahaha" laki-laki berambut merah itu tertawa lagi.
"Diam kau!" ucap petugas Gery yang memukul kepala laki-laki itu dengan buku yang ada di depannya.
"Nak Rika, maafkan temanku ini. apa yang membuatmu tiba-tiba marah? dan kalau boleh kami ingin tahu kenapa jam segini kau masih belum sampai rumah?" tanga ulang oleh petugas Heri dengan suara yang lembut.
"M-mengerjakan tugas di perpustakaan sekolah untuk dikumpulkan besok pagi." ucap Rika menjawab pertanyaan terakhir petugas Heri.
"Apa orang tuamu memperlakukanmu dengan buruk?" spontan ucap petugas Gery dan kemudian ditutup mulutnya oleh petugas Heri.
Keadaan menjadi hening, semua orang menunggu jawaban dari Rika, namun Rika tidak meresponnya. Petugas Heri berbisik meyalahkan petugas Gery yang menanyakan pertanyaan yang sensitif kepada Rika yang sudah menutup diri itu.
"Hei kenapa kau diam saja, cepat tulis kata-kata itu sebanya 100 kali! Selesaikan dan pulanglah!" ucap petugas Gery yang memecah keheningan kepada laki-laki berambut merah itu.
"Cih" laki-laki berambut merah itu, terpaksa mengcopy kata-kata yang telah diberikan oleh petugas Grey 'AKU ANAK BAIK, AKU TIDAK AKAN MENGULANGINYA' di kertas yang disediakan oleh petugas Grey.
Tidak lama pintu pos terbuka, lalu ...
"Dimana dia, apa dia tertangkap karena berkelahi lagi?!!" ucap sosok laki-laki dengan nada tinggi yang mengejutkan semua orang. Rika pun langsung berdiri ketika mengetahui Ayahnya telah tiba.
"Tenang, tenang, bapak ini siapa dan mencari siapa?" tanya petugas Heri.
"Bukankah bapak yang meminta saya kesini, untuk menjemput putri saya, keributan apa lagi yang ia perbuat, apa ada berkas yang perlu saya tandatangani, dimana dia?" tanya sang Ayah beruntun karena tak bisa menahan amarahnya.
"Oh jadi anda adalah Ayahnya Rika, dia ada di sana, tidak ada yang perlu ditanda tangani, ia hanya ketakutan karena merasa ada yang mengikuti." Jelas petugas Heri kepada sang ayah yang masih berdiri di depan pintu.
"Jadi tidak ada berkas yang perlu aku tanda tangani?" tanya sang Ayah yang langsung melihat ke arah Rika yang sedang berdiri di belakang petugas Heri di sebelah kanan ayah.
"Apa yang kau lakukan disana cepat pulang ibumu sendirian di rumah." ucap sang Ayah dan langsung keluar pos polisi.
"Terimakasih" ucap Rika kepada kedua petugas dan bergegas menyusul ayahnya.
"Cepatlah!" ucap sang ayah.
merekapun pergi meninggalkan pos polisi tersebut.
"Ada uang aneh dengan Ayah dari gadis itu." ucap petugas Heri kepada petugas Geru.
"Apa yang aneh, di hanya terlalu khawatir mendapat panggilan mengenai putrinya dari polisi." ucap petugas Grey yang meyakinkan.
"Hmm mungkin begitu" ucap petugas Heri yang tidak mau repot mengurusi urusan orang lain.
Sedangkan si Laki-laki berambut merah itu tersenyum melihat Rika yang keluar dari poa polisi.