Keesokan paginya, Rika bangun lebih awal dari biasanya. Bergegas mandi, menyiapkan buku hari ini, dan tugas dari Pak Ren yang hampir tertinggal. Keluar dari kamarnya, menuruni tangga, melihat kedua orang tuanya di ruang makan, menuju pintu, mengenakan sepatunya, "Rika berangkat!" ucapnya, dan keluar dari pintu melewatkan sarapan.
"Uh lapar, untungnya aku sempat membeli beberapa snack bar kemarin," ucap Rika yang mengeluh kelaparan karena tidak sarapan dan makan malam.
Sang Ayah melarang Rika untuk ikut makan malam pada malam itu dan sarapan di pagi harinya sebagai hukuman.
"Kuharap sudah ada mini market yang buka di Blok H, sehingga aku bisa membeli beberapa snack lagi dan mungkin aku perlu membeli s**u," ucap Rika berharap bisa membeli sarapan di minimarket.
Saat Rika masih berjalan dengan santai, melihat toko-toko yang masih tutup, tiba-tiba saja ada Acu dan Punky yang muncul begitusaja dari gang kecil di depan.
"A-apa mau kalian?! belum puas kupukuli kemarin?!" ucap Rika, mengingat kembali pertemuan pertama mereka, "Waktu itu aku sedang dalam kondisi yang tidak siap, kali ini akan kubuat kalian berhenti menggangguku." Lanjut Rika, melepas ranselnya, meletakkan di tepi, dan memasang kuda-kuda.
"Wow, Wow, wow litle kitty, tenang, tenaaang, tak bisahkah kita bicara dengan baik-baik." ucap Papa Ban dengan lembut, yang muncul dari gang mengenakan topi koboi dan kemeja tropisnya, dan diikuti 4 anggota lainnya.
"Hah, jika kau benar-benar hanya ingin bicara, untuk apa kau membawa semua orang bahkan lebih banyak dari hari sebelumnya!" ucap Rika sedikit menekankan energinya.
Papa Ban tersenyum dengan separuh mulutnya dan mulai menyalakan rokok. Mengipas-kipas kepalanya dengan topi koboinya, dan memberi kode kepada 4 pengikutnya dengan tangannya untuk mengepung Rika.
Rika melihat sekeliling, "Hmp majulah aku tidak akan kalah dari pengecut sepertikalian!" tantang Rika, kemudian Acu berlari menyeruduk, Rika berhasil mengindarinya. Dari belakang Jimmy melayang kan tinjunya, Rika menahannya dengan lengan kanan, lalu menngubah posisi untuk memberi serangan balik. Saat hendak memberi serangan balik ke Jimmy salah seorang yang lain hendak menendangnya, namun Rika tetap berhasil menghindar.
Suasana semakin memanas, perkelahian berlanjut dengan sengit. Sementara itu tidak hanya Papa Ban yang duduk dan melihat anak buahnya berkelahi, dari seberang jalan ada Kapten Gun bersama 3 anggotanya yang berbadan kekar melihat perkelahian tersebut. Kapten Gun mengenakan kaos hitam ketat, celana pendek berkantong, berdiri dengan tegap dan menyilangkan tangannya. Sedangkan Satu anggotanya mengenakan topi nike, duduk di pagar toko, satunya lagi bersandar di dinding, mengenakan kaos pink ketat dan celana jins panjang yang robek, yang terakhir mengenakan kaos hitam longgar, sedang jongkok sambil memainkan smartphone-nya.
"Aaargh!!" ucap salah satu anak buah Papa Ban, yang ditangannya ditarik kebelakang oleh Rika kemudian ditendang dan tersungkur dijalan bersama anggota yang lain.
"Majulah kapanpun kau siap, akan kubuat ini hari terakhirku melihat kalian." Celetuk Rika yang mencoba mengatur nafasnya setelah melawan ke 6 anggota Papa Ban.
"Puih!" Papa Ban membuang puntung rokoknya, meletakkan topinya di tiang batas parkir, dan melayangkan tinjunya ke pipi kiri Rika, Rika menghindar dengan cepat, berganti melayangkan tinjunya ke sisi perut Papa Ban, kemudian berputar dan melayangkan tendangan ke punggung Papa Ben yang masih membungkuk akibat perutnya di pukul. "Bruk!" Papa Ben tersungkur kesakitan.
"Nah, berhenti menggangguku," ucap Rika, mengambil ranselnya, menginjak b****g Papa Ben sebelum melanjutkan perjalanan ke sekolah.
"TUNGGU!" ucap Kapten Gun dengan suara bass seperti di ruang gema, yang melangkah pelan mendekati Rika.
"Ah jika aku harus melawannya juga, aku pasti akan terlambat," ucap Rika dalam hati mengencangkan genggamannya pada tas ransel.
"Tidak usah tegang, aku tidak seperti mereka, kau lihat anak buah ku tetap berada di posisinya." ucap Kapten Gun yang berusaha mendapat waktu bicara dengan Rika. Rika mengintip dari sebelah kanan, tubuh Kapten Gun yang besar menghalangi 85 persen pandangan ke depan. Rika hanya terdiam menunggu apa yang ingin dikatakan oleh sang kapten.
"Hmm kau cukup pintar juga," ucap Kapten Gun yang semakin yakin.
Rika membalasnya dengan tatapan dingin.
"Aku ingin menawarkanmu sesuatu?" ucap Kapten Gun.
"Tidak berminat." ucap Rika tak acuh dan mencoba mengambil langkah, namun dihalangi oleh Kapten Gun. Kapten Gun sangat ingin merekrut Rika menjadi anggotanya, ia yakin Rika bisa membalaskan dendamnya mengalahkan kelompok muda baru yang menjadi sangat kuat di Blok H, yang mengacaukan sistem yang sudah ia terapkan di Blok H.
"Jika kau ingin berkelahi bisakah kita tunda setelah pulang sekolah nanti, tenang saja aku tidak akan lari." ucap Rika dengan santai.
Kapten Gun terdiam, melihat tajam ke arah Rika, yang tingginya hanya sedada Kapten Gun.
"Hmm mungkin jika kubiarkan ia pergi pagi ini, dia akan menerima tawaranku." ucap Kapten Gun dalam hati, masih melihat tajam Rika, lalu membuka jalan untuk Rika. Rika bergegas melanjutkan jalannya dengan santai, lalu mempercepat langkahnya, dan berlari sampai sekolah.
"Huh, pagi yang melelahkan." ucap Rika berjalan dari gerbang sekolah menuju hall piala, berbelok dan menaiki tangga. Lalu setelah sampai di lantai dua, Rika baru menyadari ada yang aneh di sekolah hari itu. Tidak terlihat satupun siswa yang masih berlarian mau menaiki tangga, tidak ada pula yang masih bergerombol tertawa dan bergosip di sepanjang lorong lantai dua. Bahkan ketika Rika membuka pintu kelasnya, tidak ada satupun murid yang nampak disana, hanya terlihat tas dan beberapa jaket yang ditinggalkan di masing-masing kursi kelas. Rika duduk dikelas dan melihaat ke arah jam dinding dikelas, yang menunjukan pukul 7.26. Rika yang masih kelelahan memilih untuk duduk dikursinya dan mengeluarkan buku pelajaran yang akan dipelajari di jam pertama. Waktu menunjukan 7.30, namun bel sekolah tidak berbunyi, bahkan setelah 15 menit berlalu tidak ada satu pun baik guru maupun murid yang nampak. Meskipun merasa aneh Rika yang malas untuk mencari tahu, memilih berdiam di kelasnya sambil membaca beberapa buku pelajaran yang lain. Waktupun berlalu dengan cepat, setelah pelajaran pertama berlalu, Rika mulai mendengar suara-suara dari luar ruangan. "Sreeeek!" seseorang menggeser pintu kelas, dan terkejut melihat Rika yang terduduk dikursinya menggunakan headphonnya.
"Apa yang kau lakukan dikelas?" tanya murid yang membuka pintu kelas kepada Rika yang sedang melepas headphonnya setelah mengetahui ada orang yang masuk. Rika hanya diam, tidak tahu harus menjawab apa, karena bukankah sudah sewajarnya apabila ia berada dikelas, merekalah yang tidak ada di kelas padahal sudah masuk jam pertama, hal yang terpikirkan dibenak Rika saat itu. Semua murid pun memasuki kelas satu persatu dan saling berbisik bertanya-tanya kenapa Rika sudah ada dikelas padahal mereka baru saja diperbolehkan kembali ke kelas oleh para guru.
Tidak lama terdengan suara dari speker sekolah yang menyebutkan beberapa nama murid termasuk Rika, untuk segera datang ke Ruang Pertemuan. Mendengar hal itu, para murid mulai membicarakan mengenai apa yang akan terjadi dengan Rika, tanpa menghiraukan apa yang dibicarakan oleh teman sekelasnya Rika segera merapikan buku-bukunya, dan bergegas keluar ruangan menuju Ruang Pertemuan. Rika yang lupa untuk bertanya kepada temannya dikelas merasa kebingungan mencari Ruang Pertemuan setelah menuruni tangga. Rika berjalan hingga ke depan Ruang Perpustakaan dan kemudian melihat dua orang murid lain yang berjalan suatu tempat, Rika pun memutuskan mengikuti mereka, yang beranggapan mereka adalah salah satu dar murid yang dipanggil, atau jika tidak ia bisa bertanya kepada mereka.
Benar saja, kedu murid tersebut ternyata merupakan murid yang juga ikut dipanggi ke Ruang Pertemuan. Setelah melihat mereka memasuki ruangan, Rika pun menyusul mereka, membuka pintu Ruang Pertemuan, dan didapatinya ada beberapa murid yang berdiri berjejer didepan Kepala Sekolah dan beberapa orag berjas yang tidak dikenal atau tidak tampak seperti para guru yang mengajar di SMA Terbang Tinggi, juga ada salah seorang guru yang menyuruhnya untuk segera bergabung dalam barisan murid yang lain.
"Apa ini sudah semuanya?" tanya Bapak Kepala Sekolah kepada Miss Kiran, yang saat itu sepertinya bertanggungjawab memegang absen para murid. Miss Kiran melakukan pengecekan ulang, antara murid yang sudah datang dengan catatan yang ada di tangannya.
"Sudah Pak, semuanya sudah hadir" ucap Miss Kiran setelah selesai mencocokan.
"Selamat pagi para muridku yang tersayang." ucap Pak Kepala Sekolah, yang kemudian menunggu balasan salam dari para murid, namun tidak satupun yang menjawab termasuk Rika yang hanya mengangguk dan melihat para murid yang berdiri di sebelah kanannya.
"Ehem, Selamat Pagi, semuanya, sekiranya kalian pastinya sudah tau alasan mengapa kalian semua berdiri disini," lanjut Kepala Sekolah. Rika menggelengkan kepalanya, sedang kan yang lain hanya menunduk.
"Baiklah, seperti yang sudah kalian ketahui sejak minggu lalu, bahwa hari ini pihak sekolah telah mengadakan Seminar mengenai Jenjang Karir, dan mengundang beberapa perusahaanan swasta yang telah sukses membanggun usahanya dari nol. Namun apa yang terjadi, setelah seminar selesai Bapak dapati ada murid-murid yang tidak menghadiri seminar ini. Apa yang kalian lakukan, bukan kah ini baik untuk masa depan kalian, terutama untuk kalian yang sudah menginjak kelas XII. Bapak ingin tahu alasan kalian membolos dari seminar pagi ini?" tanya Kelapa Sekolah, untuk menguji tanggung jawab dan kejujuran para muridnya. Dari ujung sebelah kanan Rika, satu persatu murid memberikan penjelasan ketidak hadiran mereka, hingga tiba giliran Rika untuk menjelaskan.
"Nama Saya Rika, dari kelas X-B, murid pindahan, dan ini adalah hari ketiga saya masuk sekolah," ucap Rika dengan posisis siap menghadap ke Kepala Sekolah. "Hanya itu, penjelasanmu?" pikir para guru.
"Ehem, apa kau datang terlambat, sehingga tidak mengetahui apabila kau harus mengikuti Seminar, karena seingat Bapak, semua murid diminta berkumpul pada pukul 7.15, tepat lima belas menit sebelum jam pelajaran dimulai berbunyi?" ucap Kepala Sekolah yang menjelaskan sekaligus bertanya.
"Hmm tidak juga, ketika saya tiba dihalaman sekolah, jam dinding depan sekolah menunjukan pukul 7.21, dan ketika saya memasuki kelas, jam didnding kelas masih menunjukan pukul 7.24, jadi saya rasa saya tidak terlambat mengingat pelajaran dimulai pukul 7.30." jelas Rika yang merasa dirinya tidak bersalah, karena datang sebelum jampelajaran dimulai. Namun ucapan Rika membuat sejumlah guru menjadi kesal, bahkan sampai ada yang ingin memarahinya namun ditahan oleh Pak Kepala Sekolah.
"Baiklah untuk menunjukan rasa tanggungjawab kalian, mulai hari ini kalian wajib mengabdi kepada sekolahan selama satu bulan, dibawah pengawasan ketua OSIS, nak Andrew, silahkan menjelaskan apa saja yang perlu mereka lakukan." ucap Kepala Sekolah yang kemudian pergi bersama para tamu undangan dan beberapa guru. Andrew langsung membagi mereka menjadi beberapa grup, dan entah mengapa memberikan senyuman mencurigakan kepada Rika. Rika yang melihat senyuman itu, hanya berfikir bahwa dia akan sering bertemu dengan orang yang merepotkan selama satu bulan kedepan.
Lima belas menit berlalu, para murid yang akhirnya kembali ke kelas masing-masing.
"Hei!" panggil Andrew, setelah berbincang dengan beberapa wali kelas, berlari menyusul Rika yang telah keluar dari Ruang Pertemuan. Rika mengabaikannya dan melangkah lebih cepat menuju kelas. Namun Andrew berhasil menyusulnya, kakikanya yang panjang, membantunya melangkah dua kali lebih lebar dari pada Rika.
"Hei Rika, apa kau marah padaku?" tanya Andrew sambil berjalan disisi kanan Rika. Rika terus berjalan..
"Apa kau merasa tdak adil, karena kau tidak tau tentang acara seminar ini?" tanya Andrew yang berusaha mendapat perhatian dari Rika. Tiba-tiba Rika berhenti, lalu menatap wajah Andrew, dan menggenggam kencang tangannya seakan-akan ingin mengatakan sesuatu kepada Andrew dengan suara keras. Namun Rika tidak tahu harus berkata apa setelah berhenti dan menengok kearah Andrew dengan cepat, akhirnya setelah melihat wajah Andrew beberapa saat, Rika memutuskan untuk jalan kembali menuju kelas yang tinggal melewati dua ruangan lagi. Andrew masih berdiri disana melipat tangannya, kemuidan metutupi wajahnya dengan satu tangannnya dan tersenyum.
"Imut sekali," ucapnya sambil melihat Rika yang terus berjalan menjauh. Andrewkembali mengejar Rika, dan sesampainya di depan kelas.
"Ah, capat sekali, padahal aku masih ingin bersamamu, sampai ketemu nanti saat kau menjalankan tugas hukuman," ucap Andrew dengan senyuman sambil berjlan melewati Rika yang hendak membuka pintu kelas. Rika yang jengkel membayangkan akan lebih sering melihat wajah Andrew tanpa sadar menggeser pintu ruang kelas dengan sangat kencang, sehingga mengujutkan guru yang sedang mengajar dan para murid. Semua mata tertuju pada Rika, dan Andrew tertawa kecil melihat Rika yang terdiam di depan pintu, yang merasa bersalah.
"A-ada apa? apa terjadi sesuatu?" tanya sang guru yang berfikir mungkin telah terjadi sesuatu, sehingga muridnya membuka pintu dengan cepat. Rika melangkah masuk, menutup kembali pintu kelas, perlahan mendekati sang guru, lalu meminta maaf dan kembali kekursinya. Sang guru pun lalu menasehati Rika di depan semua kelas, untuk tidak lagi membuka pintu dengan caranya tadi. Dan sebagai bentuk kedisiplinan, sang guru memberikan tugas yang lebih banyak dari pada murid lain.
Bel istirahat berbunyi, tidak seperti biasanya, Rika berdiri lalu mengeluarkan kertas Polio dari ranselnya dan hendak membawanya ke ruang guru.
"Tunggu!" ucap Dion yang lalu mencaari-cari tugas miliknya.
"Apa kau ingin mengumpulkan tugas dari Pak Ren?" tanya Dion sambil berlari membawa kertas polio juga. Rika hanya mengangguk, lalu mereka pergi bersama mengumpulkan tugas Pak Ren setelah menerima beberapa lembar Polio dari sebagian murid yang menitip pada Dion.
Dalam perjalanan menuju ruang guru.
"Hei apa kau baik-baik saja?" tanya Dion yang khawatir ketika Rika dipanggil ke ruang pertemuan. Rika hanya mengangguk.
"Maaf aku tidak memberitahumu kemarin, padahal kemarin kau sudah membantuku." ucap Dion yang merasa bersalah, karena seandainya kemarin Ia memberi tahu Rika tentang seminar hari ini, Rika tidak akan dipanggil ke oleh Kepala Sekolah.
"Hmm untungnya kau tidak memberitahuku jadi aku tidak harus berlari menuju Ruang Pertemuan pagi tadi." Jelas Rika yang bersyukur tidak mengetahui tetang seminar itu, seolah Rika tidak ingin Dion merasa bersalah.
"Ah baiklah ... mm lalu apa yang terjadi, sampai-sampai kau menggeser pintu dengan keras?" tanya Dion, yang lalu berhenti melangkah karena Rika yagn tiba-tiba saja berhenti seletah Dion bertanya. Didalam hati, Dion merasa panik melihat Rika yang tiba-tiba berhenti dan tidak berkata atau memberi isyarat apapun, apakah ia telah menyinggung perasaannya atau Rika yang tidak suka bila ditanyai terus-menurus. Ditengah kepanikan Dion, Rika berdiri menghadap Dion, dan menatap wajah Dion. Dion yang panik ditambah terkejut melihat wajah Rika, membuat jantungnya berdebar dengan lebih kencang, dan Dion merasa udara di sekitarnya menjadi hangat. Lalu setelah memandang cukup lama, Rika menggelengkan kepalanya, menjawab pertanyaan dari Dion.
"Tidak ada yang terjadi, hanya bertemu dengan Ketua OSIS." ucap Rika sambil memalingkan wajahnya ketika menyebut Ketua OSIS, kemudian kembali berjalan menuju ruang guru.
"A-aaah, jantungku" ucap Dion dalam hati, melihat tingkah Rika, yang menurut Dion wajah Rika saat itu terlihat imut.
Merekapun sampai di ruang guru, dan meihat Pak Ren yang sedang berbincang dengan guru di sebelah mejanya. Mereka lalu menyerahkan tugas mereka, dan kembali ke kelas.
"Rika, apa kau tidak ingin ke kantin?" tanya Dion, yang sedikit merasa lapar. Rika hanya menggelengkan kepalanya dan terus berjalan. Lagi-lagi Dion hanya mendapatkan respon tanpa suara. Dion pun menghadang jalan Rika, dan memaksanya untuk ikut ke kantin, namun Rika tetap menolak. Spotan Dion menarik tangan Rika, Rika langung berbalik memegang tangan Dion dan membalikan tubuh Dion, menempelkannya di dinding, menarik tangan Dion ke belakang sehingga Dion merintih kesakitan. Rika mendekat kan wajahnya ke telinga Dion dan berbisik, "Berhenti menarik tanganku." ucapnya, lalu melepaskan Dion dan kembali ke kelas. Dion yang kesakitan masih berdiri ditempatnya, memijat-pijat pergelangan tangannya. "Jika kau tidak suka seseorang memegang tanganmu, kau cukup mengatakannya dengan baik, tidak perlu menyakiti seperti ini," ucap Dion pelan sambil melihat Rika yang menaiki tangga. Rika yang mendengar ucapan Dion, berhenti sejenak setelah menaiki anak tangga ke 3, menggenggam kedua tangannya. Rika menyesal telah menyakiti Dion, namun ia tidak bisa merubah sikapnya itu yang diakibatkan oleh trauma masa kecilnya itu. Setelah menghela nafas Rika menaiki tangga kembali.
Sesampainya dikelas, ketika Rika mebuka pintu kelas dan melangkah masuk. Disisi lain, Ian bersiap untuk memukul bola kasti yang akan di oper lambung oleh Bondan, "Buk" bola langsung dipukul dengan keras dan mengarah tepat ke wajah Rika. Rika masih merasa bersalah terhadap Dion, dan sedang berfikir bagaimana caran untuk meminta maaf, terlambat untuk menghindari bola dari Ian, bola pun dengan keras menghantam sudut kiri kepala Rika, "BUK!" Suara keras bola menghantam kepala Rika yang membuat semua murid yang masih dikelas tercengang, dan khawatir apakah Rika baik-baik saja. Pandangan Rika tiba-tiba gelap, telinganya berdengung dan tubuhnya terasa ringan, Rika pun langsung terduduk di lantai, memejamkan matanya dan memegangi kepalanya.
"Ian kau sudah keterlaluan," ucap Yuno kepada teman dekatnya itu, dan segera menghampiri Rika. Mendengar ucapan dari Yuno, Ian hanya terdiam dan memalingkan wajahnya dari Yuno.
"Hei, kau bisa mendengarku?" panggil Yuno berdiri di sebelah Rika, namun Rika tidak meresponnya, telinganya masih berdengung dengan kencang. Dion yang baru tiba, terkejut melihat Rika terduduk di lantai, lalu segera berlari mendekatinya dan merangkul bahu Rika, "Hei Rika, apa yang terjadi, hei Rika!" teriak Dion yang berulangkali memanggil nama Rika, namun Rika masih terus memegangi kepalanya sambil dan menutup matanya. Beberapa saat kemudian, Rika mulai biasa mendengar suara Dion dan Yuno, lalu perlahan membuka matanya, awalnya pandangan Rika masih kabur namun lama kelamaan pandangannya kembali normal. Kemudian Dion membantunya berdiri, dan memapahnya kembali kekursinya.
"Rika kau bisa mendengarku?" tanya Dion mengkhawatirkan kondisi Rika. Rika mengangguk, masih memegangi kepalanya yang terasa sakit. Dion mencoba untuk memegang kepala Rika, namun Rika menempis tangan Dion, Rika tersadar bahwa ia telah menyakiti perasaan Dion, melihat wajahnya sejenak lalu memalingkan pandangannya. Dion memutuskan kembali ke kursinya, namun terus memandang Rika yang masih kesakitan. Yuno yang tidak bisa berkata apa-apa juga kembali ke kursinya, sedang kan Ian hanya terdiam dikursi sambil memainkan pemukulnya. Bel pun berbunyi, masih sambil menahan sakit kepalanya, Rika mengeluarkan buku pelajaran berikutnya. Saat mengelarkan bukunya, Rika meliha obat pereda rasa sakit ditasnya. Rika pun meminumnya untuk menghilangkan rasa sakit dikeplanya itu. Jam itu Rika mengikuti pelajaran sambil memegangi kepalanya yang terasa berat, setelah menium obat pereda sakit tersebut, namun akhirnya Rika pun tertidur di tengah jam pelajaran. Sang Guru yang mengajar saat itu hendak membangunkannya, namun Rika tidak bergeming sama sekali. Kemudian Yuno berdiri dan menjelaskan apa yang terjadi sebelum jam pelajaran dimulai. Dan Dion menambahkan, saat itu kebetulan melihat Rika yang meminum sesuatu dari tasnya. Sang Guru lalu menggeledah tasnya, dan didapati botol yang bertuliskan penghilang rasa nyeri.
Setelah mendengar cerita dari Yuno, sang Guru tidak heran jika Rika meminum obat tersebut, namun yang membuat sang guru resah adalah, mengapa Rika bisa membawa obat tersebut dalam jumlah yang cukup banyak. Karena jika obat itu dikonsumsi berlebihan akan berdampak negatif bagi orang yang mengonsumsinya walau dampaknya akan muncul dikemudian hari. Saat itu sang guru berinisiatif untuk menyita obat tersebut dan memberikannya pada Pak Renold selaku wali kelas X-B, khawatir Rika akan menggunakannya secara berlebihan. Dan berpesan kepada Yuno dan Dion, dimana jika Rika terbangun nanti, Rika diminta datang menemui Pak Renold.
Pelajaran pun dilanjutkan oleh sang Guru, hingga pelajaran berganti Rika masih belum terbangun dari tidurnya. Disetiap mata pelajaran Dion menjelaskan kepada guru yang hendak membangunkan Rika. Hingga pelajaran sekolah berakhir Rika belum juga terbangun. Sebagian murid pulang begitusaja, sabagian lagi membicarakan keadaan Rika sambil berkemas. Ian yang duduk di Area belakang berjalan kedepan melewati kursi Rika, Ian berhenti sejenak dan memandangi Rika. Ketika Ian hendak menyentuh Rika untuk membangunkannya, Dion menahannya, Ian pun menarik tangannya dari Dion dan bergegas keluar kelas dengan espresi yang kesal kepada Dion. Serena yang saat ini masih duduk di kursinya, merasa kesal melihat Ian dan Dion. Serena merasa Rika si anak baru sudah mulai mencoba mencari perhatian para murid cowok yang ada dikelas. Bahkan tidak lama setelah Ian keluar dari kelas, Serena melihat Andrew sang ketua OSIS yang datang ke kelas X-B dan langsung mencari Rika.
Ketika hampir semua murid di kelas X-B sudah pulang, Andrew datang ke kelas X-B langsung masuk kedalam kelas, dan memanggil nama Rika. Saat itu Andrew melihat sekeliling ruangan mencari Rika, namun yang ia lihat hanya beberapa murid lain dan Dion yang saat itu duduk di kursi sebelah Rika yang sudah kosong.
Andrew mendekati Dion, dan bertanya tentang Rika, Dion menjawab, "Ada urusan apa kau mencari Rika?" jawab Dion yang tidak suka dengan kehadiran Andrew yang mencari Rika.
"Chek, itu bukan urusanmu, aku bertanya dimana Rika?" tanya Andrew sedikit kesal dengan Dion, Andrew mencari Rika, karena hukuman berjalan mulai hari ini sepulang sekolah.
Serena yang iri, mengabaikan Cika dan Yessy yang sedang mengobrol didepannya, dan mendekati Andrew.
"Selamat siang, Kak Andrew, kiranya sedang apa datang ke kelas kami?" ucap Serena dengan manja.
"Aah, Selamat Siang, aku sedang mencari Rika, karena mulai hari ini ia harus membantu kegiatan OSIS, sebagai bentuk kedisiplinan." Jelas Andrew dengan senyumannya sebagai Ketua OSIS yang diidolakan semua cewek kelas X di sekolah.
"Hmm bagaimana kalau aku menggantikannya, karena seperti yang kakak lihat sepertinya hari ini Rika sedang tidak bisa menjalani tugasnya." ucap Serena sambil melihat ke arah Rika yang masih tertidur di mejanya. Andrew pun melihat murid yang tersungkur dimejanya itu, lalu berniat untuk membangunkannya namun Dion menghalanginya.
"Kenapa kau menghalangiku?" tanya Andrew kepada Dion. Dion hanya terdiam memenahan tangan Andrew. Serena pun memutuskan untuk menjelaskan apa yang terjadi pada Rika. Sambil mendengar Serena bercerita, Andrew menarik tangannnya dari Dion.
"Hmm kalau begitu kalian boleh pulang duluan, sebagai Ketua OSIS aku akan menemani Rika." Ucap Andrew yang merasa hal itu merupakan salah satu tanggungjawab yang perlu dilakukan sebagi ketua OSIS.
"Tidak perlu, aku saja yang akan menemani Rika, lagi pula sebagai ketua OSIS bukankah adahal yang lebih penting yang harus kau kerjakan." ucap Dion. Lalu saat Andrew dan Dion saling berdepat untuk siapa yang akan menemani Rika, juga Serena yang terus berusaha mencari perhatian dari Andrew. Rika mulai menggerakan dahinya, dan mulai mencoba membuka matanya, lalu mengedipkannya secara perlahan sampai pandangannnya terlihat jelas. Kemudian mengangkat kepalanya, mengedipkan matanya beberapa kali, lalu melihat sekeliling, dan didapatinya Serena, Andrew dan Dion yang sedang berdiri disisi sebelah kanannya.
"Apa yang terjadi? kenapa kau ada disini?" tanya Rika yang sudah mulai menyadari kondisi sekitarnya, melihat ke arah Andrew lalu melihat jam dinding sekolah yang menunjukan pukul 14.20.
"Ah, rupanya begitu," ucap Rika sebelum Andrew menjawab pertanyaannya.
"Maaf, bisahakah aku mengerjakan usai pulang sekolah esok hari, sepertinya hari ini kondisiku kurang baik." ucap Rika sambil menyiapkan tas ranselnya.
"Mmm tentusaja, menjaga kesehatan juga hal yang penting." Ucap Andrew yang sedikit terkejut dan khawatir.
Mendengar ucapan Andrew Rika tersenyum dan berusaha untuk berdiri, namun tiba-tiba tubuhnya hampir terjatuh, Andrew dan Dion sepontan menarik tangan Rika. Rika akhirnya tetap berdiri namun terdiam melihat tangannya dipegang oleh Andrew dan Dion.
"M-maaf bisahkah kalian berhenti menarik tanganku," ucap Rika yang tidak bisa menarik tangnnya karena masih setengah lemas efek dari obat yang ia minum. Dion yang teringat dengan kejadian sebelumnya langsung melepas tangan Rika, sedangkan Andrew masih memegangi lengan Rika masih mencerna ucapan Rika yang meminta berhenti bukan melepas. Namun akhirnya Andrew melepasnya setelah melihat tatapan wajah Rika yang tajam kepadanya.
"Terimakasih," ucap Rika yang lalu bergegas keluar kelas.
"Tunggu!" panggil Dion. Rika berhenti. "Bu Dessy memintamu untuk menemui Pak Ren ketika kau terbangun." Rika melihat Dion dan tersenyum, lalu hendak melangkah keluar kelas.
"Bu Dessy mengambil obat yang kau minum sebelumnya." lanjut Dion. Rika berhenti sejenak, menggenggam tali ranselnya dan melanjutkan langkahnya menuju ruang guru.
Sesampainya di ruang guru, disana sudah tidak ada seorang pun, namun Rika tetap masuk dan mengunjungi meja Pak Renold. Ia melihat obat pereda sakitnya ada diatas meja Pak Renold. Rika saat itu ragu, apakah sebaiknya ia mengambil obat itu kembali, atau menunggu esok hari setelah bertemu dengan Pak Ren. Sempat melihat sekeliling, mengambil botol obatnya, lalu mengembalikannya kembali ke meja Pak Renold, dan memutuskan untuk pulang. Seseorang melihatnya keluar dari ruang guru.