"Uh lemas sekali," ucap Rika yang merasa sangat lelah sore itu, berharap ia tidak akan bertemu lagi dengan gengster di Blok H, mengingat Rika telah mengalahkan kembali kelompok Papa Ban. Namun Rika lupa bahwa tadi pagi ia telah berkata pada Kapten Gun, jika ia akan mendengarkan permintaan dari Kapten Gun sepulang sekolah. Benar saja, setelah melewati Blok H, tidak jau dari batas Blok H dan Blok I, Rika melihat Kapten Gun sudah duduk menunggunya disana bersama tiga anak buahnya dan Papa Ban yang badannya penuh dengan plaster. Tanpa pikir panjang Rika mendekat, berharap ia bisa menunda permintaan Kapten Gun kembali.
"Bisakah kita bicarakan hal itu sepulang sekolah besok, hari ini aku sedang tidak mood." Ucap Rika, sebelum Kapten Gun menyapanya.
"Siapa kau? beraninya memerintah Kapten Gun?" ucap sesorang yang mengenakan kaos pink.
"Apa kau ingin mengingkari perkataanmu tadi pagi?" ucap pria bertopi yang mulai berdiri dan mendekati Rika.
"Hmm ... bukan kah aku tidak lari, aku hanya bilang untuk menunda kembali menjadi esok hari." ucap Rika, membalas perkataan pria bertopi.
Kapten Gun menghentikan makannya, dan memberikan snack ringan itu kepada pria berkaos pink, lalu beridri dan berjalan mendekati Rika, mendorong pria bertopi menjauh dari Rika. Kapten Gun berdiri cukup dekat dihadapan Rika, mendekatkan kepalanya ke wajah Rika lalu berkata, "Baiklah, kali ini ku kabulkan permintaan keduamu, jika kau mengingkarinya lagi, akan kubuat kau menyesalinya." Ancam Kapten Gun, yang masih menahan ambisinya untuk memaksa Rika bergabung kedalam kelompoknya.
"Tenang saja Paman, aku tidak pernah mengingkari apa yang telah kukatakan." ucap Rika yang lalu berjalan melewati Kapten Gun dan ketiga anak buahnya, "Ah, sepertinya besok aku pulang jam 4, jadi jangan tunggu aku di jam yang sama." Lanjut Rika yang langsung mengambil langkah cepat, menuju rumahnya. Mendengar hal itu, ketiga anak buah Kapten Gun merasa direndahkan dan ingin mengejar Rika, namun langkah mereka di hentikan oleh Kapten Gun.
"Biarkan saja, kita membutuhkan dia, bersabarlah." Ucap Kapten Gun, mengubah pola pikir anak buahnya.
Akhirnya Rika sampai dirumahnya, namun ketika Rika hendak membuka pintu rumah, pintunya terkunci. "Ah, apa ibu sedang keluar, uuh lemas sekali." Ucap Rika yang lalu terduduk di depan pintu rumahnya, dan perlahan mulai tertidur. Saat Rika terbangun hari sudah gelap, Rika melihat lampu rumahnya telah menyala, yang artinya ibu sudah pulang. Rika bergegas masuk, didapatinya Ayah juga sudah pulang. Ketika Rika masuk sang ibu sedang menyiapkan makan malam. Namun anehnya suasana dirumah malam itu terasa berat, sepertinya sang ibu habis menangis. Dan tidak seperti biasanya, mereka mengajak Rika untuk ikut makan bersama. Rika kemudian bergegas membersihkan diri, dan segera bergabung kembali di meja makan.
"Apa yang terjadi, kenapa kau tidur didepan pintu?" tanya Ayah, yang duduk di meja makan sambil meminum tehnya masih menunggu sang ibu selesai menyiapkan makan malam.
"Mmmm pintunya terkunci, jadi mm Rika menunggu di depan pintu, sampai tertidur." Ucap Rika dengan ragu, khawatir apabila ucapannya akan membuat sang Ayah marah.
Saat mereka mulai makan, "Apa kau sengaja membuat kami teringat kembali?" ucap Ayah yang mencurigai Rika memiliki niat untuk membuat mereka teringat kejadian yang kelam, sebagai bentuk protes. Rika tidak mengerti apa yang dimaksud oleh sang ayah, ia memandangi sang ayah yang melanjutkan makannya, Rika pun melanjutkan makan dengan perasaan ragu.
"Sebaiknya kau minta maaf kepada ibumu, karena telah membuatnya kembali mengingat hari dimana Raka pergi meninggalkan kami dan menitipkan dirimu pada kami." Ucap sang Ayah, dengan persaaan yang tercampur aduk, antara akan marah dan kesedihan.
Rika langsung menghentikan aktifitas makannya, dan meletakkan alat makan di atas meja, lalu bersandar dan melihat kedua orangtuanya, yang sedang makan sambil menunduk dan melahap makanan merka dengan perlahan.
***
Sore itu, sang ibu pergi ketempat distributor untuk mengantarkan produknya yang sudah selesai ia buat. Lokasi pengumpupulan barang searah dengan jalur yang di lalui Ayah berangkat dan pulang kerja. Sehingga mereka memutuskan untuk bertemu di suatu tempat dan pulang bersama. Dalam perjalanan pulang, bus yang mereka naiki tiba-tiba tidak bergerak sama sekali, entah apa yang terjadi, bus berhenti cukup lama. Limabelas menit bus berhenti kemudian mulai berjalan sedikit demi sedikit, begitu pula dengan kendaraan disekitar. Bus berjalan berpindah jalur, ternyata telah terjadi kecelakan tunggal, sebuah mobil sedan terguling dan kondisinya cukup parah. Saat itu sang ayah langsung memeluk ibu yang tubuhnya mulai gemetar ketakutan.
"Sudahlah, sebentar lagi kita akan sampai di rumah." Ucap sang Ayah, sambil merangkul sang ibu yang masih gemetar. Lalu setibanya di depan rumah, ibu yang melihat Rika tertidur di depan pintu, langsung menangis histeris, memanggil nama Raka. Sang Ayah ikut merasa sedih namun juga marah melihat Rika yang tertidur didepan pintu. Membuat mereka teringat dengan malam dimana Raka berpamitan kepada mereka di rumah sakit yang kemudian saat mereka kembali kerumah, mereka menemui Rika yang tertidur didepan rumah ditengah kegelapan malam. Sama persis dengan saat ini dimana mereka sampai dirumah ketika hari sudah gelap dan lampu rumah mereka belum menyala.
Ayah lalu memapah ibu yang masih menangis hingga lemas, mendekat ke pintu, lalu ayah membuka kunci pintu dan langsung masuk kedalam tanpa membangunkan Rika. Mendudukan ibu di sofa depan tv, kemudian membuatkan ibu minuman hangat. Ayah menemani ibu duduk didepan tv lalu merangkul ibu, dan membelai kepalanya dengan lembut.
"Kita semua tahu jika Raka telah berada ditempat yang bahagia, tidak baik bagi Raka jika kita terus bersedih seperti ini." ucap sang Ayah dengan lembut, masih membelai kepala ibu, dan melihat semua foto Raka yang di pajang di sekitar tv.
"Apa ayah lapar?" tanya ibu beberapa saat kemudian. "Akan aku siapkan dulu." lanjut ibu yang langsung berdiri dan menuju dapur. Ayah menyusul ibu dan sedikit membantu menyiapkan makan malam. "Bergantilah dan bersihkan dirimu, dan duduklah aku hanya perlu memanaskan supnya dan mengoreng beberapa potong tempe," ucap ibu yang sebenarnya sedang ingin sendiri. Memahami ucapan sang Ibu, ayah pun keluar dari dapur, mengikuti permintaan dari ibu, menunggu di meja makan sambil membawa gelas yang berisikan teh yang baru disedu oleh ayah.
***
Rika terus terdiam, dan meatap kedua orang tuanya, hingga mereka selesai makan. Ketika sang ibu hendak membersihkan meja, "Biar Rika saja yang membereskan semuanya." ucap Rika kepada ibu sebagai permohonan maaf telah membuatnya menangis. Sang Ayah melihat kearah ibu dan mengajaknya masuk ke kamar mereka, meninggalkan Rika sendirian di ruang makan. Setelah melihat kedua orang tuanya menaiki tangga menuju ke kamar mereka, Rika menghela nafas, dan melanjutkan makan malamnya. Sedikit demi sedikit secara perlahan Rika memasukan makanan kedalam mulutnya dengan tatapan kosong melihat beberapa lauk yang ada di meja. Semakin lama ruangan terasa semakin dingin dan sunyi, hanya terdengar suara detik dari beberapa jam yang ada di ruang tv, dan dapur. Rika pun mulai meneteskan air mata, sambil menghabiskan makanannya, lalu berkemas, membereskan semuanya, dan kemabil kekamarnya setelah selesai mencuci peralatan yang kotor dan menyikat giginya.
"Huh, hari ini terasa berat dan lelah sekali ..., menghadapi geng Papa Ban, belajar sendiri di kelas, mendengarkan Ketua OSIS, menerima bola yang di pukul oleh Ian, ah aku tertidur sepanjang pelajaran, haha, lalu bertemu lagi dengan kelompok baru yang sepertinya tingkatnya lebih tinggi dari geng Papa Ban, lalu . . . ," ucap Rika setelah masuk kamarnya, langsung merebahkan tubuhnya di kasur kesayangannya, dan mulai bercerita kepada sang Kakak sambil melihat langit-langit kamarnya. Rika yang tidak bisa tertidur kembali malam itu, memutuskan untuk membaca kembali buku diary sang kakak.