11 Januari. Hari ini aku pergi mengunjungi Ibuku yang baru saja melahirkan seorang adik yang sudah kutunggu-tunggu kehadirannya. Pertama kali aku melihatnya dipelukan ibu, aku merasa sangat bahagia, aku tidak percaya kalau kini aku mejadi seorang kakak. Menyentuh pipinya yang lembut, memegang tangannya yang mungil. Saat itu aku sangat ingin menggendongya, namun mereka tidak mengijinkanku, mereka bilang tubuhnya masih terlalu rentan, jika aku salah ketika menggendongnya maka aku akan menyakiti sang bayi.
13 Januar. Hari ini aku akan menjemput adikku dirumah sakit. Ayah bilang hari ini Ibu sudah boleh pulang. Itu artinya mulai hari ini, ia akan tinggal di rumah. Hmm aku tidak tau harus memanggilnya siapa, lalu saat bertemu denganya di rumah sakit aku bertanya kepada Ayah dan Ibu, siapa nama adikku. Mereka bilang padaku, jika aku boleh memilihkan nama untuknya. Saat itu endah dari mana sepasang nama muncul dipikiranku, Rika Cahya, nama yang kuucapkan didepan Ayah dan Ibu. Mereka tersenyum, ayah bilang mulai sekarang bayi itu bernama Rika Cahya seperti apa yang ku ucapkan. Tapi ...
14 Januari. Hari ini aku bergegas pulang sekolah untuk segera bertemu dengan Rika. Saat sampai di rumah, aku mnedengar suara tangis Rika dari kamar ku. Aku langsung berlari kekamar dan berusaha untuk menghentikan tangisnya, namun Rika terus menagnis, Aku mencari Ibu, anehnya aku tidak melihat ibu dimanapun, setiap ruangan aku memanggil ibu, namun tidak ada jawaban dari ibu. Aku kembali ke kamarku menemani Rika yang masih menagis.
"Ugh berhentilah menangis," ucap Raka, sambil menutup telinganya.
20 Januari. Setiap hari Rika selalu menangis. Terkadang telingaku sampai sakit mendengar teriakannya yang semakin keras.
11 Maret. Hari ini Ibu memberitahuku jika Rika menagis ditengah malam, aku bisa memberikannya Asi yang sudah ibu simpan di lemari khusus untuk menyimpan Asi. dan sejak hari ini, aku ikut membantu ibu, menganti popok Rika.
12 Maret. Rika sudah mulai bisa mulai bisa merespon ketika aku memanggil namanya, dan Ia juga sudah mulai bisa menggengam jari-jari tanganku.
30 Mei. Rika sudah mulai mengoceh satu atau dua kata, dan aku sudah bisa memangkunya, dan bermain bersama.
20 Agustus. Hari ini aku sangan senag, ini pertamakalinya Rika memanggilku kakak, walau belum cukup jelas, namun aku sangat senang mendengarnya. Namun sudah satu bulan ini, ibu jarang sekali terlihat bersama Rika. Ibu selalu memintaku untuk memandikan Rika, dan menyuapinya.
10 Januari. Besok adalah hari ulang tahun pertama Rika, Ah aku berharap besok aku tidak harus berangkat ke sekolah.
11 Januari. Aku ucapkan selamat ulang tahun pada Rika, kami menyanyikan lagu ulang tahun bersama dikamar ku. Sayangnya aku tidak bisa membelikan kue ulang tahun untuk Rika. Aku hanya bisa mengeluarkan beberapa mainanku dulu yang disimpan oleh ibu. Entah mengapa Ayah dan ibu tidak merayakan hari istimewa ini. Mungkin karena mereka sibuk bekerja, untuk membiayai kami berdua.
13 Maret. Hari ini aku mendaftar untuk mengikuti seni bela diri karate. Hmm jam bermainku dengan Rika menjadi berkurang. Aku berharap Rika tidak bersedih. Karena ini juga demi masadepan kita berdua.
12 Desember. Aku berhasil naik tingkat menjadi sabuk kuning. Kami merayakannya dengan membeli makanan dari luar. kami tertawa dan bernyanyi bersama. Namun ketika aku mulai bermain dengan Rika, Ayah dan Ibu berhenti tertawa. Ibu sibuk membereskan meja makan, sedangkan ayah menyalakan tv. Aku memutuskan mengajak Rika bermain di kamar.
31 Desember. Kami berempat pergi ke pusat kota untuk melihat pesta kembang api. sambil menunggu waktu kembang api di nyalakan, Kami bermain bersama di taman kota. Saat itu Rika sempat terjatuh, dan menangis. Namun ibu bersikap tak acuh pada Rika. Ibu hanya melihat dari kejauhan dan bilang kalu itu hanya luka ringan sebaiknya Rika segera berhenti mengis atau kita akan pulang sekarang juga. Saat itu Rika masih baru berumur 1 tahun 11 bulan dan sebentar lagi akan mengijak 2 tahun, namun Setelah mendengar ucapan ibu, Rika seperti mencoba untuk menahan rasa sakit dan berhenti menangis. Melihat Rika yang menahan tangisnya, membuat hatiku merasa tidak senang. Mulai hari ini aku berjanji akan menjaga Rika agar ia tidak terluka.
9 Januari. Aku bertanya pada ayah, hadiah apa yang akan ayah berikan kepada Rika di hari ulang tahunnya yang ke dua. Namun ayah tidak menjawabku. Aku bertanya pada ibu, ibu bilang Rika masih berumur 2 tahun, dan mainan lama ku juga masih bagus, jadi tidak perlu membelikan mainan baru untuk Rika. Hmm mendengar ucapan ibu, aku merasa ada benarnya juga.
11 Januari. Untungnya tahun ini, ulang tahun Rika jatuh di hari minggu jadi aku bisa seharian bermain dengan Rika, Namun sekalai lagi, Ayah dan Ibu bersikap seolah-olah hari ini hanyalah hari minggu biasa. Mereka juga tidak merayakan Ulang tahun Rika yang kedua. Padahal seingatku dulu ketika aku berusia 2 tahun, mereka mengundang semua keluarga besar Ayah. Bahkan mengambil beberapa gambar ketika aku sedang bermain bersama anak yang lain. Hmm mengingat keluarga Ayah, sepertinnya sudah lama kita tidak pernah berkumpul lagi, padahal biasanya setiap ada keluarga Ayah yang berulang tahun kita selalu diundang ke pesta ulang tahun mereka.
14 Maret. Hari ini aku berumur 8 tahun, ibu membuatkan ku kue ulang tahun, dan memberiku baju baru, sedangkan ayah memberiku sebuah amplop yang berisikan sejumlah uang. Ayah berpesan, aku boleh menggunakannya semauku, atau menyimpannya. Hmm kuputuskan untuk menyimpannya, lagi pula saat ini tidak ada yang sedang aku inginkan selain bermain dengan Rika.
20 Juni. Hari ini kami merayakan ulang tahun ayah yang ke 35, ibu memasak beraneka ragam makanan. Namun hari ini seerti tahun sebelumnya, hanya kami berempat yang merayakannya, tidak ada sanak saudara yang datang, seperti 3 tahun sebelumnya. Setelah makan, kuberanikan diri untuk bertanya kepada ayah, mengapa 2 tahun terakhir ini kita tidak pernah sekalipun bertemu dengan saudara ayah lagi. Ayah dan Ibu daat itu langsung terdiam dan saling menatap. Lalu Ayah berkata, jika kita tidak harus selalu sering bertemu. Setelah itu, ibu memintaku untuk membawa Rika kekamar dan menidurkan Rika karena hari sudah semakin larut. Aku langsung membawa Rika masuk ke kamar.
26 Juni. Ayah memberiku sebuah amplop yang berisikan sejumlah uang lagi, sebagai hadiah telah menjadi juara kelas. Ayah bertanya padaku, akan kugunakan untuk apa uang pemberiannya, aku katakan pada ayah bahwa untuk saat ini, aku hanya akan menyimpannya. Ayah tersenyum melihatku dan membelai kepalaku dengan lembut.
19 September. Hari ini adalah hari ulang tahun Ibu, namun kali ini kita tidak merayakannya. Ketika aku mengucapkan selamat, dan bertanya kepada ibu, mengapa hari ini kita tidak merayakannya. Lalu Ibu menjawab jika ulang tahun hanyalah perayaan yang sesungguhnya tidak wajib untuk dirayakan setiap tahunnya. Dan hari ini ibu merasa kita tidak perlu merayakan ulang tahun ibu. Ucapan dan doa dari mu sudah cukup untuk ibu. Mendengar hal itu, aku merasa sedikit sedih. Lalu ibu memelukku dan melanjutkan aktifitasnya kembali.
30 November. Hari ini aku mengikuti kompetisi debat bahasa asing, kategori junior, tingkat daerah. Sayangnya aku tidak berhasil meraih juara 1 ataupun 2, namun aku masih membawa pulang piala juara harapan. Kami merayakannya denngan membeli makan diluar. Dan sesampainya kita di rumah. Ayah kembali lagi memberiku subuah amplop yang berisikan sejumlah uang. Padahal aku juga mendapat amplop berisikan uang dari kompetisi, namun ayah tetap memberiku amplop sebagai hadiah prestasiku. Kusimpan uang tersebut bersama amplop-amplop sebelumnya.
31 Desember. Rika jatuh sakit, ini pertamakalinya aku merasakan suhu tubuh Rika sangat tingi. Aku membawa Rika bertemu Ayah, lalu kami langsung bergegas ke klinik terdekat. Saat pulang kerumah, Ayah menidurkan Rika dikamar, dan berpesan padaku jika mulai hari ini akulah yang bertanggung jawan tentang kesehata Rika, ayah memberi obat yang harus diminum oleh Rika. Aku hanya mengangguk, dan melihat Rika dari sisi tempat tidur. Disini aku merasa ada yang aneh dengan Ayah dan ibu kepada Rika, seingatku dulu ketika aku jatuh sakit, badanku panas tinggi, Ayah sangat panik, dan langsung membawaku ke dokter. Sedangkan malamnya Ibu menemaniku tidur, semalaman berada disisiku. Namun kali ini, Ayah berjalan dengan santai ke klinik sedang kan ibu sama sekali tidak melihat atau menjenguk Rika yang jatuh sakit.
11 Januari. Sekali lagi kami tidak merayakan ulang tahun Rika yang ke 3, namun kali ini aku membelikan mini cake untuk Rika, menggunakan uang yang sudah kukumpulkan. Saat itu wajah Rika penuh dengan coklat setelah memakan cakenya, aku tertawa sampai perutku sakit, lalu membantunya membersihkan coklat dari wajah imutnya.
14 Februari. Sudah dua hari ini ayah tidak pulang karena urusan kantor. Hari ini kuberanikan diriku untuk bertanya kepada Ibu, mengenai Rika yang selalu di abaikan oleh ibu. Saat aku bertanya, Ibu hanya terdiam menatapku, lalu beberapa saat kemudian ibu berkata jika sebaiknya aku bertanya kepada Ayah mengenai hal itu. Aku bingun kenapa harus bertanya pada ayah, padahal yang aku tanya adalah mengapa ibu mengabaikan Rika bahkan sejak ia dilahirkan. Namun Ibu tetap tidak memberi jawaban. Aku merasa sedikit kesal waktu itu karena ketidak tahuanku, aku tidak bisa berbuat apa-apa.
28 Februari. Hari ini aku berhasil lulus tes naik tingkat seni ilmu bela diri karate. Ayah dan ibu memberiku selamat. Dan memelukku dengan bangga. Lalu aku kembali bersama Rika, menemaninya bermain. saat itu juga aku baru menyadari, bahwa ayah sangat membenci putrinya. Tatapan ayah yang memandang jijik kearah Rika saat itu, membuatku ingin bertanya kepada ayah, mengapa ia melihat Rika seperti itu, mengapa ia seperti sangatnya sangat membenci Rika, dan mengapa kita sudah tidak lagi berkunjung ke rumah kakek.
14 Maret. Hari ini usiaku 9 tahun, hari ini tidak ada kue ulang tahun dan perayaan kecil. Ibu memberiku ucapan dan kado, dan berkata padaku bahwa ibu minta maaf jika mulai hari ini kita tidak akan pernah mengadakan pesta lagi. Ayah hanya memberiku amplop yang berisikan uang, namun kali ini ayah memberiku dua amplop. Ketika aku bertanya, satu amplopnya adalah hadiah karena aku berhasil naik tingkat 2 minggu yang lalu. Aku mengucapkan terimakash kepada Ayah, lalu untuk pertama kalinya aku meminta sesuatu dari ayah. Aku minta agar akhir pekan ini, kita bisa mengunjungi kebun binatang, dulu saat aku berusia 3 tahun Ayah juga mengajakku ke kebun binatang. Aku ingin Rika juga merasakan hal yang sama setidaknya satu hal. Namun Ayah hanya terdiam tidak memberi jawaban sama sekali, hingga ibu memintaku untuk segera pergi membawa Rika ke kamar.
29 Maret. Hari ini Ayah mengajak Kami pergi ke Kebun Binatang. Kami bermain dengan Kelinci. Aku dan Rika menaiki kuda poni bersama mengelilingi kebun bintang. Rika terlihat sangat senang ketika kita memberi makan Rusa mereka saling berebut makanan. Menaiki Kereta kecil, melihat ikan, dan melihat beberapa burung secara langsung. Hari ini sangat menyenangkan dan melelahkan. Aku berterimakasih pada Ayah yang telah mengajak kami ke kebun binatang. Aku pikir waktu itu ayah tidak langsung menjawab, karena ada beberapa hal yang harus direncanakan.
20 Juni. Hari ini ulang tahun ayah, namun lagi-lagi kami tidak mengadakan pesta seperti sebelumnya. Hmm aku harap ini bukan karena kami mulai mengalami kesulitan ekonomi. Salah seorang temanku mengatakan keluarga sepupunya tiba-tiba berhenti mengadakanpesta perayaan 2 tahun sebelumnya, lalu kemudian diketahui perusahaan tempat ayahnya bekerja mengalami kesulitan perekonomian, sehingga perlu deberlakukan pengurangan pegawai dan ayah seppunya termasuk salah satu pegawai yang di keluarkan.
1 Juli. Ada festival hari ini dilapangan tengah kota. Hari ini Kami berempat pergi ke festival yang akan berlangsung selama 3 hari itu. Ibu memegang tanganku dan berpesan padaku untuk tetap berdekatan dengan mereka. Akupun memastikan tanganku menggandeng tangan Rika dengan erat, karena suasananya cukup ramai. Namun tiba-tiba aku merasa ada seseorang yang menarik Rika, Aku mencoba melepaskan tanganku dari Ibu dan berusaha memeluk Rika yang mulai menagis. Saat itu aku melihat wajah seseorang pria yang terkejut ketika aku berhasil menarik Rika kembali. Kemudian aku memeluk Rika dengan erat dan segera mencari Ayah dan Ibu ditengah keramaian. Aku tidak berhasil menemukan Ayah dan Ibu, namun aku bertemu dengan petugas yang sedang berkeliling. Aku menceritakaan pa yang terjadi, lalu mereka membawa kami ke pusat informasi. Saat kami sedang menunggu Ayah dan Ibu. Tiba-tiba saja ada seorang laki-laki yang datang dan langsung memeluk Rika, dan mengaku jika Rika adalah anaknnya. Aku berteriak memintanya untuk melepaskan Rika, dan mengtakan kepada petugas bahwa laki-laki itu pembohong, saat itu Rika masih di pegang oleh orang asing itu dan dan menangis memanggil namaku. Aku berharap Ayah dan Ibu segera tiba, dan membebaskan Rika dari orang tersebut. Untungnya para petugas tidak percaya begitu saja. Kemudian Ibu datang dan langsung memelukku, memeriksa tubuhku lalu aku menceritakan apa yang terjadi. Aku meminta Ibu memberi tahu petugas bahwa Rika bukanlah anak laki-laki itu, namun ... entah kenapa saat ditanya oleh petugas Ayah dan Ibu hanya saling menatap, lalu ibu memeluku, aku terus berteriak bahwa Rika adalah adikku. Saat itu tidak ada yang mendengarkan ku, dan aku melihat laki-laki itu hendak membawa Rika pergi, aku berusaha melepaskan diri dari pelukan Ibu. Terpaksa Aku mendorong ibu hingga terjatuh, segera berlari dan menendang kaki laki-laki tersebut. Aku menangkap Rika yang terjatuh dari pelukannya dan membawa Rika menjauh dari laki-laki itu. Aku berkata kepada mereka bahwa aku tidak akan membiarkan orang itu membawa adiknya pergi. Aku tidak ingat apa yang terjadi selanjutnya, yang kuingat hanya memeluk Rika yang menangis.
3 Juli. Hari ini sepulang sekolah, aku melihat sepatu ayah yang sepertinya sudah pulang, dan sepertinya kami sedang kedatangan tamu. Aku masuk dan memberi salam. Ini peretamakalinya aku melihat wajah ayah begitu memerah. Lalu salah satu tamu ayah, tersenyum kepadaku, dan berkata jika aku adalah kakak yang baik, mereka juga memintaku untuk terus menyayangi adikku dan menjaganya. Tentusaja aku akan menjaga Rika. Setelah mengucapkan hal itu, mereka langsung berpamitan. Aku mendekat ke meja tamu, aku melihat beberapa berkas yang ditinggalkan oleh mereka. Aku membaca disana tertulis 'UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2002 TENTANG PERLINDUNGAN ANAK', aku melihat Ibu yang terduduk, menunduk, dan tangan yang satu menggenggam tangan yang lain. Sedangkan ayah berdiri dengan wajah sangat kesal, dan tangannya meremas sebuah kertas. Aku ingin bertanya kepada mereka, tapi sepertinya hal itu tidak memungkinkan saat ini. Kuputuskan untuk menemui Rika dikamar.
7 Juli. Hari ini aku mendengar hal yang selama ini ingin kutanyakan kepada Ayah dan Ibu. Saat aku akan keluar dari kamar megambil cemilan, meninggalkan Rika yang sedang tertidur, Aku mendengar percakapan Ayah dan Ibu di dapur. Aku mendengar tetang ayah yang sebenarnya ingin ibu menggugurkan kandungannya saat mengetahui bayinya perempuan. Aku mendengar alasan kenapa kita tidak lagi bertemu dengan kakek dan saudara Ayah yang lain. Semuanya berkaita dengan Rika. Ayah dan Ibu berseteru seandainya mereka memutuskan untuk tidak melahirkan Rika masalah ini tidak akan terjadi. Masalah tentang perlindungan anak dimana mereka lalai menjaga anak perempuannya. Lalu aku mendengar suara Rika memanggil namaku dari belakang. Aku berbalik langsung memeluk Rika, dan menggendongnya kembali kekamar.
1 Agustus. Hari ini Ayah memberiku amplop berisikan uang, kali ini ayah bilang aku harus mulai belajar untuk mengontrol uang jajanku. Ayah memberikanku uang saku untuk 1 bulan. Sejak kejadian itu, hubungan kami menjadi sedikit renggang. Ayah sibuk dengan pekerjaanya, begiupula dengan ibu, dan aku yang selalu langsung bermain dengan Rika setelah pulang sekolah. Kini aku tahu, kami tidak kurang dalam hal ekonomi namun kami kurang dalam kasih sayang.
11 Januari. Hari ini Rika berulang tahun yang ke 4, meski kami tidak pernah merayakannya, kali ini aku membeli beberapa makanan untuk kami makan bersama. Aku merasa hangat ketika melihat Rika yang selalu tertawa saat bermain bersamaku. Hmm seingatku sejak Rika menginjak usia 3 tahun Rika hampir tidak pernah menangis. Bahkan kemarin, saat aku mengajak Rika bermain kerumah temanku yang memiliki seorang adik lebih tua 1 tahun dari Rika. Rika tidak menangis ketika ia terjatuh akibat terpeleset oleh mainan yang dilempar oleh adiknya, setelah terjatuh Rika bangun dan berjalan kearahku lalu terdiam duduk dipangkuanku. Keesokan harinya, temanku bertanya padaku, ia bertanya apakah Rika menangis saat sampai dirumah, lalu kujawab tidak, ia kagum melihat adikku yang tidak menangis setelah jatuh, jika itu adiknya ia pasti sudah menangis dan mencari ibunya, cerita temanku. Hmm terakhir kali aku melihat Rika menangis saat kejadian waktu itu, yang dimana hampir saja Rika dibawa pergi oleh seseorang. ???
13 Maret. Hari ini aku mendapat juara pertama lomba cerdas cermat tingka sekolah dasar. Kami mengadakan perayaan kecil dirumah.
20 Mei. Hari ini aku berhasil naik tingkat lagi menjadi sabuk hijau. Aku memperagakan ulang pertandinganku di depan Rika, ia tertawa kegirangan dan mengulangi beberapa gerakanku. Hahaha lucu sekali. Rika menahan tangisnya saat tanagnnya menatap kaki meja belajarku. Aku merasa bersalah karena menertawainya, namun saat itu wajahnya yang memerah membuatku tertawa. Rika langsung berlari memukulku karena aku terus tertawa. Hahahaha
1 Juni. Hari ini, Aku dan Rika pergi kerumah temanku lagi. Tiara mengundang kami untuk menghadiri ulang tahun adiknya yang ke 5. Saat melihat Adik Tiara dan Rika bermain bersama. Tiara bertanya padaku dimanakah Rika bersekolah. Aku tidak tahu harus menjawab apa. Tiara bilang, anak seusia Rika seharusnya sudah mulai belajar bersama teman seusianya di taman kanak-kanak. Ia bilang jika ayahku belum memutuskan sekolah mana yang akan dimasuki Rika, Tiara menyarankan untuk memasukan ketempat dimana adikanya, Jimmy bersekolah. Menurutku itu ide yang bagus, aku akan mencari waktu yang tepat untuk bertanya kepada ayah.
6 Juni. Hari ini kuberanikan diri, bertanya kepada ayah mengenai Rika yang mulai bersekolah di taman kanak-kanak. Saat aku bertanya pada Ayah, Ayah tidak langsung memberiku jawaban. Akupun mengalihkan pembicaraan, dengan bertanya kepada Rika apakah ia ingin bersekolah, dan menjelaskan padanya kenapa ia harus bersekolah. Rika terdiam menatapku, lalu ia bertanya padaku, apakah Aku akan berada disana juga, bersamanya. Aku memberitahu Rika, jika tempat kami bersekolah berbeda. Namun aku berjanji aku akan selalu mengantarnya ke sekolah dan menjemputnya pulang. Tiba-tiba ayah bertanya padaku, apakah aku sungguh-sungguh akan melakukannya. Mengingat lokasi taman kanak-kanak yang disarankan oleh Tiara dekat dengan sekolahku, aku menganggukkan kepalaku menjawab pertanyaan ayah. Lalu Ayah bilang jika Ia akan mendaftarkan Rika bulan depan. Aku sangat gembira mendengarnya. Namun saat aku melihat Rika, ia hanya menunduk sambil memainkan mainannya dan terlihat murung.
10 Juli. Hari ini, aku membeli beberaa keperluan Rika untuk bersekolah. Aku tidak tahu apa saja yang diperlukan oleh Rika untuk bersekolah, karna itu aku meminta Tiara untuk menemaniku berbelanja. ketika kami telah selesai berbelanja, Tiara bertanya padaku, mengapa aku tidak pergi bersama ibu untuk membeli keperluan Rika. Aku menjawab bahwa mereka terlalu sibuk dan mempercayakan hal ini padaku. Saat mendengar hal itu, Tiara tertawa dan kagum padaku yang sangat peduli dengan adikku. Bahkan Ia tidak percaya, karena Ia sendiri sering menolak untuk membantu adiknya yang selalu menangis dipelukan ibunya. Aku tersenyum membalasnya. Hmmm apakah aku mungkin akan seperti Tiara jika Rika seperti Jimmy?
12 Juli. Hari ini adalah hari pertama Rika masuk sekolah. Aku berangkat lebih awal bersama Rika, agar aku tidak terlambat kesekolah nantinya. Sesampainya di Taman Kanak-kanak, Rika menggenggam kencang tanganku dan bersembunyi dibelakangku ketika kami bertemu dengan salah satu guru disana. Saat itu Rika tidak mau melepaskan tanganku, aku mencoba menjelaskan pada Rika bahwa kita akan bertemu lagi sepulang sekolah. Lagi pula lebih baik Rika menungguku di sekolah dari pada ia bermain sendiri dirumah. Tidak lama kemudian, Tiara datang bersama Jimmy. Jimmy yang senang melihat Rika di sekolah langsung mengajaknya bermain, awalnya Rika masih ragu dan melihat kembali kearahku. Lalu Rika memeluku dan berkata jika aku harus menepati janjiku akan menjemptnya saat pulang nanti. Akupun tersenyum dan meyakinkan Rika akan hal itu. Sepulang sekolah aku menjemput Rika, sebelum pulang salah satu guru memanggilku dan memberitahuku untuk selanjutnya, akan lebih baik jika Rika membawa bekal. Karena aku terlalu sore saat menjemput Rika, mereka tidak keberatan jika harus menemani Rika sampai aku menjemputnya, namun mereka tidak bisa menyediakan makanan selain untuk makan siang yang merupakan kebijakan dari sekolah. Aku tidak tahu apakah ibu mau menyiapkannya, mereka bilang Rika yang bersekolah adalah tanggung jawabku sepenuhnya. Jadi aku memutuskan untuk membeli beberapa snack dalam perjalanan pulang, untuk dibawa Rika esok hari.
16 Juli. Aku bersyukur aku berteman dengan Tiara, jika tidak ada Tiara aku tidak tahu harus bagaimana lagi. Hari ini aku harus mengikuti pelatihan seni bela diri, aku tidak bisa absen karena 3 bulan lagi akan mengikuti kompetisi seni ilmu bela diri karate. Awalnya aku bingung harus bagaimana, lalu Tiara yang melihatku gelisah menanyakan keadaanku. Aku menceritakan kegelisahanku padanya, lalu ia menyarankan bagaimana jika dia yang menjemput Rika, lalu aku bisa menjemput Rika di rumahnya. Aku tidak tahu apakah Rika mau pulang bersama Tiara, karena aku telah berjanji akan selalu menjemputnya. Tapi aku juga tidak bisa membiarkan Rika menungguku hingga petang, Akupun menerima tawaran dari Tiara, saat itu aku berharap Rika mau menerima ajakan Tiara. Selesai latihan, Aku mendapat pesan terbaru dari Tiara, jika Rika sedang bermain dengan Jimmy. Aku segera bergegas ke rumah Tiara. Ugh benar saja, ketika aku tiba, Rika langsung terdiam saat melihatku. Hari sudah gelap, Aku langsung menggandeng Rika dan berpamitan. Kami tidak saling bicara dalam perjalanan pulang.
17 Juli. Hari ini Rika masih tidak mau bicara padaku, akan kucoba lagi esok hari.
18 Juli. Huuft ... berkat saran dari Tiara, akhirnya Rika mau berbicara lagi denganku. Akhirnya aku bisa melihat dan mendengar tawa adikku yang tersayang.
18 Oktober. Aku berhasil meraih juara 1 kategori usia dini dalam kompetisi Seni ilmu beladiri tingkat Nasional. Dengan ini, Aku berharap Rika bisa lebih mengerti kenapa aku meminta Tiara untuk menjemputnya. Disisi lain, kali ini ayah memberiku amplop yang berisi sejumlah uang yang cukup banyak. Aku bersyukur dengan ini, aku bisa membeli bekal untuk Rika setiap harinya.
14 Januari. Hari ini, aku berencana mengajak Rika untuk piknik bersama keluarga Tiara dalam rangka merayakan ulang tahunnya yang ke 5. Sayang sekali Ayah dan ibu tidak bisa ikut.
29 April. Hari ini, kami mulai berkemas. Karena kami harus pindah ke sektor lain, dimana Ayah ditugaskan. Aku dah Rika juga harus berpindah sekolah karena Ayah dipindahkan di cabang yang cukup jauh dari tempat tinggal saat ini. Rika kembali murung karena harus berpisah dengan Tiara dan Jimmy.
2 Mei. Aku dan Rika telah kembali bersekolah dengan suasana baru. Untungnya di sektor ini sekolahan kami juga berdekatan, sehingga Aku tetap bisa beangkat dan pulang bersama Rika. Aku sempat khawatir jika sekolah kami tidak berdekatan, karena di sektor ini masih sepi, jarak antar satu bangunan dengan bangunan yang lain sangat berjuhan.
9 Agustus. Ditempat latihan yang baru, aku berhasil naik tingkat menjadi sabuk hijau.
21 Agustus. Ugh hal buruk terjadi kembali. Argh! Hari ini aku lengah. Aku yang lalai menjaga Rika, membuat ia kembali merasakan hal yang sama seperti 2 tahun yang lalu. Argh ... walau aku berhasil menyelamatkan Rika dari penculik itu. Namun ...
26 Agustus. Semalam sebelum tidur, Rika bertanya padaku, apakah ia bisa ikut aku untuk berlatih ilmu seni bela diri. Malam itu aku tersenyum dan meminta Rika untuk tidur. Lalu siang ini saat aku selesai latihan, aku bertanya kepada pelatih mengenai permintaan dari Rika. Pelatih tidak mengijinkan Rika untuk ikut berlatih, namun beliau mengijinkan Rika untuk datang melihatku. Mendengar hal itu, Rika sangat senang. Dan aku berjanji akan mengajaknya saat berlatih minggu depan.
19 November. Hari ini aku berusaha membujuk ibu untuk mau mengantar dan jempu Rika untuk 3 hari kedepan. Dikarena kegiatan study banding dari pihak sekolah yang wajib diikuti oleh siswa kelas 4, ke luar kota selama 3 hari itu. Oleh karena itu aku tidak bisa melakukan antar jemput Rika ke sekolah. Ibu menolak permintaanku, lalu aku memberitahu ibu dan ayah tentang kejadian dibulan Agustus lalu, dimana seseorang hendak menculik Rika dalam perjalanan kami pulang. Ayah dan ibu berwajah pucat ketika mendengarnya, lalu Ayah bilang lebih baik Rika tidak berangkat ke sekolah. Kami sedikit berdebat, tentang Rika yang harus tetap ke sekolah.
22 November. Selama aku pergi, aku terus memikirkan Rika yang tidak berangkat kesekolah hanya karena tidak ada yang mengantarkannya ke sekolah. Seandainya kami tidak pindah, mungkin aku bisa meminta bantuan keluarga Tiara. Walau aku tahu alasan mereka tidak mengakui keberadaan Rika. Tapi ... tidak bisakah mereka memberi sedikit saja perhatian, setidaknya untuk pendidikan Rika. Arrg kesal sekali.
23 Januari. Tak terasa waktu cepat sekali berlalu, sebentar lagi Aku masuk ke bangku SMA. Sedikit lagi, aku bisa mulai mencari uang tambahan untuk membeli beberpa keperluan Rika selain perlengkapan sekolah. Selama ini aku hanya mengandalkan uang dari pemberian ayah yang ku tabung, atas prestasi yang kudapat.
19 Maret. Ah. Mulai hari ini Rika telah resmi mengikuti latihan seni bela diri. Selama ini Rika hanya melihatku berlatih dan berlatih denganku beberapa gerakan dasar seperti mengatur pernafasan.
7 Juli. Keluarga kami melakukan perayaan kecil atas Lulus dan sudah diterimanya aku di sekolah menegah atas yang ternama.
29 September. Hari ini, aku membeli makanan ala Italia untuk merayakan Rika yang telah berhasil naik satu tingkat menjadi sabuk kuning. Sayangnya hanya ada kami berdua, aku tidak bisa mengajak teman-temanku yang sekarang, karena Rika merasa tidak nyaman bersama mereka, dan sepertinya Rika juga tidak bisa mengundang teman sekelasnya.
12 November. Besok aku harus pergi beberapa hari untuk mengikuti kompetisi seni bela diri tingkat Nasional. Kuharap Rika akan baik-baik saja, selama aku pergi. Walau ia sudah bisa membela dirinya sendiri, namun tetap saja aku khawatir meninggalkannya dalam kurun waktu yang cukup lama.