"Twit..twit ... twiiit ... Twiiit...twit ...." Rika terbangun dari tidurnya, ia masih terduduk di meja belajarnya, meregangkan tangannya, lalau melihat buku milik Raka yang masih tebuka.
"Sungguh aku hanya berjalan seperti angin yang berhembus di hutan lebat." keluh Rika, langsung berdiri, dan pergi ke kamar mandi, untuk mengawali bersiap berangkat ke sekolah.
Setelah selesai menyiapkan diri, Rika turun ke ruang makan. Di meja makan, sarapan sudah disiapkan oleh ibu. Ayah dan ibu saat itu sedang ditengah makannya, tanpa pikir panjang Rika ikut bergabung. Rika mengambil roti dan beberapa bahan lain untuk sarapan dengan perlahan. Awalnya Rika khawatir sang ayah akan melarangnya lagi untuk sarapan, namun mereka hanya terdiam ketika Rika mulai mengambil sarapannya. Tidak hanya ketika sarapan mereka terdiam, saat Ayah berpamitan pun, ia hanya bergerak mengambil tasnya, lalu mencium kening sang ibu, dan bergegas keluar dari rumah. Suasana pagi itu sangat hening, meski Rika masih makan, ibu telah merapikan semuanya, kecuali piring yang masih digunakan oleh Rika, lalu Ibu kembali ke kamarnya.
Rikapun bergegas berangkat ke sekolah, setelah membersikan piringnya, meski sang ibu tidak berbicara padanya, Rika tetap berpamitan saat akan keluar dari rumah. Seperti biasa Rika berjalan dengan santai, sekali berjalan sambil melihat ke langit dan menghela nafas, lalu menunduk lagi melihat langkahnya. Ketika melewati daerah pertokoan Rika teringat jika stok snack bar-nya sudah mulai menipis, begitu pula dengan uang simpanan dari sang kakak.
"Ah, sepertinya aku hanya bisa memakan satu snack bar, dalam sehari, atau tidak sama sekali." ucapnya melewati mini market yang telah buka.
Ketika sampai di halaman sekolah, Rika menghela nafasnya dan melihat jam dinding besar yang menunjukan pukul 6.50. Hari ini Rika datang 40 menit lebih awal dari jam pelajaran dimulai.
"Sepertinya kau siap menebus kesalahanmu pagi ini?" ucap seseorang yang tiba-tiba telah berdiri persis dibelakang Rika. Rika berbalik, dan menjauh dari sosok tersebut, yang ternyata adalah Andrew yang masih tersenyum.
"Ah sepertinya aku telah mengejutkanmu ... " ucap Andrew tersenyum.
Rika berbalik kembali dan melanjutkan berjalan menuju kelas. Namun Andrew segera menghadangnya.
"Hmm jadi kau ingin melarikian diri lagi?" tanya Andrew yang berusaha mengingatkan Rika jika ia telah melewatkan 1 hari hukumannya kemarin.
Rika terdiam, mencoba memahami apa yang dimaksud oleh Andrew.
"Oh, jangan bilang kau amnesia setelah terkena bola dari anak manaja itu?" ucap Andrew menarik perhatian Rika dengan sedikit menghinanya.
"Ugh Tidak bisakah kau ... katakan saja apa yang kau inginkan?!" balas Rika sedikit kesal mendengar ucapan Andrew, dan melangkah mundur menjauh darinya.
Andrew mengalah dan mulai menjelaskan kembali, apa yang terjadi kemarin, dan apa yang seharusnya Rika kerjakan kemarin setelah jam pelajaran berakhir. Namun karena kondisi Rika yang kurang memungkinkan, Andrew menunda tugas tersebut. Lalu karena Rika datang lebih awal pagi ini, maka Andrew meminta Rika untuk menyelesaikan tugas pertamanya pagi itu juga. Setidaknya itu salah satu rencana yang ia buat agar bisa lebih lama bersama dengan Rika, dan menjadi langkah awal untuk mengajaknya bergabung dengan OSIS. Rika yang kemudian teringat dengan hukuman yang harus ia jalani, memutuskan untuk menyetujui permintaan dari Andrew.
Di ruang OSIS, Rika sedang mengerjakan tugas yang diberikan oleh Andrew, yakni mengolongkan beberapa proposal yang baru dikumplkan sebagian murid kelas XII yang mengikuti seminar Jenjang Karir setelah pulang sekolah kemarin. Andrew yang saat iu sedang mengerjakan tugas lain, sesekali melihat kearah Rika yang sedang focus dengan apa yang sedang ia kerjakan, dan tersenyum kecil. Hal tersebut membuat beberapa anggota OSIS cewek yang berada di ruangan sedikit cemburu, mengingat Andrew adalah ketua OSIS yang sangat populer di Sekolah, terutama dikalangan para cewek.
Saat Andrew melihat jam dinding yang berada di atas pintu masuk ruang OSIS, jarum jam sudah menunjukan pukul 7.20. "Hmm cepat sekali waktu berlalu." ucap Andrew dalam hati sambil merapikan berkas yang ia kerjakan, kemudian berjalan mendekati Rika.
"Hei, sepertinya aku terlambat menanyakan hal ini, tapiii apa kau baik-baik saja?" tanya Andrew yang berdiri di samping meja tempat Rika bekerja, sambil menunjuk dahinya yang bermaksud menanyakan dahi Rika yang terkena bola kemarin. Rika menatap Andrew, dan memegang pelipis kepalanya, lalu mengangguk dan melanjutkan memilah berkas.
"Hm dia menutup dirinya dengan dinding yang tinggi dan sangat rapat. Aku harus berusaha lebih keras untuk membuatnya terbuka padaku." ucap Andrew dalam hati.
"Sebaiknya kau sudahi dulu pagi ini, 10 menit lagi bel akan berbunyi, kau bisa melanjutkannya setelah pulang sekolah nanti." ucap Andrew menunjuk jam dinding, masih menatap Rika. Melihat Andrew yang tersenyum, lalu melihat kearah jam dinding, Rika langsung merapihkan mejanya, dan bergegas keluar dari ruangan, namun Andrew menghentikannya kembali ketika akan keluar melewati pintu ruang OSIS. Andrew menunjukan buku absen kehadiran mengerjakan hukuman selama satu bulan, yang harus ditandatangani oleh Rika, yang menandakan ia telah menjalani tugas hukuman hari pertama. Rika langsung mengambilnya dari Andrew, dan segera menandatangani baris pertama di sebelah catatan kegiatan yang telah di tulis oleh Andrew. Lalu mengembalikan buku itu kepada Andrew, dan bergegas menuju ke kelasnya. Sekali lagi andrew tersenyum ketika menerima buku itu, dan melihat Rika yang bergegas kembali ke ruang kelasnya.
Rika berjalan melewati ruang guru dan teringat jika ia masih harus mengambil obatnya yang disita oleh Bu Dessy. Namun saat melihat ruang guru, baik Bu Dessy maupun Pak Ren tidak terlihat sama sekali. "Ah," Rika kembali berjalan menuju ke kelas dan memutuskan untuk kembali lagi nanti saat jam istirahat.
Setibanya di depan kelas, ketika Rika hendak membuka pintu, tiba-tiba pintu terbuka, Ian berdiri di hadapannya. Mereka terdiam, saling menatap selema beberapa detik.
"Tidak bisahkah kau mengalah dan membiarkanku masuk terlebih dahulu?" ucap Rika kepada Ian yang tetap tak bergeming.
Melihat Ian yang hanya terdiam dan tersenyum menyebalkan, membuat Rika merasa kesal. Rika melayangkan tinjunya ke perut Ian, namun kali ini Ian bisa menahan serangannya. Rika langsung menarik tangannya dari Ian, dan dengan cepat menendangnya. Ian mencoba menahannya namun teteap terpental. Saat Ian terpental, terlihat Pak Ren sedang berdiri di balik meja guru. Ian yang masih tersungkur di lantai, menunduk dan menyeringai. Rika yang melihat hal itu, menyadari bahwa Ian telah menjebaknya. Pak Ren yang melihat kejadian tersebut langsung meminta Ian dan Rika untuk pergi bersamanya ke ruang bimbingan konseling (BK). Pak Ren memberi sepatah duapatah kata lagi kepada para muridnya dan meminta Dion menuliskan soal dari buku pilihan Pak Ren ketika jam pelajaran telah dimulai, sementara Pak Ren pergi mendisiplinkan Ian dan Rika di ruang BK.
Sebenarnya ketika Rika dalam perjalanan menuju kelas, saat itu Pak Ren sudah berada di kelas X-B untuk menyampaikan pesan dari Kepala Sekolah. Hal ini merupakan salah satu kebijakan yang di buat oleh Kepala Sekolah, dimana sekali dalam seminggu para guru wali kelas harus memberikan pengarahan kedisiplinan kepada anak didiknya di pagi hari sebelum pelajaran sekolah dimulai. Dan hari Kamis adalah hari dimana Pak Ren biasanya memberikan pengarahan tersebut 10 menit sebelum pelajaran pertama dimulai. Karena beliau akan mengisi pelajaran pertama di kelas X-B pada hari itu.
Lalu saat Pak Ren sedang menyampaikan beberapa hal mengenai kedisiplinan, Ian menjadi salah satu contoh murid kelas X yang masih kurang dalam mengindahan kedisiplinan, seperti melepas dua kancing dari kerah, dan mengeluarkan kemejanya dari celana, juga tidak mengenakan kaos kaki panjang sesuai standar dari pihak sekolah Terbang Tinggi. Saat di nasehati oleh Pak Rey, Ian menunjukan sikap tak acuh, yang membuat Pak Ren memaksanya untuk pergi keruang BK. Namun saat membuka pintu, ia sedikit terkejut ketika melihat Rika berdiri dihadapannya. Ketika Rika memintanya untuk membukakan jalan, Ian mulai berfikir untuk memanfaatkan hal ini. Dan terjadilah apa yang dinginkan oleh Ian, mengingat ia tahu bahwa Rika tidak akan berbicara manis padanya.
Sesampainya di ruang BK, Pak Renold menceritakan apa yang terjadi kepada Pak Benny selaku guru BK yang menangani segala kasus yang terjadi pada murid kelas X. Setelah mendengar cerita dari Pak Renold, Pak Benny mengeluarkan sebuah buku berukuran folio berwarna merah, dan membukanya sampai kelembar catatan terakhir. Pak Benny mengambil sebuah bolpoin, melihat Ian yang berpakaian tidak rapi, lalu menulis sesuatu, dan melihat kembali kearah Ian lalu menulis kembali. Kemudian Pak Benny beralih melihat Rika yang sedang menatap lurus ke arahnya, lalu menulis kembali di buku merahnya. Selesai menulis menutup bukunya dan meletakkan buku tersebut di sebelah kiri diatas tumpukan buku lain.
"Eghem ... Jadi Ian Gouti, kita tahu kau adalah putra bungsu dari Tuan Charles Gouti, namun apakah kau sengaja berpakaian seperti itu, untuk menarik perhatian dari kami ... atau ayahmu?" tanya Pak Benny sinis kepada Ian. Rika sedikit terkejut dan langsung menatap wajah Ian yang kesal mendengar ucapan dari Pak Benny. Saat itu Rika berfikir, apakah Ian juga sama sepertinya yang tidak mendapat kasih sayang dari orang tuanya.
"Lalu ... Rika Cahya. Kau adalah murid pindahan dari SMA Siswa berprestasi, dan ini adalah hari ke 4-mu di SMA Terbang Tinggi, kau sudah 2 kali membuat masalah di sekolah ini. Pertama kau tidak mengikuti seminar, lalu hari ini kau berkelahi dengan murid lain, apa kau di pindahkan ke sini karen hal serupa?" tanya Pak Benny sinis kepada Rika, ketika tdak mendapat respon dari Ian. Rika sedikit terkejut mendengar ucapan Pak Benny yang mengatakan tentang kepindahannya dari SMA Siswa berprestasi, seingat Rika mereka telah berjanji pada Ayah untuk tidak menceritakaannya pada murid lain, namun sekarang Pak Benny mengatakannya di depan Ian.
Ayah Rika meminta pihak sekolah untuk merahasiakan hal itu, karena perjanjian yang dilakukan oleh Ayah dan Rika. Sang Ayah yang sudah sangat lelah menghadapi Rika yang sering dikeluarkan dari sekolah semasa SMP, namun tetap berusaha agar Rika terus bersekolah demi menghindar dari petugas perlindungan anak yang sudah menilai mereka sebagai orang tua yang lalai sebelumnya. Ayah meminta Rika untuk tidak lagi berbuat masalah yang membuat ia dikeluarkan dari sekolahnya, jika terjadi lagi mereka akan membiarkan Rika untuk tidak bersekolah, mengingat usianya yang hampir berusia remaja, dimana ia sudah bisa mulai bekerja. Rika pun berjanji namun dengan satu permintaan, Rika berharap tidak ada murid yang tahu tentang ia yang dipindahkan dari SMA Berprestasi untuk menghindari cercaan yang akan membuatnya diposisi yang tidak nyaman seperti saat di SMP.
"Hmm jadi kalian tidak mau menjawab pertanyaan dari saya? kalau begitu bapak akan menghubungi orang tua kalian untuk datang ke sekolah sekarang juga." Ucap Pak Benny dengan tegas.
"Tunggu!" ucap Rika menolak Pak Benny yang hendak melakukan panggilan ke orang tua.
"Tidak bisakah bapak memberiku peringatan pertama, sebelum memberitahu orang tua saya tentang masalah ini?" ucap Rika lirih dan tersenyum dengan wajah imutnya, berharap Pak Benny mau membatalkan panggilan tersebut.
"Saya akan menerima hukuman dari bapak karena telah berkelahi dengan murid lain, apapun hukumannya akan saya lakukan sepenuh hati." ucap Rika meyakinkan Pak Benny untuk tidak menelpon orang tuanya.
"Hmm akhirnya ada yang mau berbicara." ucap Pak Benny yang membatalkan melakukan panggilan, kembali fokus pada Rika.
"Kau bilang kau ingin bertanggung jawab dengan menjalani hukuman ... hmm bagus ... bagus ... baiklah. Kalau begitu mulai hari ini kalian berdua, akan membantu ibu Johan membersihkan halaman sekolah sepulang sekolah selama 10 hari." Ucap Pak Benny dengan tegas dan bangga karena permintaan Rika yang mau bertanggung jawab.
"Tunggu pak, kenapa saya juga ikut di hukum, dia yang memintanya, kenapa saya juga?" tanya Ian dengan kesal yang tidak terima menjalani hukuman bersama Rika.
"Hmm jadi kau lebih memilih menangis dipelukan Ayahmu?" ucap Pak Benny menyindir Ian yang diangap sebagai anak manja.
"A-Aku akan menjalani hukumannya." jawab Ian yang tambah kesal mendengar sindiran Pak Benny.
"Baiklah karena kita sudah sepakat. Sekarang kembalilah ke kelas kalian dan belajarlah dengan giat. Saya akan memberi tahu Bu Johan kalau beliau akan kedatang dua anak magang. hahahaha" ucap Pak Benny sambil mengusir mereka untuk segera kembali ke kelas, dan menatap Pak Renold lalu tersenyum dan mengangguk. Pak Renold pun menyusul mereka kembali ke kelas untuk melanjutkan mengajar. Lalu saat kelas Pak Ren berakhir, Pak Ren meminta Rika untuk menemuinya di ruang guru saat jam mata pelajaran kedua berakhir.
"Teng ... Teng ... Teng ... ." Bel jam mata pelajaran kedua berakhir berbunyi, akhirnya jam istirahat telah tiba. Seperti apa yang diminta oleh Pak Ren, setelah guru yang mengajar keluar ruangan, Rika langsung berdiri dan bergegas ke ruang guru. Di sisi lain Dion yang ingin menyapa Rika dan menanyakan keadaannya, saat memalingkan wajah dari teman-temannya, untuk mencari Rika, namun ia sudah kehilangan Rika.
Setibanya Rika di ruang guru, ia langsung menuju meja kerja Pak Renold dan menggeser kursi cadangan yang di sediakan ke depan meja Pak Renold, lalu duduk, meski saat itu Pak Renold belum kembali ke mejanya dari mengajar di kelas lain. Saat Rika sedang menunggu, tidak lama Andrew juga masuk ke ruang guru membawa beberapa berkas. Andrew melewati Rika dan melihatnya sedang duduk menghadap meja kerja Pak Renold saat hendak masuk ke ruang arsip.
"Oh hai," sapa Andrew, menunda pergi keruang arsip. Rika memalingkan wajahnya ke kanan dan melihat Andrew yang tersenyum kepadanya. Lalu membalas sapaannya dengan tersenyum sejank dan kembali menatap meja Pak Renold. Meski Rika kali ini membalas sapaannya dengan senyuman, namun bagi Andrew senyuman Rika, bukan senyum bahagia melainkan senyum yang menggambarkan rasa khawatir dan takut akan sesuatu. Andrew mengerutkan dahinya, lalu berjalan kembali ke ruang arsip ketika melihat Pak Renold yang telah memasuki ruang guru.
Pak Renold yang sedang berjalan menuju meja kerjanya, tersenyum kecil ketika melihat Rika yang telah duduk di depan mejanya. Ketika sampai di mejanya, Pak Renold meletakkan buku dan alat tulis yang ia bawa kembali ke tempat asalnya. Lalu duduk dan mengeluarkan tempat obat milik Rika yang berbentuk silinder dengan panjang 6 cm dan diameter 2,5 cm, yang dibungkus melingkar dengan kertas berwarna orange.
"Apakah benda ini adalah milikmu?" tanya Pak Renold, sambil memegang dan memutar tabung obat tersebut. Rika membalasnya dengan dua kali anggukan.
"Apa bapak boleh tau, sebenarnya pil apa yang ada di dalam tabung kecil ini?" lanjut Pak Renold menanyai Rika mengenai obat yang telah ia konsumsi sebelumnya yang membuatnya tertidur selama jam pelajaran berlangsung. Rika menjelaskan pada Pak Renold jika itu adalah obat pereda rasa nyeri yang ia beli dari apotek dan sudah sesuai dengan resep Dokter.
"Pil! Resep Dokter! Pereda rasa nyeri!? apakah Rika sedang dalam kondisi yang kurang sehat?" tanya Andrew dalam hati, yang menguping pembicaraan meraka dari balik pintu ruang arsip yang hanya berjarak 1 meja guru dari meja Pak Renold.
"Begitukah, lalu jika bapak boleh tahu, di sebelah manakah kau sering merasa nyeri? apakah di bagian kepala? kudengar kau meminum obat ini setelah terkena bola yang dipukul oleh Ian." ucap Pak Renold yang khawatir dengan kondisi anak didiknya.
Rika terdiam, tidak tahu bagaimana cara menjelaskannya pada Pak Renold, karena sesungguhnya obat tersebut diberikan oleh ibunya karena setiap pulang sekolah Rika sering kali dibawa ke rumah sakit oleh seseorang yang menukannya tersungkur di depan rumah mereka, toko dan atau pos polisi. Untuk mengurangi biaya rumah sakit, Ibu membelikan pereda rasa nyeri untuk Rika, berharap dengan meminum obat itu Rika bisa bertahan lebih lama dan sampai dirumah sebelum ia pingsan. Rika juga tidak tahu harus menjawab apa mengenai ia yang tertidur saat setelah meminum obat itu kemarin.
"Ian?! Apakah Ian yang membuat Rika merasa sakit selama ini? Tapi bukankah Rika baru saja pindah ke sekolah ini. Apakah Ian adalah teman masa kecilnya?" ucap Andrew yang sibuk dengan pendapatnya sendiri, dan masih bersembunyi di balik pintu ruang arsip.
"Mmmm ... saya juga tidak tahu mengapa saya tertidur setelah minum obat waktu itu, hal ini juga pertama kalinya bagi saya," jelas Rika yang terhenti sejenak dan melanjutkan penjelasannya kembali. "Mmm memang benar saya meminum 1 buah pil untuk meredakan rasa sakit di kepala karena terkena bola yang dilempar oleh Ian, namun bukan berarti rasa nyeri selalu berasal dari kepala saya." Lengkapnya.
Tiba-tiba ... "Ah Nak Andrew sedang apa kau di ruang arsip?" tanya salah seorang karyawan yang terkejut saat membuka pintu arsip dan hendak melangkah masuk, melihat Andrew yang berdiri di sana.
"Ah saya harus menegembalikan berkas dari Pak Kepala Sekolah yang sudah selesai kami kerjakan sesuai permintaan Kepala Sekolah." jawab Andrew dengan cepat, agar tidak terlihat jika ia sedang menguping pembicaraan Rika dan Pak Renold.
"Hmm berkas itu, letakan saja di sudut sebelah kanan, jika kau tidak tahu dimana lokasinya." jelas karyawan tersebut. Andrew merasa panik ketika sang karyawan memasuki ruang arsip.
Andrew melihat ke arah Rika yang masih duduk di depan Pak Renold, berharap ia tidak ketahuan oleh Rika jika ia menguping pembicaraan mereka. Namun saat Andrew hendak memalingkan wajahnya dan menuju ke tempat berkas yang ia bawa di simpan, ia melihat Rika yang melirik ke arahnya lalu membuang pandangannya ke arah lain.
"Ah! seandainya orang itu tidak masuk ke ruang arsip." Keluh Andrew kesal mengetahui Rika yang akan semakin membuat jarak darinya, sambil berjalan untuk menyimpan berkas yang ia bawa.
Seperti yang diperkirakan oleh Andrew, Rika yang mengetahui Andrew berada di balik pintu ruang arsip, curiga jika Andrew menguping pembicaraannya dengan Pak Renold. Rika yang mulai merasa kesal dengan hal itu, bertanya kepada Pak Renold apakah ia bisa mengambil kembali obat miliknya, agar ia bisa kembali ke kelas dan menyiapkan diri untuk pelajaran selanjutnya. Rika menjelaskan kepada Pak Renold jika ia terbiasa membaca buku pelajaran selanjutnya di jam istirahat.
"Hmm, sebelum itu, apa kau meminumnya setiap hari?" tanya Pak Renold yang masih penasaran dengan keadaan Rika.
"Tidak. Saya hanya meminumnya ketika saya ber ... ," tiba-tiba Rika berhenti berbicara, ia hampir saja memberitahu Pak Renold jika ia sering berkelahi yang terkadang berlebihan sehingga membuat tubuhnya menjadi penuh memar. Rika yang panik, membuat Pak Renold semakin penasaran dan menunggu penjelasan dari Rika.
"Hmm kenapa kau berhenti, apa ... orang tuamu sering memukulimu, hingga kau perlu menyimpan dan membawa obat pereda nyeri sebanyak ini ke sekolah?" tanya Pak Renold yang asal menebak mengingat Rika yang langsung meminum obat nyeri ketika setelah terkena bola dengan keras lalu tertidur. "Jika bukan karena orang tuanya yang sering memukulnya, terutama dibagian kepala, apa ada alasan lain, kalau tidak salah Rika juga berlatih seni bela diri. Apa dia selalu babak belur setiap berlatih, atau ia selalu di bully di tempat latihannya." pikir Pak Renold yang berusaha menebak alasan Rika membawa obat nyeri dengan jumlah yang cukup banyak.
"Ah ... orang tua saya tidak pernah memukul saya, hanya saja ... saya ... mmm saya yang sering ceroboh, seperti waktu Ian memukul bola di dalam kelas, jika saja saya tidak lengah, saya bisa saja menangkis atau menghindarinya, namun waktu itu saya sedang memikirkan sesuatu sehingga saya tidak sadar jika ada bola yang mengarah ke arah saya." Jelas Rika yang menggunakan niat jahil Ian sebagai alasan kecerobohannya.
"Oh jadi saat itu Ian memang tidak sengaja memukul bola dan mengenaimu?" tanya Pak Renold yang teralihkan dengan bola dari Ian. "Lalu mengapa kau memukulnya saat berpapasan di depan pintu tadi pagi?" tambah Pak Renold.
"Hmm itu karena Ian tidak mau memberikan jalan, ketika saya memintanya dengan baik, Ian hanya tersenyum tidak bergerak atau berbicara, jadi hmmm saya ingin mendorongnya namun mmm saya lupa untuk mengontrol tenaga saya." Ungkap Rika yang meragu karena ia sedikit berbohong kepada Pak Renold mengenai alasan mengapa ia menjatuhkan Ian.
"Jadi begitukah? benarkah itu yang terjadi?" tanya Pak Renold, yang dibalas dengan senyuman dan anggukan berulang kali oleh Rika. Pak Renold berpikir sejenak, dan memutuskan untuk mengembalikan obat milik Rika, dan memberi saran untuk tidak terlalu sering meminumnya, karena akan berakibat buruk kedepannya apabila dikonsumsi secara berlebihan. Juga memberi saran untuk tidak ceroboh dalam menggunakan ilmu seni beladirinya, agar tidak melukai orang lain. Rika mengangguk dan segera mengambil obatnya lalu berpamitan untuk kembali ke kelas.
Sebelum keluar ruangan Rika melihat sejenak ke pintu ruang arsip, mengecek apakah Andrew sudah akan keluar dari ruang arsip, namun sepertinya Andrew belum selesai, Rika memutuskan untuk langsung kembali ke kelaas. Di ruang arsip sebenarnya Andrew sudah selesai, hanya saja ia merasa tidak bisa menghadapi Rika dengan sikap yang biasanya setelah kejadian tadi. Andrew keluar ruang Arsip setelah memastikan jika Rika sudah tidak ada di ruang guru. Saat berjalan melewati Pak Renold, beliau menegur Andrew karena telah menguping pembicaraan mereka, karena hal itu sangatlah tidak pantas dilakukan menginat Andrew adalah seorang Ketua OSIS. Dan menyarankan untuk segera meminta maaf kepada Rika. Andrew meminta maaf kepada Pak Renold dan berjanji akan menemui Rika.
Jam pelajaran pun berakhir, Rika yang teringat harus membantu ibu Johan dan juga menjalani tugas dari Ketua OSIS, memutuskan untuk datang ke ruang OSIS terlebih dahulu dan menyampaikan jika ia harus membantu ibu Johan terlebih dahulu sebelum melanjutkan tugas hukumannya dari Ketua OSIS. Saat tiba di depan ruang OSIS, Rika mengetuk pintu lalu mencoba untuk membuka pintu, namun sepertinya ruang OSIS masih terkunci. Rika memutuskan untuk meninggalkan catatan di sebuah kertas dan menyelipkannya dibawah pintu, lalu bergegas menemui ibu Johan. Saat Rika berlari untuk menemui bu Johan, dari arah sebaliknya Andrew telah muncul di lorong depan ruang OSIS dan melihat Rika yang berlari menjauh dari ruang OSIS. Andrew langsung berlari menyusulnya, menganggap Rika akan meghindar dari hukumannya hari ini. Namun ketika Andrew hampir dekat dengan Rika, tiba-tiba Dion muncul dari gang sebelah kanan dimana Rika berbelok sebelumnya, dan menghadang Andrew.
"Ah, kau lagi. Kenapa kau menghalangiku, apa kau mau melindungi Rika yang akan menghindari hukumannya lagi?" ucap Andrew kesal terhadap Dion yang lagi-lagi menghalanginya, ketika mendekati Rika.
Sebenaarnya Dion bukan tidak sengaja menghalangi Andrew, melainkan sejak awal, Dion yang ingin menyusul Rika untuk mengantarnya pulang jika masih merasa tidak enak badan. Namun beralih mengikuti Rika ketika melihat nya pergi kearah yang berlainan dari pintu keluar, lalu bersembunyi di sudut gang, ketika melihat Rika yang hendak membuka pintu ruang OSIS. Dion mengintip Rika yang masih berada di depan pintu OSIS yang ternyata masih terkunci, dan melihatnya mulai mengluarkan alat tulis. Saat Rika sedang menyelipkan kertas di bawah pintu, ia melihat Andrew yang baru saja muncul dari ujung sebelah kanan Rika. Lalu ketika Rika mulai berlari kembali karahnya, ia menarik tubuhnya dan berdiri diam di sana. Dion terkejut, karena tiba-tiba saja Rika berhenti dihadapannya dan bertanya padanya.
"Oh hei, apa kau tau dimana aku bisa bertemu bu Johan? mm aku harus membantunya membersihkan halaman, sebagai hukuman karena telah memukul Ian tadi pagi," tanya Rika sambil sedikit terengah-engah karena berlari. Dion sedikit gugup ketika Rika bertanya padanya setelah berlari. Lalu Dion memberitahu dimana ia bisa menemui bu Johan, dan Rika pun langsung bergegas pergi. Dion yang tahu jika Andrew langsung menghadangnya ketika Andrew berbelok.
"Rika tidak melarikan diri, sebaiknya kau kembali ke ruang istimewamu, jika Rika sudah selesai, ia pasti akan menemuimu." Ucap Dion dengan tegas, lalu pergi meninggalkan Andrew. Andrew yang telah kehilangan jejak Rika, memutuskan kembali ke ruang OSIS yang telah di buka oleh sekretarisnya. Saat Andrew memasuki ruang OSIS, Diandra sang sekretaris memberikan selembar kertas yang diselipkan oleh Rika di bawah pintu ruang OSIS. Andrew membaca pesan tersebut, lalu sedikit kesal mengingat ucapan kepada Dion.
Disisi lain Rika yang telah menemui bu Johan dan mulai membantunya, tidak melihat Ian, yang seharusnya juga membantu bu Johan membersihkan halaman sekolah. Namun karena bu Johan yang tidak menanyakan kehadiran Ian, Rika menghela nafas panjang dan memutuskan untuk segera menyelesaikan tugas dari bu Johan dan kembali ke ruang OSIS untuk mengrjakan hukuman yang lain.
Satu jam kemudian, Rika masuk ke ruang OSIS. Di dalam ruang OSIS hanya ada Andrew, Diandra, dan Kevin sang bendahara OSIS. Andrew yang melihat Rika datang, segera mengabil buku absen kehadiran mengerjakan hukuman, dan meminta Rika untuk menandatanganinya. Ketika Rika hendak menandatangani buku itu, Rika sedikit terkejut setelah membaca keterangan yang dituliskan oleh Andrew, jika tugas keduanya adalah membantu bu Johan membersihkan halaman.
"Apa kau terkejut dengan catatan yang kutulis? hukuman kedisiplinan tidak harus selalu membantu anggota OSIS, melakukan pekerjaan sosial seperti membersihkan halaman juga merupakan salah satunya, bahkan murid lain yang mendapat hukuman bersamamu waktu itu, sebagian ada yang membantu membersihkan toilet. Jadi tidak perlu terkejut dengan catatan dariku. Lalu dari catatan yang kau tiggalkan, kau bilang, kau akan membantu bu Johan selama 10 hari, jika begitu, jangan lupa datang ke ruang OSIS setelah menjalankannya, untuk menandatangani buku ini." jelas Andrew dengan lembut dan penuh perhatian.
Seperti biasa Rika hanya mengangguk lalu mengembalikan buku yang sudah ia tanda tangan, dan melangkah pergi dari ruang OSIS. Namun Andrew menyusulnya, dan menahannya sejenak di lorong sekolah.
"Tunggu, Rika, aku ingin minta maaf mengenai kejadian di ruang guru, seharusnya ... aku tidak melakukan hal tercela seperti itu?" ucap Andrew sambil menatap lurus ke wajah Rika. Rika mengangguk setelah terdiam cukup lama, lalu berjalan melewati Andrew yang menghadangnya. Andrew menarik tangan Rika, seakan ia tidak terima dengan jawaban Rika yang hanya berupa anggukan tanpa ekspresi lalu pergi. Rika menatap tangannya yang ditahan oleh Andrew, lalu menatap wajah Andrew dengan amarah. Rika langsung menarik tangannya dengan kencang hingga terlepas dari tangan Andrew, dan bergegas pulang. Andrew terdiam melihat Rika yang menjauh, sambil memijat-pijat pergelangan tanganya yang tertarik oleh Rika. Ia pun kembali masuk ke dalam ruang OSIS, dengan rasa kecewa.