Rika yang masih mengingat kejadian diruang guru, berjalan dengan penuh amarah. Lalu menghentikan langkahnya setelah keluar dari area sekolah, dan "Aarrggghh!" berteriak melepas amarah yang menyelimutinya. Kemudian saat Rika melihat tanda nama Blok H di depan, ia teringat jika telah membuat janji pada Kapten Gun. Rika tidak ingin mencari masalah dengan tidak menepati janjianya. Rika yang tidak memiliki jam tangan maupun handphone, hendak menanyakan waktu saat ini, kepada salah seorang yang berjalan melewatinya. Ternyata sekarang masih pukul 15.00, Rika teringat jika ia mengatakan akan pulang jam 4 hari ini. Masih ada waktu 1 jam sampai waktu yang ia katakan pada Kapten Gun. Rika yang tidak ingin mengingkari janjinya, memutuskan untuk pergi ke perpustakaan kecil yang kebetulan terlihat, tidak jauh dari tempat ia berdiri.
Waktu pun berlalu dengan cepat, saat Rika masih asik membaca, ia didatangi petugas perpustakaan yang meberitahukan bahwa perpustakaan sudah akan tutup. Rika melihat kerah jam tangan milik petugas yang diperlihatkan kepadanya, menujukan pukul empat kurang sepuluh menit. Rika mengangguk, mengucapkan terimakasih dengan tersenyum, lalu berdiri mengembalikan bukunya ke tempat sebelumnya, dan keluar dari perpustakaan kecil itu.
Rika keluar dari perpustakaan kecil, lalu melihat sekeliling, jalan pertokoan sore itu cukup banyak orang berlalu-lalang. Rika masih berdiri di depan toko, ia tidak tahu harus kemana untuk bertemu dengan Kapten Gun. Apakah ia harus menemuinya di stand makanan tempat Kapten Gun bekerja, atau hanya berjalan ke rumah dan melihat apakah anak buah Kapten Gun akan menghadangnya. Namun Rika akhirnya memutuskan untuk berjalan saja menuju rumah, biarkan mereka yang berkepentingan yang menemuinya.
Benar saja, tidak jauh Rika berjalan, muncul 3 orang laki-laki yang berjalan mendakatinya, 2 orang laki-laki mengenakan kaos hitam dan 1 orang mengenakan singlet hitam dan celana pendek, berjalan ditengah sambil mengantongi tangannya. Rika berhenti melangkah, mereka berhenti tiga langkah di depan Rika. Lalu mereka mendekat ke tukang bakso keliling yang ada di pinggir jalan, satu orang memesan bakso, dua lainnya mengambil kursi yang disediakan oleh tukang bakso untuk duduk.
Rika merasa aneh, mengerutkan dahinya melihat mereka yang malah duduk di pinggir jalan. Rika akhirnya memutuskan untuk melanjutkan perjalanan pulangnya.
"Kapten menunggumu di kiosnya, kau selalu melewati kios kapten setiap hari. Bergegaslah selagi kapten masih ingin merekrutmu?" ucap laki-laki bersinglet sambil mengaduk-aduk semangkuk bakso yang baru saja di serahkan oleh temannya yang berdiri di dekat tukang bakso. Rika yang berhenti sejenak mendengarkan ucapan laki-laki itu, melanjutkan langkahnya tanpa melihat sedikitpun ke arah mereka. Rika terus berjalan dan berhati-hati ketika melewati beberapa orang yang bergerombol. Mungkin saja, mereka adalah gerombolan gengster seperti Papa Ban, yang menghadang Rika dalam perjalanan pulang di hari pertama ia sekolah.
Akhirnya Rika sampai di area kios-kios mini Blok H. Rika berhenti di salah satu kios namun sepertinya itu bukan kios milik Kapten Gun. Lalu tiba-tiba terdengar suara yang sepertinya memanggil dirinya.
"Hei! Kitty! Litle Kitty! Hei! Sebelah sini! HEI!" teriak Papa Ban sambil melambaikan ke dua tangannya, memanggil Rika seakan mereka sudah berteman dekat. Spontan saja Rika menengok ke sumber suara, dan melihat Papa Ban yang sudah kembali duduk setelah tahu Rika telah melihatnya. Papa Ban sedang duduk-duduk di depan kios bersama anggota lain yang belum pernah Rika lihat. Rika menghela nafas, membayangkan bahwa perkelahian kali ini akan sangat melelahkan. Rika berjalan mendekati mereka, lalu Papa Ban lamhsung berdiri lagi dan menarik Rika untuk segera duduk di sebelahnya. Namun Rika langsung memutar tangan Papa Ban ke belakang, Papa Ban langsung berteriak, "Aaaargh!" membuat beberapa orang berdiri dan hendak menyerbu Rika.
"Hentikan!" terdengar suara Kapten Gun dari dalam kios, mereka langsung gugup melihat ekspresi sang kapten dan kembali duduk sesuai isyarat dari sang kapten.
"Kau juga, sebaiknya lepaskan Little Ban. Ia hanya ingin mengajakmu untuk duduk bersama." Ucap Kapten Gun yang masih menyiapkan pesanan. Kios Kapten Gun merupakan kios yang menjual makanan ala India dan beberapa minuman ringan.
Kios yang sepertinya terbuat dari kontainer bekas, dengan warna dasar merah orange, lalu ada menu yang di tempel di bagian depan atas yang terbuka, dan terpasang tenda panjang beserta beberapa meja dan kursi. Orang-orang yang sedang berjalan dan memesan makanan di sekitar kios Kapten Gun, semuanya penasaran dengan apa yang sedang terjadi di kios Kapten Gun, Rika langsung melepaskan Papa Ban ketika menyadari jika ia telah menjadi pusat perhatian. Papa Ban memijat-pijat tangannya setelah terlepas dari genggaman Rika, lalu kembali ke tempat duduknya dan sekali lagi mempersilahkan Rika untuk duduk di kursi yang telah ia siapkan disebelah kanannya. Rika menatap Kapten Gun yang telah memberinya isyarat untuk duduk dan menunggunya.
Rika duduk menatap Kapten Gun, yang masih sibuk membuat pesanan yang datang. Sementara Papa Ban dan yang lainnya saling bersendagurau. Rika yang mulai bosan, memutuskan untuk menemui Kapten Gun saat itu juga.
"Hei! Sampai kapan aku harus menunggu?" Tanya Rika yang sudah berdiri di hadapan Kapten Gun yang sedang mengemas pesanan pelanggannya.
"Bagaimanapun aku harus pulang tepat waktu." Lanjut Rika yang menatap lurus ke mata Kapten Gun.
Kapten Gun lalu menyodorkan satu porsi kebab mini ke hadapan Rika, dan berkata "Makanlah ... tenang saja, kebab ini spesial kubuat untukmu, aku yang traktir. Makan dan tunggulah! Sampai aku menemuimu! Tidak akan kubiarkan kau pergi begitu saja." Ucap Kapten Gun yang membuat sebagian besar orang di sekitar Rika berdiri, bersiaga jika Rika hendak melarikan diri.
Rika membalikan badannya, sekitar 20 orang berdiri menatapnya dengan tajam, kecuali Papa Ban yang masih duduk sambil meminum minumannya sedikit demi sedikit. Ternyata sebagian besar dari pelanggan yang duduk di sana merupakan anggota dari kelompok Kepten Gun dan Papa Ban. "Hmph" Rika tersenyum membayangkan melawan mereka semua jika memiliki waktu luang yang cukup panjang saat ini. Namun Rika memilih untuk tetap tenang lalu segera mengambil piring yang diberikan oleh Kapten Gun, dan kembali duduk. Setelah Rika kembali duduk, mereka juga kembali duduk dan berbincang-bincang seperti sebelumnya, mererka tertawa, berteriak, terkadang saling mengolok-olok satu sama lain, seakan apa yang barusan Rika dan Kapten Gun perbincangkan tidak terjadi.
"Hei Little Kitty! ... sebaiknya kau tidak mencari masalah dengan Kapten, sekali kapten meberi perintah kepada mereka maka habisalah kau!" ucap Papa Ban yang memberi peringatan kepada Rika untuk tidak melawan Kapten Gun. Sedangkan Rika tidak merasa terancam dengan hal itu melainkan ia mulai merasa terganggu dengan panggilan Little Kitty yang diucapkan oleh Papa Ban.
Kapten Gun adalah orang yang mengurusi keamanan di Blok H untuk kalangan pedagang makanan yang berjualan di area kios kecil. Selain itu Kapten Gun juga merupakakan orang nomor 6 dari 7 bersaudara yang paling disegani di Blok H. Saudara nomor 1 adalah orang menjadi ketua, pimpinan, atau bos besar di Blok H. Sedangkan saudara ke 2 adalah orang terkuat kedua yang menjadi tangan kanan langsung nomor 1. Orang ketiga adalah orang yang bertanggung jawab untuk mengawasi setiap gerak gerik anggota dan orang pertama yng akan ditemui saudara yang lain sebelum bertemu dengan saudara pertama. Saudara ke 4 dan ke 5 yang bertugas dikalangan distributor dan bertanggung jawab apabila terjadi perkelahina antar gengster dengan Sektor dan Blok pertokoan lain. Sedangkan saudara ke 6 dan ke 7 bertugas menjaga keamanan di kalangan kios kecil, mencari anggota baru, dan bertanggung jawab apabila terjadi perkelahian antar geng muda yang selalu bermunculan di setiap tahunnya. Meraka bersaudara bukan karena mereka terlahir dengan 1 ayah beda ibu ataupun kebalikannya, namun persaudaraan itu hanyalah bentuk formalitas untuk mengagungkan yang terkuat agar mereka yang belum cukup kuat atau yang lemah tidak di tindas oleh mereka yang kuat. Dan juga posisi persaudaraan tersebut dapat berubah setiap waktu apa bila ada seseorang yang bisa mengalahkan mereka dalam hal berkelahi dan atau mendapat dukungan dari banyak anggota, maka mereka bisa terpilih menjadi anggota 7 bersaudara. Selain posisi pertama dan kedua, semuanya bisa dengan mudah berganti orang. Namun beberapa tahun terakhir ini selain ke 6 dan ke 7, semuanya masih di tempati oleh orang yang sama.
Lima belas menit kemudian, Kapten Gun keluar dari dalam kios, antrian mulai berkurang, sehingga Kapten Gun bisa meninggalkan kios dan mempercayakan orderan selanjutnya yang datang kepada kru yang lain. Kapten Gun duduk bersebrangan dengan Rika, membawa satu piring penuh gorengan dan 2 botol minuman bersoda, satu untuknya dan satu lagi di letakan dekat piring dengan 1 potong kebab yang hanya terus di tusuk-tusuk dengan garpu oleh Rika. Sedangkan anggota yang lain, anggota yang awalnya duduk bersama Papa Ban, langsung menggeser kursinya sedikit menjauh dari mereka bertiga, sebagian yang lain keluar dare area kios Kapten Gun.
"Apa yang sedang kaulakukan? Tenang saja aku tidak memasukan racun kedalam makananmu. Jikakau tidak suka, berikan saja pada little Ban." Ucap Kapten Gun sambil membuka botol minum sodanya. Rika menatap Kapten Gun, lalu menatap kebab mininya, kemudian melirik piring kosong yang ada di depan Papa Ban dan sedikit ketengah. Rika memutuskan mengambil piring kosong tersebut, lalu memotong vertikal kebab mininya dengan pisau pelastik menjadi 2 bagian sama panjang, dan meletakan setengahnya ke piring kosong yang ia ambil, kemudian diberikan kepada Papa Ban sambil menatap tajam wajahnya seakan meminta Papa Ban untuk memakannya terlebih dahulu.
"Hah jadi kau benar-benar mencurigai Kapten Gun?!" Ucap Papa Ban yang lalu memakan separuh kebab tersebut dengan satu suapan.
"Bukankah memang seharusnya begitu! Aku tidak boleh menerima begitu saja pemberian orang lain yang tidak dikenal!" Ucap Rika dalam hati sambil memotong kembali kebab mininya menjadi ukuran yang lebih kecil dan memainkannya kembali.
"Ehem ... Namaku Gunawan, seperti yang kau dengar ... mereka memanggilku Kapten Gun. Aku adalah saudara ke 6 dari 7 bersaudara yang telah mengendalikan segalanya di Blok H ini. Dan Little Ban adalah saudara ke 7 ... Salah satu tugas kami adalah merekrut anggota baru." Jelas Kapten Gun yang lalu menggigit sepotong gorengan.
"Bersaudara?" Ucap Rika sedikit terkejut mendengarnya. Rika bergantian dan berulang kali menatap Kapten Gun dan Papa Ban. "Hmm Jika mereka bersaudara, aku sama sekali tidak melihat sedikitpun kemiripan dari wajah mereka." Ucap Rika dalam hati, yang tertegun dengan memposisikan tangan kiri menahan kepalanya sedangkan tangan kanan melanjutkan membolak-balikkan kembali potongan kecil kebabnya.
"Kami memang bersaudara tetapi tidak benar-benar saudara, kami bersaudara bukan karena hubungan darah, namun karena rasa hormat yang kami tunjukan satu sama lain." Lanjut Kapten Gun menjelaskan, setelah melihat Rika yang kembali memainkan makanannya. Rika berhenti memainkan tangan kanannya, merasa semakin tidak mengerti dengan apa yang telah dikatakan oleh Kapten Gun, meletakan garpunya lalu menempelkan tangan kanannya ke dagu sepereti tangan kirinya, sambil menatap lurus ke wajah Kapten Gun. Kapten Gun ikut tertegun melihat wajah Rika yang menjadi super imut dengan posisi seperti itu. Kapten Gun terdiam cukup lama, Papa Ban ingin menegurnya, namun ia ragu.
"Hmm apa kalian saling menjaga dan membantu satu sama lain?" tanya Rika yang penasaran dengan hubungan persaudaraan mereka. Papa Ban menatap Kapten Gun, yang penasaran dengan jawaban apa yang akan diberikan olehnya kepada Rika. Karena "saudara" dalam kamus mereka hanyalah suatu sebutan untuk membedakan peringkat terkuat dalam Gengster mereka, yang hampir setiap bulannya akan selalu ada orang yang ingin merebut posisi mereka. Meskipun ditiap tahunnya akan selalu diadakan sebuah event tanding untuk menentukan siapa yang terkuat dan menempati posisi tersebut.
"Jika itu yang kau inginkan, Aku bisa memberikan kedua hal itu padamu. Namun kau harus bergabung dengan kami." Ucap Kapten Gun tanpa basa basi menawarkan Rika untuk bergabung dengan kelompoknya. Rika terdiam, masih sengan posisi yang sama, ia menutup matanya, tidak lama mulai muncul sekilas gambaran kejadian masa lalu yang bergerak dengan cepat. Teringat tentang kebersamaannya dengan Raka dan teman Raka.
"Hmm apakah persaudaraan yang mereka maksud adalalah pertemanan? Tapiii perilaku mereka sama sekali tidak seperti kak Raka dengan kak Tiara?" Ucap Rika dalam hati, penuh dengan tanya, masih menutup matanya. Lalu Rika membuka matanya, dan sedikit terkejut, menggerakan sedikit kepalanya dari kedua tangan yang masih memangku kepalanya itu, ketika ia melihat wajah Papa Ban yang terlalu dekat dengannya.
"Tidak akan!" ucap Rika tegas menolak tawaran dari sang kapten dan berusaha untuk tetap tenang, lalu menggunakan tangan kirinya untuk menyingkirkan wajah Papa Ban dari hadapannya, agar ia bisa kembali melihat Kapten Gun. Papa Ban yang merasa tersinggung, lalu membunag tangan Rika dari wajahnya dan hendak memukul Rika. Namun tindakannya dihentikan oleh Kapten Gun dengan lirikannya yang tajam ke Papa Ban. Kapten Gun merasa Rika tidak benar-benar menolaknya, karena ketika Rika menolak tawarannya, Rika tidak langsung berdiri dan pergi meninggalkan Kapten Gun. Ia yakin jika pasti ada suatu hal yang bisa membuat Rika bergabung dengan mereka. Kapten Gun kembali menggigit gorengannya lalu meletakkannya kembali kepiring, dan meminum sodanya kembali.
"Aku harus berhasil mengajaknya bergabung. Ia telah mengalahkan Ban, jika ia tidak bergabung dengan kami... kejadian yang sama mungkin akan terjadi lagi, dan hal itu hanya akan membuat kami lebih kesulitan untuk bergerak. Sial jika saja, waktu itu anak tengil itu tidak berulah di Blok ini, aku tidak harus mengemis seperti ini." ucap Kapten Gun dalam hati, yang merasa tertekan dengan tuntutan dari saudara pertama untuk menyelesaikan masalah yang muncul akibat seorang remaja laki-laki yang seumuran dengan Rika waktu itu. Remaja tersebut, juga ahli dalam bela diri, ia mampu mengalahkan 6 bersaudara dan seri ketika bertanding melawan saudara pertama. Namun ketika saudara pertama ingin mengajaknya bergabung, remaja tersebut menolaknya, dan sekarang ia telah membentuk kelompoknya sendiri, dan mulai menggangu sistem yang telah diberlakukan oleh 7 bersaudara di Blok H.
Remaja tersebut selalu datang di event tanding dua tahun terakhir. Ia datang ketika pertandingan sudah mencapai final, lalu Ia masuk ke dalam arena dan menantang kedua peserta yang bertahan hingga ke final, dimana salah satu dari mereka adalah anggota utama dari 7 bersaudara. Dan hasilnya Ia tetap menang meski di akhirnya, ia harus melawan keduanya sekaligus, yang dimana mereka mulai bekerjasama untuk mengalahkannya. Hal itu membuat Saudara pertama geram karena sejak saat itu anggota mereka semakin berkurang, sedangkan sang Remaja tersebut terus menambah angggotanya. Membuat kelompok mereka terlihat menjadi lebih kuat tiap harinya, dan mulai mengambil alih sedikit demi sedikit area di Blok H. Karena hal ini, saudara pertama memerintahkan mereka untuk segera mencari anggota baru, agar mereka bisa mengalahkan kelompok yang telah dibuat oleh remaja itu. Dan kembali lagi memegang kendali di Blok H seperti sebelumnya. Oleh karena itu, Kapten Gun ingin Rika yang dapat mengalahkan anggota beserta Papa Ban untuk yang ke dua kalinya itu, bergabung dengan mereka untuk nantinya akan ditandingkan dengan remaja tersebut.
"Bagaimana jika kau bergabung dengan kami dan akan menggantikan posisi Ban sebagai saudara ke 7?" ucap Kapten Gun yang menawarkan sebuah posisi penting, yang dipegang oleh Papa Ban, yang berhasil ia kalahkan dua kali. Menurut aturan yang mereka buat, ketika orang yang menduduki posisi tesebut dikalahkan, maka posisinya akan digantikan oleh orang yang telah mengalahkannya. Papa Ban langsung berdiri mendorong mundur kursinya dan menggebrak meja, tidak terima dengan ucapan Kapten Gun, namun ia tidak berkata apa-apa karena ia langsung menyadari bahwa jika terjadi perkelahian ia sendiri yang akan kalah dan babakbelur.
"Hah, jika aku menggantikan posisinya, bukankah group ini akan menjadi 6 bersaudara dan 1 saudari? haha ..." ucap Rika yang lalu tertawa mengejek. Kapten Gun mulai sedikit jengkel, namun masih berusaha untuk mengontrol amarahnya, agar ia masih bisa berdiskusi dengan Rika. Kemudian Rika mendorong piring kebabya yang sudah hancur berantakan ke arah Kapten Gun, dan mengambil minuman bersoda yang diberikan kepadanya, lalu ia berdiri dan membelakangi Kapten Gun untuk berjalan pulang.
"Tunggu!" teriak Kapten Gun, namun Rika tidak mendegarkan dan terus berjalan. Kapten Gun memberi kode kepada anak buahnya untuk menahan Rika agar tidak pergi darinya sebelum ia bisa merekrutnya. Namun langkah merka terhenti ketika mereka melihat sebuah sosok yang paling mereka takuti tiba-taba datang berkunjung ke kios Kapten Gun. Ia berjalan menggunakan celana panjang putih polos, mengenakan singlet hitam dan jass putih yang dikenakan seperti memakai jubah dan berpapasan dengan Rika. Namun baik Rika maupun laki-laki itu, tidak saling mengenal satu sama lain, sehingga laki-laki tersebut biasa saja saat Rika melewatinya begitu saja. Ia memanggap Rika hanyalah pelanggan biasa dari kios Kapten Gun.
"K-Kakak Pertama a-ada perlu apa?" tanya Kapten Gun gugup, melihat saudara pertama berdiri tegak didepan kiosnya. Sementara Papa Ban hanya berdiri sambil menunduk gemetaran, tidak berani melihat wajah saudara pertama. Begitu pula dengan anggota yang lain, mereka tidak jadi mengejar Rika yang hendak pergi melarikan diri dari Kapten Gun. Sedangkan Rika terus berjalan dengan santai keluar dari area perkiosan tanpa mengetahui jika ia baru saja bepapasan dengan orang nomor satu dari kelompok 7 bersaudara.
"Hmmm ... ," ucap Saudara Pertama, yang lalu mengeluarkan pisau lipat dari kantong celana sebelah kanan lalu menusuk gorengan yang ada di meja dan memakannya. "Ku dengar hari ini kau akan bertemu dengan seseorang yang telah berhasil mengalahkan adik mu yang bodoh itu." Lanjutnya yang lalu melihat ke arah Papa Ban, lalu tersenyum sinis sambil memakan kembali satu potong gorengan.
"Ah, B-benar.Hari ini kami memeng telah membuat janji untuk bertemu. Tapi ia baru saja pergi." Ucap Kapten Gun dengan hati-hati, takut ia akan membuat Saudara Pertama marah. Meski ia takut, namun Kapten Gun teteap penasaran kenapa Saudara Pertama datang sendiri ke kiosnya hanya untuk menanyakan hal itu. Biasanya ia akan menyuruh Saudara kedua untuk mencari informasi. Kemudian Saudara Kedua akan mengirim anak buahnya untuk mencari informasi yang perlukan. "Tunggu ... ? jangan-jangan diantara para pelanggan yang datang adalah orang suruhan Kakak Kedua, dan ia langsung kesini setelah mendengar laporan mereka ... tapiii tetap saja aneh mengapa ia sendiri yang datang ke lokasi???" ucap Kapten Gun dalam hati.
"Kau bilang ... baru saja orang itu pergi ?!" tanya Saudara Pertama, "Jangan bilang, gadis SMA yang barusaja berpapasan denganku tadi adalah orang yang kaumaksud ?! Hahaha" lanjutnya yang tawanya diikuti oleh anggota geng dari Saaudara pertama yang ikut datang bersamanya. Kapten Gun mengangguk lalu menunduk tidak berani melihat wajah Saudara Pertama. Saudara Pertama langsung mencekik leher Papa Ban yang berdiri persis di sebelah kirinya, denangan tangan kirinya.
"Ah. I-itu benar, gadis itu adalah orang yang telah mengalahkan Ban." jelas Kapten Gun.
"Lalu... apa kau berhasil merekrutnya?" tanya Saudara Pertama yang masih mencekik Papa Ban. "Tentusaja tidak!!!" ucapnya dengan kesal, sebelum Kapten Gun menjawab, dan mengencangkan cekikannya kepada Papa Ban.
"Ugh ... arg.. ugh.. ma..af..kan ... a..ku .. ka..kak.. urg pe..er ta arg ma.." ucap Papa Ban sambil berusaha melepaskan diri dari cengkraman saudara pertama. Saudara Pertama langsung melepaskan tangannya karena Papa Ban seperti sudah akan kehabisan nafas, lalu Papa Ban tersungkur dan terbatuk. Kapten Gun langsung menariknya dan menyerahkannya kepada anak buahnya yang ada di samping kanannya.
"Singkirkan Dia, orang lemah seperti dia tidak pantas menjadi saudaraku. Lupakan gadis itu, apa yang kau pikirkan, merekrut seorang gadis untuk membantu kita mengalahkan laki-laki itu. Kutugaskan kau, untuk merekrut anggota yang kuat, tapi kau malah berpacaran di depan kios manismu ini! bah!!!" Ucap Saudara Pertama menghina Kapten Gun, yang dianggap sudah tidak bisa lagi menduduki posisi saudara ke 6.
"Dengarkan! Aku mencari seseorang yang pintar dan juga kuat, jika ada yang berani maju dan bertanding dengan mereka, jika kau berhasil menang, aku akan langsung mengangkatmu menjadi saudara ke 6 dan atau ke 7 saat ini juga." ucap Saudara Pertama yang sudah muak melihat anggotanya yang selalu dikalahkan dengan mudah oleh orang lain. Kapten Gun dan Papa Ban merasa terhina mendengar ucapan dari Saudara Pertama. Kapten Gun menggenggam tangannya sekuat tenaga dan mencoba untuk menahan amarahnya. Ia ingin sekali melayangkan tinjunya ke saudara pertama, namun ia menyadari bahwa hal itu hanya membuatnya babak belur tanpa bisa melakukan serang balik.
*
Sementara itu, Rika yang merasa tidak punya tanggungan lagi dengan Kapten Gun, akhirnya sampai di rumah dengan selamat tanpa luka dan atau lebam. Matahari baru saja tenggelam, walau sedikit terlambat sampai rumah, namun tidak masalah baginya, karena orang tuanya pasti tidak akan menegurnya. Seperti biasa, Rika masuk dan memberisalam juga memberitahukan kepada ibunya jika ia telah pulang, lalu bergegas untuk membersihkan dirinya, menyusul makan malam bersama, kembali kekamarnya, mengerjakan tugas, lalu menceritakan kejadian hari ini kepada Kakaknya, sebelum akhirnya ia pergi tidur.