..........................
Yang lalu...
Rumah yang asri itu tampak hidup oleh aktivitas seorang pria dewasa berkacamata bulat dan besar. Angin pagi berhembus sejuk menyapa seorang gadis muda yang membuka jendela kamarnya. Penampilannya sudah rapi dan cantik dengan jeans juga kemeja feminim pink polos.
Mata bulatnya terbuka seiring bunga-bunga dalam pot yang bergoyang. Si cantik itu sedikit memonyongkan bibirnya. "Hmm... Hmmm... Seperti biasa kalian wangi sekali, tampak subur, cerah." Gadis itu bermonolog jika orang-orang melihatnya. Namun baginya dia sedang berdialog.
Tangan halusnya bersandar pada jendela besar yang langsung berhadapan pada taman belakang rumah. Lalu pandangannya beralih pada Hal yang membuatnya tertarik. Senyum sensual langsung terlihat di wajahnya. "Ohh... Fernando, kamu selalu setia menyambutku di depan jendela. Kamu sangat tampan hari ini membuatku semakin jatuh cinta," ucap gadis cantik itu semakin menggoda pada si pujaan hati.
Pujaan hati gadis itu adalah burung perkutut berwarna emas yang tergantung di luar jendela kamarnya. Fernando, nama burungnya itu menjawab panggilan si gadis dengan bersiul merdu. "Hahaha... Fernando, aku semakin mencintaimu!" Gadis itu merentangkan tangan bergaya seolah ingin memeluk. Namun ketukan pintu dan teriakan sang kakak langsung merusak momen mesranya dengan Fernando.
Tok... Tok... Tok...
"Racheeell! Selesai belum mesra-mesraanya dengan Fernando?!"
Raut wajah Rachel langsung cemberut, melengkungkan bibir, dan meredupkan matanya seolah kesal. "Ihhh.... Si mata kodok ganggu aja." Rachel berjalan sambil membungkuk menuju pintu kamarnya berwarna ungu dengan motif bunga mawar.
Mata kodok adalah panggilan untuk abangnya yang bernama Gilbert Ananda. Si bujang berusia dua puluh lima tahun yang masih membujang. Kalau dia sedang kesal panggilan akan berubah jadi "si mata kodok." Jika sedang sopan, baik, atau mencari perhatian panggilan berubah. Rachel akan memanggil dengan sopan "Bang Gil... Bang gila."
Rachel mengendus sesuatu yang harum. Dia berjalan sambil meresapi harumnya, memejamkan mata, seandainya dia bisa melayang. Mungkin sekarang dia melayang diangkat oleh aroma kue abangnya yang memang jago memasak.
Pintu terbuka, menampakan seorang pria dewasa tampan, berkulit coklat, berambut gondrong terkuncir, dan kacamata tebal yang setia bertengger di hidung mancungnya. Gilbert menunjukan kue brownies dengan buah cherry besar di atasnya. "Ayo sarapan, sayang," Ucap Gilbert dengan cengiran khasnya. Penampilannya sedikit kotor di celemek putih oleh noda coklat dan ikat kepala di atasnya.
Rachel hanya tersenyum tipis lalu berjalan melewati abangnya sambil bersedekap dan membawa tas punggung kecilnya. "Bang... Bang, yang diadon, dipulen, dielus adonan kue mulu. Kapan cewek yang dielus?" Rachel menyindir. Mereka berjalan di koridor ruangan dalam, lalu menuruni tangga kecil menuju dapur rapi dengan gaya modern minimalis. Walau tak terlalu besar, rumah mereka termasuk nyaman, asri dan berdesain modern.
Mereka sampai di tempat duduk saling berhadapan. Gilbert berdecih seolah sudah bosan dengan pertanyaan yang selalu dia lontarkan tiap pagi. "Abang udah pernah bilang kalau sebelum kamu nikah abang gak mau nikah. Lagian toko kue peninggalan orang tua kita musti abang urus dan kembangkan lagi."
Rachel yang hendak menyuap potongan brownies langsung bengong hampir menjatuhkan potongan brownies di tangannya. "Abang... Abang... Memang gak mau gitu bahagia... Secuil aja? Mikirin aku? Udah gede gini kok. Udah delapan belas tahun." Rachel berkata dengan raut wajah khawatir.
"Ahh... Udahlah gak usah ngomongin hal itu lagi. Mending sekarang kita sarapan kasian tuh kue di cuekin," ucap Gilbert rusuh tak mau memusingkan hal itu.
Setelah sarapan selesai, Rachel bergegas pergi karena ini hari pertama dia masuk kuliah. Saat sudah mengambil ancang-ancang berlari setelah memakai ankle boots. Dari belakang tangan kekar itu menarik kerah kemeja Rachel hingga gadis itu hampir terjungkal ke belakang.
"Aduuh.. Apa lagi?" Rachel tampak sengit
Gilbert menyerahkan kotak makanan berisi pancake. "Untuk penyembuh stress nanti." Pria itu mengerling sok manis sambil menepuk kepala adiknya.
"Makasi, abang ganteng tapi lapuk." Rachel terkekeh mengambil kotak makanan itu. Ketika ingin beranjak pergi sekali lagi, Gilbert menahannya. "Eitss lupa ya?"
Rachel mengernyit lalu tersenyum lebar. Mereka melakukan gerakan tepuk tangan atas bawah, senggol b****g, lalu diakhiri gerakan saling melewek dengan kedua tangan di sisi telinga.
"Cinta... Cinta... Kamu selalu. " Ucap mereka serempak sambil melewek.
Itu adalah gaya andalan mereka dari kecil sebelum berpisah untuk memulai aktivitas masing-masing.
..................................................
Rachel menikmati pemandangan kota Metropolitan yang memang selalu ramai. Mau seruwet apapun Jakarta dia tetap harus menikmatinya. Bersyukur setiap hari diberikan nafas kehidupan. Kendaraan berlalu lalang di jalan raya. Para pejalan kaki berseliweran di bawah gedung-gedung pencakar langit.
Rachel yang berwajah oval, hidung mancung, bermata bulat, dan berkulit kuning langsat itu sudah mendekati area kampus. Dikejutkan oleh seorang pria berhodie hitam tersungkur di depan motornya. Jika tidak mengerem pasti Rachel sudah menabrak pria itu.
"Ya ampunn... Mas, kalau mau atraksi jangan di area kampus dong. Di Sirkus sana!" Bentak Rachel dengan wajah yang masih tertutup helm.
Bagaimana tidak marah? Jika pria tadi datang tiba-tiba seolah terlempar. Dengan susah payah pria itu berdiri sambil memegang perutnya. Dia membuka tudung hodienya bersamaan dengan Rachel yang membuka helmnya. Tepat saat itu udara di sekitarnya seketika melambat, jantung gadis itu berdetak lebih cepat, waktu seketika melambat.
Pandangan mereka saling tertuju. Pria di hadapannya adalah sosok tegap, tinggi, tampan dengan alis tebal, mata tajam, dan dagu kokoh. "Maaf ya ganggu perjalanannya," Ucap pria itu tersenyum ramah menahan ringisan. Dia menyentuh sisi pipinya yang membiru sehabis terkena pukulan.
Rachel mengerjapkan mata seketika bangun dari kegamangan keadaan tadi. Dia hanya mengangguk. Melihat cara berjalan pria itu membuatnya iba. Maka dengan keberanian penuh dia menawari tumpangan sampai dalam kampus.
Dan di sanalah awal perkenalan mereka...
_________________________________
Rachel menjalankan lacu mobil dengan kecepatan tinggi di jalanan yang masih sepi pagi itu. Hari ini tepat di tanggal dan bulan yang sama awal pertemuan mereka lima tahun yang lalu. Rachel tak ingin mendengar kata suaminya lagi. Suami?
Rasanya dia ingin tertawa, setelah membuat malu keluarga itu dia bermaksud melarikan diri. Wajah cantik itu tampak menyimpan sejuta kepuasan. Tanpa disadari dia tak tahu jika ada pohon besar di belokan.
Semudah angin berhembus. Mobil itu menabrak pohon besar yang berdiri kokoh disana.
................................................
Gelap... Semua gelap....
Tapi dia merasa bebas, walau buta dia merasa bebas. Berumah tangga dengan dafa walau hanya lima bulan membuatnya menyiksa diri sendiri. Sekarang dia lepas dari keluarga itu. Terlebih ada seorang pria yang selalu menemaninya. Walau dia tak melihat. Tapi dia merasa nyaman bersama pria itu
Bersambung....