.......................
Ingin sekali Dafa menghiraukan bel yang terus berbunyi itu jika tak berisik. Masalahnya bunyinya sangat berisik seolah memecahkan syaraf normal di tubuhnya. Pria itu berusaha tidur, mendengarkan musik kencang, dan menonton untuk mengalihkan kekesalannya pada si pengganggu, tapi apalah daya saat rasa tertekan mendera.
Dafa mengumpat keras saat sudah berbaring di atas kasur berwarna ungunya. Warna yang disukai Rachel Ananda. "Kampreett tuh cewek!" Terlihat raut wajahnya yang bengis. Setelah itu raut wajahnya berubah tenang dan lembut meraih guling besar.
Tatapan dari mata dalam beralis tebal itu tampak seperti seorang kekasih. "Sabar ya sayang, nanti aku peluk kamu lagi. Kamu jangan cemburu ya kalau aku masih menemui dia," ucap Dafa yang berbaring miring mengusap guling besar.
Guling besar yang ternyata bergambar potret wajah close up Rachel. Segila itukah Dafa? Terlihat gila. Tinggal di apartemen sederhana, ditemani perkakas apartemen kuno juga AC merek paling kuno. Untunglah bangunannya masih bagus walau terkesan tua.
Demi mendapatkan kembali seorang Rachel. Dia berani menembus berbagai kegilaan apapun. Sekarang Dafa justru mencium lembut potret Rachel di bantal guling itu.
Suasana kamar maskulin dengan lampu pencahayaan kuning dari dinding seberang ranjang tak menutup potret jelas Rachel. "Tunggu aku ya, sayang." Sekali lagi Dafa mengusap lembut potret Rachel. Lalu bangkit dari kasur yang enggan dia tinggalkan.
Dengan berbalut celana panjang dan kaos hitam. Dia berjalan melewati ruang menonton yang tampak tak terlalu rapi. Membuka pintu, mendapati Tammy tampak menyedihkan dengan mata memerah, maskara luntur di wajah cantiknya, dan rambut acak-acakan. Dia mengenakan kaos ketat dan rok jeans pendek. "Ada apa lagi, Tammy?" tanya Dafa yang tampak malas
"Hikss... Daf, aku butuh kamu." Secara reflek Tammy mencium bibir Dafa. Pria itu terhuyung ke belakang setelah pintu apartemen tertutup meninggalkan kehampaan di koridor itu.
___________________________________
Yang lalu.......
Pria yang ternyata lebih tua setahun dari Rachel itu habis babak belur dihajar oleh Bimo, sepupuhnya sendiri karena terpegok berciuman dan make out dengan Tammy. Di boncengan Rachel pria tegap yang tampak tak sesuai dibonceng Rachel itu termenung memikirkan hubungan backstreetnya dengan Tammy.
Kisah penuh rintangan mereka melambung bagai awan. Tapi anehnya dia tak terlalu sedih seperti kemarin karena parfum khas lemon dari gadis manis itu tercium sampai ke hidungnya. Senandung berkumandang memecahkan kegaduhan bunyi motor matic kecil berwarna ungu terang melewati jalan masuk menuju kampus yang panjang. Pohon-pohon rindang dan tinggi berjejer rapi di sisi jalan.
Lirik lagunya.....
Ku hamil duluan... Sudah tiga bulan gara-gara pacaran suka gelap-gelapan....
Ku hamil duluan......
Suara yang... Sangat cempreng bahkan burung-burung yang tadi asyik di atas pohon berkasih mesra langsung terbang serentak bagai dilanda bencana alam. Pria tampan berambut tebal bergelombang itu mengkerut, memejamkan mata memahan sakit telinga.
Motor matic yang dibawa Rachel juga tampak tak seimbang dan oleng sepanjang perjalanan. Dafa tampak khawatir melihat keadaan mereka yang sebenarnya kalau ada sentilan angin pasti langsung jatuh.
"eeehhh.... Adek.... Kamu kalau mau mati jangan ngajak aku dong. Suara kamu dan cara mengemudikan motor kamu itu seperti orang barbar!" teriak Dafa yang memang harus berteriak di dekat Rachel.
Gadis itu tampak meringis seolah tak paham. "Apa?!"
Dafa geram sekali. Dia menggerakkan tangan seolah ingin meremas Rachel. Bukannya apa-apa, ini sudah kelima kalinya dia berkata seperti itu, namun jawabannya selalu "Hah" dan "apa"
"Rachel, hati-hati mengemudinya nanti kita jatuh. Kalau kamu gak mau repot lebih baik turunkan aku disini saja!" Teriak Dafa sekali lagi memasang tangan disamping bibirnya beradu dengan suara motor juga angin.
Rachel tersenyum menatap Dafa dari dari spion bulatnya. "Naahh... Gitu dong bang Dafa, kita kan sudah kenalan masa gak panggil nama. Oke aku hati-hati, pegangan ya, bang di mana saja, tapi gak keberatan di pinggang aku. Dan... Aku antar sampai gedung fakultas abang saja biar gak babak belur lagi."
Ajaib, Rachel langsung mengemudikan motornya dengan baik dan seimbang. Dafa terperangah, ternyata gadis itu bisa seimbang membawa motor. Kenapa tadi oleng terus. Pria itu mendengus dengan raut datar.
........................................................
Motor matic Rachel berdecit di depan gedung fakultas Teknik. Dafa turun dari motor. Pria itu berdiri di samping Rachel tersenyum tipis sambil merapikan rambut tebal bergelombang itu. "Thanks ya, ini imbalan karena sudah menolongku."
Dafa menyerahkan dua lembar uang seratus ribu di depan wajah cantik Rachel yang masih memakai helm bertelinga kucing itu. "Gak usah, bang... Memang tampang kayak bidadari ini mirip tukang ojek apa. Aku menolong ikhlas kok," kata Rachel dengan sumringah mendorong tangan berotot Dafa.
Pria itu tertegun sejenak, baru kali ini ada orang menolak uang. Selama hidup yang Dafa kenal adalah orang-orang yang melakukan apa saja demi uang mulai dari keluarganya, pekerja perusahaan orang tuanya, bahkan orang luar yang Dafa temui. Pria itu menurunkan tangannya masih dengan perasaan heran.
Gadis itu mengangguk bersiap untuk melajukan motornya ke gedung fakultas Ekonomi. Tanpa diduga, sebuah suara alam berbunyi kencang, yaitu dari perut Dafa.
Rachel tertawa melihat Dafa yang tampak malu mengelus perut ratanya. Tak berapa lama Rachel mengeluarkan sekotak bekal berisi pancake strawberry. "Ini dijamin bikin kenyang selain itu ketagihan dan ini." Rachel menyerahkan kotak makanan itu bersamaan dengan kartu toko kue kakaknya. "Ini toko kue kakakku, jika berminat datang. Dulu sih di Bandung juga ada. Tapi sudah dijual buat dikembangkan di sini. Ehhh jadi curhat. Ya udah. Daaa, abang."
Gadis itu pergi dengan gaya ceria, meninggalkan Dafa yang ternyata sudah menyantap pancake itu. Wajahnya langsung berubah ceria menikmati kunyahannya. Pria itu masih mengunyah, berdiri di tempat menatap pada Rachel yang semakin menjauh. Hingga dering telephone dari Tammy mengalihkan dunianya.
.............................................
Saat sedang asyiknya mengendarai motor menuju gedung fakultas, ternyata di tengah taman air mancur Rachel diberhentikan oleh tiga gadis cantik bermake up tebal, berpakaian ketat. Rachel melihatnya geli. Dalam hati berpikir tiga kakak tingkatnya yang dulu mengerjai dirinya habis-habisan di Ospek seperti gerombolan sirkus yang hendak ke fashion show gagal. Bahkan gayanya seperti sudah diatur koreografer kacangan.
Rachel tampak kasihan pada seorang gadis seangkatannya yang bertubuh tambun, berkacamata yang tampak bagai kacung menatapnya takut di belakang tiga gadis sirkus itu. Gadis berambut pirang di tengah mendekati motornya diikuti dua temannya juga si tambun berbaju kemeja besar dan rok panjang yang berjalan terburu-buru. Rachel bersedekap d**a tampak santai saja menghadapi mereka sambil melepas helmnya hingga rambutnya tergerak dari ikatan ditiup angin. Siapapun yang melihatnya akan terpanah. Tapi jika tiga gadis itu yang melihat justru semakin geram.
Si rambut pirang menggerak depan motornya. "Tadi kita lihat loe!" jari telunjuk berkutek merah itu menunjuk tepat di hidung mancung Rachel. Gadis itu menatap belong jarinya. "boncengan sama Dafa... Ada hubungan apa loe sama Dafa?"
Rachel menaikkan alisnya, dia sudah tak heran. Lebih baik permisi pergi daripada menyia-nyiakan masuk kelas di hari pertama kuliah sungguhan setelah ospek tiga hari. "Ehmmm.... Permisi kak, saya mau masuk kelas. Dosennya ganteng jadi harus buru-buru." Rachel tampak tersenyum manis sambil mendorong motornya. Namun mereka semakin menghalangi dengan wajah-wajah garang. Rachel bagai merasa api berkobar di belakang tubuh mereka.
"Windy! Payung!" Perintah gadis di sebelah ketua genk itu pada gadis tambun. Dengan cepat bagai kacung Windy membuka payung menutupi mereka bergantian. Rachel miris melihatnya. Dia tak terlalu ingat Windy tapi dia tahu saat ospek mereka pernah berkenalan singkat. Dan semenjak hari kedua Ospek Windy malah terkesan menjadi kacung tiga kakak tingkatnya itu.
"Pokoknya kita cuma mau peringatin loe buat gak dekat dengan Dafa Magenta. Ngerti! Mentang-mentang kemarin dinobatkan jadi miss ospek semudah itu deketin Man wanted kampus." Si pirang yang dia tahu bernama Sasa itu membuatnya malas justru dia malah menguap lebar dan panjang bersandar pada kepala motornya.
Tiba-tiba mata Rachel terbuka lebar melihat ke belakang tiga gadis itu. Raut wajahnya menunjukkan keterkejutan. "Kak Dafa... Shirtless wuuuu bodynya abs bangeeeet... " Ucap gadis itu lirih. Serempak tiga gadis itu menengok bahkan mencari tahu dimana Dafa dengan berbinar.
Kesal tak melihat Dafa. Saat mereka berbalik Sasa langsung emosi. Melihat Rachel yang sudah berkendara jauh membonceng Windy di belakang. Karena terbuta oleh pesona Dafa sampai suara motor saja mereka tak dengar. Yang tersisa hanya asap knalpot dan payung putih motif polkadot pink di jalanan.
Sasa menghentak kaki kesal dan memberengut kesal.
...........................................................
Hari itu Rachel dan Windy mulai akrab. Tak butuh waktu lama jika Rachel adalah tipe periang, percaya diri, pintar, rendah hati dan supel membuat Windy nyaman. Sekarang mereka duduk di bangku taman daerah fakultas ekonomi.
Mereka masih tertawa jika mengingat kejadian itu. "Hahaha... Lagian mereka bodoh banget udah tahu di belakang mereka kebun kosong, mana ada coba Bang Dafa disana. Shirtless pula... Buufftt... Hahahaha." Rachel memakan chikinya.
"Yang ada makhluk lain. Hahahaha.... yang kurus, item, kerempeng sedang....hahaha." Windy menyambung ikut tertawa sampai pipinya semakin lebar saja.
Setelah reda tertawa mereka bertukar cerita sedikit. "Kamu juga, kenapa jadi kacung mereka? Kan gak ada untungnya." Rachel menatap Windy tegas.
Gadis tambun itu hanya menunduk sedih. Dia memilin ujung kemejanya. "Soalnya.... Mereka cantik. Aku mau cantik kayak mereka. Katanya kalau aku mau ya jadilah aku seperti itu," ucap lirih gadis itu.
Rachel berdecak, mencebik bibir miris. "Polos banget sih cara pikir kamu. Kalau mau cantik usaha dengan semangat sendiri. Kalau sesat jangan diikutin."
Windy mengangkat kepalanya menatap kagum ada teman barunya itu. "Makasi sudah menolong aku."
........................................
Windy dan Rachel ternyata satu kelas juga jurusan hingga saat jam kuliah berakhir mereka pulang. Saat di jalan mereka tak sengaja hampir menabrak seorang gadis cantik berpenampilan anggun dan modis. Mereka meminta maaf.
Rachel melihat ada dompet jatuh. Gadis itu turun dari motornya. Bersama dengan Windy mengembalikan dompet itu. "Terima kasih, untung saja ketemu," Ucap Gadis bertubuh tinggi bak model itu.
Tentu saja mereka tahu jika gadis cantik itu adalah Tammy yang lumayan populer di kampus juga. Dia juga yang mengalungkan selendang pada Rachel saat sesi acara hiburan penobatan miss dan mister ospek.
Hari itu mereka menambah teman. Awal mula hari dari sebuah kisah manis dan pahit. Setelah itu, Rachel mengajak Windy untuk ke toko kue milik kakaknya.
Gilbert muncul dari dapur dengan penampilan sedehana, berantakan namun tetap tampan, lengkap dengan celemek putih. "Nah Windy, ini abang aku namanya Gilbert." Rachel terkejut melihat Windy yang menatap Gilbert ternganga seolah terhipnotis. Padahal tadi dia dengan buas melihat kue-kue yang mengugah selera. Tapi jinak setelah melihat Gilbert.
...........................
Di tempat lain, di ruang gazebo belakang rumahnya yang luas Dafa sedang bersantai bersama dua sahabatnya. Erik dan Vino.
"Cieeee yang dibonceng cewek. Anak baru kayaknya, tapi cantik juga. Hehehe.... Sudah loe sama dia aja. Daripada sama Tammy backstreet mulu, selingkuh di belakang Bimo."
Dafa yang sedang duduk di karpet gazebo sambil membaca majalah otomotif langsung menendang perut Erik. "Tammy itu cinta pertama gue dan akan jadi cinta terakhir gue!" Pria itu membentak kesal daritadi dua sahabatnya itu selalu menggodanya tentang gadis bernama Rachel.
Seketika otaknya berpikir, kata-kata sahabatnya bolehkah dipertimbangkan? Tapi terlalu jahat tidak ya untuk kepentingannya. Tekan batin Dafa. Pria itu langsung menggeleng mengusir pikiran licik itu.
Siapa yang tahu jika hal itu terjadi saat dia mulai merasa sulit?
....................................................
Mimpi tentang Rachel kembali terbayang dan pria itu mendorong Tammy yang hendak menyeretnya ke kamar. Wanita itu bangkit dari jatuhnya menatap sedih pada Dafa. "Kamu sungguh tidak mencintaiku lagi?"
Dafa tetap bersikap tegas menatap tajam pada Tammy,"Aku memilih Rachel."
"Tapi dia sekarang buta, meninggalkan kamu." Tekan Tammy untuk mematahkan semangat Dafa.
Pria itu berjalan menuju pintu utama lalu membukanya, "Keluarlah."
Bersambung....