5 tahun yang lalu...
Dua gadis muda duduk di luar kafe dan toko roti kecil milik kakak Rachel. Kafe ini belum lama dibangun sang kakak. Suasana nyaman dengan dekorasi unik vintage juga tempat outdoor yang sejuk dengan nuansa alam, kolam kecil, dan tumbuhan kecil dengan bunga terompet yang indah berayun di tiup angin.
Rachel dan Windy tengah menikmati waktu santai mereka setelah pulang kuliah. Di atas meja kayu jati bulat ada dua gelas jus bubble coklat dan dua waffle. Punya Rachel tinggal setengah tapi punya Windy masih digigit kecil. "Hahaha... Gerombolan dayang mimi peri itu lucu ya... Dengar cerita kamu tadi padahal gak jauh dari mereka ada mobil. Seharusnya mereka bisa mengejar kita, tapi ternyata Sasa lebih sayang bensin mobilnya. Bfttt.... Kaya tapi pelit." Rachel terus bercerita sambil meminum jusnya tanpa sadar jika lawan bicaranya alias Windy terpaku pada sosok pria tampan yang sedang memberi intruksi pada tiga anak buahnya. Mata dari balik kacamata besar itu berpendar kagum. Bibirnya tersenyum bagai bulan sabit, dan kepalanya bergerak seiring dengan gerakan pria itu.
Rachel yang heran karena Windy tidak menyahut langsung melihat sahabat barunya itu. Gadis cantik itu cemberut. "Windy... Kamu daritadi gak dengerin aku ya?"
Windy tetap tak menyahut bahkan menoleh pada Rachel. Penasaran, gadis itu melihat kemana arah pandang Windy. Senyum kecil terbit di bibir Rachel. Gadis itu kembali menatap Windy dengan jahil. Menggeser kursi hingga jarak duduk mereka semakin dekat.
Rachel sengaja berbicara dengan lembut, tenang dan yang pasti dekat di telinga gadis tambun itu. "Ckckck.... Indah banget ya mahakarya Tuhan di balik kaca bening itu," ucap Rachel sambil menggelengkan kepala seolah berdecak kagum.
"Iya... Aku bahkan sudah terjebak dalam labirinnya. Menyiksaku namun sungguh candu...sungguh candu... Ohhh." Tanpa sadar Windy membalas dari sebuah lirik lagu tapi tidak dengan bernyanyi melainkan dengan nada rendah dan datar. Hal itu membuat Rachel menganga.
Rachel menelan ludah menatap tak percaya pada Windy. Sepertinya feelingnya berkata benar jika sahabat barunya ini sudah jatuh hati pada si mata kodok alias Gilbert, abangnya yang bagi Rachel hanyalah pria paling biasa di dunia ini.
Ingin menggeplak kepala Windy pakai meja kayu tapi tak tega. Lebih baik memakan jatah waffle milik Windy saja hitung-hitung mengurangi lemak buat Windy.
...........................................
Di sebuah rumah mewah dengan arsitektur bergaya mansion modern. Seorang pria tua sedang mengobrol dengan seorang pemuda tampan di ruang santai luas dengan dua bangku lebar beserta rak-rak buku tinggi di sisi dinding bermotif garis-garis. Canda tawa mereka tampak terdengar renyah.
Dari kejauhan terlihat Dafa yang menatap mereka hampa. Sisi hatinya selalu perih jika mengalami ini. Hanya karena kesalahan orang tuanya. Kenapa dia juga harus ikut diasingkan oleh sang kakek.
Orang tua Dafa terlalu tamak dulu hingga hampir membuat hancur perusahaan menghancur. Ayahnya dan ayah Bimo bersaudara kandung. Memang Dafa akui ayah Bimo lebih baik dari sifat. Tapi Dafa membenci Bimo. Kakeknya yang bernama Haris Atmaja tak tahu saja jika Bimo, sepupuhnya itu berbeda dengan ayahnya.
Dafa mengepalkan tangan menatap tajam pada Bimo yang bisa tertawa lepas. Bimo yang bisa bersama dengan Tammy. Bimo yang lebih segalanya. Padahal dia tak lebih dari playboy yang merayap dimana saja.
Mereka tinggal bersama dalam satu rumah mewah ini yang terlihat luas dan mewah dari luar maupun dalam. Tapi terlalu sempit menampung cinta yang adil.
"Tuan, perlu saya bawakan tasnya." Suara lembut mbok Sarmi mengalun lembut.
Dafa menoleh pada pembantu rumah tangga yang sudah mengabdi lama di rumah utama kakeknya itu. "Gak usah. Habis mandi aku pergi ke penthouse," sahut Dafa dengan ekspresi datar setelah berhasil menurunkan rasa kecewa. Setelah itu dia berlalu meninggalkan wanita berpakaian seragam putih hitam itu.
Paling habis ini dia akan bersenang-senang bersama Erik dan Vino. Dua sahabat yang masih bisa dia andalkan untuk menghilangkan penat. Lagipula Ayah dan ibunya juga paling sibuk dengan urusan sendiri.
..............................................
Mentari pagi menyapa dunia memberi isyarat para insan untuk memulai hari dan merangkai cerita. Termasuk Rachel yang sudah bersiap lebih pagi. Penampilan casual andalannya selalu stylist. Gadis itu berlari kecil dari atas lantai kamarnya lalu merosotkan tubuhnya di pegangan tangga, melompat dengan lincah di lantai. Rachel menghembuskan nafas lega. Melihat abangnya yang sudah rapi sedang menyiapkan sarapan membuat Rachel bahagia.
"Selamat pagi abang rumah tangga." Rachel menyapa sang abang sambil merentangkan tangan tanda gembira. Tapi Gilbert langsung menghindar. "Enak ya setiap hari yang masak abangnya terus. Lain kali kamu dong yang masak," ucap Gilbert sambil mengusap puncak kepala adiknya gemas.
Rachel menggerutu sebal merapikan kembali rambut panjangnya. "Nanti saja kalau sudah mau nikah... Aku yang ke rumah tiap hari buat ambil makan pagi dan malam, weee."
Gilbert sangat jengah. Kalau berdebat dengan adiknya dia lebih sering kalah. Tak lama setelah sarapan selesai mereka melakukan tos kasih sayang seperti biasa lalu Rachel berangkat ke kampus dengan motornya.
..................................................
Kebahagian Rachel yang tak biasa hari ini bukan tanpa sebab. Karena setelah kuliah usai di hari jumat dia akan mengikuti UKM (Unit kegiatan Mahasiswa) seni rupa tiga dimensi divisi tanah liat. Windy memilih mengikuti UKM olah raga. Entahlah dia terkekeh geli membayangkan Windy akan membuat gempa berskala tinggi jika bermain basket.
Sekarang dia sudah duduk di sebuah ruangan luas dengan lebih banyak mahasiswa perempuan mendominasi. Rachel melihat mereka heran, mengkerutkan dahi. Dan terkejut melihat Sasa yang terlihat lebih mencolok.
"Kok lebih banyak mahasiswa cewek ya? Mana si Sasa juga ada. Kok gak sesuai kelihatannya." Rachel berbicara pelan seolah bermonolog. Tentu saja mereka semua di sini menunggu kehadiran beberapa senior yang akan menjadi tutor mereka. Di meja mereka masing-masing sudah ada bahan tanah liat untuk mereka bentuk nanti.
Beberapa menit kemudian....
Suara pintu terbuka, beberapa senior laki-laki dan perempuan masuk dalam ruangan itu. Sekejap dunia Rachel berhenti melihat Dafa yang ternyata menjadi salah satu tutor dalam UKM ini. Suara kata sambutan ketua tutor perempuan dan gaduh para junior hilang ditelan musik pelan alami antara Dafa dan Rachel yang bertemu tatap. Gadis itu menatapnya tersenyum ramah antara bahagia, takjub dan gugup. Sedangkan Dafa awalnya terkejut tapi dengan cepat mampu merubah sikapnya kembali formal. Tanpa kata tadi mereka bertemu pandang, hanya senyum tipis Dafa formal lalu kembali bersikap biasa.
.......................................
Dua tangan kekar dan kecil itu saling menumpuk berlumur tanah liat membentuk sebuah wadah. Meja bundar itu berputar mengikuti gerakan dua pasang tangan itu. Wajah Rachel tampak memerah dan tersenyum malu-malu, apalagi Dafa dengan tubuh tegapnya melingkupi tubuhnya dari belakang. Jantung Rachel berdegup lebih cepat, aliran darahnya seolah berjalan cepat dan meletup-letup menjangkit hati Rachel dengan perasaan nyaman.
Daffa tampak tenang walau sesekali dia harus menjaga jarak agar mereka tak terlalu rapat. Pria itu tetap konsen pada hasil karya mereka. Rachel cepat-cepat mengatur perasaan menggebu itu karena dia tak ingin terlihat memalukan. Dengan konsentrasi seperti Dafa, gadis itu membantu Dafa mengikuti gerak tangannya membentuk sebuah karya seni rupa.
Di sebelahnya tampak Sasa tak senang, dia ingin menangis karena dibimbing oleh senior gendut dan sangar. Wajah Sasa bagai anak kecil yang sedih karena balonnya lepas.
Sepanjang proses pembuatan itu Rachel mencoba membuka percakapan karena Dafa terlalu diam. "Ehem... "
"Abang suka seni rupa juga ya?"
"Hem."
"Abang sejak kapan suka seni rupa?"
"Sejak dulu."
Jawaban-jawaban Dafa yang terkesan datar dan singkat itu membuat Rachel layu. Ekspresinya bagai menelan garam pahit. Akhirnya mereka hanya diam hingga hasil kerajinan itu selesai tepat bel jam berbunyi.
Semua membuat pot berhias bunga sesuai perintah. Namun, Dafa terkejut dan sedikit kesal tetap mempertahankan sikap dingin dan formalnya. Rasanya ingin mengomel tapi tatapan Rachel yang polos sambil mengangkat jari "peace" membuatnya seolah terhipnotis. Hasil karya yang mereka buat adalah wadah berbentuk hati. Alhasil membuat senior wanita yang melihatnya terheran-heran.
.......................................
Seusai kegiatan UKM selesai Rachel berlari kecil, sambil tersenyum dia memberikan wadah berbentuk hati dari tanah liat yang belum di cat. "Bang, ini buat abang sebagai kenang-kenangan pernah mengajari seorang junior cantik bernama Rachel Ananda."
Dafa menaikan sebelah alisnya seolah meremehkan kenarsisan gadis itu. "Abang? Dari kemaren panggilnya abang. Memang aku abang kamu."
Rachel mengangkat kedua bahunya seolah mengkerut. "Iya, soalnya abang Dafa mirip abang saya, tapi tetap abang Dafa yang paling ganteng. Hehehe." Rachel tampak berusaha mencairkan suasana. Dia seolah ingin dekat dengannya.
Mereka berada di halaman depan gedung UKM kampus. Pria itu tampak jengah dengan mendengus. "Buat kamu saja sebagai gantinya kita tukeran kontak." Baru kali ini Dafa dengan mudah memberikan kontaknya pada gadis yang baru dia kenal karena baginya ini salah satu cara agar gadis itu tidak mengulur waktunya yang penting untuk bertemu Tammy.
"Makasih abang padahal aku memang mau wadah ini eh ternyata berhasil dapet nomor abang, maksih sekali lagi sudah terima modusku. Daaa...." Rachel berlari cepat masih sempat berbalik badan untuk memberi ciumam jauh pada Dafa yang sudah melotot kesal pada Rachel.
"Sialan!" Umpat Dafa. Pria itu menggeram kesal namun di sisi lain dia merasa sisi hidupnya yang datar seolah mulai berhias warna cerah.
.......................
Setiap jumat malam Tammy akan datang ke penthouse Dafa untuk bermesraan, berbagi kasih lalu bercerita tentang mimpi mereka. "Sayang, aku benar-benar sudah Sayang banget sama kamu, Daf." Tammy memeluk tubuh Dafa dan bersandar di d**a bidangnya menatap penuh cinta pada pria itu.
"Aku juga apapun itu aku akan tetap memperjuangkan kamu." Dafa mengecup lembut kening Tammy dalam.
Namun diam-diam dia tersenyum. Tammy bisa bebas bersama Bimo, dia juga ingin tahu seberapa besar cinta Tammy padanya. Dan dia sudah menemukan gadis yang tepat. Dia berpikir mungkin ini juga sebagai cara agar dirinya tak menjadi pihak yang paling terluka.
Bersambung....