Sinar bulan purnama menerangi Rachel yang duduk bersandar di jendela besar sambil menatap wadah hati. Hasil kerajinan tangan yang dibuat olehnya juga seorang pemuda yang belakangan ini mengusik perasaannya seperti rasa manis dalam lemon. Rachel tersenyum sendiri sambil berselonjor, memangku wadah itu.
Seperti tersentak, Rachel cepat-cepat menggeleng. "Gak.. Palingan sama aja sama para cinta monyetku zaman SMP." Rachel tertawa sambil mengingat masa SMP dulu.
Saat kelas dua SMP, ketika dia masih di Bandung. Ada yang mengirimi dia surat cinta....
Flashback....
Rachel sedang mengobrol bersama teman sekelasnya. Dulu memang gadis itu tidak memiliki banyak teman. Pernah ada yang akrab dengannya tapi setelah itu mereka menjauh. Karena saat pertama kali masuk SMP ada yang mengirimi coklat padanya. Dari sana, Rachel mungkin menjadi asyik sendiri dengan dunianya. Padahal dia tak pernah punya salah apapun pada teman-temannya.
Beralih pada kisah cinta monyet Rachel. Tepat, ketika teman sekelasnya pergi. Si anak tanggung bertubuh kurus itu menghampiri Rachel takut-takut. Wajahnya terlihat menunduk malu-malu. Tubuhnya sedikit bergetar.
Rachel yang rambutnya berkepang satu menatap ramah, tersenyum dengan rasa percaya diri yang tinggi. "Eh... Kamu yang kemarin pipis di depan aku itu pas pensi?" tanya Rachel tanpa rasa bersalah di depan kelas.
Si anak lelaki mengangkat wajahnya. Menunjukkan ketakutan yang berlebihan. "Ahh... Ahh.. Ini buat kamu!" si lelaki kurus itu dengan wajah panik dan memerah malu melempar surat berwarna pink itu di hadapan Rachel lalu berlari dengan cepat.
Hanya angin yang berhembus lembut menemani gadis yang mengerjap-ngerjapkan matanya dengan mulut menganga itu.
Sesampai di rumah, Rachel membaca isi surat dengan sembunyi-sembunyi takut ketahuan sang abang. Gadis itu masuk dalam kolong meja belajar luas sore itu. Ditemani cahaya senter kecil.
Isi suratnya
Rachel, kamu cantik kayak barbie... Kamu suka apa? Es cream ya. Aku suka liatin kamu diam-diam di kantin. Aku mau hampirin. Tapi malu...
Dan sore dimana matahari perlahan merangkak di ufuk barat. Gadis tanggung berwajah manis itu terkikik sendiri. Dia tak tahu saat Gilbert melewati kamarnya bulu kuduknya merinding. Bertanya-tanya itu adiknya apa bukan? Tapi suara tertawanya sangat berbeda sekali. Dan si lelaki berbadan besar itu berlari terbirit-b***t.
Atau saat SD...
Seorang gadis yang mengenakan aksesoris pink dari bandana, gelang, anting. Untung wajahnya gak pink. Gadis centil itu seolah bertanya tapi dengan gaya ala melabrak.
"Kamu suka ya sama kak Devon?"
Rachel mengernyit, berpikir sebentar lalu tersenyum senang membuat si gadis centil berang. "Suka." Rachel berkata dengan santai sambil menghisap permen gula berbentuk bunga itu.
Si gadis centil mulai mengeluarkan air mata atau mungkin meraung. Sebelum dia merengek. Rachel kembali melanjutkan kata-katanya.
"Devon Sawa... Aku suka.. Fans banget sama kakak ganteng itu. Kalau kak Devon alias Damiri kakak kelas enam itu aku gak suka. Weeeee," Ucap Rachel kecil sambil melewek lalu berjalan sok anggun.
...................................................
Suara ponsel bernada panggilan lagu havana versi trio chipmunk itu sangat berisik membangunkan Rachel. Gadis itu mengerang, mengulet, lalu menggapai-gapai handphonenya dengan malas tanpa melihat objek. Ketika dapat. Matanya yang tertutup, sayu dan sedikit terbuka seolah mendapat silau cahaya.
Melihat nama si pemanggil mata bulatnya terbuka lebar. "Alleluyaaa!"
Dafa, senior unyucintakyuu celaluuu
Nama yang Rachel simpan sungguh lebay, maafkan dia.
Rachel tidak mengangkat, hanya menatap layar itu penuh cinta dan hikmat. Turun dari tempat tidur berjalan dan duduk di kursi gantung pojok kamar dengan raut terperangah. Hampir tersandung benda di bawahnya. Mulutnya masih komat kamit berucap alleluya.
Alunan lagu havana versi chipmunk terus mengalun. Menggoyangkan diri girang, Membulatkan tekad dan berdoa sejenak dia langsung mengangkat panggilan telephonenya dengan mantap walau sedikit gugup.
"Haa.. Lo."
"Jumat besok ikut UKM seni rupa lagi ya... Aku tetapkan kamu sebagai juniorku disana." Ucap Dafa dengan suara bass yang berat di seberang sana.
"I.. Ya." Rachel seolah tak mampu berkata apapun mendengar suara bass Dafa yang membuatnya terbuai. Gadis itu hanya tersenyum-senyum sendiri.
"Lain kali kalau aku telephone kamu cepetan angkat tadi saja aku hampir matin." Suara Dafa mengalun lembut.
Hal itu membuat Rachel tersenyum-senyum sendiri. "Oke, Bang... Oh ya, gak apa-apa kan kalau aku panggil, bang?"
"Gak masalah, asal kamu nyaman."
.............................
Suasana kampus sudah ramai oleh mahasiswa berbagai jurusan di halaman utama. Terlihat seorang wanita cantik yang menatap sedih pada Rachel dan Dafa yang tampak akrab dalam sebuah obrolan. Setelah Dafa pergi meninggalkan Rachel. Wanita itu menghampirinya.
"Hai, Rachel," sapa wanita itu yang tampak cantik dengan dress floral panjang dan make up tipis yang selalu tertata rapi.
"Hai, kak Tammy." Rachel yang berpenampilan casual menyapa ramah dan dia sering merasa kagum dengan mode yang selalu dipakai Tammy. Tak salah jika Rachel mendengar banyak pria yang menyukainya. Mereka juga sering beberapa kali bertemu di kampus dan mengobrol ringan.
Tammy penasaran dengan hubungan mereka berdua terlebih sejak hari itu Rachel dan Dafa terlihat mulai dekat. Membuat sisi hatinya perih. Hari ini dia memberanikan diri untuk dekat dengan Rachel dan berharap bisa menjadi sahabat dekatnya. Dan semua itu harus dimulai dengan sikap yang baik. Ucap batin Tammy.
"Lagi ngapain? Terlihat lebih ceria dari biasanya." Tammy berusaha akrab dengan Rachel.
"Lagi membahas tentang seni rupa, event, dan segala hal yang biasanya dilakukan di UKM itu bareng Bang Dafa tadi," jawab Rachel tanpa rasa curiga dan polos.
Tammy berusaha tersenyum tulus, "Ohh... Dafa. Dia itu banyak yang suka loh. Harus siap mental dekat sama dia. Hehehe," ucap Tammy berusaha akrab dengan gadis itu.
Rachel tampak bersikap salah tingkah karena mungkin Tammy tahu perasaannya. Ya, walau masih taraf suka karena sikap Dafa apalagi saat dengan sabar mengajarinya di UKM.
Tammy yang duduk di sampingnya mengusap punggungnya. "Aku sudah tahu dari sikap kamu kalau kamu suka sama dia. Semangaatt.... Aku dukung." Wanita mengangkat tangan terkepak seolah memberi selamat.
"Iih... Gak jugaa koookk," balas Rachel dengan suara gemetar, bersikap gugup, dan salah tingkah.
"Udah, kalau suka gak apa-apa kok. Kalau mau curhat, aku siap." Tammy sedikit menggoda Rachel walau ada rasa cemburu terselip di hatinya.
.............................
Jam pulang kampus akhirnya datang, ketika Rachel sedang mengendarai motor di jalan berpafing utama kampus dengan Windy di jok belakang. Tiba-tiba, mobil sedan ford biru langsung menghalangi jalan mereka membuat mereka mengerem hampir terjungkal ke depan.
"Eeh... Elaahh... Halangin jalan orang udah tahu lagi bonceng muatan. Bukan mati ketabrak tapi ketimpa muatan!" teriak Rachel marah pada mobil yang pengemudinya belum keluar.
Windy langsung menjitak kepala Rachel. Mereka berdua terkejut ternyata yang keluar seorang pria tampan berompi coklat dengan rambut rapi pendeknya. Auranya terlihat angkuh.
Di bawah matahari terik pria itu bahkan terlihat semakin berani menilai Rachel, Windy, kalau perlu model motornya sekalian. Saat jarak mereka dekat. Rachel memundurkan motornya menjauh dengan raut tegar, kaki besar Windy juga ikut menarik motor sahabatnya itu yang sudah turun dari motor Rachel.
Pria itu mengusap dagunya seolah menilai. "Lumayaan."
Tak lama terdengar suara pintu mobil tertutup dengan keras. Pria yang memiliki kharisma yang berbeda dan juga penampilan berbeda itu keluar dari mobil berjalan mendekat pada mereka. Melihat kemunculan pria yang lain itu membuat Rachel tersenyum lega.
"Udah puas? Pergi kamu." Dafa bersuara dalam dengan tegas. Tatapan Dafa menusuk tajam pada Bimo sepupuhnya yang justru tersenyum angkuh. "Semoga langgeng, my cousin." Bimo berlalu begitu saja setelah berhadapan dengan Dafa, menepuk pundaknya keras dengan arah berlawanan dia pergi.
Dafa menatap intens pada Rachel yang terpaku melihat mereka. Windy juga hanya berdiri bengong.
...............................................
Sekarang Dafa dan Rachel berada di sebuah restoran mewah. Setelah Dafa menyuruh Windy pulang dengan membawa motor Rachel. Gadis itu menggaruk tengkuk melihat keadaan sekitar. Hingga dia tesentak ketika Dafa meraih tangannya. Mata Rachel mengarah pada pandangan Dafa yang tajam dan intens.
"Mulai sekarang kamu jadi kekasihku. "
Satu kalimat terdengar membuat dunia Rachel terpaku sekejap pada Dafa. Sekali lagi, Rachel berharap ini bukan ilusi atau pria itu sedang kerasukan malaikat.
Bersambung.....