Mencintaimu Sekali Lagi"Jangan harap!" teriakan seorang wanita menggema di telinga pria yang sedang tertidur pulas di atas meja kerja. Mata dengan alis tebal itu terbuka lebar. Dia menegakkan tubuhnya menatap pada seorang wanita cantik yang berpenampilan bak tahun 90-an dengan celana lebar.
Ada binar tak percaya juga tersanjung melihat wanita itu berdiri tegap dengan sikap anggun. Walau ekspresinya datar namun tak menutup jelita alami itu. "Sudah puas tidur sambil ngigaunya, tuan Dafa?" tanya wanita itu lagi dengan datar.
Dafa tersenyum lembut, berdiri lalu mendekati istrinya selama satu bulan ini. "Loh aku ngigau apa, Mysun? Dan... Makasi ya... Ini pertama kalinya kamu datang ke kantorku."
Wajah sumringah Dafa berbanding terbalik dengan istrinya. Bahkan papan triplek saja kalah datarnya. "Aku geli kamu panggil aku "mysuuun." Wanita itu tampak berkata dengan raut wajah dan nada bicara yang dibuat berlebihan. "Kamu ngigau nembak seseorang, dan pasti itu kak Tammy ya."
Dafa mencoba bersabar sambil memejamkan mata erat, menghembuskan nafas pelan lalu kembali menatapnya. "Oke, aku panggil kamu Rachel. Dan lupakan soal igauan atau mimpi gak penting itu." Pria itu berucap dengan sabar dan pelan lengkap dengan kedua tangan yang bergerak ingin menyentuh kedua lengan Rachel, namun Rachel mendelik tanggap dengan aksi Daffa.
Tangan Dafa berhenti, hanya melayang di udara dan raut yang tak enak hati. Dari mulut berkata tak penting, karena Rachel mengira dia memimpikan Tammy. Tapi dalam hati kejadian yang dulu dia anggap gila itu sekarang penting. Biarlah untuk saat ini dia yang tahu.
Asyik dengan pikiran sendiri walau mata elangnya tetap menatap dalam wajah Rachel dia tak menyadari kalau wanita itu menengadah tangan. Rachel berdeham sambil menggerakan bola matanya memberi tahu. Dengan polosnya pria itu mengikuti arah mata Rachel dan melihat telapak tangan halus itu.
Dan pandangan mereka kembali bertemu. "Aku minta uang bulanan lebih tinggi." Rachel dengan lancar mengucapkannya.
Daffa merentangkan kedua tangannya seolah mempertontonkan tubuh tegap yang berbalut kemeja dan jas birunya. "Aku sudah menyiapkan kartu kredit khusus untukmu... Asaal.... Ambilah sendiri," balas Daffa dengan senyum tipis. "Kalau perlu telanjangi aku dan kita bisa bercinta disini."
Rachel berdecih memandang Dafa meremehkan. Bukannya menolak tapi Rachel justru bergerak melepas ikatan rambut di kepalanya. Berjalan anggun dengan langkah pelan, sensual dan raut menggoda seolah siap menyerang Dafa. Sekarang justru pria itu yang berubah gugup, menelan ludah seolah ada yang menyangkut di tenggorokan.
Seiring sepatu hak tinggi yang terlepas, Dafa semakin ketar ketir. Apakah malam pertama mereka akan dilakukan di ruang kerja miliknya?
Wajah tampan itu semakin tegang sekaligus b*******h melihat Rachel yang semakin berani. Walau dulu wanita itu selalu menghinanya karena mendapatkan perusahaan cabang keluarganya yang tak seberapa. Pria itu tidak terlalu memikirkannya.
................................................
Di restoran mewah seorang anak kecil menangis kencang di dekat mereka berdua. Setelah sang ibu langsung menggendong anaknya dan meminta maaf lalu pergi. Gadis muda itu kembali menatap pemuda di depannya.
"Tadi abang bilang apa?" tanya Rachel ingin tahu.
Dafa yang memang sabar hanya tersenyum pahit. Sudah penuh tekad dan yakin seperti menembak beneran. Dan ternyata semua gagal hanya karena seorang bocah yang menangis kencang di dekat mereka tepat setelah Dafa mengucapkan kalimat "Mulai sekarang kamu... "
Pemuda itu tetap mampu mengendalikan diri dengan tenang walau dalam hatinya kesal mampus. Dia tak mampu membalas dan hanya bisa diam. Dengan canggung dia menyuap makanannya. Namun karena salah tingkah, Dafa menyenggol minumam hingga mengenai jaket kulitnya.
"Aihh... Abang, makanya kalau melihat aku jangan gugup begitu." Rachel dengan sigap berdiri dan membersihkan tumpahan jus di jaket kulitnya. Dafa sungguh malu dengan sikap teledornya. Dia adalah lelaki paling tenang, disiplin, dan pandai. Tapi sekarang dia seperti anak TK yang malu saat pertama kali masuk sekolah.
Satu kalimat penuh percaya diri kembali keluar dari Rachel. "Bang, aku pasti beruntung kalau jadi pacar kamu." Suara lembut itu mengalun.
Dafa terperangah menatap Rachel yang masih telaten membersihkan jaket Dafa. Musik klasik yang mengalun terdengar intens seperti melegakan hatinya. Suasana restoran yang tak terlalu ramai membuat Dafa tenang karena setidaknya tak ada yang melihat raut lega. Lega karena tak harus menyatakan aksi menambak palsunya itu.
"Ya, aku mau jadi pacar kamu." Dafa kembali mudah berucap dengan suara bass yang berat.
Rachel terkejut dan mengkerutkan kening sambil berjalan ke tempat duduknya lagi. "Maksudnya?"
"Ya mulai sekarang kita pacaran aja lagian tadi kamu kayak nembak aku." Dafa sekarang terlihat kembali santai. Roh Kharisma itu seolah kembali ke tubuhnya.
Rachel mengulum senyum. Peristiwa itu menjadi awal kisah. Klise, mereka mengikat hubungan dalam tahap singkat.
....................................
Sore itu juga berbarengan dengan abangnya, Gilbert yang pulang dengan senyum bahagia tak biasanya. Saat bertanya, Gilbert memilih untuk memendam terlebih dahulu.
Sejak hari jadian itu mereka semakin dekat. Tapi belakangan Dafa mulai menunjukan sedikit perubahan. Memang lelaki itu tipe yang sedikit cuek. Tapi bukan berarti, selalu menghindar jika diajak pergi berdua.
Yang lebih parah saat mereka berjanji untuk menonton konser Ari lasso. Rachel sudah menunggu di depan gedung agar mereka bisa masuk bersama. Hingga hujan turun deras.
Sedangkan di tempat lain Dafa sedang berduaan dengan Tammy di apartemennya. Rachel kedinginan menunggu Dafa berbanding terbalik dengan dua orang yang sedang berciuman, berpelukan, bahkan sudah hampir telanjang merasakan kehangatan yang membara.
Di lain tempat Rachel yang pertama kali memakai kemeja renda dan midi skirt memeluk dirinya sendiri. Sedangkan di sana Dafa dan Tammy saling berpelukan. Konser itu sudah mulai mengalunkan lagu berjudul percuma dari Ari lasso.
Awan mendung, derai hujan dan angin dingin silih berganti menunjukan adegan mereka.
Namun semua tak lama...
Seorang pria membuka pintu apartemen milik. Amarah berkobar di wajah tampan yang mengeras itu. Ini apartemen kekasihnya jadi dia tahu password pintu apartemen Tammy.
Saat membuka pintu kamar yang tidak terkunci darah Bimo mendidih melihat adegan itu. Tapi pria itu tersenyum miring mengeluarkan suara beratnya. "Wah.. Wah... Asyik ya, gak ada niat main bertiga gitu sama gue?"
Mereka berdua menoleh bersamaan dengan wajah pias. Nafsu yang hampir meledak perlahan menurun. Tergesa-gesa mereka memakai pakaiannya. Bimo tersenyum rendah pada mereka sambil bersandar di pintu lalu melihat kuku mengkilapnya.
"Kamu gak usah menghakimi kita, Bim.... Satu bulan yang lalu kamu tinggalin Tammy di kawasan Blok M yang rawan kriminal kalau malam. Untung ada orang baik yang menolongnya. Kalau kamu cuma ingin menyakiti Tammy lebih baik lepasin dia." Dafa yang sudah berpakaian lengkap menyeret Bimo yang tampak masih santai saja. Raut mengejeknya tetap terlihat sampai mereka berada di ruang keluarga berdesain merah dan hitam itu.
Dafa sudah menampakan ketegasan sedangkan Bimo melihat sekelilingnya malas. "Hufftt... Warna desain ruang keluarga ini sampai mengikuti selera loe. Secinta itukah kalian? Dasar! Bapak sama anak bisanya main licik. Yang satu hampir buat perusahaan bangkrut yang satu lagi memakan milik saudara sendiri!"
Dafa sudah tak bisa menahan amarahnya. Mata itu melotot tajam pada Bimo berambut klimis bergaya sok rapi tapi dia lebih b******k. Tangan kekarnya mengepal erat dengan rahang mengeras.
Setelah itu terjadilah baku hantam, dan Tammy yang memakai gaun tidurnya keluar dari kamar melerai mereka dengan tangis dan memohon. Semua akhirnya harus berakhir dengan bunyi telephone dari Rachel.
.............................................................
Dafa dengan wajah biru dan bengkak di beberapa bagian datang dengan mobilnya. Dia keluar lalu menyeret kasar Rachel masuk mobilnya tanpa kata maaf dan ekspresi tak senang. "Daf, kamu datang narik tangan aku, wajah babak belur, dan gak tepat janji. Kemarin-kemarin aku bisa maafin ya, karena kamu selalu nolak di awal. Tapi tempo lalu kamu sudah janji sekarang batalin gitu aja, lalu.... "
"Akhh!" Ringisan Dafa menghentikan aksi cerewet Rachel. Mobil Dafa belum berjalan dari gedung balai Sabrini, hujan di luar sudah turun deras dan membiaskan cahaya lampu dari gedung itu.
Gadis itu berubah prihatin sambil perlahan menyentuh luka di wajah Dafa. "Akh! Sakit bodoh! Makanya jangan cerewet! Mending obatin. Terus sudah tahu nunggu lama berarti aku gak datang. Harusnya pulang aja! Bodoh amat masih nunggu!"
Justru bentakan dan cacian Dafa yang sekarang mengalir sepanjang perjalanan menuju apartemen Dafa. Gadis itu hanya diam meremas roknya menahan sesak di dadanya dia memalingkan wajah ke jendela mobil. Air hujan yang mengalir silih berganti menjadi temannya saat ini.
Bersambung.......
Paid StoriesCoba PremiumDapatkan AplikasinyaBahasaPenulis|BisnisPekerjaanPersPersyaratanPrivasiBantuan© 2020 w*****d
Bagaimana perasaanmu setelah baca bab ini?
Komentar (0)
Masuk untuk ikut komentar.
Memuat komentar...