Esok harinya, Asma bercerita kepada Alia, sahabatnya meminta pendapat. Sahabatnya itu tampak kaget karena Asma pernah bilang jika dirinya tak akan menikah sebelum usia 25 tahun.
Alia lebih terkejut lagi ketika Asma mengatakan jika yang mengajaknya menikah adalah Ehsan, dosennya. Alia tak menyangka jika dosen tampan itu hendak menikahi Asma. Alia menyuruh Asma agar membicarakannya dengan kedua orangtuanya.
Ada yang terasa mengganjal di hati Alia. Kenapa Ehsan tiba-tiba mengajak sahabatnya menikah? Mereka sebelumnya tidak dekat sama sekali.
Apa dosennya itu diam-diam jatuh hati pada sahabatnya? Asma memang memiliki paras cantik. Ketika mata kuliah Ehsan berlangsung, Asma juga cukup aktif di kelas. Mungkin itu menjadi nilai plus di mata lelaki itu.
Alia bertanya kepada Asma alasannya dosen itu mengajaknya menikah, tapi Asma hanya berkata karena Ehsan tak mau dijodohkan. Asma ingin berterus terang bahwa Ehsan mengajak menikah karena untuk saling tolong-menolong. Tapi, jika Asma berkata jujur, bahwa dia membutuhkan uang. Alia pasti akan meminjaminya. Sementara, uang yang dibutuhkan Asma lumayan banyak. Dan dia tak mungkin meminjam uang sebanyak itu.
***
Suara ketukan di pintu kamar mengejutkan Asma. Dia baru saja merebahkan diri di ranjang dan memejamkan mata setelah perjalanan pulang dari Salatiga-Kebumen. Asma bangkit, kemudian berjalan pelan menuju pintu.
Ternyata adiknya, Abisatya. Lelaki yang baru menginjak remaja itu mengajak makan malam Asma karena sudah ditunggu kedua orangtuanya.
Asma menarik kursi untuk dia duduki ketika tiba di ruang makan. Dia duduk di kursi yang berseberangan dengan Ranu—ayahnya.
"Kamu kelihatannya capek banget, Nduk." Ranu melirik Asma. Tangannya yang sudah keriput mengambil piring kosong untuk diisi nasi oleh sang istri.
"Kamu mabuk perjalanan nggak tadi, Ma?" tanya Yanti—ibunya—sembari mengambil untuk suaminya.
"Hanya capek sedikit, kok, Yah." Asma menyunggingkan senyum. "Asma nggak mabuk, Bu," ucapnya sembari menoleh ke Ratna.
"Gimana kuliahnya? Lancar, kan?" tanya Ranu. Asma tiba di rumah sekitar jam tiga sore. Ranu belum sempat mengobrol dengan putrinya. Lelaki itu membiarkan Asma untuk beristirahat terlebih dahulu.
"Alhamdulillah lancar, Yah. Nanti masuk kuliah udah masuk semester tujuh."
"Alhamdulillah. Nggak butuh lama lagi buat lulus kalau gitu. Setelah lulus, semoga langsung dapat pekerjaan. Jangan jadi pengangguran." Ratna melirik ke arah Asma. "Kalau kamu sudah bekerja, kan, bisa membantu ekonomi keluarga. Utang di bank masih banyak, Ma. Sementara hasil jualan gorengan nggak seberapa hasilnya."
"Bu!" panggil Ranu kepada istrinya, "kita sedang makan, nanti dulu ceritanya."
Ratna terdiam. Dia lebih memilih menyantap nasi karena perutnya sudah lapar.
Ranu kembali menatap Asma. "Ayo, Nduk, makan dulu!"
Asma tersenyum, kemudian mengangguk. Kalimat yang dilontarkan ibunya membuat Asma kian cemas ketika hendak menyampaikan ajakan Ehsan untuk menikah. Akhirnya, dia mengurungkan niatnya untuk berbicara malam ini.
***
Keesokan paginya setelah sarapan, Asma berniat berbicara kepada kedua orangtuanya. Meminta pendapat sekaligus restu mereka. Jika Ranu dan Ratna menyetujui, maka Asma bersedia menikah dengan Ehsan.
Asma mendekati kedua orangtuanya yang tengah berada di halaman belakang.
"Ayah, Ibu. Asma mau bicara penting."
Pasangan suami istri itu seketika menoleh ke arah Asma yang kini menunduk.
"Mau bicara apa, Nduk?" tanya Ranu lembut.
Asma menarik napas panjang. "Ada yang mengajak Asma ... menikah."
"Menikah?" sahut Ratna cepat. "Siapa yang ngajak kamu nikah, Ma? Jangan nikah dulu! Belum lulus, kok, udah nikah!" Ratna menatap lekat putrinya. Nada suara terdengar lantang. Seketika membuat nyali Asma menciut.
Berbeda dengan Ranu. Lelaki itu tampak tenang, kemudian tersenyum. "Memangnya siapa yang ngajak kamu nikah, Nduk? Paling dia hanya main-main," ucapnya terkekeh.
"Ini beneran, Yah, Bu. Asma diajak nikah sama dosen Asma di kampus."
"Dosen?" Dahi Ratna mengerut.
Asma mengangguk. "Iya, Bu."
"Kenapa kamu diajak nikah sama dosen itu?" Kali ini Ranu yang bertanya.
Asma terdiam. Dia memikirkan alasan yang tepat karena sebelumnya Asma memang belum mempersiapkan jawaban yang tepat ketika ada pertanyaan seperti ini. Asma tak mungkin mengatakan yang sejujurnya jika mereka menikah karena untuk saling menolong.
"Karena dosen Asma ingin menikah. Dan beliau ... mencintai Asma." Asma berdeham. Dia merasa geli dengan jawabannya sendiri. Alasannya memang masuk akal, tapi Asma tahu Ehsan tak mencintainya.
"Nduk, Ayah memang nggak melarang anak-anak Ayah menikah muda. Tapi, apa nggak sebaiknya menunggu kamu lulus dulu, baru setelah itu menikah? Dosen kamu boleh datang ke sini minta restu, kemudian lamaran. Tapi, nikahnya menunggu kamu lulus. Ayah nggak mau kuliah kamu terganggu." Ranu berbicara pelan, tapi tegas.
"Benar apa yang dikatakan ayahmu, Ma. Sebentar lagi, kan, kamu lulus. Jangan nikah dulu! Ibu juga pengennya setelah kamu lulus nanti, kamu bekerja dulu baru nikah."
***