Hingga malam menjang, kepala Asma masih dipenuhi penolakan kedua orang tuanya. Asma menghela napas panjang. Apa dia harus mengatakan yang sebenarnya? Asma menggeleng. Jika dia mengatakan alasan yang sebenarnya kepada Ranu dan Ratna, mereka pasti akan menolak keras Asma menikah. Asma sendiri sudah mantap menikah muda.
Asma meraih ponsel di meja yang dekat dengan ranjang. Asma hendak mengirim pesan ke Ehsan
[Assalamu'alaikum, Pak. Saya sudah berbicara kepada orangtua saya. Tapi, kedua orangtua saya belum merestui, Pak. Katanya harus menunggu saya lulus dulu.]
Pesan yang Asma kirim langsung centang dua, tapi masih abu-abu. Perempuan itu menunggu dengan gelisah pesan balasan dari Ehsan.
Tak berapa lama, ponselnya berdenting. Asma langsung meraih ponsel yang ada di pangkuan. Pesan Asma dibalas.
[Wa'alaikumussalam. Saya telfon, ya.]
Belum sempat Asma membalas, ponselnya sudah berdering.
"Assalamu'alaikum, Pak."
"Wa'alaikumussalam. Kamu sudah bicara dengan orangtua kamu?"
"Sudah, Pak, saya sudah bicara tadi pagi. Tapi, ayah dan ibu nggak setuju. Bapak harus nunggu saya lulus dulu katanya."
"Coba kamu bicara lagi ke ayah dan ibumu, Asma. Pelan-pelan bujuk mereka. Kita menikah memang untuk saling tolong menolong, tapi saya menikahi kamu itu bukan untuk main-main." Ehsan berkata pelan, tapi tegas.
Hati Asma menghangat mendengar kalimat akhir Ehsan.
"Ya, Pak. Kalau saya insya Allah sudah mantap. Saya mau menikah dengan Bapak karena saya butuh pekerjaan."
"Saya akan ke rumah kamu. Tapi, untuk sekarang, saya belum bisa. Masih sibuk. Insya Allah secepatnya, saya ingin bertemu kedua orangtua kamu, Asma."
"Ya, Pak."
"Kalau ayah dan ibu kamu belum merestui juga, saya tetap akan berusaha untuk mendapatkan restu mereka."
Kalimat yang keluar dari mulut lelaki itu membuat hati Asma makin menghangat. Tanpa sadar, bibir Asma tertarik ke samping.
Namun, sebenarnya alasan apa Ehsan begitu kukuh ingin menikahinya? Pertanyaan itu kembali menggema di kepala Asma.
"Ya, sudah kalau begitu. Selamat istirahat. Assalamu'alaikum."
"Iya, Pak. Selamat istirahat juga. Wa'alaikumusalam."
Asma menjauhkan ponsel dari telinga setelah panggilan berakhir. Senyum manis terbit di bibirnya. Bayangan Ehsan muncul di pelupuk matanya.
***
Pukul 05.15 Asma keluar kamar. Dia berjalan menuju dapur. Di sana, sudah ada Ratna yang tengah menata dagangannya di wadah berbentuk kotak.
"Bu, Asma bantuin, ya." Asma kini sudah berdiri di dekat Ratna.
Ratna langsung mengangguk sembari beranjak dari duduk. "Ini tolong tata roladenya dan bakwan, ya. Tapi, jangan dicampur. Tata yang rapi," titahnya.
Asma mengangguk. "Iya, Bu," sahut Asma. Dia duduk, kemudian mulai menata dagangan yang akan dibawa Ratna ke pasar.
Setelah Ranu keluar dari pekerjaannya karena sakit, hampir setiap hari Ratna berjualan gorengan di pasar ketika pagi hari. Terkadang juga kue basah.
Penghasilannya memang tak seberapa. Tapi, cukup untuk makan mereka sehari-hari. Asma yang kala itu mengetahui keuangan keluarga bermasalah, dia memutuskan untuk kuliah sembari bekerja.
Asma berdiri. Pekerjaan telah selesai. Dia menatap Ratna yang juga sudah bersiap hendak berangkat. Asma membawa wadah berisi gorengan ke depan rumah.
Setelah Ratna berangkat. Asma bergegas memasak dan beres-beres rumah.
Setelah Ranu keluar dari kantor, Asma dan keluarganya memang hidup pas-pasan. Berusaha untuk hidup hemat, tapi masih bisa terbilang enak dan bergizi.
Bagi Ratna, kehidupannya sempat membuatnya frustasi. Akhirnya, wanita itu banting setir berjualan di pasar. Ditambah Asma yang bekerja sembari kuliah bisa membantu perekonomian keluarga.
Rumah mereka pun terbilang bagus karena pernah direnovasi ketika Ranu masih bekerja di kantor. Di antara rumah tetangganya, rumah Ranu yang paling bagus.
***
Sudah hampir satu bulan Asma di rumah. Liburan kuliah selama dua bulan. Perempuan itu memang berinisiatif berada di rumah selama tiga puluh hari. Satu bulannya yang masih masa liburan, Asma akan gunakan untuk bekerja. Dia akan kembali ke Salatiga.
Selama di rumah, Asma tak berhenti meminta restu Ranu dan Ratna agar diijinkan menikah. Tapi, kedua orang tuanya masih memberi jawaban sama—harus menunggu Asma lulus kuliah terlebih dahulu.
"Asma ...." Ranu memanggil putrinya yang sedang membaca buku di ruang tamu.
"Dalem, Yah." Asma mendongak, menatap Ranu yang berdiri tak jauh darinya.
"Bikinin Ayah teh hangat tanpa gula, ya. Nanti bawa ke samping rumah. Ayah pengen duduk di sana.".
Asma langsung beranjak, kemudian langsung melangkah menuju dapur. Setelah lima menit, Asma membawa nampan berisi satu cangkir teh hangat tanpa gula dan satu lagi cokelat hangat untuk dirinya.
Asma berjalan ke samping rumah. Di sana Ranu duduk sembari menikmati semilir angin.
"Ini, Yah, tehnya." Asma meletakkan cangkir berisi cairan berwarna cokelat itu. Dia juga meletakkan cokelat hangatnya di meja.
Ranu mengucapkan terima kasih. Dia memandang putrinya yang kini sudah duduk di kursi sampingnya. Asma memang sudah bukan anak kecil lagi. Dia sudah dewasa.
"Asma ... Ayah merestui kalau kamu memang ingin menikah dengan dosen kamu."