Asma yang baru saja akan menyesap cokelat hangat, urung. Sontak, dia menatap Ranu. Matanya mengerjap beberapa kali, memastikan telinganya tak salah mendengar. Matanya berbinar. "Ayah nggak becanda, kan?" tanya Asma serupa gumaman.
Ranu tersenyum, menggeleng. "Dosen kamu suruh ke sini. Kalau memang serius, datanglah ke rumah. Ayah tunggu kedatangan dia."
"Ayah ... terima kasih.." Asma beranjak, lalu memeluk lelaki paruh baya itu.
Ranu membalas pelukan putrinya. Bukan tanpa alasan Ranu menyetujui permintaan Asma yang ingin menikah. Lelaki paruh baya itu mempunyai perasaan jika dosen Asma adalah lelaki yang baik.
"Tapi, ibu juga setuju, kan, Yah?" Asma melepas pelukannya.
"Udah, nggak usah pikirkan ibu kamu. Nanti Ayah yang akan bujuk. Ibu kamu memang keras kepala, tapi kalau dibujuk pelan-pelan, nanti luluh juga, kok." Ranu terkekeh pelan.
Asma mendekap Ranu untuk kedua kalinya. Hatinya mengembang bahagia juga penuh bersyukur.
"Ayah pengen ngobrol langsung dengan dosen kamu lewat telepon. Boleh, kan, nanti malam?"
"Boleh, Yah. Nanti Asma bilang ke dosen Asma." Asma menjawab dengan antusias. Ah, dia jadi taksabar ingin menghubungi Ehsan memberi tahu kabar gembira ini, tapi sekarang Ehsan pasti masih sibuk.
"Nama dosen kamu siapa? Ayah sampai lupa dari kemarin nggak bertanya." Ranu meletakkan cangkirnya setelah menyesap minumannya.
"Ehsan Khairan, Yah."
Ranu mengangguk-anggukan kepalanya.
Detik berikutnya, Ranu masih bertanya-tanya tentang calon menantunya itu. Asma menjawab semampunya. Bahkan, pertanyaan yang dilontarkan Ranu, ada yang Asma jawab dengan asal, tapi masih masuk akal karena Asma memang tidak banyak tahu mengenai Ehsan.
Setelah menghabiskan satu cangkir teh dan Ranu puas bertanya-tanya tentang Ehsan, lelaki paruh baya itu masuk rumah. Meninggalkan Asma seorang diri.
Asma merogoh ponsel yang berada di saku roknya. Dia segera mengirim pesan ke Ehsan karena sudah siang sudah masuk jam istirahat.
[Assalamu'alaikum, Pak. Ayah saya sudah merestui. Nanti malam, ayah ingin bicara sama Bapak. Nanti malam saya telfon. Bisa, kan, Pak?]
Pesan yang dikirim Asma centang dua berwarna abu-abu. Asma menanti balasan dari Ehsan. Dia sudah tak sabar bagaimana reaksi lelaki itu. Sebentar. Kenapa Asma begitu bahagia? Apa dia berharap pernikahan ini adalah pernikahan serupa dua orang yang saling jatuh cinta? Asma menggelengkan kepala berulang kali.
"Ingat, Asma. Ingat! Pernikahan ini karena saling tolong menolong!" Asma bermonolog.
Asma berkali-kali melirik ponsel yang tergeletak di meja. Hampir sepuluh menit berlalu, layar ponselnya masih menghitam. Asma mendengkus pelan.
Kini, ponsel Asma beedenting. Pesan dari Ehsan. Lelaki membalas pesan Asma dengan kalimat bahagia tentunya.
***
Asma menyimak obrolan Ranu dengan Ehsan sembari mengiris wortel dan kubis untuk dijadikan bakwan besok. Ratna yang berada di hadapannya juga menyimak obrolan suaminya.
Asma tak bisa melihat wajah Ranu karena lelaki paruh baya itu membelakanginya. Ranu berdiri di dekat jendela. Asma melirik Ratna yang tengah mengiris daun singkong yang sudah direbus untuk dijadikan rolade.
Asma tahu, Ratna belum merestui jika Asma menikah. Tadi sore, ketika Ranu berbincang dengan istrinya berkata bahwa lelaki itu setuju Asma menikah dengan dosennya. Raut wajah Ratna langsung berubah masam.
"Sudah, Asma." Asma sedikit berjengit karena Ranu menyodorkan ponsel ke arahnya. Asma langsung menerimanya, lalu meletakkannya di meja.
"Gimana, Yah?" Ratna bersuara ketika suaminya duduk di sofa.
"Gimana apanya, Bu?" Ranu balik bertanya.
"Tadi Ayah ngobrolnya serius banget. Sampai pindah tempat di dekat jendela."
"Ya, harus serius, Bu. Ini, kan, obrolan mengarah ke hal yang serius. Ini menyangkut masa depan Asma." Ranu tersenyum hangat. Tatapannya kemudian berpaling kepada putri sulungnya yang juga tengah tersenyum.
"Ibu sebenernya kurang setuju kalau Asma menikah. Apa dosen itu nggak mau bersabar menunggu Asma lulus? Masih kuliah, kok, diajak nikah!" ucap Ratna dengan nada kesal.
"Bu, sudahlah. Mungkin ini memang jalan hidup Asma. Jodohnya ternyata datang lebih cepat." Ranu berusaha menasihati istrinya. "Kata Nak Ehsan, besok Sabtu dia mau datang sama keluarganya. Dia mau langsung melamar Asma."
Asma sedikit tercengang. Secepat itukah? Tapi, lebih cepat bukannya lebih baik? Bukankah dia membutuhkan pekerjaan dan uang untuk membantu perekonomian keluarga?
Ratna terdiam. Hatinya bertambah dongkol. Ratna sempat melirik ke putrinya yang tampak bahagia.
Asma juga memberi kabar jika dia menerima lamaran Ehsan kepada Alia setelah mendapatkan restu. Sahabatnya terkejut sekaligus bahagia.
***
Asma duduk di tepi ranjang dengan gelisah. Dia menggigit bibir. Berkali-kali dia mengusap tangannya yang berkeringat dingin. Hari ini Asma akan lamaran.
Asma melirik jam tangan. Pukul 09.00. Lima menit yang lalu, Ehsan mengabari bahwa dia sudah sampai di daerah yang tak jauh dari rumah Asma. Artinya sebentar lagi lelaki itu akan segera tiba.
Asma bangkit. Dia berjalan ke arah cermin. Asma menatap tubuhnya yang terbalut dengan gamis brokat berwarna cokelat muda. Beberapa hari yang lalu, dia bertanya ke Ehsan apakah akan memakai pakaian dengan warna senada atau tidak. Ehsan langsung mengiakan. Biar serasi, katanya.
Asma berjalan menuju jendela. Dia melongok ketika mendengar suara mobil.Ternyata itu mobil Ehsan. Seketika mata Asma melebar. Tiba-tiba saja jantungnya berdetak lebih cepat. Serasa organ di dalam d**a itu ingin melompat keluar karena detakannya sudah tak terkendali.
Asma melihat Ehsan keluar dari mobil. Dia memakai celana hitam dan kemeja berwarna yang senada dengan gamis yang dipakai Asma. Disusul lelaki paruh baya dan wanita paruh baya keluar dari mobil yang sama dengan Ehsan. Lelaki hanya datang membawa kedua orang tuanya.
Asma menghela napas panjang sembari memejam. Dia berusaha menetralkan debaran dadanya yang semakin berdentum keras.
Asma membuka mata ketika pintu kamarnya diketuk. Dia bergegas menuju pintu.
"Ayo keluar! Mereka sudah datang, Ma," ucap Ratna setelah pintu kamar Asma terbuka separuh. Ratna sudah sedikit luluh hatinya setelah berkali-kali Ranu memberi pengertian bahwa Asma menikah ketika masih kuliah tak apa-apa asal kuliahnya tetap diselesaikan.
Asma mengangguk. "Iya, Bu."
Asma berjalan sembari menggandeng tangan ibunya. Sepanjang jalan menuju ruang tamu Asma menunduk.
Ketika sudah sampai di ruang tamu, dia mendongak. Tatapannya langsung bertemu dengan mata Ehsan.
Potongan rambut Ehsan yang baru membuatnya tampak lebih tampan dan lebih muda. Asma seketika tersadar. Asma segera menunduk kembali.
Tidak berbeda dengan Ehsan. Dia tampak terpana dengan penampilan Asma yang tampak menawan. Asma bertambah cantik dengan gamis brokat yang membalut tubuhnya. Wajah Asma yang sedikit dipoles make up membuat kecantikannya meningkat.
Acara lamaran telah usai lima belas menit yang lali. Asma merebahkan diri di ranjang setelah sebelumnya sudah berganti pakaian. Dia mengangkat tangan kiri. Di jari manisnya, tersemat cincin yang tadi dipasang oleh mamahnya Ehsan, Ita.
Pernikahan diadakan satu bulan lagi. Sengaja dipercepat karena setelah itu Asma sudah masuk kuliah. Sebenarnya, kedua orang tua Ehsan menginginkan agar pernikahan dipercepat dua minggu lagi. Ita sudah tak sabar ingin melihat putranya di pelaminan, tapi Ehsan menolak.
Sementara Ranu, mau dipercepat atau diperlambat tak masalah. Ratna malah memberi usul agar diperlambat saja. Seketika Ehsan langsung menolak secara halus.
"Maaf, Bu. Jangan terlalu lama. Bukankah niat baik memang harus disegerakan?" Ehsan tersenyum. Menyampaikan keinginannya secara sopan dan kehati-hatian.
Memang benar Ehsan menikahi Asma karena saling tolong menolong. Akan tetapi, Ehsan tidak bermain-main perihal pernikahan. Dia sudah mantap menikahi Asma.
Mau tak mau Ratna pun pasrah. Wanita paruh baya itu akhirnya setuju. Hati Ratna yang semula dongkol, berubah senang ketika Ehsan mengatakan jika semua biaya pernikahan dia yang menanggung.
Ratna mengembuskan napas lega. Wanita itu bersyukur. Sementara Ranu, awalnya menolak. Ranu tetap ingin mengeluarkan biaya karena bagaimanapun juga dia masih bertanggung jawab terhadap Asma. Akan tetapi, Ehsan membujuk agar semua ditanggung olehnya. Akhirnya, Ranu pun mengangguk setuju meski dengan berat hati.
***
Asma sudah kembali ke Salatiga. Dia tiba di indekos lima belas menit yang lalu. Perempuan itu sengaja kembali ke Salatiga karena hendak mengundurkan diri dari cafe—tempat kerjanya.
Asma meraih ponsel yang berada di saku baju karena benda pipih itu berdenting. Pesan dari Ehsan.
[Sudah sampai Salatiga?]
Asma tersenyum membaca pesan dari lelaki itu. Akhir-akhir ini, Ehsan kerap mengirim pesan meski hanya bertanya hal sederhana, tapi sukses membuat hati Asma menghangat.
Asma langsung mengetik balasan.
[Sudah, Pak. Lima belas menit yang lalu.]
Pesan Asma centang biru. Asma menunggu balasan dari Ehsan, tapi lelaki itu tak kunjung membalas.
Asma mendesah kecewa. Seharusnya dia sadar. Ehsan bertanya seperti itu bukan berarti memberi perhatian. Mungkin hanya sekedar bertanya. Memang apa yang Asma harapkan dari Ehsan?
Asma seketika teringat kedatangannya ke Salatiga. Selain ingin mengundurkan diri dari tempat kerjanya. Asma juga ingin berbicara kepada Ehsan perihal pernikahan mereka. Ada hal penting yang hendak Asma sampaikan. Sejak kemarin mengusik hatinya.
Dia langsung mengirim pesan kepada lelaki itu.
[Pak, besok bisa ketemu? Ada hal penting yang harus saya dibicarakan. Ini soal pernikahan kita.]
Tanpa menunggu lama, pesan Asma sudah terbalas.
[Bisa. Jam berapa?]
[Habis Dzuhur, Pak. Bapak bisa?]
[Bisa.]