(POV Hilya)
Sepuluh tahun yang lalu ....
Berada di sebuah sekolah bertulis SMP Negeri 2, tempat pendidikan yang saat ini kusinggahi. Sebenarnya bersekolah di sini nyaman, meski adakalanya kuharus jujur, ini adalah sekolah pilihan keduaku. Lebih tepatnya ketika aku tak lolos di sekolah pilihan pertama.
Ya, bersekolah di sini karena rekomendasi orangtua. Lebih tepatnya karena ayah yang memilihkan. Namun bukan berarti kuberada di sini, aku tak dapat merasakan kenyamanan yang mendekap. Buktinya aku masih bertahan, dan dengan senang hati kumenyambut baik keadaan lingkungan sekolah.
Aku memang seorang gadis pendiam, pemalu, dan terbiasa bercakap singkat bersama siapa pun. Karena bagiku, kesendirian adalah perihal menyamankan.
Namun setelah bertemu seorang teman yang sebenarnya bersahabat baik denganku sejak kecil, siapa sangka bahwa aku akan berada di lingkungan yang sama kembali setelah ia berada di satu komplek yang sama denganku.
Ia adalah Rissa. Seorang gadis berperawakan tomboy, yang seringkali bersikap bijaksana. Karena selain perihal tomboy yang melekat pada diri Rissa, gadis itu ternyata memiliki sifat lebih dewasa dariku. Bahkan mendengarkan ungkapannya, membuatku nyaman berteman dengannya.
"Hilya, kata Bu Eren, kamu boleh mulai nagih setoran uang kas ke anak-anak kelas. Barusan Bu Eren ketemu aku di depan kantor guru, dia nitip pesan begitu," ucap Rissa sembari mendaratkan duduknya di sebelahku. Ya, kami pun sebangku di kelas yang sama.
Sayangnya mendengar kalimat Rissa, membuat rasa malasku kambuh. Mengapa harus aku yang dijadikan sebagai bendahara kelas? Padahal aku sangat anti berhubungan masalah keuangan. Bu Eren sebagai wali kelasku yang menunjukku. Mau tidak mau, aku harus menuruti keputusan beliau.
"Ok, nanti aku tagih ke anak-anak," jawabku tidak selera.
"Santai, Ya, nanti aku temenin nagihnya. Aku paham kalau kamu juga pasti malas berurusan dengan keuangan. Apalagi, soal nagih ke anak-anak. Iya kalau mereka mau bayar, kalau gak, gimana? Kamu sendiri yang kewalahan. Jangan takut, Ya."
Ungkapan Rissa berhasil melegakan hatiku. Rissa benar, bukan hanya masalah keuangan, namun menagih ke anak-anak kelas pasti susah. Apalagi aku yang notabenenya pemalu. Belum berani rasanya bila harus berhadapan dengan anak-anak laki-laki yang biasanya tak mau bayar uang kas.
"Ya, ke kantin, yuk? Lapar, nih... mumpung jam istirahat masih ada."
Kali ini Rissa memintaku menemaninya ke kantin. Salah satu tempat yang tak kusuka. Biasanya murid lainnya pasti sangat menyukai kantin. Karena mereka bisa beli-beli makan dan minum waktu jam istirahat. Sayangnya, aku lebih suka berada di kelas daripada harus pergi ke kantin. Karena memang aku kurang menyukai keramaian. Datang ke kantin, pasti ramai sekali, pikirku.
"Hilya!" Rissa menyebutku yang masih enggan menjawab permintaannya.
Akhirnya setelah Rissa memaksa, aku pun menuruti kemauannya. Mengikutinya ke kantin tanpa berniat beli-beli juga. Padahal Rissa menawarkanku beli makan. Sekadar gorengan, camilan ringan, atau pun makanan berat, dan minuman. Aku tak berminat. Biasanya sebelum berangkat sekolah, ibu sudah menyiapkan bekal makan dan minum untukku, karena aku yang meminta tanpa berniat beli-beli di kantin sekolah.
Tapi sayangnya, kenyataannya keberadaanku bukan hanya menemani Rissa di kantin. Karena suasana kantin tak begitu ramai, Rissa pun bersikeras menawarkan agar aku mau beli-beli juga. Tanpa mau berdebat, aku pun menuruti dengan hanya beli segelas air putih dingin. Setelah membayarnya, aku dan Rissa menarik langkah meninggalkan kantin dan berniat kembali ke ruangan kelas.
"Rissa, kebiasaan! Selalu aja nawarin aku beli-beli. Padahal aku gak niat," gerutuku kesal. Tanganku masih menggenggam air gelas mineral sambil berjalan bersisian bersama Rissa.
"Gunanya kamu datang ke kantin, bukan cuma nemenin aku. Tapi kamu wajib beli-beli juga. Santai aja kali, kalaupun malas ngantri, ada aku yang ngambil pesananmu. Untung aja tadi nggak terlalu ramai, kan?"
"Iya, sih."
"Oh iya, Ya, kamu udah ngerjain PR bahasa Inggris, kan?"
"Udahlah, kenapa? Mau nyontek lagi?"
Mendengarkan pertanyaan Rissa, aku pasti tahu akan kemana tujuannya. Pasti sahabatku itu berniat meminta contekan. Memang kebiasaan, Rissa selalu meminta contekan ataupun belajar bahasa Inggris padaku. Karena yang kutahu, Rissa sangat tak menyukai pelajaran itu. Dan yang kuingat, Rissa malah menyukai dunia komputer.
"Nggak, kok. Santai aja kali. Eh, gimana kalau kita buat permainan?"
"Permainan? Udah SMP, kok, malah mau main-main sih, Ris."
"Permainannya gampang, kok. Cukup siapa yang sampai duluan ke kelas dengan cepat, berarti dia harus dapat hadiah dari yang kalah sampai."
"Hadiahnya, apa?" Langkahku ikut terhenti mengikuti Rissa.
"Kalau yang menang aku, ya aku bakal minta hadiah dari kamu. Terserah, aku mintanya apa, kamu wajib menuruti. Begitu juga sebaliknya. Gimana?"
"Ok, boleh." Tanpa protes aku pun menyanggupi permintaan aturan main yang Rissa buat.
Siapa tahu kalau aku yang menang, Rissa wajib mengajariku tugas teknologi informasi dan komunikasi, pikirku.
Sekian detik kami bergeming tanpa kata, tiba-tiba Rissa mengambil langkahnya berlari mendahuluiku. "Loh, Rissa! Curang, nih! Tunggu!" Begitu aku terus berteriak memanggil Rissa. Padahal Rissa mengabaikan panggilanku, ia tetap terus berjalan jauh dariku. Berusaha menjadi pemenang di dalam permainan yang dibuatnya.
Rissa sudah jauh dari pandanganku. Aku lekas menghentikan langkah, saat menatap Rissa yang berhasil masuk ke ruang kelas. Ck! Lagi-lagi aku harus kalah darinya. Napasku tersengal akibat mengejar Rissa yang berlari terlalu cepat. Sudah tahu aku paling lemah berlari jauh, Rissa sengaja mengajakku main lari-larian.
"Tahu gitu, nggak aku temenin ke kantin!" Masih saja kumenggerutu sebal sembari mengentakkan suara kaki hingga ketiga kali.
Pasti nanti minta contekan tugas bahasa Inggris! Suara hatiku berkata.
Setelah kumenghela napas sebentar. Mencoba meredamkan rasa kesalku lagi. Rissa sudah terbiasa bersikap seperti itu. Bukan berarti kami akan bertengkar setelahnya. Aku bukan tipe perempuan yang suka mengajak berdebat panjang lebar. Kalau marah, biasanya nyaris kubersikap cuek. Tapi keadaannya pasti sebentar. Karena setelahnya, aku pasti kembali bersikap biasa saja.
"Ayo cepat! Hampir tutup kantinnya, nanti keburu nggak bisa beli-beli," ujar salah seorang anak laki-laki yang berseragam sama denganku.
Lelaki itu mengajak teman laki-lakinya juga. Mereka berdua. Secara spontan aku menoleh ke arah mereka. Padahal arah kelas sudah lumayan dekat. Sedangkan aku masih berdiri sendiri di depan toilet yang berjarak dekat dengan gedung perpustakaan. Mereka berdua berjalan melewati perpustakaan dengan santainya sambil mengobrol bersama.
Beberapa detik tak sengaja kumenengok, aku pun mengalihkan pandangan. Namun tak begitu lama kualihkan pandangan, mataku bergerak ingin menengok ke arah gedung perpustakaan kembali. Sayangnya saat kedua mataku melirik ke asal gedung perpustakaan lagi, pandanganku terkunci ketika salah satu lelaki di antara mereka memergoki tatapanku.
Padahal aku tak berniat menatap mereka. Rasanya aku hanya ingin memalingkan rasa kesalku. Hingga menatap ke sekeliling sudut sekolah, termasuk di depan gedung perpustakaan. Kedua laki-laki itu tetap berjalan dengan santai, tanpa saling bertukar kata kembali. Seolah-olah lelaki yang ikut memandangku itu nyaris tak mengalihkan tatapannya sedikitpun. Posisinya masih bertahan seakan-akan jalannya ingin mendekatiku.
Ini kali pertamanya aku tak bisa mengatur posisiku. Mengetahui tatapannya pun seakan berhasil mengunci tubuhku. Entah mengapa aku tak bisa menarik langkah ketika sorot matanya masih bertahan menatapku. Langkahnya pun sengaja ia pelankan, sembari senyumannya membalas menatapku.
Sontak aku pun berani memutuskan kontak mata bersamanya. Seraya mencoba mengatur irama jantung yang berdetak cepat tak seperti biasanya. Aku tak mengerti apa yang sedang terjadi. Dalam keadaan begini bisa-bisanya jantungku bergetar hebat. Namun aku seolah tak mau memedulikan nada denyut jantungku. Tanpa mau bertahan di sana, cepat-cepat kumenarik langkah.
Meninggalkan si pemilik kedua bola mata yang terus bertahan menatapku. Senyumnya pun seakan berhasil menghipnotis tubuhku. Untung saja aku masih bisa menyadarkan diri, agar aku lekas meninggalkannya. Biar saja, meski ia tetap menatapku. Lalu, aku harus bagaimana? Mengapa juga sejak kali pertama mata kami bertemu, darahku seolah berdesir deras. Menyisakan perasaan yang membuat diriku enggan mengerti.
Oh, hati ... mengapa hanya sekali saja kumenemukan pandangannya, jantungku seolah-olah berirama?
Lekas kusinggahkan diriku di samping Rissa. Duduk satu bangku bersamanya. Tanpa berniat berkata apa-apa. Bukan karena aku masih kesal pada sahabatku itu. Tapi pikiranku masih terlintas tentang laki-laki yang berani menatapku. Kupikir dia kakak kelas. Karena di seangkatanku, aku tak pernah menemukannya.
"Cie... baru tatap-tatapan sama cowok aja, udah deg-degkan banget, Ya?" ujar Rissa yang sengaja menggodaku.
Aku mulai meliriknya, "Kata siapa yang lagi tatap-tatapan? Sok tahu, kamu!"
"Di ruangan kelas ada jendela loh, Ya. Jangan pikir aku nggak bakal ngelihat tingkahmu dari tadi."
Jadi benar, Rissa menangkap tingkahku dan mengetahui sedang apa aku di sana. Duh, jadi malu, kan!
"Hei, awas jatuh cinta, loh. Rasa suka bisa saja terjadi. Kalau nggak mau jatuh cinta, ya nggak usah dipikirkan."
"Tahu apa kamu tentang cinta, Ris?"
"Hmm... kamu tahu tingkah cowok yang lagi naksir sama cewek?"
Aku hanya menggelengkan kepala menandakan tidak tahu apa-apa. "Ciri-ciri cowok yang lagi naksir cewek tuh, pertama, cowok itu seringkali curi pandang sama cewek yang ditaksirnya. Kedua, kalau kamu ngelihat cowok itu tiba-tiba senyum nggak jelas waktu ngelihat kamu, artinya dia memang naksir kamu. Apalagi, coba kamu jalan di depannya, dia bakal salah tingkah nggak? Sok-sok-an mengalihkan pandangan ngobrol sama temannya, padahal dia diam-diam merhatiin kamu. Artinya, dia benar suka kamu."
"Ngawur, deh. Tahu darimana ciri-ciri yang kamu sebutkan itu, aku bakalan tahu dia naksir aku? Ada fakta?"
"Praktekin aja sendiri. Atau kamu bisa sembunyi-sembunyi perhatiin dia. Kalau memang dia masih tetap curi pandang ke kamu, ya berarti dia naksir kamu. Ya, jangan rada nggak peka gitu, deh. Lagian aku lihat cowok itu oke juga. Dia ganteng, dan kelihatannya dia baik, dan dia Kakak kelas kita. Masa sih, kamu nggak mau?"
Aku masih enggan menjawab. Karena kurasa percuma jika kuharus membalas perkataan Rissa. Aku saja sama sekali tak bisa mendefinisikan tentang perasaan. Bagaimana aku tahu jika laki-laki yang menatapku itu menyukaiku?
"Ya, boleh aja bingung nggak bisa jawab. Yang jelas, kamu udah ngerasain jatuh hati di pandangan pertama seperti apa. Ya-meskipun aku belum tahu jelas isi hatimu kayak gimana. Semua yang kejadian yang kamu lewati itu, memang benar nggak sengaja. Tapi Tuhan sengaja mempertemukan kalian saat ini."
Lagi-lagi kuenggan menjawab, hanya menyimak perkataan Rissa yang sedari tadi seolah-olah mengerti tentang perasaanku. Kali ini pikiranku masih bertanya-tanya, ada apa dengan hatiku? Itu baru saja pandangan pertama yang menurutku tak sengaja. Bukan salahku juga, tapi mengapa laki-laki itu tiba-tiba memerhatikanku dengan senyum malunya?
Jatuh hati di pandangan pertama? Nggak mungkin harus secepat ini, kan?
Bersambung