(PoV Aga)
Hentakanku terhenti saat mata ini menangkap seseorang yang pernah kukenal. Dia adalah seorang gadis yang kini telah berjilbab dengan balutan pakaian gamis dan khimar panjangnya. Dia adalah seorang gadis yang telah lama bertengger di hatiku. Aku pun tak tahu, mengapa aku tak bisa menghapus dia dari pikiran dan hatiku. Bahkan sampai umurku menginjak dua puluh lima tahun pun aku masih merasakan perasaan yang sama. Rasa jatuh hati yang kutak tahu, apakah ia mengetahui isi hatiku.
Tuhan ... kurasa aku harus bersyukur padamu. Engkau telah mengabulkan doa-doa yang selalu kupinta di setiap salatku. Tak kusangka, dia hadir kembali. Begitu pun degupan jantungku terasa hangat dan nyaman. Persis saat aku pertama kali jatuh hati padanya. Asal tahu, gadis itulah cinta pertamaku dan kuharap dia bisa menjadi cinta terakhir untukku.
Aku masih mematung, tepatnya masih nyaman menatapnya dari jauh. Dari tempatku berdiri, di sini dan di seberang kanan jalan di salah satu stand wisata kuliner yang diadakan di alun-alun kota. Kebetulan aku sempat membantu bisnis saudaraku yang berjualan di wisata kuliner yang seringkali diadakan setiap tahun.
Gadis itu biasa disapa Hilya. Memoriku masih mengingat namanya dan bahkan tentangnya yang pernah kutahu. Benar-benar tak kuduga, saat ini Hilya semakin cantik. Dia berubah, bukan lagi seorang gadis yang pernah kutemui tanpa balutan jilbab.
Sekarang Hilya mengenakan jilbab dan itu pun secara syar'i. Tampaknya dia sedang menghadiri ke salah satu stand dan membeli makanan di sana. Kulihat, ia tidak sendirian, namun ada salah seorang teman yang menemaninya. Temannya juga mengenakan kerudung, tapi tidak mengenakan jilbab syar'i seperti Hilya.
"Istighfar, Ga. Mata itu dijaga. Jangan gunakan untuk hal bermaksiat," ujar Paman yang tiba-tiba mengejutkanku dari belakang.
Spontan aku menoleh dan lagi-lagi membantu menyiapkan kemasan makanan siap saji milik paman dan bibiku. "Bermaksiat gimana, Paman? Aga nggak ngapa-ngapain, kok. Punya pasangan aja nggak, mau gimana maksiat."
"Buktinya ya itu ..." Paman menunjukkan jarinya ke arah gadis berjilbab merah jambu bersama salah seorang temannya. Siapa lagi kalau bukan Hilya. Gadis yang masih kukagumi sampai sekarang. "kamu sengaja menatapnya. Itu berarti kamu udah bermaksiat, Ga. Pandangan itu digunakan dengan hal yang baik, bukan untuk memandang perempuan yang bukan menjadi mahrommu." Lanjut Paman.
Aku menundukkan pandangan tanpa menyorotkan pandanganku pada Hilya lagi. Padahal sudah lama aku tidak menatapnya kembali semenjak aku telah dinyatakan lulus sekolah tingkat pertama-yang juga satu sekolah dengannya. Ya, di sanalah aku pertama kali mengenal dan menemukan Hilya. Sudah lama kami terpisah dengan jarak.
"Memangnya salah ya, Paman? Kalau misalnya Aga jatuh cinta sama cewek yang udah lama Aga suka?"
Paman menggeleng, "Itu tandanya wajar, Ga. Kamu nggak salah. Jadi, kamu suka sama gadis berjilbab itu?"
Kali ini Paman melontar tanya padaku. Aku pun hanya menjawabnya sambil mengangguk santai. "Sejak kapan? Berarti udah kenal, dong?" kata Paman melempar tanya lagi.
"Sejak SMP, Paman. Namanya Hilya. Dia dulunya Adik kelasku."
"Berarti udah sekitar 10 tahun kamu bertahan menyukainya. Terus, kalau kamu masih mengaguminya sampai sekarang, kenapa kamu nggak berusaha menghalalkannya?"
Kedua bola mataku sengaja mengerjap-ngerjap seolah tak percaya mendengar ungkapan Paman. "Maksud Paman-menikahinya?" Aku kembali berucap.
"Iya, kenapa? Aga belum siap?"
Aku pun menggeleng sebentar. "Tapi, Aga masih belum punya pekerjaan tetap. Terus terang, Aga memang menyukainya. Bahkan sampai memilih bertahan sepuluh tahun. Aga paham, kalau Aga udah berusaha berhijrah menuju kebaikan. Tapi-yang Aga pikirkan, kalau Aga nekat mengajak menikah, sedangkan Aga masih tidak punya apa-apa, Aga malu, Paman. Aga mau Hilya bahagia, Hilya mendapatkan laki-laki baik dan yang mapan."
"Kamu sebenarnya cinta nggak, sih, sama dia, Ga? Orang yang udah bertahan mengagumi selama itu, tandanya dia bukan hanya sekadar naksir doang, tapi bahkan melebihi itu. Punya apa-apa belum tentu menjamin hidup akan bahagia. Itu bukan suatu ukuran bagi manusia, kamu mau melamar Hilya sekarang pun, silakan. Jangan memikirkan sampai kamu malu karena tidak punya apa-apa. Ingat, Ga, perempuan baik itu tidak akan melihat laki-laki dari segi harta. Kalau dia baik, dia akan melihatmu dari segi akhlakmu."
"Tapi, Paman ..." Aku berusaha memberikan ungkapan, namun berhasil kucegah saat raut wajah Paman memandangku dengan fokus.
"Nekat sama berani beda tipis, Ga. Tunjukkan kalau kamu itu adalah laki-laki yang berani, bukan hanya nekat. Kalau kamu berani, berarti kamu siap berani bertanggung jawab. Ga, percaya sama Paman, dia juga menyukaimu." Paman kembali berucap seolah-olah meyakinkanku sebagai keponakan kesayangannya.
Pelan-pelan Aku mengangguk dengan mengulas senyum tipis. Aku mencoba mempercayai ungkapan Paman. Memang kalau dicerna lagi, ungkapan Paman ada benarnya. Kalau sampai detik ini aku tidak berani berjuang, maka untuk apa selama ini aku berani bertahan menyukainya.
Kulihat Hilya dan temannya sudah mulai menarik langkahnya lagi meninggalkan stand yang sedari tadi mereka singgahi. Diam-diam mataku menatapnya lagi dan melanggar ungkapan paman yang baru saja mengingatkanku tentang maksiat mata. Atau lebih tepatnya zina mata yang sering kutahu istilahnya.
Paman kembali sibuk melayani pelanggan-pelanggannya lagi bersama Bibi. Kali ini tanpa berpamitan, aku pun langsung melesat pergi dan berniat mengikuti kemana Hilya melangkah saat menyusuri jajaran wisata kuliner.
Disaat beberapa menit aku mengikuti dari belakang Hilya dan temannya, aku pun ikut terhenti saat Hilya menghentikan langkahnya. Dan saat itu pun temannya bagai membisikkan sesuatu padanya. Alhasil aku pun mati kutu, saat gadis yang kukagumi itu menolehkan wajahnya padaku. Bersama dengan temannya juga, Hilya kali ini memutar tubuhnya melihatku.
Kali ini mata kita bertemu, Hilya mendadak memaku bagai patung yang sedang kaget usai mengetahuiku mengikutinya. Memang sebenarnya, aku dan Hilya saling mengenal semenjak kami satu sekolah. Namun, bukan berarti kami saling berteman. Faktanya, aku dan Hilya hanya sama-sama mengetahui nama dan mengetahui perasaan.
Hilya berhasil memutuskan kontak matanya padaku. Namun aku masih bersikeras menatapnya dengan teduh, sedekat ini saat aku berhadapan dengannya, sungguh ini adalah kali pertama aku bisa mendekatinya. Rasanya lebih nyaman saat aku pernah seringkali menatapnya dari jauh.
"A-apa kabar, Dek?" Aku melontar tanya. Sebenarnya pertanyaan itu hampir saja tak berani kuungkap, meski hanya melontar satu kalimat.
Aku gugup, iya, persis seperti ABG yang merasakan pertama kalinya jatuh cinta. Selama ini aku hanya menyukai Hilya dan aku pun belum pernah menyukai perempuan selainnya. Bahkan yang namanya pacaran, aku belum pernah merasakan itu. Yang kuingat, hatiku berhasil jatuh pada Hilya.
"Alhamdulillah, baik, Kak," ujarnya dengan nada pelan dan rendah.
Hilya masih menunduk dan tak berani beradu pandang denganku lagi. Ya, aku paham, perempuan seperti Hilya tak lagi biasa bertegur sapa bersama laki-laki yang bukan mahram.
Meski kupernah tahu, Hilya dulunya beranggapan biasa saja jika ia biasa berteman dan bertemu dengan lawan jenis. Namun aku mengerti, saat ini Hilya tampaknya telah berhijrah.
Perlahan aku menghirup udara yang bertiup dinginnya angin ke arahku. Kumencoba mengatur napas sejenak sebelum aku menyatakan kalimat ini untuk Hilya. Aku yakin, saat aku mengingat perkataan Paman.
Bismillah.., batinku.
"Ya, aku ... boleh ngomong sebentar?"
"Tapi ..." Pandanganku seolah memberi tanda dan sejenak melirik ke arah seorang teman yang bersama Hilya saat ini. Seolah-olah aku ragu ingin memulai perkataan karena keberadaan temannya.
Sabar, Ga, batinku.
"Rissa di sini aja, ya, Kak? Maaf, aku nggak bisa ngomong berdua dengan laki-laki." Hilya akhirnya mengungkap kalimat yang menjadi permintaan khususnya.
Sementara aku, berada di hadapannya saja sangat menyulitkan keberanianku untuk berbicara jujur. Aku pun mengerti, maksud permintaannya. Karena yang kupaham, Hilya memang benar-benar berubah. Dan jika aku boleh jujur, aku sangat menyukai akhlak baiknya saat ini.
Lantas aku pun mengangguk. Pertanda memahami keinginannya. "Aku ingin memastikan, Ya," ucapku kembali.
Melontar kata yang sebenarnya sudah lama terpendam baik. Sayangnya kini baru saja kumemberanikan diri untuk menghampirinya. Entah ia akan menjawab apa tentang perasaanku. Atau malah ia akan menolakku nanti. Rasanya enggan mempedulikan semua perkiraan itu. Namun yang kuingat hanya perkataan paman. Beliau saja berlontar bahwa aku harus mampu menyatakan niat.
Semestinya kau paham, akan perasaanku yang terpendam baik selama ini. Semestinya kau mengerti, bahwa kejelasan pun masih selalu kucari. Karena perihal hatiku saja tak terhenti menandakan banyak pertanyaan tentang kita. Aku pun enggan membiarkan ini tergantung kembali, batinku kembali bergumam.
"Memastikan ..."
"Memastikan perasaan."
Sengaja kupotong perkataan gadis berjilbab kesayanganku itu. Aku hanya tak mau bila keberanianku sirna seketika. Justru karena baru kali pertama kumenemukannya kembali, maka aku harus memastikan perasaan yang sudah sejak lama tergantung karenanya.
"Ya, bolehkah ... aku melamarmu?" ungkapku terhenti. Seakan-akan lontaran yang kukeluarkan begitu saja mampu membuatku sedikit lega. Meski sayangnya tak sepenuhnya merasa tenang. Sebab, aku tak mau menyia-nyiakan kesempatan ini. Maka, sudah sepantasnya aku mempertanggungjawabkan perasaanku terhadapnya.
"Kak, maaf, kalau masalah itu, jangan tanyakan padaku. Silakan Kak Aga tanyakan langsung pada Ayahku. Ehm, ya udah, aku permisi dulu, Kak," balasnya, ia menyimpul senyum tipis dan lalu kembali menundukkan pandangan setelah menjawab pertanyaanku.
Nyaris Hilya pergi meninggalkanku bersama temannya, "Dek." Aku pun kembali memanggil sebelum perempuan berjilbab yang kukagumi itu benar-benar berlalu.
"Apa?" Hilya kembali menengokkan pandangan padaku. Memastikan pertanyaan yang akan kulontarkan sebentar lagi.
"Maaf, kalau aku benar-benar melamarmu, apa ... kamu mau menerimaku?"
"Sesuai apa yang kukatakan tadi, Kak. Untuk memastikan perkara ini, Kakak bisa datang ke rumah. Dan tanyakan soal ini pada Ayah. Karena Ayahku yang berhak atas aku sendiri."
Aku mengangguk kembali. Hanya dengan mendengar kalimatnya, hatiku tenang seketika. Namun, jelas aku tak akan melupakan satu permintaan yang aku saja mengira bahwa ini adalah permintaan sederhananya. Hilya benar. Seharusnya aku berani bertindak. Bukan hanya berkata dan berniat saja.
"Aku permisi, Kak. Assalamualaikum," ucapnya yang lantas berlalu mendahuluiku bersama teman yang membersamainya.
"Waalaikumsalam warahmatuallah," jawabku.
Bismillah, semoga aku mampu mengabulkan kalimatmu, Hilya, batinku kembali bergumam.
Bersambung