(PoV Aga)
10 tahun yang lalu ....
Bel berbunyi menandakan jam istirahat telah tiba. Aku pun langsung bergegas menuju keluar kelas dan tentunya bersama teman baikku, yaitu Anas. Biasanya aku menghentikan langkah untuk duduk di depan kelas ataupun bersembunyi di sisi kelas bersama ketiga temanku.
Kali ini ketiga temanku telah lengkap. Selain Anas, ada juga Beni, dan Arkan. Mereka adalah teman-teman karibku semenjak kami duduk di kelas 7. Meskipun tidak semua di antara kami berada di kelas yang sama, namun aku tetap menganggap mereka sebagai teman atau bahkan sahabat.
Di sinilah tempat favoritku. Tempat yang menjadi basecamp-ku bersama ketiga temanku. Tempat yang juga membuatku diam-diam mencuri pandang padanya. Iya, dia seorang gadis berambut panjang yang selalu dicepol mau pun mengenakan bandana dengan rambut terurai. Gadis itu duduk di sisi taman perkarangan depan kelasnya di kelas 8.
Sedangkan aku berada di depan kelasku di kelas 9. Ya, dia adalah adik kelasku, namanya Hilya. Seorang gadis yang telah setahun ini kukagumi. Sejak aku duduk di kelas 8, aku sudah mengaguminya sejak bertemu dengannya di pandangan pertama.
Waktu itu aku lagi berjalan bersama ketiga teman karibku. Lalu aku tak sengaja menemukan sosok Hilya yang melintas di hadapanku. Saat itu aku masih belum mengenalnya dan tak menunggu lama, aku pun tertarik padanya. Entah mengapa mataku tak pernah bisa lepas untuk melempar pandanganku untuknya. Untuk pertama kali itu tatapanku bertemu dengan kedua matanya yang tak sengaja menatapku juga.
Itu adalah pertama kalinya aku merasakan degupan jantung yang luar biasa-yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Sejak itu aku mulai tak pernah berhenti diam-diam mencuri pandang menatapnya dari jauh. Perlahan aku juga berinisiatif untuk mencari tahu namanya dan segalanya tentangnya.
Dia Hilya, anak kelas 7 dan perilakunya cukup tomboy. Aku tahu diam-diam dari informasi yang berhasil kudapat. Memang saat aku memperhatikannya, Hilya selalu berpenampilan tomboy, mungkin karena dia kebawa sikap dari teman-teman yang membersamainya. Namun yang kukagumi, Hilya itu baik dan katanya dia juga gadis penyabar, teman-temannya saja tak pernah mengetahui Hilya marah.
Hilya juga selalu mengalah dan sangat mempedulikan teman-teman yang dekat padanya. Dan bahkan yang membuatku kaget, ternyata orangtua Hilya kenal akrab dengan orangtuaku, terutama ayah Hilya dan ayahku, mereka ternyata adalah teman lama.
Wah, ini membuatku sangat tak menyangka. Bahkan saat ayah Hilya bertemu dengan ayahku saja-mereka seperti sangat akrab. Hm ... aku pun berpikir, bagaimana seandainya ayah tahu, kalau aku menyukai putri dari teman akrabnya itu. Apakah ayah akan menyetujui, atau dia akan syok kalau saja beliau mengetahui perasaanku?
"Ga, aku punya ide. Gimana caranya agar Hilya tahu perasaanmu," ujar Arkan padaku. Lalu ia pun membisikkan taktik idenya padaku. Ah! Memang tak disangka lagi, Arkan ahlinya soal percintaan seperti ini. Bahkan di antara kami berempat, yang seringkali gonta-ganti pacar, ialah Arkan.
"Kamu yakin, Ar? Cara ini bakalan berhasil?" kataku yang mencoba memastikan rencana Arkan.
Arkan langsung menyodorkan sebuah buku dan satu bolpoin padaku. "Kamu jangan khawatir. Yakin aja sama aku. Sekarang, kamu tulis semua perasaanmu untuknya, di kertas ini. Terus kamu kirim deh, suratnya."
"Lah, terus, suratnya langsung dikasi ke Hilya gitu? Gimana caranya?" Beni melontar tanya.
"Tenang aja, aku tahu caranya. Gampang, tinggal titip aja sama teman dekatnya. Udah ah, Ga, tulis aja dulu," Arkan menjawab.
Kali ini aku mengerti maksud Arkan. Ia merencanakan agar aku bisa menyatakan perasaan lewat surat untuk Hilya. Lalu tanpa berpikir panjang, aku langsung menulis ungkapan perasaanku selengkap-lengkapnya untuk Hilya. Kukeluarkan kalimat-kalimat puitis dan romantis agar membuat Hilya terpesona dan juga tersenyum malu ketika membacanya.
Oke. Beres! Suratnya tinggal dikirim. Setelah kuberikan pada Arkan, ia pun langsung bergerak memberikan surat dariku itu kepada salah satu teman Hilya. Setelah surat terkirim aman oleh Arkan, aku tampak kepo ingin melihat reaksi Hilya setelah membaca isi surat cintaku.
Lalu setelah dua hari kemudian, Anas memberiku surat balasan dari Hilya. "Loh, kamu dapat darimana suratnya? Dari Hilya langsung?" tanyaku yang mulai penasaran.
"Bukan, Ga. Aku dapat itu dari temannya. Bukannya dia seringkali mengantar surat darimu untuk Hilya? Makanya dia juga tahu, kalau aku temanmu, terus dia menitipkan ini padaku." Anas menjelaskan agar Aku tidak salah paham.
Lalu setelah itu aku pun membuka isi surat balasan dari Hilya. Astaga! Diam-diam aku mengulas senyum. Saat itu aku terbawa perasaan yang kali ini bisa kubilang anugerah dari-Nya. Perasaan yang benar-benar ingin kusebut jatuh cinta. Hilya merespons dan membalas suratku dengan menyatakan rasa yang sama.
Sudah tak heran lagi, aku seringkali mendengar dari beberapa teman Hilya. Kalau yang kutahu, Hilya juga menyukaiku. Terbukti saat teman-temannya seringkali berani menggoda Hilya saat mereka melihatku dan bahkan mengetahuiku menatapnya.
Hanya mendengar itu hatiku terasa nyaman, bahkan terasa senang. Kupikir, aku akan mendapatkan lampu hijau kalau Hilya juga menyukaiku. Ya, meski kutahu, kalau aku belum berani mendekatinya langsung.
Berbulan-bulan hingga tiba di masa kelulusan, aku seringkali bertukar surat-menyurat bersama Hilya. Dia sang gadis yang menjadi pujaan hatiku. Ketika itu kusempat menuliskan janji di antara surat yang pernah kukirim padanya.
Please ... tolong tunggu aku, tolong jangan pernah lupain aku. Aku janji, setelah lulus SMA, aku akan melamarmu. I miss Hilya.
Aku jelas mengingat isi surat itu. Ini memang tekadku, aku ingin ia tahu, bahwa aku bukan hanya sekadar mengaguminya saja. Namun aku akan menunggunya dan ingin berjuang hingga nanti, hingga aku layak dipilih untuk menjadi calon imamnya.
Hingga itu kami mulai terpisah dengan adanya jarak. Bahkan aku sekolah di SMK dan hingga memilih mencari pekerjaan setelah lulus SMK, aku tak tahu di mana keberadaan Hilya. Namun aku masih mengingat jelas kenangan-kenanganku bersamanya.
Banyak yang bilang kalau cinta zaman sekolah hanyalah sekadar cinta monyet biasa. Namun, aku rasa tidak percaya dengan istilah seperti itu. Karena yang kutahu, istilah cinta monyet ialah julukan bagi anak sekolah yang berpacaran, namun seringkali merasakan putus nyambung.
Atau bahkan mereka yang belum berpacaran, hanya merasakan suka pada lawan jenis dan menyukainya pun tidak konsisten. Bisa jadi mereka menyukai tidak pada satu gadis, bahkan beberapa gadis lainnya.
Aku tak tahu, apakah istilah cinta monyet itu pantas menjadi julukan kisah percintaanku bersama Hilya? Tetapi yang kurasakan bukan hanya sekadar cinta monyet biasa. Bahkan sampai sekarang, aku masih bertahan tetap mengaguminya dalam diamku meski tanpa Hilya tahu perasaanku kembali.
Susah move on? Mungkin banyak orang yang berkata seperti itu padaku. Merasakan menjadi seorang jomlo hingga saat kini pun-terasa biasa saja. Apalagi seringkali kumendengarkan perkataan dari teman-temanku, kalau seorang Aga, masih susah move on dari masa lalunya.
Iya, aku paham, bahwa aku ini masih dianggap jomlo sejati dan aku pun tak berminat mendekat atau pun menyukai gadis lainnya. Bukan berarti aku tidak normal, namun karena satu nama itu yang berhasil mengunci hatiku untuk tidak berpaling. Satu nama yang hingga kini membuatku merasakan definisi jatuh cinta yang sebenarnya.
Hilya. Aku menyukai satu nama itu yang masih terngiang di benakku hingga saat ini. Perasaan ini masih belum pernah berubah, masih sama seperti dulu aku merasakan jatuh hati pertama kalinya untuknya.
Gantung? Iya, mungkin satu kata itu yang menjelma di benakku. Aku pun tak paham, siapa yang tega menggantungkan perasaan ini? Hei, bukankah itu aku sendiri? Sampai kini pun, aku belum berani memutuskan kepastian untuk Hilya. Berarti ini tandanya memang aku yang berani menggantungkan hatiku untuknya.
Lalu saat aku berniat ingin mencarinya dan lagi-lagi merindukan senyumannya, aku menemukan akun sosial medianya di i********: mau pun via f*******:. Di sana juga aku menemukan satu kontak BBM-nya. Setelah lekas kumeng-invite pin BB-nya, terhitung beberapa detik Hilya langsung menerima pin BB-ku.
Ping!
Begitu aku menyapanya lewat BBM setelah Hilya menerima pertemananku. Tak lupa aku juga mem-follow dan meng-add akunnya lewat i********: dan f*******:. Lagi-lagi ini yang membuat hatiku berbunga-bunga. Bagai ada kupu-kupu yang berterbangan dan menyelundup ke dalam hatiku.
Saat itu pun Hilya merespons pesan BBM-ku. Hingga aku mulai sekadar berbasa-basi menanyakan di mana keberadaannya. Sebenarnya ini yang telah lama kutunggu, berani memulai menghubunginya. Sejenak melepaskan rindu yang selama ini kupendam untuknya. Karena aku ingin ia tahu isi hatiku, hingga kini aku memilih bertahan untuk dia.
Hil ... aku masih bertahan mengagumimu, dan bahkan menyimpan perasaan yang sama seperti dulu kupernah menemukanmu.
Kata hatiku bersahut kembali. Ketika pesan batinku berkata, kumerasakan getaran yang hebat yang menggeluti hati dan jantungku. Kini kubenar-benar merasakan sekelebat rindu.
Bersambung