(PoV Hilya)
Entakan kakiku terhenti ketika sejenak kubersinggah di sebuah bangku yang tertata rapi di kawasan wisata kuliner. Perlahan kuhirup udara yang sedang berembus cukup menghangatkan tubuh. Mencari oksigen agar dapat menetralisirkan degupan yang masih terasa.
Aku sama sekali tak bisa menahan perasaan ketika mendadak kubertemu Aga. Seorang lelaki yang hadir di masa laluku. Seorang lelaki yang sempat sangat berarti untukku. Ingin rasanya tak mendedahkan hati yang berkali-kali kutahan. Namun sayang, kehadiran Aga saja sangat mampu menyingkap hatiku yang bertahan untuknya.
Rissa yang menyorotkan netranya padaku, ia masih bergeming tak mengungkap kata. Mungkin saja ia sedang bingung melihat keadaanku yang sangat syok. Sejujurnya aku bahagia melihat Aga baik-baik saja. Tapi kali ini rasanya sulit sekali kumengungkap kalimat; apakah aku mengharapkan perasaan yang sama dengan Aga.
Karena meski kenyataannya kumenyembunyikan rasa yang sama, kebimbangan itu rasanya masih menggelayut indah di hatiku. Aku hanya takut, apakah Aga benar-benar pilihanku atau malah Allah tidak berkata demikian. Semua kalimat pertanyaan itu yang kuungkit di dalam hati.
Namun bila Aga berniat baik untukku nanti, bila saja Aga memang serius dan ingin bertanggungjawab atas pernyataannya, toh, ia akan lekas datang menemui ayah. Ah! Apa aku saja yang terlalu berkhayal ketinggian? Padahal mengetahuinya baik-baik saja sudah lebih dari sekadar cukup bagiku.
"Ya, masih bingung? Soal Aga?" Rissa akhirnya melontarkan suaranya. Ia menepuk pundakku dengan senyum manisnya-menatapku iba.
Aku yang lekas menoleh ke arahnya, tiba-tiba saja aku bingung berkata apa untuk menjawab pertanyaan Rissa. "Hilya, kamu istikharah aja. Minta jawaban terbaik dari Allah. InsyaAllah hatimu bisa merasa lega setelahnya. Kalau pun, Aga serius, dia akan lekas datang ke rumahmu, kok," ucap Rissa lagi.
Senyumku terukir sempurna, seakan menandakan jawaban nyaman atas perkataan yang Rissa berikan. Aku sangat bersyukur memiliki sahabat baik sepertinya, meski aku jarang sekali bercerita tentang perkara hati pada Rissa lagi, Rissa tetap selalu bisa mengetahui perasaanku. Mungkin karena kami telah lama bersahabat baik, pantas saja Rissa mengerti.
"Oh ya, kuantar kamu aja ya, Ya? Nggak apa-apa, kok. Lagian udah malam, nggak baik kalau anak gadis pulang sendiri. Apalagi kamu jalan kaki." Rissa kembali bersahut. Ia mengganti topik yang ingin memintaku pulang bersamanya. Padahal rumah kami saja berada di lokasi yang berbeda.
Dan seingatku, Rissa ke wisata kuliner awalnya bukan bersamaku, melainkan bersama suami. Aku yang telah mengadakan janji bersamanya, hingga aku jalan kaki sendiri ke tempat ini. Lokasi yang beruntungnya tak jauh dari arah rumahku.
"Ngerepotin kamu, Ris. Kasihan Kak Wisnu, dari tadi udah kamu tinggal," protesku.
Aku hanya tak ingin merepotkan siapa-siapa. Termasuk sahabat sendiri. Aku mengerti, bila aku saja tak bisa mengendarai motor sendiri ke mana pun. Namun bukan berarti aku ingin merepotkan orang-orang terdekat, aku hanya tak nyaman saja bila melakukan tindakan itu.
"Hilya ... ini udah jam 10 malam, loh. Lagian Mas Wisnu nggak bakal keberatan kalau aku nganterin kamu dulu. Mas Wisnu juga lagi ketemu teman-temannya. Please, Ya? Aku nggak mau kamu kenapa-napa. Sungguh, aku nggak mau kamu sampai ketakutan karena diganggu orang-orang nakal seperti tempo lalu."
(Flashback)
"Neng, boleh kenalan?"
Tiba-tiba seorang laki-laki berseragam SMA sedang berkata ke arahku. Kebetulan saat ini aku menumpangi angkot bersama Rissa. Dan sialnya, di dalam angkot hanya ada dua perempuan. Yaitu aku dan Rissa yang berada di sana.
Aku terpaksa menumpangi angkot ini, karena hari sudah semakin sore. Karena dua jam lagi aku ada jadwal les matematika, maka mau tak mau aku bersama Rissa memilih menumpangi angkot yang kebetulan berhenti di depanku dan Rissa-semenjak di sekolah.
Mendengar suara yang berasal dari gerombolan anak SMA, aku hanya memilih diam. Enggan berbicara atau pun menjawab pertanyaan yang tak penting. Namun entah mengapa hatiku merasa khawatir. Para laki-laki yang bersekolah SMA tersebut bersama menatapku dengan senyuman yang menyeringai. Sangat menakutkan bagiku.
"Eh, ya, Abang panggil Adik aja, ya? Adik-adik imut dan yang cantik, siapa namanya? Boleh kenalan, dong?" gumam salah satu temannya yang lain.
Lama-lama mendengar mereka, sangat membuatku risih. Kuhanya menengok ke arah Rissa yang juga persis memandangku. Saat itu wajah Rissa tampak jengah, selain mendengar basa-basi dari gerombolan anak SMA yang meminta berkenalan, Rissa juga risih ingin sekali tiba ke lokasi tujuan. Namun angkot masih melesat membelah jalanan kota.
"Neng, jangan cuek-cueklah, masa cantik-cantik gini cuek?"
"Heh! Bisa berhenti ngegodain anak orang? Nggak pada malu apa? Udah SMA juga, tapi nggak punya attitude!" Keresahan Rissa kali ini telah di luar nalar. Ia malah berani secara spontan menanggapi omongan para lelaki tersebut dengan penuh emosi.
"Hei, Mbak! Jangan GR! Orang kami lagi pengin kenalan sama teman mbak yang cantik, tuh. Dek, ayo dong, sebut namanya? Masa cuma nyebut nama doang, nggak mau? Abang baik kok, Dek," celetuk salah satu laki-laki tersebut.
"Kalau nggak mau nyebutin namanya, ya udah nggak apa-apa, asal ... kita-kita boleh dong, minta nomor HP-nya? Boleh dong, Cantik?" sahut teman laki-lakinya yang lain.
Arah pandangnya tampak menyorotkan tatapan tajam padaku. Terlebih mereka sengaja mengerlingkan sebelah matanya untuk menggodaku. Menyadari tingkah mereka, benar-benar sangat menggelikanku. Lalu akhirnya Rissa semakin mendekapkan jemari tangannya menggenggamku. Aku mengerti bila ia merasa khawatir padaku.
"Pak, kiri!" Sontak Rissa berucap. Lantas selang beberapa detik laju angkot pun terhenti menuruti kemauan Rissa.
Genggaman Rissa semakin erat menyentuhku, namun hampir salah seorang dari gerombolan lelaki SMA itu menyentuh bahuku, tapi sayangnya Rissa dengan sigap dan cepat menarikku hingga berhasil keluar dari angkot tersebut.
"Huuu! Cantik-cantik, kok, sombong?! Tapi nanti ketemu lagi, ya, Dek?" ucap lelaki yang dari awal memang tak jengah menggodaku.
Angkot tersebut kemudian melesat kembali. Meninggalkanku bersama Rissa yang kini memilih berhenti di pinggir jalan dekat lampu lalu lintas. Mengingat berbagai tingkah konyol dan godaan dari para gerombolan anak SMA itu, sangat membuat diriku ketakutan. Yang awalnya aku merasa khawatir dan cemas berada di dalam angkot itu, kali ini pun kudapat menghela napas lega karena berhasil menghindar.
"Udah, nggak usah takut, Ya. Ada aku di sini. Untung aku yang ngajak kamu turun di sini, kalau nggak, kamu bisa digodain mulu. Aku juga ngeri, takut kamu diapa-apain," kata Rissa yang berusaha menenangkanku. Ia menyentuh bahuku lembut.
"Makasih ya, Ris? Aku sangat takut tadi. Makanya aku diam mulu. Makasih lagi ya, Ris?" jawabku yang sembari menyimpulkan senyum tipis menyambut kebaikan Rissa.
***
Rissa sempat bercerita panjang lebar tentang kejadian tempo masa SMP. Hingga akhirnya ia telah menghentikan laju motornya tepat di depan rumahku. Karena ketika Rissa berniat menceritakan kisah yang lampau, aku pun menyanggupi permintaan Rissa. Menyetujui agar Rissa mengantarkanku pulang dengan selamat.
"Makasih banyak loh, Ris? Sama, makasih juga atas ajakanmu hari ini," gumamku, sembari mengulum senyum setelah kuturun dari sepeda motor sang sahabat. Namun Rissa masih bersinggah di punggung motornya.
"Iya, sama-sama. Lain kali, jangan sungkan sama aku. Kita udah sahabatan lama, loh, Ya. Sudah pantas, kalau aku juga nggak mau terjadi apa-apa sama kamu. Kamu pun juga gitu ke aku. Ya ... kita sama-sama melindungi dan sama-sama saling peduli."
"That's right, Rissa."
"Ye ... nggak usah pakai bahasa Inggris. Susah jawabnya. Orang kamu tahu, aku paling nggak suka mata pelajaran itu. Hehe ... ya udah, aku pamit. Assalamualaikum, Hilyanya Aga."
Rissa pun melesatkan motornya hingga melewatiku yang bergeming menatapnya dengan kesal. Padahal baru saja kuingin protes karena godaannya, mana iya Rissa mengatakan aku milik Aga. Padahal nikah aja belum. Jangan-jangan Rissa mulai tak waras. Pikirku lagi-lagi bergejolak.
"Waalaikumsalam," ucapku.
Lantas kumelanjutkan langkah hingga memasuki pintu rumah yang ternyata belum terkunci. Rupanya ayah masih tersadar, bahwa aku belum sampai ke rumah. Dan rasanya hari ini sangat melelahkan. Menjejakkan diri berkeliling menikmati wisata kuliner kota. Mungkin sebentar lagi kuingin melepas penat untuk tertidur nyenyak sampai esok tiba.
Namun sayangnya setelah tiba di dalam kamar, tubuhku nyaris membeku ketika kedua netra ini menyimak pemandangan sebuah tulisan. Tulisan tersebut tertera di balik tembok yang berada di ruang kamar. Sangat berdekatan dengan ranjang tempat tidurku. Tulisan sebuah nama yang sempat mengingatkanku padanya kembali.
"HilGa" tulisan yang berada di tembok tersebut. Dulu aku memang sengaja menuliskan namaku dan Aga di sana. Tepat ketika aku merindukan sosok Aga sejak lelaki itu lulus SMP. Dan semenjak itu aku tak pernah bertemu Aga kembali. Mengetahui keadaannya bagaimana-aku tak mengerti.
Hmm ... rindu saja kembali menjelma. Padahal aku baru saja bertemu dengannya. Meski kondisinya pun tak terduga. Sembari kumeletakkan tas selempang yang dikaitkan di balik pintu. Setelah pintu tertutup rapat, kutak sengaja menginjak sebuah kertas yang terjatuh mengenai lenganku.
Kertas tersebut berada di bawah lantai. Entah darimana jatuhnya. Perlahan jariku meraih kertas yang terlipat rapi itu hingga membentuk beberapa bundelan. Ternyata kertas yang kugenggam bukan hanya terdapat satu. Namun ada beberapa kertas lainnya di balik bundelan tersebut.
Lantas rasa penasaranku membuncah. Entah mengapa ingatanku tak lagi asing melihat kertas-kertas yang bagai berisi sebuah surat. Akhirnya setelah kubuka lembaran yang masih saja menarik pandanganku itu, ternyata isi kertas yang kupegang memanglah surat. Lebih benarnya lagi surat itu berisikan ungkapan hati.
Sorot mataku memandang lekat ketika surat yang bertahan di genggaman telah terbaca sebagian. Surat yang mengingatkan sebuah rasa. Surat yang mengingatkan bahwa rasa yang terpendam baik akhirnya menyayat pilu. Surat yang mengingatkan bahwa retorik kata membuahkan kerinduan yang berarti. Segalanya tentangnya yang tertulis di balik kalimat, menyemburatkan sendu rasa yang masih tersembunyi baik-baik.
Entah, aku saja merasa dilema. Mungkin aku harus menenangkan hati. Sejenak mendedahkan kata hati pada Sang Pencipta. Seraya meminta petunjuk pilihan yang terbaik, meskipun tak ingin kumengegokan rasa yang tersimpan sampai kini.
Ya Allah ... kutahu skenario-Mu yang terbaik. Kumohon, tolong beriku pertahanan hati, agar aku tak keterlaluan menyimpan rasa. Dan memang ia yang terbaik, berikan jawaban yang baik pula untukku, ya Allah ... bismillah, gumam batinku, sejenak merapalkan kalimat hati yang ingin sekali ditenangkan.
Bersambung