Hati William sakit mendengar suara Neneknya yang bergetar, dia menutup mata sejenak lalu berkata "Baik, aku akan menikahinya."
"Tapi, tutupi pernikahan ini dari dunia luar." lanjutnya lagi. Tuan besar diam selama beberapa saat, Suasana menjadi sangat dingin hingga mampu membuat siapapun menggigil.
"Baik," jawab Tuan besar pada akhirnya. Merry mendesah lega
William mengepalkan tangannya kuat, menatap Lily penuh dendam. Dia yakin, gadis kecil itu menjebaknya. Sungguh licik.
Setelah itu, William pergi dari ruangan yang menyesakkan d**a. Keadaan mendorongnya untuk jatuh ke jurang dengan suka rela. Selva menggeleng hebat, tangisnya pecah. "Aku tidak menyangka kalian tega menjerumuskan Putraku." David dengan lembut memeluknya, dia membawa istrinya pergi dari ruangan itu, begitupun yang lainnya.
Tinggallah Lily dan Kakek neneknya, "Kau juga, kembali ke kamarmu." Perintah Tuan besar datar, dia berbalik, tidak ingin melihat Lily saat ini.
"Kek, aku bisa jelaskan." Lily berniat jujur, dia ingin mengakhiri rencananya ini. Bukan ini yang dia harapkan.
"Pergi!" Untuk pertama kalinya Tuan besar bicara dengan nada yang sedikit tinggi pada Lily.
"Sudah sayang, sekarang istirahatlah," ucap Merry sambil mengelus sayang Surai hitam panjang nan lebat milik Lily. Gadis kecilnya yang sangat cantik.
Lily memeluk Neneknya sebentar, lalu dia pergi meninggalkan ruangan itu.
***
Sunyi, itulah yang Lily rasakan saat ini. Tujuannya tercapai tapi kesedihan menyelimutinya, Dia memutar ulang bagaimana sikap William padanya, hatinya mendadak nyeri.
"Kak, bisakah kau seperti dulu? maaf," gumamnya sedih. Lily duduk di sudut samping nakas dengan memeluk lututnya sendiri. Dia menangis tanpa suara.
Sementara di kamarnya, William menghancurkan segala benda yang ada di kamarnya, dia meninju dinding kamar hingga buku jarinya mengeluarkan darah. Kilatan amarah terlihat jelas dari sorot matanya. Lily, nama itu akan selalu diingatnya, lihat saja dia akan membuat hidup wanita itu menderita, sumpahnya dalam hati.
Dia membayangkan wajah cantik Lily yang polos dan ceria dulu, saat sebelum gadis itu memujanya dengan gila, dia ingin gadis itu kembali disaat dia bisa menyayangi dan melindunginya layaknya seorang kakak, bukan seperti ini.
"Kenapa kau berubah," desisnya geram.
Pagi ini sungguh sial untuknya, Kenapa bisa dia terjebak permainan gadis kecil itu. Dia mencoba mengingat apa yang terjadi semalam namun tidak berhasil, bagian penting itu hilang dari otaknya.
"AKKHHH!" teriaknya frustasi.
Kastil Skygold ramai dikunjungi kerabat dekat, mereka menerima kabar yang teramat mengejutkan dan ingin bertanya langsung kepada Tuan besar, Namun pemimpin Skygold itu tidak bisa di temui begitupun dengan Nyonya besar.
"Kami tidak bisa menerima ini, William tidak bisa menikah dengan wanita yang tidak jelas asal-usulnya." ungkap salah seorang kerabat.
"Benar, dia harus menikahi wanita terhormat, sebentar lagi dia yang akan menggantikan posisi David." ucap yang satunya. Kehebohan bukan hanya terjadi di meja laki-laki, di meja para wanita juga tak kalah heboh, mereka menolak tegas keputusan ini.
"Selva, kau dan suamimu harus tegas, jangan biarkan Putramu menikahi penyihir kecil itu." ucap seorang kerabat. Ibu dari gadis yang di gadang-gadang akan menikah dengan William, tentu dia tidak akan tinggal diam, posisi anaknya terancam.
Selva menggeleng lemah, "tidak ada jalan lain, William sudah menyetujuinya." Gadis yang sedari tadi duduk dengan anggun mendengar dengan tenang semua pembicaraan, sedikit tersentak. Namun dia tidak menunjukkan gerakan berlebih.
"Apa?! Bagaimana mungkin?" Ibu si gadis terkejut bukan main. Dia menatap putrinya yang kelewat tenang.
Jessie Lombart, Putri dari Ivy Skygold dan Peter Lombart. Mereka adalah kerabat terdekat Tuan besar, dan sudah dipastikan gadis cantik itu akan menjadi Nyonya Skygold muda, apalagi William menunjukkan ketertarikannya pada gadis tenang dan anggun itu.
"Ayah mertuaku sangat keras, dia tidak mendengar penjelasan siapapun, bahkan ketika William mengancam akan keluar dari keluarga ini, dia tidak peduli. William tetap harus menikahi anak itu." Untuk menyebut nama Lily, Selva tidak Sudi.
Ivy terkejut mendengar William yang rela meninggalkan semua kekayaan Skygold, tentu ini bukan berita baik. Jika itu terjadi, dan dia menikahi putrinya maka Jessie sama saja seperti menikahi pria kaya biasa, tidak ada kehormatan yang bisa dipamerkan. Sungguh bukan seperti yang dia harapkan.
"Jika William sudah memutuskan, maka hargai saja. Bebannya sudah berat, jangan kita tambah lagi." ucap Jessie. Ivy menatapnya penuh makna, dibalasnya dengan senyuman hangat.
"Wah, kak, hatimu terbuat dari apa?" tanya gadis cantik berusia delapan belas tahun. Tessa namanya, putri dari adiknya David.
Jessie tersenyum lembut, "Aku dan kakakmu tidak memiliki hubungan apapun, jadi wajar reaksiku seperti ini."
Selva menggenggam tangan Jessie, "Jangan berkata seperti itu nak, kau dan William tumbuh bersama, dan hanya padamu dia begitu hangat."
"Tidak hanya padaku, pada Lily juga."
"Nama itu jadi jelek karena gadis itu." Sungut Tessa yang memang tidak menyukai Lily sedari kecil, semenjak ibunya berbagi rahasia ketika usianya sebelas tahun.
"Itu dulu, sebelum William menyadari betapa gadis itu menjijikkan." ucap Selva penuh emosi.
***
Pintu kamar Lily diketuk, gadis itu dengan tertatih membukanya, dia melihat Jessie berdiri didepannya dengan senyum yang tulus.
"Boleh aku masuk?" tanyanya. Lily bergeser memberikan ruang. Kedatangan Jessie untuk melihat kondisi Lily. Dalam hati dia menggeram marah, Lily terlihat sangat kacau, Dia mengambil kesimpulan bahwa semalam benar-benar terjadi.
"Aku tidak akan bertanya bagaimana kondisimu, sebagai wanita aku sangat mengerti." Lily mengangguk lemah.
"Boleh, aku memelukmu?" tanya Lily. Sedari dulu dia merasa Jessie yang selalu tulus padanya.
Jessie mengangguk, "Tentu." Dengan cepat Lily menghambur kepelukannya dan menangis tersedu. Jessie mengelus punggungnya dengan lembut namun tidak dengan tatapannya yang dingin, penuh tipu muslihat.
"Jangan menangis, semua sudah terjadi. Kau harus menerimanya, sebentar lagi William akan menjadi milikmu." Hati Jessie bergetar dengan ucapannya sendiri.
Lily melerai pelukannya, dia menatap Jessie penuh tanya. Jessie menuntunnya untuk duduk di balkon. Mereka berhadapan.
"Kau berharap tidak ada yang menyadari perasaanmu untuk Genio?" nama itu panggilan kecil William. Dulu hanya Lily dan Jessie yang boleh memanggilnya dengan nama itu. Namun Lily kehilangan haknya setelah dia mengutarakan perasaannya pada William.
"Lily sayang, semua dapat melihat sorot matamu yang begitu menggilainya, tanpa harus kau mengutarakannya."
"Apa begitu terlihat?" Jessie mengangguk.
"itu sebabnya mereka menganggap mu menjebak Genio." Lily menghela nafas. Jessie berharap Lily mengatakan yang sebenarnya, karena dia yakin gadis cantik didepannya ini menjebak pria yang dia cintai.
Sikapnya yang manis terhadap Lily hanyalah tipu muslihat, dia sangat membenci Lily, sejak mereka masih kecil. Namun dia harus menjaga sikap, karena dulu William sangat menyayangi Lily.
Terkadang dia cemburu melihat William begitu peduli pada Lily, dan dia sempat salah paham dengan sikap pria itu, namun setelah Lily mengungkapkan isi hati yang dia tahu dari William sendiri, pria itu menolaknya, dia lah orang yang paling bahagia. Lily bukan lagi saingannya.
Dia menyukai William sedari kecil, Namun tidak punya keberanian untuk mengungkapkannya. Dia ingin pria itu lebih dulu mengungkapkan perasaannya yang selama ini terlihat samar. Dan sekarang, dia harus menunggu lebih lama lagi karena Lily membuat masalah.
"Aku selalu terlihat buruk di depan mereka. Sangat menyakitkan menjadi anak angkat." lirihnya. Jika boleh memilih, dia tidak ingin seperti ini.
"Jangan bicara begitu, bukankah kau mendapatkan apa yang kau inginkan? Kakek dan Nenek selalu mengabulkannya." ucap Jessie lembut.
"Apa kau berpikir aku juga menjebak William?" sudut bibir Jessie berkedut.
Lily menarik nafas pelan, "Meskipun Kakek dan Nenek sangat menyayangiku, mereka tidak akan membiarkanku melakukan hal yang rendah. Apa yang terjadi semalam, di luar keinginanku. Aku tidak akan menjatuhkan harga diri, meski bagi kalian aku tidak ada harga diri." Tegas Lily. Dia terpaksa berbohong, Ini akan menjadi rahasianya seumur hidup.
Jessie tersenyum kikuk, "Maaf, aku tidak bermaksud begitu."
"Tidak masalah, aku paham." Lily tersenyum tulus. Dia melanjutkan, "Menurutmu, apa Wiliam bisa kembali seperti dulu? Menganggapku ada."
Jessie mengepalkan kuat tangganya, ingin rasanya dia menjambak rambut hitam berkilau milik Lily tapi lagi-lagi dia harus menahan diri, dengan senyum lembut Jessie berkata, "Tentu, berusahalah dengan baik."
Lily mengangguk, dia menggenggam tangan Jessie, "Hanya kau yang mengerti aku. Terima kasih Jessie."
"Jangan sungkan, aku menyayangimu. Sekarang istirahatlah." Jessie bangkit. Dia meninggalkan kamar Lily dengan hati yang panas karena gadis itu tidak mengakui apapun.
Lily merasa beruntung memiliki Jessie di dalam hidupnya, dia berharap wanita itu mendapatkan pasangan yang baik. Dan dia juga menyemangati dirinya agar bisa membuat William lambat lain membalas cintanya. Dia yakin suatu hari nanti, pria itu juga akan mencintainya, seperti dirinya yang begitu mencintai William.
"Ma, Pa.., doakan aku." gumamnya sambil mengatupkan kedua tangannya. Berdoa dengan tulus.
***
Saat akan turun ke bawah, Jessie tidak sengaja melihat ibunya William mondar-mandir di depan pintu kamar pria itu. Kamar Lily dan William bersebelahan.
Dia mendekati wanita paruh baya yang terlihat masih sangat cantik dan awet muda. "Tante, ada apa?"
Selva mendesah lega melihat kehadiran Jessie. "Sayang, dari mana saja? Tante butuh bantuanmu. William tidak mau diajak bicara, Tante takut anak itu mencelakai dirinya sendiri."