"Tante, tenanglah. Genio tidak mungkin melakukan hal bodoh, dia bisa mengendalikan dirinya." ucap Jessie lembut. Dia mengelus pundak wanita paruh baya itu dengan pelan, menyalurkan ketenangan.
"Oh Tuhan, rumah ini tidak pernah tenang sejak kehadiran anak itu." Selva memijat pelan pangkal hidungnya yang nyeri. Dia menatap Jessie penuh harap, "Bisakah kau bicara padanya? Tenangkan dia." Jessie dengan cepat mengangguk, ada alasan dia ingin menemui pria itu.
Selva memberikan kunci cadangan, dan nampan berisi makanan untuk William. Jessie segera menerimanya dan membuka kunci. Setelah Jessie masuk, Selva dan pelayan pribadinya pergi dari sana. Mereka tenang, William pasti menerima Jessie.
Jessie kesulitan mencari saklar lampu, kamar William gelap gulita. Meraba sedikit dinding bagian kanan, dia menemukan saklar dan menekannya. Terdengar desisan tajam William, pria itu merasa terganggu.
"Kau seperti anak kecil." Suara Jessie menarik perhatian William. Dia membuka mata, dan duduk. Memicing tajam melihat gadis yang berdiri tepat di depannya.
"apa jaman sekarang wanita terhormat sedang trend mencampakkan diri ke ranjang pria?" Sinis pria itu.
Jessie terkejut melihat sikap William, namun dia berusaha menyembunyikannya. Sambil tersenyum dia melangkah ke sisi ranjang, meletakkan nampan di atas nakas.
"Aku anggap ucapanmu untuk melepaskan kesal, aku nekat masuk karena ibumu terlihat sangat gelisah, mondar-mandir di depan pintu kamarmu." William mendengus dan membuang muka.
Jessie kembali tersenyum, dia membuka laci nakas dan mengambil kotak obat, lalu duduk di samping William." Coba aku lihat lukamu." Dia melihat luka akibat serpihan kaca di tangan William.
"Genio, jangan keras kepala. Semua tidak akan selesai hanya dengan kau melukai diri sendiri."
Perlahan Jessie mengambil tangan William dan mulai membersihkannya.
Dia menarik napas dan membuangnya pelan, "Kau kesal karena gadis itu adalah dia, atau kau kesal karena dia menjebakmu?"
"Kau percaya dia menjebakku?" William menatap wajah Jessie yang fokus mengobati lukanya. Wanita itu juga perlahan meniup lukanya agar tidak terasa perih.
Jessie mengangguk kecil, "Karena aku percaya kau tidak akan melakukan itu padanya."
"Kau dan yang lain berpikir hal yang sama tentangnya." Meski William mencurigai Lily, tapi dia tidak suka ada yang berpikir buruk tentangnya.
Jessie mendongak, menatap William penuh rasa bersalah, "Maksudku bukan begitu."
"Lupakan, meski aku membencinya karena dia menyukaiku bukan berarti aku percaya dia bisa melakukan hal semenjijikkan ini." bohong William.
Jessie diam, dia menggigit bibir bawahnya dengan kuat. Wiliam masih saja membela gadis sialan itu.
"Selesai. Makanlah, ibumu sangat khawatir." Jessie bangkit, menyimpan kembali kotak obat di tempatnya. Setelah itu. dia beranjak dari kamar William, ada harapan pria itu menghentikannya dan memintanya tinggal, namun sampai dia berada di ujung pintu, pria itu tidak membuka suaranya.
Dengan berat hati dia meninggalkan kamar William. Sementara William tetap diam dengan pikirannya yang kalut sambil memandangi tangannya yang terbungkus perban. Dia tahu jika Jessie mencintainya sama seperti Lily, namun bedanya Lily lebih berani menunjukkan dan mengutarakannya.
Sempat terpikir olehnya untuk menikahi Jessie. Gadis itu memenuhi standard calon istri yang di inginkan keluarga Skygold, tapi belum sempat dia mengutarakan itu, Lily menghancurkannya. Jika di tanya apakah dia mencintai Jessie, maka jawabannya adalah tidak.
Lalu kenapa ingin menikahinya? Baginya menikah tidak butuh cinta, apalagi dalam keluarga Skygold, semua pernikahan terjadi karena bisnis meski lambat lain saling jatuh cinta, dan dia pikir dirinya juga akan seperti itu.
Sialnya saat ini dia tidak akan bisa merealisasikan niatnya menikahi Jessie. Dan hidup bersama Lily sebagai suami istri tidak pernah ada dalam list hidupnya. Dia ingat saat gadis kecil itu mengutarakan isi hati padanya, seketika dunianya runtuh.
Dia sangat menyayangi Lily lebih dari apapun di dunia ini tapi, bukan seperti pria terhadap wanita, melainkan kakak terhadap adiknya. Lily menangis saat dia menolak dengan tegas tanpa belas kasih, dia lakukan itu agar Lily tidak berharap sesuatu yang tidak mungkin.
Dia pikir malam itu segalanya selesai, nyatanya tidak. Lily semakin menggila, dia bagai parasit yang menggangunya setiap hari, menuntut dirinya untuk membalas perasaannya. Hingga dia mengambil keputusan untuk menjauhi Lily dan bersikap dingin hingga gadis itu menyadari kesalahannya. Tapi nyatanya tidak juga. Lily bahkan tidak peduli saat para sepupu mulai berani mengolok di depannya, dia sengaja tidak membela untuk menyadarkan Lily tapi gadis kecil itu tidak mengerti dan semakin mempertanyakan kenapa sikapnya berubah. Dan hubungan mereka merenggang sampai saat ini.
***
Makan malam terasa menyesakkan, karena Tuan besar memasang wajah tidak bersahabat. Dia tahu kenapa seluruh kerabatnya hadir dan rela menunggunya sedari siang. Meja makan yang di design untuk lima puluh orang itu terisi semua kecuali milik William dan Lily. Dua anak manusia yang kini sedang menjadi topik hangat.
Lily tidak berani makan satu meja dengan seluruh anggota keluarga karena dia tahu tidak ada yang menyukai keberadaannya. Bukan hanya keluarga yang bersikap acuh padanya, bahkan pelayan juga tidak pernah menganggapnya ada. Mereka berlaku sopan jika dia sedang bersama Kakek dan Neneknya. Itu mengapa Lily menolak pelayan pribadi, dia sadar tidak ada yang mau melayaninya dengan tulus.
"Aku belum mengundang kalian, tapi sungguh luar biasa kalian meringankan langkah datang kemari terlebih dahulu." ucap Tuan besar. Seluruh anggota keluarga adalah keponakannya, sepupu David, putranya.
Sementara para sepupunya memilih menikmati hari tua dengan tinggal di negara impian. George Skygold adalah cucu tertua di keluarga Skygold, dia anak tunggal dari Ayahnya yang juga anak tertua di silsilahnya, otomatis seluruh kekayaan turun temurun jatuh padanya dan turunannya. Sementara yang lain hanya mendapat bagian saham yang masih dikelola olehnya, sekarang David mengambil alih, dan sebentar lagi akan jatuh pada Wiliam.
Oleh karena itu semua kerabat berbondong-bondong menonjolkan anak perempuan mereka untuk di pilih menjadi istrinya William, calon pewaris kerajaan bisnis Skygold.
"Paman, jangan bicara begitu. Kita keluarga, sudah pasti jika ada musibah yang menimpa salah satu dari kita, semua mengambil langkah lebih dulu." ucap Peter Lombart, Ayah Jessie.
Keluarga Lombart merupakan kerabat terdekat Skygold karena terjadi pernikahan bisnis beberapa kali. Ya, yang dunia tahu Skygold hanya menginginkan Lombert sebagai keluarga. Tidak heran, banyak yang menduga bahwa Jessie adalah kandidat Nyonya selanjutnya, menggantikan Selva.
"Musibah?" tanya Tuan besar dengan alis terangkat satu.
Tenggorokan Peter terasa kering, ditambah lagi dengan tatapan menusuk pamannya, dia semakin salah tingkah.
Jessie yang melihat Ayahnya gelisah langsung menyela, "Kakek, maafkan papaku. Dia salah bicara."
Tuan besar menatapnya, "Apa orang tuamu kurang memperhatikan etikamu? Sehingga kau berani menyela disaat orang tua bicara. Sungguh disayangkan."
Jessie tersenyum kikuk, dia menahan malu yang teramat sangat karena sikap Tuan besar yang secara terang-terangan menunjukkan rasa tidak suka. dia mengepal sendok dengan kuat dan bergumam. "Maaf."
Tuan besar menatap Peter, "Daripada mengurusi keluargaku lebih baik kau perhatikan putrimu." Setelah itu dia melanjutkan makannya. Begitupun dengan yang lain, mereka kasihan pada Peter tapi tidak berani membuka suara.
Tuan besar bukan lawan yang tepat.
***
"Siapa yang tidak setuju dengan pernikahan ini, boleh pergi." Tentu pergi yang di maksud Tuan besar bukan keluar dari mansion megahnya yang bak kastil kerajaan jaman dulu, Melainkan pergi dari keluarga Skygold alias jadi gelandangan.
"Ayah, bukankah kau sudah sangat keterlaluan, tidak semua bisa berpikir sama sepertimu." Protes David, dia menilai Ayahnya sungguh kelewatan.
"Termasuk dirimu? Bukankah dengan menikahkannya dengan William, kau terbebas darinya?"
"Dengan mengorbankan putraku?" Sahut Selva. Kali ini dia akan melawan mertuanya, dia tidak akan diam lagi. Cukup dirinya yang menyandang status ibu angkat dari anak yang tidak pernah dia inginkan. Jangan anaknya lagi.
George menatap tajam, "Apa bedanya dengan kalian? Bukankah kalian juga akan menikahkannya dengan wanita yang kalian anggap layak? Oh...layak yang aku maksud status sosialnya jelas." Selva terdiam, dia menunduk takut.
Jessie merasa tersindir, padahal bisa saja Tuan besar tidak bermaksud mengatakan itu untuknya. Tapi, semua orang tahu siapa yang paling di inginkan Selva dan David untuk dijadikan menantu.
"Ayah, itu dia hal yang berbeda. William tertarik padanya."
Tuan besar tersenyum licik, "Jangan mengguruiku, bukan aku tidak tahu tujuan kalian. Hal ini sudah terjadi turun temurun dari Kakek moyangku. Dan aku melakukan hal yang sama, dari awal targetku memang menikahkan William dengan Lily. Dia wanita yang paling layak mendampingi cucuku."