Lily paling layak? Yang benar saja, darimana layaknya? Gadis yang mereka tidak tahu asal usulnya. Entah gelandangan darimana yang dibawa Tuan besar tiga belas tahun yang lalu, usia Lily lima tahun kurang saat itu. Ketika ditanya darimana asal anak itu, Tuan dan Nyonya besar selalu diam.
"Boleh aku bicara?" tanya Merry pada suaminya.
"Tentu sweetheart," ucap Tuan besar lembut. Meski mereka sudah sangat tua, tapi keduanya selalu seperti pengantin baru. Romantis
Merry mengangguk, dia menatap seluruh anggota keluarga terutama kedua anaknya, "Kami sudah berniat menikahkan William dan Lily sejak mereka masih kecil. Dan kejadian ini membuat keinginan itu semakin besar. Bukankah Tuhan mempermudah jalan kami?"
"Bu--" David menatap ibunya penuh permohonan.
Merry menatapnya sendu, "Apa Karen pilihan kami tidak sesuai dengan pilihanmu, kau jadi seperti ini? Coba kau bayangkan jika putrimu bernasib seperti Lily, ditolak setelah dinodai." Suaranya bergetar menahan tangis.
"Sudah, tidak ada yang perlu dibahas lagi. Aku tegaskan sekali lagi, siapa yang menentang bisa menemui pengacaraku. Tanpa terkecuali." Tuan besar bangkit, dia menuntun istrinya pergi meninggalkan ruang keluarga besar yang memang dikhususkan untuk pertemuan seluruh anggota keluarga.
David menatap sepupunya, "Maafkan aku, keputusannya tidak bisa di ganggu gugat."
"Bukan salahmu," ucap Peter mencoba tenang, dalam hati dia mengumpat kasar George yang sangat keras kepala. Dia melihat sekilas putri kesayangannya yang pasti payah hati karena kejadian ini.
"Aku berharap kak Jessie yang menjadi istri kak William." Celetuk Tessa.
"Jangan bilang begitu, Lily pilihan kakek dan nenek, sudah pasti sangat baik dan tepat untuk mendampingi kakak sepupumu."
"Oh, hatimu sungguh baik, Aku juga berharap seperti Tessa, tapi mertuaku terlalu egois." lirih Selva.
Dia memang sangat berharap Jessie menjadi menantunya, apalagi putranya tertarik pada Jessie, Jika tidak ada pengacau itu, semua akan berjalan sesuai kehendaknya.
Jessie memeluk Selva, "Terima kasih, aku cukup tersanjung Tante." Selva mengangguk sambil membalas pelukan Jessie.
Malam itu menjadi malam yang kelam untuk sebagian besar keluarga Skygold, mereka tidak bisa menolak keputusan Tuan besar, saham mereka menjadi terancam. Tentu bukan pilihan yang tepat jika harus mengorbankan saham demi penolakkan yang tidak ada untungnya.
Sepanjang perjalanan pulang, Jessie mengepalkan tangannya sampai jarinya memutih. Ucapan Tuan besar untuknya terngiang seperti kaset rusak.
'Lily calon yang layak untuk William' Penegasan itu membuatnya berpikir jika dalang dibalik semua ini adalah pak tua itu.
***
Di dalam kamarnya, Lily menatap bintang dalam kesunyian, berulang kali gadis cantik itu menghela nafas pelan, terlihat sangat lelah dan gundah.
Saat ini yang ada di pikirannya, bagaimana dia menghadapi William, pria itu masih sangat marah padanya. Dia berharap setelah pernikahan sikap pria itu melunak, dan kembali menjadi William yang dulu, selalu ada untuknya dan menyayanginya dengan sangat.
Jalannya sudah sejauh ini, dia tidak boleh menyesal. Dia berjanji dalam hatinya akan mengaku pada William nanti, setelah pria itu menerima dan membalas cintanya.
Jam menunjukkan pukul sebelas malam, Lily memutuskan untuk tidur. Matanya sudah lelah karena seharian menangis. Besok hari yang dia lalui lebih panjang dari ini dan dia butuh banyak tenaga.
***
Keesokan paginya, mansion sudah riuh dengan kedatangan designer gaun pengantin ternama yang di datangkan langsung oleh Nyonya besar. Tidak ada yang berani memprotes termasuk William yang saat ini sedang bicara dengan Kakeknya secara pribadi di ruang kerja.
"Aku pikir gadis kampung menikah dengan pangeran hanya ada di dongeng atau film, ternyata di dunia nyata juga ada, bedanya gadis yang beruntung itu bukan gadis baik-baik. Sindir Tessa saat Lily melintas diruang keluarga. Dia menunduk dan terus berjalan, dengan hati kuat dia mengabaikan ucapan pedas Tessa, sudah biasa baginya mendapat perlakuan seperti itu. Jika ditanya dia kuat atau tidak menerima itu, jawabannya tidak.
Dia bertahan karena Kakek Neneknya dan juga William, cinta matinya.
"Begitulah sifat benalu, Sayang." ucap Nancy, Ibunya Tessa. Yang duduk di ruang keluarga bukan hanya mereka berdua, ada orang tua angkatnya dan beberapa laki-laki dan perempuan, menatapnya sinis.
"Tentu mom, wanita terhormat tidak akan seperti itu." jawabnya. Terdengar suara kekehan dan sindiran pedas untuk Lily. Dia harus melewati ruang keluarga untuk tiba dikamar Neneknya.
Pelayan mengetuk pintu, setelah mendapat jawaban dari dalam, lalu Lily kemudian dipersilahkan masuk. Wajah Merry seketika cerah melihat cucu tercintanya.
"Calon pengantin, kenapa terlihat sedih?" Merry merentangkan tangan. Lily mendekat dan langsung memeluk Neneknya, menangis tersedu dalam pelukan wanita tua yang sangat dicintainya.
Seorang designer pengantin terlihat bingung, dia pikir Jessie yang akan mengenakan gaunnya, tapi nyatanya yang menikah dengan calon pewaris Skygold bukan wanita yang terkenal terpelajar itu, calon dokter ahli bedah jantung melainkan gadis cantik yang lain, menurutnya Lily sangat jauh lebih cantik dari Jessie.
Designer yang satunya menatapnya penuh peringatan, designer pribadi Merry, sudah terbiasa membuat gaun untuk Lily, namun dia bukan perancang gaun pengantin, maka itu dia membawa temannya yang ahli di bidangnya.
"Sudah, tidak baik menangis menjelang hari bahagia, Lily-ku tidak boleh sedih."
Merry menatap kedua designer, "Tutup mulut untuk apa yang kalian lihat, jika satu kata saja kelar dan menyebar, maka kalian akan mendapat hadiah yang tidak ternilai dariku." Ancam Merry cukup menakutkan.
Wanita tua itu cukup berpengaruh, segala ucapannya sama seperti Tuan besar Skygold.
"Nek, aku tidak butuh gaun yang mewah, cukup yang biasa saja."
"Tidak sayang, semua harus spesial dihari pernikahanmu." ucap Merry. Dia menatap kedua orang designer itu lagi "Berikan yang terbaik untuk Cucuku."
Dengan takut keduanya mengangguk, mereka mulai mengukur tubuh Lily yang sempurna. Gadis itu tinggi langsing, dengan bagian menonjol di tempat yang pas. Semua wanita mengharapkan memiliki tubuh seperti Lily, termasuk Jessie yang di kenal wanita paling sempurna.
Merry dengan senyum cerahnya melihat Lily yang tampak memancarkan kebahagiaannya, dalam hati dia terus berdoa semoga Lily bisa bahagia dengan pilihannya.
Dia dan suaminya tahu jika Lily sengaja menjebak William, dan mereka memutuskan untuk menutupi fakta ini dengan mengambing hitamkan diri, membuat semua orang berpikir bahwa mereka lah yang menyiapkan jebakan ini. Semua demi Lily.
***
Tiga hari setelahnya, Pernikahan pun digelar, Lily sudah siap dengan gaun pengantinnya yang bertabur berlian, dia sangat cantik. Persis seorang Dewi yang keluar dari lukisan, siapapun yang melihatnya akan terpana.
"Sudah siap, My love?" tanya Tuan besar begitu mereka tiba di gereja tua, di pinggir kota New York. Tempat pemberkatan terjadi.
Lily tersentak dari lamunan panjangnya, "Sudah Kek."
George menatapnya penuh sayang, "Jangan gugup, Kakek akan mendampingimu. Kau sangat cantik, seperti Nenekmu saat masih muda dulu." Lily terkekeh rendah.
"Terima kasih." ucap Lily dengan mata berkaca-kaca.
"Sekarang belum waktunya untuk menangis Baby." ucap George lembut setelah itu mereka turun dari mobil saat pengawal sudah membukakan pintu.
Suasana tampak hening, tidak ada satupun anggota keluarga yang hadir. Lily menelan pahit rasa sedihnya, dia menggenggam kuat tangan Kakeknya. Mereka berjalan menuju altar. Disana telah menunggu pria yang sebentar lagi akan menjadi suaminya.
Impiannya selama empat tahun akan terwujud hari ini, melihat William yang berdiri gagah menunggunya, membuat rasa bersalah dan penyesalan yang merayap di hatinya seketika lenyap, berganti dengan rasa bahagia.
Dia lalu melirik Neneknya yang berdiri disamping Altar, menyemangatinya dengan senyum hangat. Ah...ada tamu special juga ternyata. Ciripa, anjing puddle kesayangan Neneknya yang berbulu lebat berwarna putih juga turut hadir.
***
Setelah mengucapkan janji suci pernikahan, William dengan tatapan dan auranya yang dingin segera menyematkan cincin pernikahan di jari manis Lily, terlihat tangan wanita mungil itu gemetar ketakutan, tanpa peduli William langsung memakaikannya.
"Aku tidak punya banyak waktu, Selesaikan." ucap William pelan. Lily mengangguk takut, kemudian dia menyematkan cincin pernikahan di jari manis pria yang telah resmi menjadi suaminya.
"Sekarang, kalian sudah resmi menjadi suami istri. Kalian bukan lagi dua melainkan satu." Harusnya setelah itu pasangan suami istri bisa saling berciuman namun tidak dengan Lily, William meninggalkannya sendiri di Altar.
"Kak Genio pergi kemana?" tanya Lily polos pada Kakek Neneknya. Dia di tinggal sendiri di Altar pernikahan, dan itu menyakitkan. Namun, sekuat hati dia menahan diri untuk tidak menangis. Dia tidak ingin membuat Kakek Neneknya sedih. Cukup apa yang dia lakukan menyebabkan masalah yang besar dan pertengkaran keluarga yang kalut.
George memberikan senyum terindahnya, "Kakek juga tidak tahu, mungkin ada hal mendesak sayang." Lily mengangguk.