Bab. 12.
Rencana Bulan Madu
Ayah dan Ibu, juga Umi Azra, uminya Mas Fadlan diam-diam menggagas rencana bulan madu untuk kami berdua. Setengah memaksa, mereka mengutarakan niat dengan alasan ingin segera mempunyai cucu dari kami.
Tanpa tedeng aling-aling, Ayah dan Ibu langsung menodong aku dan Mas Fadlan ketika kami menghadiri acara tujuh bulanan kandungan kakak perempuanku di Bandung.
Kebetulan Umi Azra juga datang bersama Ainur, adik perempuan satu-satunya Mas Fadlan, menghadiri acara tersebut. Beliau khusus datang dari Jakarta. Rencananya pulang dari acara, Umi dan Ainur akan menginap di rumah kami. Jadi, kami semua berkumpul layaknya keluarga besar.
“Ayah dan Ibu sudah semakin menua. Mumpung Ibu masih kuat untuk menggendong dan membantu merawat cucu. Tolong turuti nasihat kami, Nak,” tutur Ibu, lebih pada sebuah permohonan.
“Betul, kata Ibumu, Nad, Mas Fadlan. Selama menikah, kalian berdua belum pernah berlibur. Kerja dan kerja terus. Ayah punya surprise buat kalian. Anggap saja sebagai hadiah pernikahan.”
Ayah menyodorkan amplop putih pada Mas Fadlan. Suami menerima dengan ragu. Tergambar jelas tanda tanya besar pada raut mukanya.
“Apa ini, Yah?” tanya Mas Fadlan.
“Sudah, buka saja. Mohon diterima, ya. Jangan menolak.”
Mas Fadlan pun membuka amplop putih itu. Dua tiket perjalanan berada di tangan suami. Dia menoleh ke arahku. Kami saling berpandangan.
“Tiket perjalanan ke Bali dan Lombok?”
“Ya. Kalian berdua pergi berlibur ke sana untuk bulan madu. Sudah lama kami merancangnya.”
“Ya, betul, Fadlan. Kami telah merencanakan dengan matang. Semuanya sudah siap. Kalian berdua tinggal berangkat saja.”
Umi Azra menimpali. Senyumnya mengintimidasi, seakan tidak terima penolakan, kecuali hanya sebuah jawaban, ‘ya’, harus setuju.
Badanku gemetar dan lemas seketika. Tak tahu harus berkata apa. Aku seperti berada dalam ruangan interogasi. Dari semua pertanyaan dan pernyataan, jawabannya harus sama, ‘ya’.
Mereka lantas meninggalkan kami berdua dalam ruangan itu. Aku dan Mas Fadlan terdiam untuk beberapa saat. Mencoba mencerna apa yang baru saja orang tua kami katakan. Ibarat sebuah titah petinggi dan penguasa yang tak mungkin untuk dibantah anak buahnya, kecuali ikhlas dipecat dari jabatan alias lengser.
Mas Fadlan menggenggam erat tanganku, seakan tahu dan bisa memahami isi hatiku. Perasaan ini sedikit menjadi lebih tenang.
Aku dan suami keluar dari ruangan dan membaur dengan sanak saudara yang sedang berkumpul di teras depan. Mas Fadlan ijin meninggalkan aku yang tengah bersama sanak famili perempuan.
Entahlah. Pada acara itu, aku seperti menjadi pusat perhatian mereka. Berada di tengah-tengah berkumpulnya keluarga besar, awalnya aku merasa bahagia. Sudah lama kami tidak saling jumpa, karena kesibukan masing-masing dan jarak tempat tinggal kami yang berjauhan. Bisa dibilang ini adalah momen langka, bertemu dan bersenda gurau dengan sepupu, keponakan, juga Om dan Tante.
Ketika pembicaraan sudah mengarah pada momongan, aku tak bisa berkutik, kecuali hanya senyum dan berkelit sebisanya. Heran juga aku, kenapa di setiap perjumpaan baik itu dengan saudara atau teman, pasti yang ditanya soal itu ke itu. Sudah nikah belum? Terus kalau sudah nikah, bakal ditanya lagi, sudah isi belum?berapa bulan? Anak ke berapa? Rencana mau punya anak berapa? Terus begitu nggak ada selesainya.
Pembahasan yang monoton dan sudah masuk ranah privacy, menurutku. Hingga aku dibuat risih karenanya. Rasanya ingin berlari menjauh dari suasana yang tak mengenakkan itu. Aku merasa tersudut. Sungguh menyebalkan.
“Nad, kamu sudah hamil belum? Konsultasikan ke dokter, loh. Jangan dibuat enteng.”
“Nggak pa-pa Nad. Belum juga setahun menikah. Santai saja. Itung-itung pacaran setelah menikah. Nikmatin aja. Hehehe ....”
“Bagaimana kondisi suamimu? Dia ok, kan? Secara kalian berdua itu masih muda, pasti seteronglah. Hahaha ....”
“Kamu tau nggak, itu si Rika baru dua minggu menikah langsung isi. Tokcer bener suaminya.”
“Si Ani sudah hamil, bayinya diprediksi kembar, loh. Padahal dia nikahnya barengan sama kamu, Nad.”
“Iya betul. Kalau si Dinda, emang dia hamil duluan, sih. Alias MBA, Married by Accident.
Berbagai pertanyaan, sindiran, saran, dan nasihat saling berkicauan. Telingaku cukup panas mendengarnya. Duh, Mas Fadlan di mana, sih? Dari tadi dia sibuk sendiri. Nggak tahu apa, istrinya ini sedang jadi sasaran ‘pembantaian’ rame-rame.
Aku terdesak dan tersudut pada posisi yang membuatku sangat tidak nyaman. Ih, mereka ini mulutnya pada lemes, kupikir. Baru juga menikah lima bulan jalan, sudah pada heboh berpikir macam-macam dan membanding-bandingkan, lagi. Ojo dibanding-bandingke! Andai saja mereka tahu apa yang sebenarnya terjadi dalam rumah tanggaku.
Bagaimana bisa hamil, mencetak goal aja belum. Gawang masih utuh belum tersentuh. Baru juga pemanasan dimulai, itu pun nggak intens. Dih, dasar netizen bisanya cuma menghujat tanpa tahu kenyataan yang sebenarnya.
Tak lama kemudian, Mas Fadlan datang menghampiriku. Dewa penyelamatku datang meski terlambat. Suasana sudah semakin memanas di situ. Tak apa, sebelum aku benar-benar jadi sate matang siap disantap.
“Kamu ke mana aja, sih, Mas? Dicariin dari tadi,” tanyaku lirih tapi kesal, tak mampu menyembunyikan perasaan yang sedari tadi sudah meradang.
Mas Fadlan merangkul pundakku dan mendaratkan kecupan di pucuk kepala, lalu mengusapnya lembut. Para netizen dibuat melongo oleh ulah suami. Entah ada yang mengabadikan momen barusan nggak, lalu menguploadnya di aplikasi t****k. Suami lantas menggandeng tanganku dan pamit meninggalkan arena ‘panas’ itu. Perlakuan mesra sengaja dia pamerkan di tengah-tengah keluarga besar. Biasa, hanya setingan untuk mengelabuhi netizen yang sukaannya pada julid.
“Mas berbincang dengan Om dan Tante di sebelah sana itu.” Mas Fadlan menunjuk ke arah gazebo di tengah taman samping rumah. “Terus, Mas melihatmu di sini dikerubungi saudara-saudara. Asyik sekali kelihatannya ngobrolnya tadi?”
Aku diam tak menjawab, tapi bibir menyun menandakan ketidaknyamanan. Asyik apaan, bete, iya. Suami jelas menangkap raut mukaku yang tidak sedap dipandang.
“Ada apa? Kenapa muka dilipat-lipat begitu?”
Ditanya begitu aku malah menangis. Mas Fadlan jelas kebingungan. Raut mukanya penuh tanda tanya. Apa gerangan yang telah terjadi pada istrinya ini. Dia menuntunku ke taman di belakang rumah, agak menjauh dari keramaian sanak saudara. Kami duduk di sebuah bangku panjang yang terbuat dari besi berukir.
“Hei, ada apa? Kok malah nangis? Apa yang telah terjadi? Cerita sama, Mas.”
Masih dengan sesenggukan, aku menceritakan apa yang mereka katakan tadi padaku. Dengan jujur dan polosnya aku menceritakan semuanya tanpa filter. Kulihat Mas Fadlan tercenung untuk beberapa saat, lalu tersenyum arif.
“Hhmm, ya, sudah. Mereka, kan, nggak tahu apa-apa. Tak perlu diambil hati. Kita yang menjalani, jadi hanya kita berdua juga dan Tuhan yang tahu apa yang sebenarnya terjadi dalam rumah tangga kita. Semua ini, kan, sudah kita sepakati dan tanda tangani dalam surat perjanjian sejak awal menikah. Sudah jangan menangis lagi.”
Bagaimana ini? Nggak tahu kenapa hatiku malah sakit sekali ya, mendengar penuturan Mas Fadlan. Dia menyinggung tentang surat perjanjian itu. Jadi apa artinya yang dia lakukan padaku akhir-akhir ini? Sikapnya yang manis dan perhatian. Sentuhan-sentuhan awal itu yang sempat membuat bulu kudukku meremang. Anganku melambung ke awang-awang. Lalu sebutan untukku sebagai istri salihah di buku karyanya ‘Take Me In your Arms’. Apakah semua itu hanya pura-pura alias sandiwara belaka?
Oh, Nadhira Putri, kasihan sekali kamu, sih. Sungguh malang nasibmu. Simpan rapat-rapat asamu. Bungkus dan bawa pulang. Percuma saja, karena semuanya tak berarti apa-apa bagi Mas Fadlanmu!
Ya, Allah benarkah kata pikiranku? Bagaimana dengan kata hatiku? Sebab, aku merasakan ketulusannya itu sebagai sesuatu yang lebih dari sekadar sebuah tanggung jawab. Ada perasaan berbeda yang mendasari. Apakah itu cinta? Entahlah. Aku tak berani menjawab.
Pada kenyataannya, Mas Fadlan nggak pernah menembakku untuk menyatakan perasaannya yang sesungguhnya padaku. Meski kami sudah menikah secara sah sebagai pasangan suami istri, tapi sangat penting bagiku untuk mengetahui apakah dia cinta padaku atau hanya terpaksa karena keadaan. Tiada kesan apa-apa, selain hanya karena sebuah konsekwensi dan memenuhi tanggung jawab.
Rencana liburan honeymoon itu, lantas apa artinya? Kenapa harus, kalau itu hanya sebuah keterpaksaan saja. Buang-buang waktu saja! Huh!
***Bersambung***