Bab. 11.
Aku Resah dan Gelisah Menunggu Ditembak Suami, Istriku ... I Love You
Malam ini aku sungguh tidak bisa tidur. Resah dan gelisah menunggu di sini, berharap waktu subuh segera datang dan seseorang mengetuk pintu, lalu masuk, membangunkan aku dari tidur lelap, mengajak salat Subuh berjamaah. Hampir selalu begitu setiap hari, menjadi rutinitas yang jarang terlewati dan semakin membangkitkan chemistri antara aku dan Mas Fadlan.
Masih terbayang dengan jelas, bagaimana Mas Fadlan mencium bibirku tadi sore. Kami sempat terbuai dan terhanyut dalam pagutan yang melenakan. Mampu membius kesadaran. Serasa terbang ke awan biru. Indah.
Mas Fadlan ... ah!
Kamu tadi bilang, lain kali tak berani jamin aku bakalan bisa selamat. Aku tak tahu pasti, apakah aku harus sedih, menangis karena ketakutan atau justru sebaliknya merasa senang, hati bahagia, dan penuh bunga-bunga. Nyatanya saat ini jantungku berdebar-debar. Bulu kuduk meremang. Merinding. Nyaliku ciut.
Oh, Nad ...! Ada apa denganmu?
Kutarik selimut menutupi seluruh tubuh. Bersembunyi di sana, menutupi berbagai rasa nano-nano yang memenuhi rongga d**a. Mungkin sekarang pipiku merona merah seperti tomat. Aku senyum-senyum sendiri. Kupegang kening, apa mungkin panas. Sebab, kenapa aku jadi senewen begini.
Perhitunganku meleset. Jangan-jangan aku yang ‘kalah’. Termakan oleh omonganku sendiri. Bukankah Allah itu menurut prasangka hamba-Nya?
“Nad, nanti sore ba’da asar, kita ke pondok ya. Mas jamin kamu pasti suka dan kerasan. Insya Allah.”
Aku diam tak langsung menjawab. Kuraih uluran tangannya lalu kucium punggung tangan imamku, usai salat Subuh berjamaah.
Hhmm, Mas Fadlan mengajakku ke pondok hari ini. Kebetulan aku tidak ada jadwal kuliah. Kupikir daripada aku berdiam diri di rumah, tak ada salahnya jika kuiyakan saja ajakannya kali ini. Biasanya aku selalu menolak dengan berbagai alasan dan banyak pertimbangan.
Entahlah akhir-akhir ini Mas Fadlan beberapa kali melibatkan aku dalam kegiatannya. Dia sudah hafal jadwal kegiatanku dan kapan aku ada waktu longgar.
Sore ini aku jadi ikut Mas Fadlan ke pondok. Sesekali aku pingin tahu juga kegiatan suami di pondok. Pesantren modern yang dibangun puluhan tahun lalu di atas tanah cukup luas di dataran tinggi kota Bandung. Salah satu peninggalan almarhum abinya, selain supermarket, rental komputer, dan jasa pengetikan, penjilidan naskah, juga usaha laundri yang letaknya berdekatan dengan lokasi ponpes. Setiap usaha ada orang kepercayaan, orang yang diserahi tanggung jawab secara langsung di lapangan. Mas Fadlan tinggal mengecek sekaligus memonitor jalannya operasional usaha baik secara langsung setiap harinya ataupun lewat data yang diterima berupa laporan yang tersimpan di laptop pribadi.
Sambil menunggu Mas Fadlan mengajar, aku berjalan-jalan mengelilingi kawasan gedung pondok pesantren ini. Megah sekali pesantren ini, ya. Suasananya, tempatnya bersih, rapi, nyaman, aman, dan damai. Santrinya banyak jumlahnya hingga ribuan.
Subhanallah.
Jujur selama menikah dengan Mas Fadlan, baru pertama kali ini aku berkunjung kemari. Selalu saja ada alasan untuk menolak, setiap kali suami mengajakku ke sini. Ah, ternyata tempatnya cukup menyenangkan. Aku tak bosan berjalan-jalan mengitari area gedung ini. Lantunan ayat suci dari santriwan-santriwati terdengar merdu bak paduan suara yang grande di dalam sebuah gedung megah. Terasa adem di hati. Seperti tetesan embun di pagi hari, setelah lama tak turun hujan.
Ah, tak terasa air mata ini menitik, membasahi pipi. Ada perasaan bahagia membuncah. Menguasai relung d**a. Mas Fadlan, terima kasih telah mengajakku kemari. Menunjukkan sisi lain dunia yang bagiku terlihat indah menyejukkan hati.
Capek berjalan-jalan, kebetulan aku melihat sebuah ruangan seperti perpustakaan. Aku masuk dan melihat deretan rak-rak buku yang tertata rapi. Suasananya tenang dan nyaman di sini. Hanya terlihat beberapa orang santri yang tengah asyik membaca buku. Aku pun segera berbaur dengan mereka.
Sebuah buku dengan judul, Take Me In Your Arms, menarik perhatianku. Hhmm, penasaran aku akan isi buku ini. Betapa aku terkejut saat kutahu siapa penulisnya. Ia adalah Muhammad Fadlan. Buku yang berada di tanganku sekarang adalah karya terbarunya.
What?
Oh, ternyata suamiku adalah seorang penulis. Aku sama sekali tidak tahu. Sebab, Mas Fadlan pun tak pernah cerita padaku.
Penasaran kubuka lembar pertama lalu kedua. Di situ tertulis ungkapan sepatah, dua patah kata dari sang penulis. Untaian kata itu begitu indah tersusun rapi, kata demi kata yang tak urung membuatku terkesiap sesaat kemudian. Bagaimana tidak, sang penulis mengungkapkan perasaan, ucapan terima kasih, dan mendedikasikan buku ini pada seorang wanita yang dia sebut sebagai istri nan cantik lagi salihah, Nadhira Putri. Itu aku ... ya, aku.
Aku tak lantas terharu apalagi bahagia, tanda kutip. Mungkin ya, di satu sisi. Hati wanita mana yang tak merasa tersanjung mendapatkan pengakuan dan penghargaan dari suami yang diabadikan dalam sebuah buku yang pastinya dibaca oleh banyak peminat, penggemarnya. Namun, di lain sisi, jelas aku merasa terbebani sekaligus tersindir dengan tulisan itu. Secara aku sadar diri, bagaimana kualitas diriku dan bagaimana pula perlakuanku pada suami selama ini.
Pada halaman terakhir, di situ terpampang foto dirinya disertai biografi sang penulis. Saat mataku tertuju pada tulisan, status: menikah dengan istri salihah, Nadhira Putri. Hatiku tersentak. Kali ini sebuah penegasan yang sengaja diulang. ‘Istri salihah’. Sedangkan aku, masih amatlah jauh dari kriteria itu yang bisa disebut sebagai istri salihah.
Perasaan campur aduk menggelayutiku. Resah dan gelisah. Sementara aku tipe orang yang nggak pandai menyembunyikan perasaan. Segala apa yang kurasakan saat itu, gambaran suasana hati pasti terlihat pada air mukaku dan gampang terbaca oleh orang yang berada di dekatku. Seperti saat ini.
Dalam perjalanan pulang, beberapa kali aku mengusap keringat yang membasahi kening dan leher, juga kedua telapak tangan. Menghela nafas berulang kali dengan membuang pandangan ke sisi kiri jendela kaca mobil. Mas Fadlan yang tengah memegang kemudi di sebelahku, memperhatikan tingkahku dari tadi. Sebentar-sebentar dia menoleh ke arahku.
“Nad, kamu kenapa? Pasti capek, ya? Ngantuk? Kok, gelisah begitu. Maaf tadi, Mas, kelamaan meninggalkan Nad sendiri.”
Mas Fadlan memegang telapak tanganku. Aku membiarkannya saja. Tidak protes seperti biasanya. Pun saat beberapa detik kemudian, dia membawa tangan kananku mendekat ke bibirnya, lalu menciumnya dengan sepenuh perasaan. Hatiku berdesir seketika. Aliran darah terasa berhenti. Jantung berdebar lebih kencang. Aku semakin tak mampu menutupi gelisah.
Tuhan, tolong aku. Cairkan hati ini menjadi lunak dan terbuka untuk sebuah sentuhan dari seorang laki-laki halal di sampingku saat ini. Biarkan otak warasku bekerja sama dengan hati nurani secara alami. Mengalir seperti air. Mencari titik terendah lalu kemudian berhenti manakala menemui muaranya.
“Ah, nggak pa-pa, Mas. Nad menikmati, kok. Tempatnya enak. Nad suka.”
“Betul?”
Aku mengangguk mengiyakan. Mas, kamu tahu nggak, kalau saat ini hatiku deg-degan. Tanganku berada dalam genggamanmu. Semakin lama semakin erat. Kamu meremasnya. Sementara tangan kananmu tetap pada kemudi. Aku diam tak bereaksi. Hanya dadaku yang berdegup kencang tanpa kendali.
Sesekali kamu menoleh ke arahku. Tatapan mata elangmu menukik, menembus jantungku. Aku terpana untuk sesaat, lalu menundukkan pandangan. Aku sungguh tersipu malu.
Ah, apakah kami sedang berpacaran? Beginikah rasanya? Kapan dia nembak? Untuk bilang, ‘Nad, istriku, I love you. Maukah kamu menjadi pacarku?’
Ah ...!
***Bersambung***