Bab. 10.
Apakah Aku Cemburu?
Saat weekend kami tak lagi seperti dulu, garing tanpa makna. Kini Mas Fadlan lebih sering menghabiskan waktu di rumah, sekadar bersih-bersih taman depan, masak bareng makanan kesukaan, atau tak jarang pula kita jalan-jalan di taman perumahan, menyapa para tetangga yang dijumpai.
Seperti saat Minggu pagi itu di taman. Dengan pakaian training lengkap dan sepatu kets, kami jalan-jalan pagi. Mataku mengitari pemandangan asri taman dan jalan lurus depan yang tertata rapi dan bersih. Hijau segar di pandang mata.
Tanpa sengaja mataku menangkap sosok bayangan wanita dari balkon lantai dua rumah nomor 8. Kuperhatikan tatapannya tertuju pada Mas Fadlan.
Ada apa? Siapa wanita itu? Dia masih mengenakan baju tidur tipis transparan warna pink. Bagian bawahnya yang menjuntai melambai-lambai tertiup angin pagi menerpa. Seksi.
Ya. Wanita yang berdiri di balkon lantai dua itu memang seksi dengan balutan kain satin yang melekat di tubuhnya. Wajahnya juga terlihat cantik meski tak begitu jelas kutangkap dari tempatku berdiri.
Kenapa tatapan wanita itu tak beranjak dari Mas Fadlan? Apa mereka saling mengenal atau pernah bertemu sebelumnya? Kapan? Aku, kok, nggak tahu, ya? Mas Fadlan juga nggak pernah cerita apa-apa soal ini padaku.
Untung Mas Fadlan nggak menyadari kalau sedang jadi pusat perhatian wanita itu. Tiba-tiba muncul sosok laki-laki mendekati wanita itu. Mungkin suaminya. Dih, sudah punya suami, tapi mata ke mana-mana nggak bisa menjaga pandangan. Bibirku cemberut, tatapanku melengos dari wanita itu dan sejurus kemudian, kutarik setengah paksa tangan Mas Fadlan.
“Hei, Nad, ada apa, kok narik-narik gini?”
“Nanti saja Nad jelasin. Sekarang kita pulang.”
“Tapi, Mas, belum selesai, Nad,” protes Mas Fadlan.
Aku nggak peduli. Padahal kutahu Mas Fadlan tengah senam dengan menggerak-gerakkan tangan dan kakinya. Kutarik paksa tangan Mas Fadlan agar menjauh pergi dari area taman.
“Nanti saja kita lanjut di rumah, Mas. Nad kebelet.” Alasanku pada Mas Fadlan, ngasal.
Memang sudah hampir tiga bulan aku dan suami tinggal di sini. Namun, terus terang aku belum banyak mengenal semua tetangga si sini. Hanya sesekali bila aku berpapasan dengan mereka, sekadar mengucap salam sapa. Aku belum begitu hafal wajah-wajah mereka satu persatu, kecuali Linda, pemilik laundry depan perumahan langganan kami.
“Kamu ini kenapa, sih Nad?”
“Ya, Nad kebelet, Mas. Gimana, dong? Masak Nad pulang sendiri? Berangkat bareng, pulang juga harus bareng, dong!” Aku berdalih untuk menutupi perasaanku sebenarnya.
Entahlah. Aku nggak suka aja melihat cara wanita itu memandang suamiku. Terkesan gimana, gitu. Idih, yang berasa punya suami. Iyalah. Dalam hal ini, sebagai istri aku tidak rela dan harus waspada menghadapi segala kemungkinan yang bisa saja terjadi di luar perhitungan kita. Zaman now gitu, loh. Ustaz juga manusia biasa, bukan Dewa. Ya, kan? Hhmm ...
Tiba-tiba ponsel Mas Fadlan berdering. Dia mengangkatnya.
“Halo, Assalamualaikum. Oh, ya, saya ingat. Miss Vera, kan? Iya, ada apa? Ada yang bisa dibantu?”
Miss Vera? Pasti wanita. Siapa dia? Dahiku berkernyit. Alis terangkat ke atas. Otak dipenuhi tanda tanya. Siapa itu Miss Vera? Aku nggak pernah mendengar nama itu disebut sebelum ini.
“Oh, terima kasih atas undangannya. Tapi maaf saya tidak bisa datang sendiri dan kita hanya berdua saja di rumah Miss Vera. Kita bukan muhrim. Nanti bisa timbul fitnah. Kecuali ada suaminya Miss Vera atau anggota keluarga di rumah yang menemani saat kita berbincang. Saya juga akan mengajak serta istri saya. Sekalian kita berkenalan, biar akrab sebagai tetangga yang hidup berdampingan.”
Apa? Si Miss Vera itu mengundang Mas Fadlan untuk datang ke rumahnya? Siapa, sih, dia? Aku jadi penasaran. Tadinya aku bohong aja bilang ke suami kalau aku kebelet. Sekarang aku beneran kebelet, nih. Perutku tiba-tiba mules-mules nggak keruan begitu mendengar pembicaraan suami dan si Miss Vera itu. Tak peduli lagi dengan isi pembicaraan mereka berdua di telepon, aku bergegas setengah berlari menuju kamar mandi di dalam kamarku.
Hal ini tidak bisa dibiarkan. Nanti aku pasti cari saat yang tepat untuk mengkonfirmasi soal telepon ‘gelap’ itu pada Mas Fadlan. Dia harus mengklarifikasi dengan sejelas-jelasnya. Aku nggak sudi perutku mules-mules terus oleh rasa penasaran plus kekhawatiran. Ya, apa pun dan bagaimanapun hubunganku dengan suami saat ini, tentu saja perasaan khawatir, kewaspadaan, dan takut kehilangan itu pasti ada. Hal yang wajar bukan? Karena aku seorang istri, sama seperti para istri yang lain.
Saat makan siang di meja makan. Aku tidak bisa menahan diri untuk tidak bertanya pada suami soal wanita misterius yang bernama Miss Vera itu. Aku berharap Mas Fadlan tipe laki-laki dan suami yang jujur dan setia.
“Mas, siapa Miss Vera yang tadi menelepon?” tanyaku langsung tanpa basa-basi.
Mas Fadlan menolehku, “ Oh, dia itu tetangga kita. Rumahnya nomer delapan. Deretan rumah kita,” jawab Mas Fadlan santai. Dia pun melanjutkan bacanya.
“Nad dengar tadi dia mengundang Mas Fadlan ke rumahnya? Dalam rangka apa?”
“Oh, itu dia ingin mendapatkan pencerahan sehubungan dengan keadaan rumah tangganya. Suaminya jarang pulang. Sering ke luar kota untuk urusan pekerjaan.”
“Dia tinggal sama siapa kalau suaminya sedang tidak ada di rumah?”
“Sendiri.”
“Sendiri? Lalu, Mas mengiyakan undangannya?”
“Ya, nggaklah. Tadi Nad, kan, dengar, Mas menolak. Kecuali suaminya ada di rumah, atau ada saudara yang menemani. Mas juga akan mengajak Nad nanti.”
“Nggak. Nad nggak mau.”
“Kenapa?”
“Nad juga nggak setuju, Mas ke sana.”
“Hhmm ....”
“Kok, hhmm, sih? Mas Fadlan kenal di mana sama si Miss Vera itu? Pernah ketemu di mana?” tanyaku antusias kali ini. Lebih tepatnya kesal, jengkel, dan penasaran campur aduk jadi satu.
Belum sempat Mas Fadlan menjawab pertanyaanku, tiba-tiba ada notifikasi masuk ke ponselnya. Aku menduga-duga kalau itu pesan masuk dari wanita seksi itu. Sebab, dia sempat menoleh ke arahku sebelum mengetik sesuatu, yang pasti adalah sebuah jawaban.
“Mas, siapa? Dari dia, ya?”
Mas Fadlan diam. Menimbulkan teka-teki di kepalaku semakin berliku. Apa ada sesuatu yang disembunyikan? Sesuatu yang aku tidak mengetahuinya.
Aku pergi meninggalkan Mas Fadlan sendiri di ruang makan. Membawa rasa kesal. Tak kuasa menahan rasa ingin tahu. Juga rasa sakit di hati ini. Oh, inikah yang namanya cemburu? Kalau benar cemburu, itu artinya bahwa aku ...
“Nad ...! Buka pintunya. Mas mau bicara.”
Terdengar suara Mas Fadlan memanggil. Ketukan di pintu kamar terdengar lagi. Mas Fadlan tidak menyerah. Dia tahu aku lagi kesal. Mungkin dia juga tahu kalau aku cemburu, meski aku enggan mengakuinya.
Kubuka pintu kamar dan Mas Fadlan langsung menerobos masuk. Aku bergegas naik ke ranjang dan tutup selimut. Seperti biasa.
“Nad, kamu kenapa?” tanya Mas Fadlan sambil menarik selimut yang menutupi wajahku.
“Nggak pa-pa,” jawabku ketus.
“Nad marah?”
“Nggak.”
“Kenapa cemberut? Ah, Mas tahu. Nad cemburu, ya?” Mas Fadlan senyum-senyum, membuatku makin kesal.
“Apa? Nad cemburu? Idih, nggaklah, ya.” Aku mengelak.
“Hhmm, syukurlah. Itu artinya Nas percaya sama, Mas.”
“Nad percaya sama, Mas. Tapi Nad tidak bisa percaya sama wanita seksi itu! Dari gayanya, sudah jelas kalau dia itu w*************a! Nad tidak suka, Mas, dekat-dekat sama dia. Nggak peduli meski dia adalah tetangga. Pokoknya, Mas jauhi dia. Jangan penuhi undangannya. Titik!”
Mas Fadlan terkekeh mendengar pengakuanku yang secara tidak langsung menyiratkan isi hatiku yang sebenarnya.
“Kamu cemburu Nad? Hahaha ...!”
Cup ...!
Sebuah kecupan kilat mendarat di keningku. Menyusul kemudian hidung dan bibirku di detik berikutnya. Berhenti di sana dan terjadi lagi. Alami. Mengalir begitu saja. Aku membalasnya. Mata terpejam rapat. Merasakan getaran hebat. Kami saling berbalas seperti rindu yang telah lama bersemayam dan butuh tersalurkan.
Saat kesadaran menyergap tanpa permisi, “Maaf, Mas lepas kontrol. Sudah berapa kali, Mas bilang jangan bikin gemas. Mas nggak tahan. Lain kali Mas nggak berani jamin, kamu bisa selamat.”
***Bersambung***