Bab. 9.
Bikin Romantis Berdua di Dapur
Minggu pagi setengah siang. Semalam hujan deras sekali. Pagi ini masih ada bekasnya. Hamparan rumput hijau sintetis di halaman depan rumah terlihat basah. Embun pun menghiasi dedaunan bunga-bunga di taman.
Hawa pagi nan sejuk menyapu kulit saat aku keluar rumah. Padahal jam sudah menunjukkan pukul sepuluh. Namun, sang mentari seakan masih enggan menampakkan diri. Ia masih betah bermalasan di peraduan. Sepertiku.
Semalam aku sulit tidur. Masih jelas terbayang dalam ingatan, bagaimana Mas Fadlan memperlakukanku kemarin pagi. Kecupan pertama, kedua, tanpa permisi. Tanpa ijin.
Aku tak mau kejadian itu terulang lagi. Untuk menghindari hal-hal yang tak diinginkan, aku mengunci pintu kamar. Hhmm ... kita lihat saja, Mas, sampai di mana kamu bakal berhasil ngerjain aku. Hahaha ...! Jelas saja akulah pemenangnya. Kepedean ya, gua. Hahaha!
Dua tangan kokoh melingkar di pinggangku. Sebuah pelukan erat dari arah belakang, membuatku tersentak dari lamunan.
“Pagi ini udaranya segar, ya. Bunga-bunga di taman ini juga terlihat segar dan indah, sepertimu,” bisik Mas Fadlan lirih di telingaku.
“Mas Fadlan! Iihh, lepas! Jangan begini, dong. Diliatin tetangga depan, tuh. Malu!”
Aku berontak, mencoba melepaskan tangan Mas Fadlan dari pinggang, tapi bukannya melepaskan pelukan, kedua tangan itu makin melingkar erat. Duh, apaan, sih! Norak banget. Mau pamer kemesraan, biar dibilang pasangan romantis, gitu? Itu, mah, selebriti, ‘kali.
“Kenapa harus malu? Kita ini, kan, suami istri. Wajarlah sepasang suami istri saling bermesraan. Mereka pasti memaklumi. Apalagi, kita adalah pasangan yang masih terhitung just married.”
“Iya, tapi nggak begini juga, Mas, caranya. Nad risih.”
“Oke. Kalau di sini, Nad merasa risih, kita lanjut ke dalam saja, yuk!”
“Ih, apaan, sih, Mas ini? Pagi-pagi, kok, pikirannya sudah mesum.”
Kekhawatiranku pun terjawab tak lama kemudian.
“Permisi, Assalamualaikum. Waah, lagi santai, nih Ustaz, Kak Nadhira. Maaf kalau saya mengganggu. ”
“Hei, Linda. Waalaikumsalam. Ah, enggak, kok. Sama sekali nggak mengganggu.”
Refleks aku menyodokkan siku ke arah perut Mas Fadlan. Tidak terlalu keras, sih. Tapi, lumayanlah.
Linda datang dan tengah memergoki adegan sok mesra Mas Fadlan padaku. Aku nggak tahu, apa aku harus bangga, bahagia, atau justru tersinggung dan marah? Sebab, yang terlihat oleh mata itu belum tentu sesuai dengan kenyataan.
Iya. Kenyataan sebenarnya, apakah Mas Fadlan melakukannya karena cinta atau hanya ikhlas yang menyertai? Sebab, sampai sekarang pun Mas Fadlan belum pernah menyatakan perasaannya padaku.
Bagaimana denganku? Aku sendiri pun tak tahu. Apa yang kurasakan pada Mas Fadlan. Semua berjalan sebagaimana seharusnya. Alami. Tanpa rekayasa. Meski jujur kuakui, sejak peristiwa kemarin pagi, saat dia memberi kecupan pertama. Itu indah hingga terbawa mimpi. Tak mampu kumelukiskannya lewat kata-kata mutiara. Aku sungguh tak pandai merangkainya. Yang pasti, ia sungguh indah. Terasa hingga ke relung sukma. Aih, kenapa aku jadi bucin? Apa? Enggaklah. Jangan sampai!
Linda datang mengantarkan sendiri beberapa baju yang aku laundry ke tempatnya tempo hari. Linda bilang, kemarin hari Jum’at rumah kosong saat karyawannya mengantarnya ke sini.
“Aku sudah hafal kalau hari biasa, rumah pasti kosong. Sabtu Minggu, Ustaz dan Kak Nadhira baru ada di rumah. Makanya bajunya aku antar sendiri ke sini. Karyawanku libur.”
“Oh, ya, betul kamu, Lin. Oke, seperti biasa nanti biayanya aku transfer aja, ya, Lin?”
“Oke, Kak, santai aja. Ya, sudah, saya pamit dulu. Terima kasih. Mari, Ustad. Assalamualaikum.” Linda pun berpamitan.
“Waalaikumsalam.” Aku dan suami hampir bersamaan menjawab salam. “Terima kasih, ya, Lin,” balasku lagi.
Setelah kepergian Linda, aku pun segera masuk ke rumah diikuti oleh Mas Fadlan. Laki-laki halal bagiku dan aku pun halal baginya, tapi hingga tiga bulan lebih pernikahan kami, belum sekali pun dia menyentuhku hingga kejadian kemarin pagi. Meski hanya sebatas kecupan.
Perutku lapar. Hhmm, mau masak apa, ya? Aku menuju dapur. Membuka kulkas, mengecek bahan. Apa sekiranya yang bisa kuolah jadi menu sarapan setengah siang ini.
Kuambil aneka sayur wortel, buncis, kentang, dan brokoli hijau. Salad sayuran tiba-tiba terlintas di pikiranku. Dengan sayuran yang sudah ada di kulkas aja, tak lengkap pun tak apa. Saus mayones kebetulan ada, original dan pedas.
Tidak ada ranting, akar pun jadi. Tidak ada sirloin atau pun tenderloin, ayam pun jadi. Itu pun adanya ayam utuh satu ekor.
Saat aku sedikit kesulitan mengeluarkan ayam dari freezer, tiba-tiba tangan kokoh menjulur menawarkan bantuan. Mas Fadlan muncul di belakangku, menyusul ke dapur.
“Mau masak apa?” tanyanya, sambil membantu mengeluarkan ayam dari freezer.
“Salad sayur,” jawabku singkat. Masih gondok oleh sikap usilnya tadi di teras yang sempat tertangkap basah oleh Linda. Entahlah, aku ragu apakah masih punya nyali bila ketemu Linda setelah ini. Sumpah, aku malu dan ini gara-gara keusilan Mas Fadlan.
“Ayamnya, mau dimasak apa?” tanya Mas Fadlan lagi sambil menaruh ayam di tempat cucian piring dan mengalirinya dengan air kran mengucur.
“Belum tau juga. Mau buat steak, tapi nggak ada daging sapi. Cuma ada ayam ini.”
“Hhmm, oke. Tidak masalah. Ayamnya kita bikin ayam panggang ala Timur Tengah saja, ya?”
“Nad nggak tau resepnya. Kalau pake bumbu jadi tinggal cemplung-cemplung, sih, bisa dan praktis lagi. Nggak pake ribet.”
“Nggak ribet, kok. Sini, Mas ajarin, mumpung lagi libur. Ayo!”
Tanpa menunggu jawaban tanda persetujuan, Mas Fadlan langsung beraksi. Dengan cukup cekatan dia meracik dan meramu bumbu-bumbu. Yang kutahu, sih, kalau masakan khas dari Timur Tengah itu bumbunya sangat dominan di rempah-rempahnya. Cukup menyengat, khas dan kental sekali.
“Lama nggak? Nad sudah lapar.”
Kuperhatikan cara kerja Mas Fadlan, dari mulai menyiapkan bahan-bahan dan bumbu-bumbu, mengupasnya lalu mengolahnya dengan gerakan tangan yang cukup terampil dan cekatan. Hhmm, boleh juga aksinya. Jangan-jangan suamiku ini pernah berguru pada chef Juna, kali, ya? Tunggu dulu, dong! Test dulu bagaimana soal rasa nanti kalau sudah matang.
“Nggak terlalu lama. Setengah jam cukup. Bantuin, Mas, biar cepat. Katanya lapar.”
“Ah, oh, iya, Mas. Bantuin apa?”
Salting sendiri aku dibuatnya, takut ketahuan kalau aku memerhatikan aksinya sejak tadi.
“Ya, bantuin masaklah. Dari tadi cuma berdiri ngeliatin chef Fadlan masak. Naksir, ya?”
Idih, pede amat orang ini. Aku hanya lihat cara dia masak. Bukan lihat yang masak! Yah, lihat juga, sih. Sedikit, tapi.
“Siapa juga yang naksir?”
Wajahku mengerucut lagi. Bibir menyun setengah senti meter. Mas Fadlan tersenyum lalu memakaikan apron ke tubuhku.
“Mari kita bereksperimen berdua,” bisiknya lirih di belakang leher sambil mengikatkan tali apron di pinggangku.
Ah, kenapa aku merinding? Bulu kuduk meremang di sekujur kulit tubuhku. Beberapa detik aku seakan merasakan sengatan listrik tegangan sedang. Tubuhku bergetar. Detak jantungku berhenti beberapa saat. Apakah ini namanya?
“Mas, Nad sudah lapar banget.”
“Iya, sabar, Sayang. Mas juga lapar. Kita berdua sama-sama lapar.”
Untuk pertama kalinya, aku belajar memasak makanan favorit suami. Keriuhan dan kehebohan memasak berdua di dapur, menimbulkan kedekatan emosional yang tak terduga.
***Bersambung***