Bab. 8.
First Kissing Dari Husband
“Hmm, Terima kasih,” jawab Mas Fadlan singkat, saat kusajikan secangkir teh hangat di meja beserta kudapannya.
Dih, pelit amat jawabnya. Kenapa kini gantian dia yang jutek, ya? Nggak salah, tuh? Apalagi saat dia mengambil tempat duduk di sofa tunggal di depanku. Padahal seharusnya dia tahu aku sengaja duduk di sofa panjang, dengan harapan dia akan duduk di sampingku. Sebab cangkir teh itu kuletakkan di atas meja posisi di tengah mendekat, menghadap ke sofa panjang.
Aku masih bisa menahan diri sekuat tenaga untuk tetap sabar.
“Mas, ini tehnya diminum dulu.”
Cangkir teh itu kugeser ke hadapannya. Dia hanya melirik sekilas, lalu membuka lembaran buku yang dipegangnya.
“Mas, tehnya diminum dulu mumpung masih hangat,” tawarku lagi masih dengan senyum tersungging di bibir.
“Ya, nanti saja. Masih panas.”
“Tidak panas, kok. Tehnya sudah hangat. Nad, kan, bikinnya sudah dari tadi sejak Mas Fadlan mandi,” desakku sedikit memaksa.
Mas Fadlan menatap ke arahku. Sorot mata elangnya menukik tajam. Berkilat. Bening berkilau mata indah itu, tapi tak cukup bersahabat.
Dia kembali berkutat pada buku tebal itu. Tatapannya serius menekuri deretan huruf yang terpajang rapi di depan mata.
Kenapa rasanya jadi sakit begini, ya? Sekaligus aku merasa malu. Apa dia pikir istrinya ini gadis gampangan yang suka duduk dekat-dekat dengan lelaki, begitu? Ihh, amit-amit, deh.
Wah, tidak bisa dibiarkan. Aku sudah hilang sabar. Kamu sama sekali tak menghargai aku. Kamu tak menganggapku ada. Penghinaan dan pelecehan ini harus dibalas. Kamu harus membayar semua ini dengan mahal, Mas. Awas saja, ya. Ini bukan akhir. Tunggu strategiku selanjutnya. Aku atau kamu yang harus ‘kalah’.
Mas Fadlaaan ...! Aku berteriak kencang dalam hati. Dadaku bergemuruh sesak serasa mau meledak. Tinggal menunggu saat yang tepat saja bagai bom waktu.
Kedua tanganku mengepal erat di pinggiran sofa. Senyum manisku tadi, seketika sirna berganti bibir menyun sepanjang kurang lebih satu senti kalau diukur pakai penggaris.
Eh, tapi dia sama sekali tak memperhatikan istrinya ini yang kelihatan sungguh kesal oleh sikapnya yang tak elok menurutku.
“Mas Fadlan, kamu ini kenapa, sih? Masih marah sama Nad? Nad tahu Nad salah. Nad sudah berusaha memperbaiki diri. Tapi kenapa, Mas tidak menghargainya? Mas cuekin Nad. Mas nggak nganggap Nad. Terus Nad harus bagaimana?”
“Oh, bagus kalau Nad mengaku salah dan mau memperbaiki diri. Meski tanpa permintaan maaf yang terucap.” Jawaban itu terdengar sinis di telingaku.
Tanpa ambil suara terlebih dahulu, nggak peduli nanti hasilnya fals atau gimana, aku langsung menangis tersedu. Hatiku sakit sekali rasanya dan semakin sakit, saat melihat Mas Fadlan berdiri menjauh pergi masuk ke kamar, tanpa menoleh lagi. Seakan tak peduli. Tangisku semakin pecah dan menjadi, persis seperti gadis kecil yang ditinggal sendirian di rumah oleh ibunya yang pergi berbelanja ke pasar.
“Ayah ... Ibu, tolong Nad. Nad ingin pulang!”
Heran juga aku, biasanya jika lihat aku menangis, Mas Fadlan terlihat bingung dan cemas. Kemudian dia akan sibuk membujukku dengan sedikit melucu untuk meredakan tangisku. Tetapi kenapa kali ini dia cuek?
Tangisku semakin menjadi. Menyesakkan. Sakit banget hati ini. Sungguh nelangsa. Lebay, kamu, Nad. Emang!
Aku pun masuk kamar dan tidur, melanjutkan tangis nelangsaku. Seperti biasa bila ada masalah, kubenamkan tubuhku dalam-dalam di bawah selimut tebal.
Hari ini Sabtu dan besok adalah Minggu. Hore! Waktunya Me Time. Tapi sepertinya aku malas mau ngapa-ngapain. Mau keluar kamar juga, malas. Setelah salat Subuh tadi, aku meringkuk lagi di tempat tidur.
Kulirik jam dinding di kamar, sudah hampir jam sembilan. Sinar matahari pagi menerobos masuk lewat pantulan kaca jendela yang tertutup gorden warna putih transparan. Sudah siang. Perutku lapar. Terakhir makan, kemarin siang di kantin kampus.
Saat aku hendak turun dari ranjang, terdengar suara ketukan pelan di pintu. Mas Fadlan. Ya, siapa lagi kalau bukan dia?
Aku kembali berbaring, menutupi seluruh tubuh dengan selimut. Pura-pura tidur.
Kudengar dari balik selimut, suara Mas Fadlan memanggil begitu dia membuka pintu kamar.
“Nad ... kamu masih tidur?”
Suara langkah kaki mendekat. Dia pun duduk di pinggir ranjang. Menarik selimut yang menutupi wajahku. Aku tidak rela. Kuhalangi niatnya. Kami saling tarik menarik selimut, hingga aku menyerah kalah. Selimut terbuka dan tampaklah mukaku dengan raut tidak bersahabat. Bibir menyun setengah senti. Pasti tatapan Mas Fadlan menangkap kedua mataku yang sembab bekas menangis semalam.
Aku malu dan berusaha berontak. Gondok oleh sikapnya yang menyebalkan beberapa hari terakhir ini. Mas Fadlan tak membiarkannya. Dia berhasil mengunci kedua tanganku di samping kiri dan kanan kepala. Apalah dayaku sungguh tak sebanding dengan kekuatannya.
Sejurus kemudian, tanpa salam, Mas Fadlan mendaratkan kecupan sekilas di bibirku. Ya, Allah, apa ini barusan yang telah dia perbuat padaku. Kecupan pertama? Rasa aneh menjalar di sekujur tubuh. Bulu kuduk meremang. Walau sekilas, oh, tapi ...
“Kamu tau, Nad, apa kesalahan terbesarmu? Sikapmu selama ini semakin membuat, Mas, gemas.”
Aku melongo antara kaget dan perasaan nano-nano. Rupanya Mas Fadlan menangkapnya sebagai sinyal ‘yes’ dariku. Masih belum sepenuhnya berada dalam mode ‘on’, lelaki yang telah halal bagiku itu, melanjutkan aksinya.
Kecupan kedua mendarat di bibir. Kali ini lebih lama dan ... mendalam. Aku melongo seperti orang bego tak tahu harus berbuat apa. Mataku terpejam. Terhipnotis. Diam tanpa perlawanan. Sesaat aku terhanyut dalam buaian indah yang melenakan. Sumpah ini adalah first kissing bagiku.
“Sayang, ini ciuman pertama bagimu, ya?” bisiknya mesra dengan bibir menempel di telinga. Aku menggeliat. Geli.
What? Sayang? Apa aku nggak salah dengar, ya?
Saat kemudian tangan kokoh itu bergerak di atas d**a siap membuka kancing baju tidurku. Kesadaran penuh menguasaiku. Aku kesampingkan tatapan mata elangnya, menyusuri seluruh bagian wajahku dan berhenti tepat di kedua mataku. Kali ini tatapannya syahdu. Seakan menyiratkan sebuah keinginan yang telah cukup lama terpendam. Hasrat laki-laki normal, seorang suami yang menuntut haknya untuk dipenuhi sang istri.
“Mas ...! Apa yang akan kamu lakukan?” Aku meronta berusaha bangun melepaskan diri dari rengkuhan. Namun, Mas Fadlan tak sedikit pun memberiku ruang. Dia semakin menguasaiku. Bergerilya dan menjajah. “Kamu mau memperkosaku, Mas? Kamu tega melakukannya?”
Aku menangis mengiba. Ketakutan yang teramat sangat. Aku baca di buku-buku, bagaimana rasa sakit itu saat pertama kali berhubungan. Ketakutan itu menghantuiku. Itulah salah satu alasan ketidaksiapanku selama ini. Aku juga takut hamil. Aku tidak mau membawa galon ke mana-mana selama sembilan bulan lamanya.
Seketika aktivitas aktif di atas tubuhku mengendur ritmenya, lalu berhenti pada menit berikutnya.
“Maaf. Mas lepas kontrol.”
Mas Fadlan tanpa canggung mengancingkan kembali baju tidurku. Belahan d**a yang menyembul dan sempat menjadi santapan mata elangnya, kembali rapi dalam sarangnya. Tubuh gagah itu beringsut turun dari ranjang. Sebuah kecupan ringan mendarat di keningku.
“Kamu cantik kalau belum mandi. Jangan lupa sikat gigi, biar wangi ,” bisiknya kemudian sambil mengedipkan sebelah mata, sebelum kemudian bergegas keluar kamar.
Blugh!
Refleks kulempar guling ke arah Mas Fadlan, tepat mengenai punggung. Dia yang biasanya itu sok cool, tapi pagi ini terlihat genit dan menyebalkan di mataku. Tanpa menoleh dia malah tertawa lepas dan terus berlalu dari kamarku. Dihh!
Eh, beneran aku bau mulut, ya? Salah sendiri! Siapa suruh mendatangi istri tanpa permisi. Eit, tunggu! Emangnya kalau Mas Fadlan ijin permisi mendatangiku, terus aku bakal menerima, gitu? Haaa ... tidak!
Huff!
Aku bisa bernafas lega, seakan berhasil terlepas dari bahaya yang mengancam. Entah sampai kapan aku masih bisa selamat.
Huu ... huu ...!
Aku menangis membayangkan hal-hal menakutkan yang bakal terjadi padaku cepat atau lambat. Aku merasa sendirian. Tidak ada yang menolongku. Tidak juga Ayah dan Ibu meski kasih sayang mereka padaku tak perlu diragukan.
Duh, pada siapa aku harus meminta pertolongan. Ya, aku butuh pertolongan dari ancaman, bahaya suami yang kapan saja bisa datang tanpa disangka-sangka.
Terserah saja kalian mau bilang aku ini mengaku pintar, calon dokter, tapi kok stupid area. Mau menertawakan dan mengejekku? Biarin! Aku nggak peduli!
Aku sungguh takut dan perasaan itu menghantuiku di sepanjang malam yang kulalui selama tiga bulan hidup seatap dengannya sejak ijab kabul itu terucap.
Sebelumnya aku sempat berpikir mungkin Mas Fadlan tidak normal. Ternyata aku salah.
Apa justru aku yang tidak normal? Mungkin. Tau, ah! Gelap!
***Bersambung***