Bab. 7.
Diperhatiin Salah, Dicuekin Salah
Kalau dipikir-pikir, ya, aku dan Mas Fadlan ini seperti Tom and Jerry. Enggak pernah bisa akur. Asal ketemu langsung berantem meski nggak pake adegan cakar-cakaran. Hanya mukul dan nyubit aja. Itu aku.
Hahaha ... terkadang aku suka ketawa sendiri setelahnya. Kayak anak kecil, ya? Emang. Eh, bukan. Mas Fadlan bilang, aku masih ABG. Risiko menikahi Anak Baru Gede, dia bilang. Ih, enak aja kalau ngomong nggak pakai filter. Ngasal!
Dia pikir, aku ini anak SMA, apa? Biar begini juga, aku ini sudah mahasiswi semester tiga, tahu! Mahasiswi Kedokteran. Catat! Aku juga gadis mandiri. Tidak manja yang bisanya cuma mengulurkan tangan minta uang melulu sama orang tua. Eh, what? Wait, gadis? Itu dulu, maksudku. Sekarang sudah menikah meski cuma status. Aslinya tetap masih gadis. Masih segelan.
Maksudku itu, dulu sebelum menikah dan sampai sekarang pun, meski masih muda, aku sudah mampu, kok, membiayai kuliahku sendiri. Usaha butik yang semakin maju dan berkembang adalah bukti kemandirianku. Jangan salah tafsir, dong. Please always positive thinking, yes. Aku nggak bermaksud ujub, sombong dengan membusungkan d**a. Hanya mengapresiasi pada diri sendiri, supaya makin semangat dan percaya diri. Nggak apa-apa, kan? Hhmm, kecap memang selalu nomor satu, deh, sedunia.
Sejujurnya, aku tidak ingin dicap sebagai anak yang hanya bisanya bersembunyi di balik ketiak orang tua. Berada dalam bayang-bayang orang tua. Kalau masih dalam kendali orang tua, sebagai anak memang kudu wajib menjaga marwah keluarga. Hormat dan taat pada nasihat orang tua. Itu pasti. Sedangkan kini, setelah menikah jelas saja harus menjaga marwah suami. Itu hukumnya wajib. Sebab istri itu adalah cerminan suami. Suami adalah imam dan istri adalah makmum. Begitu kata pak ustaz, saudara-saudara sekalian. Lah, kenapa jadi ngelantur ke mana-mana aku ini. Sudah, ah.
Gara-gara menahan kesal terpendam sama suami, jadi tamasya ke mana-mana pikiranku. Eh tapi, aku nggak salah, loh. Lama-lama, sumpah aku geregetan banget sama sikap Mas Fadlan. Apalagi setelah aku sembuh dari sakit dan sejak kedatangan mendadak Ayah dan Ibu ke rumah, tempo hari.
Bagaimana tidak, coba bayangin, deh. Sikapnya itu makin ke sini makin acuh, cuek saja. Gayanya yang sok cool itu, loh, bikin aku nggak tahan pingin nabok.
Apa jangan-jangan Mas Fadlan nggak ikhlas merawat aku ketika sakit selama tiga hari kemarin? Dih! Bukannya sudah menjadi tugas suami menjaga dan merawat istri? Karena suami istri itu harus seia sekata, tetap setia dalam suka dan duka. Saat susah dan senang. Saat sehat dan sakit. Dia seorang ustaz, pasti pahamlah itu.
Memang, sih, kemarin Mas Fadlan sempat protes, saat aku pulang malam dari butik. Selalu dengan alasan yang sama, ramai langganan datang ke butik dan banyak order masuk.
“Baru pulang? Jam berapa ini?” Aku diam menunduk. Sudah bisa menduga, pasti bakal kena semprot sesampai di rumah. “Sudah lupa, ya, baru sembuh dari sakit?”
“Butik ramai, Mas. Banyak langganan yang datang. Orderan juga banyak yang masuk. Nggak mungkin, dong, aku tinggal begitu saja?”
Aku mencoba membela diri, meski agak ‘ngepir’ juga lihat ekspresi suami yang serius begitu. Padahal biasanya dia orangnya itu calm down, gitu. Duh, kenapa juga aku yang biasanya style ‘garang’ untuk figh jadi lemes begini? Macam harimau yang tanggal taringnya.
“Selalu saja alasan yang sama. Baiklah. Terserah kamu. Mas, nggak akan ambil pusing lagi. Silahkan saja.”
Mas Fadlan segera berlalu melewatiku tanpa menoleh. Dingin. Datar. No expression. Jujur, aku bergidik. Takut juga kalau sudah begini, merasa bersalah. Mending dia memarahi aku seperti yang sudah-sudah, daripada melihatnya bersikap seperti barusan.
Oh, God, help me, please!
Sejak saat itu sikap Mas Fadlan lebih banyak diam. Terkesan cuek dan acuh tak acuh. Sungguh membuatku salah tingkah sendiri. Serba salah.
Keadaan rumah tanggaku makin sepi, hampa, dan garing. Tanpa makna. Tak ada lagi ‘perang tanding’, adu debat seperti kemarin-kemarin. Mas Fadlan seperti sengaja menghukumku, memberiku pelajaran dengan mendiamkan aku. Aku pulang jam berapa, dia cuek. Aku mau pergi ke mana, dia pun seperti enggan bertanya.
Ini tidak bisa dibiarkan terus-terusan begini. Aku harus berbuat sesuatu. Oke. Biarlah kali ini aku yang mengalah. Si keras kepala ini katanya, untuk sekali ini mencoba berdamai dengan diri sendiri. Meredam emosi. Mengalahkan ego. Mengalah bukan berarti kalah, kan? Begitu kata orang bijak.
Aku berusaha memperbaiki kesalahan. Untuk menebusnya, aku selalu pulang lebih awal dari biasanya. Sebelum Mas Fadlan pulang dari pondok, aku sudah berada di rumah. Menyambut kedatangan suami di depan pintu dengan senyuman. Mencium punggung tangannya dan tak lupa membawakan tas kerjanya. Kemudian aku masuk ke kamarnya dan menyiapkan segala keperluan untuk mandi. Baju ganti yang santai sudah kuletakkan di atas tempat tidur.
Seperti sore itu aku sudah tiba di rumah lebih awal, sebelum Mas Fadlan pulang. Sementara dia masih mandi, aku membuatkan teh manis kesukaannya dengan gula cair yang terbuat dari jagung. Tak lupa kudapan ringan siap menemani. Potongan bolu gulung coklat di atas piring kecil.
Berbuat kesalahan itu mudah, tapi untuk memperbaikinya itu perlu perjuangan dan pengorbanan, terutama yang menyangkut soal hati dan perasaan.
Entahlah. Mungkin hanya perasaanku saja yang sensitif. Sebab aku merasa Mas Fadlan sedikit pun tak melihat usaha dan kerja kerasku. Dia sepertinya hanya memandang dengan sebelah mata. Aku merasa sebagai istri yang tak dianggap.
Uhuk!
Pingin nangis saja rasanya sambil guling-guling di kasur. Sabar Nad, sabar, ya. Tahan emosi. Kuelus-elus dadaku sendiri. Tarik napas dalam-dalam, lalu keluarkan pelan-pelan. Iya, bagus, Nad.
Mau jadi istri salihah itu tidak gampang, Say. Banyak hambatan dan rintangannya, gede juga godaannya. Nad, kamu pasti bisa!
“Mas Fadlan, duduk di sini, Mas. Ini Nad bikinkan teh manis kesukaan, Mas.” Dengan senyum semanis mungkin, kutawarkan secangkir teh spesial.
Kulihat Mas Fadlan keluar dari kamar sudah dalam keadaan rapi dan rambut klimis habis keramas kayaknya. Kalau dilihat-lihat, ganteng juga, ya, suamiku. Ganteng pakai banget malah. Kenapa aku baru menyadarinya setelah tiga bulan kami hidup bersama dalam satu atap? Kemarin-kemarin, ke mana saja diriku ini?
Idih, Nad, malu tahu! Sudah, stop!
Melihat aku memanggil, dia hanya menanggapinya dengan santai, hampir tanpa ekspresi. Membuatku geregetan dibuatnya. Sok jaim banget, sih, dia! Enggak jadi memuji, deh. Luntur sudah gantengnya.
Bagiku kini, dia tak ubahnya seperti guru Sekolah Dasar dan ... aku muridnya, begitu? Saking bandelnya, aku disuruh berdiri di depan kelas di pojokan dekat papan tulis dengan satu kaki diangkat selutut dan kedua tangan di belakang kepala. Siap menerima dan menjalani hukuman dari pak guru ‘killer’.
***Bersambung***