Bab. 6.
Istri Kecil Pak Ustaz yang Manja
Garapan pesanan kebaya modern dari Ibu Gubernur telah selesai tepat waktu. Alhamdulillah. Rasa lelah dan kerja kerasku terbayar sudah. Beliau puas dengan kebaya hasil rancanganku.
Bismillah. Bismillah. Tak henti kupanjatkan doa-doa pengharapan. Mulut ini komat-kamit merapal ayat demi ayat surat-surat pendek. Ya, Allah, berilah kemudahan dan kelancaran pada usaha dan pekerjaan hamba. Amiin.
Demi hasil maksimal yang kuinginkan, harus kutebus dengan kesehatan. Badanku ambruk. Aku jatuh sakit. Harga cukup mahal yang harus kubayar. Seminggu terakhir ini memang aku ngoyo, kerja keras tak kenal lelah. Siang malam dikebut terus. Lembur sampai larut malam. Tak jarang hingga tertidur di kursi dengan kepala menelungkup di atas meja.
Sebetulnya sudah beberapa kali Mas Fadlan memergoki aku kerja lembur, bergadang sampai larut malam. Dia tidak marah, hanya mengingatkan saja. Mungkin tak ingin terlibat adu mulut denganku lagi, seperti tempo hari. Dasarnya memang akunya yang suka ngeyel, keras kepala, alias susah dibilangi. Begitu kata suami.
Kini aku merasakan akibat dari kebandelanku. Suhu tubuh panas. Demam tinggi menyerang. Dua hari sudah, aku tidak pergi kuliah, apalagi ke butik. Badan terasa lemas sekali. Pusing. Berdiri oleng, berjalan seperti warung doyong.
Dalam keadaan seperti ini, pada akhirnya Mas Fadlan juga yang harus repot. Kalau bukan dia, lantas siapa lagi, ya, kan? Kami cuma tinggal berdua saja di rumah ini. Aku sempat memaksa untuk pulang ke rumah orang tua, tapi suami tidak mengizinkan. Kali ini dia sewot, alias marah. Ustaz juga bisa tersinggung, marah, dan sakit hati juga, ternyata.
“Kamu ini gimana, sih. Keadaan sakit, kok malah mau pulang ke rumah orang tua. Lantas, apa gunanya, Mas, ini? Tidak mau dirawat suami, hah? Ada tercantum di dalam pasal perjanjian, ya?”
“Ih, orang sakit, kok, malah dimarah-marahi, sih? Mau merawat aja, kok, pake nyinggung soal pasal segala. Ikhlas apa tidak?”
Aku tak kalah sewot. Tetapi bulir bening kurasakan menggenang di sudut mata. Pandanganku kabur. Lihat, tak lama lagi pasti menetes. Jelas saja kutahan sedemikian rupa. Tak rela aku jika Mas Fadlan sampai mengetahuinya.
Buru-buru aku memalingkan wajah dan kututup dengan kedua telapak tangan.
“Ya, ikhlaslah. Nggak perlu ditanya. Mas nggak marah, malah Nad yang marah. Keadaan sakit, masih bisa marah.”
“Nggak. Nad nggak marah. Buat apa marah? Dan kenapa harus marah?”
“Kita ke dokter. Nad harus ....”
“Tidak! Nad tidak mau ke dokter.”
Aku memotong perkataan Mas Fadlan. Aku trauma ke dokter, apalagi kalau harus disuntik. Sakit, tahu!
“Kenapa? Mau sembuh apa tidak?”
“Tidak! Nisa bilang tidak, ya, tidak!” bantahku lagi dengan tatapan jutek ke arah Mas Fadlan yang duduk di tepi ranjang menghadapku.
“Oke, kalau begitu, biar dokternya saja yang datang ke sini.”
“Tidak! Tidak!”
Kali ini pertahananku jebol sudah. Aku menangis seperti anak kecil yang merengek pada ibunya, karena keinginannya tidak terpenuhi.
“Kamu ini, kenapa Nad? Kenapa malah menangis?”
Mas Fadlan terlihat bingung dan khawatir melihatku menangis tersedu. Mungkin pikirnya, istrinya ini membingungkan, cengeng, dan gampang menangis.
“Nad nggak mau ke dokter. Takut disuntik. Sakit,” jawabku di antara sedu sedan.
“Hah ... apa?” Kali ini Mas Fadlan tertawa terpingkal, membuatku kesal, merasa diledek. “Resiko menikahi anak baru gede.” Eh, dia malah menggerutu di sela suara tawa yang sempat tertangkap pendengaranku yang tajam.
“Kenapa ketawa? Ngeledek? Apa yang Mas bilang barusan?” Tangisku makin kencang.
“Ah, nggak, kok. Lucu aja. Kamu itu, ya. Masak calon dokter, kok, takut sama dokter. Takut jarum suntik? Terus nanti kalau sudah jadi dokter, gimana mau nyuntik pasien? Hahaha ....”
Tak tahan, kupukul lengan Mas Fadlan. Kucubit. Ingin juga rasanya kugigit lengan berotot di balik baju koko itu. Jengkel banget, sumpah, deh. “Iihh ...! Berhenti ngeledek!”
“Aduh ...! Sakit!” Mas Fadlan mengaduh. Sukurin. Ekspresinya meringis kesakitan. Eh, tapi dia senyum-senyum, lagi. Dasar! “Lagi sakit juga masih bisa galak.” Dia usap-usap lengan.
“Biarin. Terusin aja ngeledek. Nad gigit, ntar!” sungutku dengan mata melotot, padahal sayu. “Nad, kan, dokter spesialis anak. Nggak perlu pake disuntik kalau masih anak-anak. Cukup diperiksa aja. Kasih resep obat. Selesai. Udah, ah, capek berdebat,” dalihku, masih dalam tangis sesenggukan.
Entahlah, aku pun bingung tak habis pikir dengan diriku sendiri. Keadaan masa kecilku yang unik, ‘bersahabat’ dengan dokter anak, psikolog, dan rumah sakit, membuatku trauma hingga sekarang.
Begitu susahnya dulu aku di masa kecil, terutama dalam hal makan, berinteraksi dengan orang, dan cenderung menjadi pribadi yang introvert. Namun, sisi positif yang kemudian menghunjam di benakku adalah bahwa aku tidak ingin anak-anak kecil mengalami hal serupa denganku. Menjadi dokter adalah pilihanku, dengan tujuan untuk menolong anak-anak yang spesial, berkebutuhan khusus. Lebih kepada memotivasi, memberikan contoh teladan, dan pengarahan khusus pada anak-anak.
“Oke, kalau sampe besok, demamnya belum turun juga, mau tidak mau, Mas panggil dokter kemari. Tidak boleh membantah. Paham?”
Aku diam, tidak membantah lagi. Energiku sudah cukup terkuras buat debat. Terpaksa menyerah. Tak lagi keras kepala seperti biasanya.
Malam itu aku susah tidur. Kepala ini terasa berat, bagai menahan beban berkilo-kilo. Mas Fadlan sudah memberiku obat, tadi. Sebetulnya aku ingin dipijit suami, badan rasanya capek semua. Tetapi aku malu dan gengsi untuk minta tolong. Iya, kalau dia mau. Kalau menolak? Ampun, deh. Mau ditaruh di mana mukaku ini. Mending kutahan saja. Mudah-mudahan besok sudah lebih baik. Jadi tidak perlu juga ketemu dokter. Malas dan ... takut disuntik.
Kedatangan Ayah dan Ibu yang tiba-tiba, tanpa memberi tahu dulu, cukup membuat aku dan Mas Fadlan kalang kabut. Bagaimana tidak, apa jadinya bila mereka sampai tahu sandiwara kami berdua.
Aku tidak berani membayangkan bila mereka tahu kami tidur terpisah kamar. Aduh! Bisa kiamat mendadak, nih. Bagaimana ini?
Ayah dan Ibu pasti menginap di rumah untuk beberapa hari. Sejak kami pindah ke rumah ini, baru kali ini mereka berkunjung ke sini.
Lantai satu ada dua kamar tidur. Kamar depan kutempati, sedangkan Mas Fadlan, menempati kamar tidur satunya. Tidak mungkin, kan, Bapak dan Ibu tidur di kamar lantai dua? Sedangkan kalau mereka tidur di kamarnya Mas Fadlan, sudah pasti mereka bakal curiga. Sebab hampir semua kebutuhannya ada di kamar itu, dari mulai baju-baju, perlengkapan kerja, hingga peralatan mandi.
Aku yang belum lama sembuh dari sakit, mendadak pening lagi, nih, kepala. Alasan apa, jawaban apa yang akan kuberikan, bila Ayah dan Ibu menanyakan. Sebab bukan tidak mungkin, mereka akan curiga dan mengetahui bila kami tidur terpisah kamar.
“Nad, bagaimana keadaan rumah tangga kalian? Baik-baik saja, kan?” tanya Ibu.
Aku dan Mas Fadlan saling pandang. Kedua telapak tanganku mulai basah oleh keringat dingin. Gugup dan salah tingkah.
“Alhamdulillah, baik, Bu. Ya, kan, Sayang?” jawab Mas Fadlan tersenyum sambil tangan kanan memeluk pundakku cukup erat. Aku pun ikut tersenyum, meski risi dengan sikapnya. ‘Sayang’, dia bilang? Oh, God, what is this?
Semakin gugup dan tersiksa batin ini. Berdoa dalam hati, semoga segera bebas dari proses interogasi lanjutan.
“Lalu bagaimana dengan kamu, Nad? Sudah tiga bulan lebih, kalian menikah. Apa sudah isi? Ibu ingin segera menimang cucu dari kalian berdua. Jangan bilang kalau kalian ingin menunda dulu punya momongan, ya.”
Gubrak!
***Bersambung***