Bab. 5.
Istri Bandelnya Pak Ustaz
“Baru pulang, sudah mau pergi lagi?” tanya Mas Fadlan ketika aku pamit akan ke butik.
“Iya, Mas. Tadi pulang kuliah, kan, Nad nggak ke butik, tapi langsung pulang. Terus masak,” jawabku, lebih sebagai pembelaan. “Nad cuma sebentar, kok, sebelum Magrib sudah pulang.”
Mas Fadlan hanya diam. Mata melirik jam dinding, lalu beralih menatapku. Dia kembali serius pada buku bacaan tebal di pangkuan. Ah, kenapa, ya, aku seperti menangkap sesuatu yang beda pada tatapannya sesaat tadi? Apa sebetulnya dia tidak suka istrinya ini pergi lagi? Ah, sebodo amat. Yang penting, kan, pekerjaan rumah sudah beres. Salah sendiri kenapa nggak bilang aja kalau nggak ingin aku pergi.
“Mas, Nad pergi dulu.” Aku pamit dan tetap tak ada jawaban dari Mas Fadlan.
Saking gemas, kuraih saja tangan Mas Fadlan yang tengah memegang buku.
“Masih tetap mau pergi juga?”
Idih, tatapan mata elang itu menukik tajam ke arahku. Jelas kutangkap, suami tidak suka. Kenapa jadi main tebak-tebakan begini, sih?
“Lah, iya, Mas. Ini, Nad sudah rapi, cantik, dan wangi. Kenapa, Mas?” Aku mencoba mencairkan suasana.
“Tidak apa-apa. Mas, cuma mengingatkan, jangan terlalu memforsir diri, nanti kecapekan. Bisa sakit. Cuaca sedang ekstrem, akhir-akhir ini.”
“Oh, ok, Mas. Terima kasih sudah diingatkan. Tapi Nad baik-baik saja, kok.” Dih, kirain mau cegah istrinya pergi, ternyata cuma mengingatkan saja.
“Sudah, ya, Mas, Nad pergi dulu. Ada orderan penting yang harus Nad handle sendiri. Kebaya pesanan istri orang nomer satu di kota ini. Nad tidak bisa menyerahkan pekerjaan ini pada karyawan begitu saja.” Kucium punggung tangan suami, “Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam,” jawab suami lirih.
Saat aku berbalik badan dan baru tiga langkah berjalan, “Nad, jangan pulang malam-malam. Suamimu menunggu di rumah.”
Slem. Byuurr!
Rasanya seperti menceburkan tubuh di kolam renang. Adem. Segar.
“Iya, Mas. InsyaAllah. Sebelum Maghrib, Nad sudah pulang.”
Sepanjang perjalanan menuju butik yang memakan waktu kurang lebih tiga puluh menit, tak henti aku memikirkan peringatan, eh, nasihat Mas Fadlan yang sepertinya mengkhawatirkan kesehatanku. Iya, aku merasakan perhatiannya itu.
Jujur kuakui akhir-akhir ini, waktuku lebih banyak tersita di luar rumah. Pagi sampai siang kuliah, tak jarang sampai sore. Pulang kuliah pasti ke butik. Kalau pesanan lagi ramai, aku sering pulang malam. Itu pun masih bawa pekerjaan ke rumah, bergadang sampai larut malam.
Aku perhatikan, Mas Fadlan juga sibuk dengan kegiatannya di pondok. Andai sudah di rumah pun, dia lebih suka menghabiskan waktu di ruang baca, berkutat dengan buku-bukunya yang tebal-tebal.
Sebagai pasangan suami istri, kami jarang berkomunikasi secara intens, apalagi berbicara dari hati ke hati. Mas Fadlan lebih suka berjibaku dengan laptop dan buku-bukunya, ketimbang bercengkerama denganku. Sementara aku sendiri, pulang ke rumah sudah dalam keadaan loyo, capek, langsung masuk kamar, mandi, dan tidur.
Kelihatannya saja dipandang orang lain, kami ini adalah pasangan yang mesra dan harmonis. Gambaran keluarga Sakinah, Mawadah, Warohmah. Sejujurnya itu hanya pencitraan saja. Kenyataannya rumah tangga kami berjalan datar-datar saja, garing, dan hampa.
Kalaupun Mas Fadlan memberikan perhatian-perhatian kecil, kuanggap itu hal wajar dan biasa-biasa saja. Ia hanya berhenti pada sebuah tanggung jawab tanpa bermaksud menuntut hak.
Hak? Ya, hak dia sebagai suami atas aku, istri sahnya. Mas Fadlan tidak pernah menuntut. Meskipun kuakui, aku belum siap menyerahkan milikku yang berharga sebagai bentuk memenuhi kewajibanku sebagai istri seutuhnya. Sempat juga terpikir olehku, apa jangan-jangan suamiku itu punya kelainan s*x, alias tidak normal?
Entahlah, aku tidak tahu, sebab aku belum mencobanya. Ah, pikiran bodoh apa ini. Ngelantur.
Aku masih ingat betul waktu itu pas malam pertama kita menjadi pasangan suami istri yang sah.
“Aku tahu pernikahan ini terpaksa kamu jalani. Kita belum saling mengenal. Kamu tidak mencintaiku. Aku tidak akan memaksa untuk melakukan apa yang tidak kamu inginkan. Aku janji tidak akan menyentuhmu, sampe kamu siap. Meski aku sudah berhak atas kamu. Karena aku suamimu dan kamu istriku. Cukup pernikahan ini telah menjerat kita dalam sebuah ikatan sah. Kita jalani saja dengan santai, biar waktu yang akan menjawab nanti. Yang terpenting orang tua dan keluarga besar, tidak perlu tahu soal hubungan kita yang sebenarnya. Biarkan ini menjadi rahasia antara kita berdua saja.”
Aku lega mendengar penuturan Mas Fadlan, sebab memang aku belum siap untuk menjalankan fungsi sebagai istri seutuhnya. Meski jujur dalam hati kecilku, ada rasa bersalah bercampur nelangsa, sekaligus tersinggung.
Di satu sisi, aku merasa bersalah, karena belum bisa memberikan nafkah batin. Sementara di sisi lain, merasa tersinggung, karena aku seperti ditolak, tidak diinginkan oleh suami sendiri.
Aku tidak tahu sampai kapan rumah tanggaku bisa bertahan dalam keadaan seperti ini. Aku pasrah, sampai di mana takdir cinta ini akan membawa pergi dan berlabuh.
Saking asyiknya di butik, sesekali aku ikut melayani pelanggan yang datang, sampai tak memperhatikan waktu sudah menunjukkan pukul delapan lewat. Aku tadi sudah janji sama Mas Fadlan untuk pulang tidak terlalu malam.
Duh, aku belum selesai mengerjakan desain baju kebaya pesanan. Harus dikebut, nih. Malam ini harus selesai. Hhmm, aku bawa pulang saja pekerjaan, nanti kulanjutkan di rumah. Aku tidak mau ada kekurangan sekecil apa pun, harus detail, teliti, dan perfect. Bila pesanan Ibu Gubernur ini sukses, InsyaAllah, semoga beliau menjadi pelanggan tetap di butikku. Amiin.
Pukul sembilan, aku tiba di rumah. Sepi. Ruang tamu gelap. Sepertinya Mas Fadlan sudah tidur.
Saat aku hendak masuk ke kamar, aku dikejutkan dengan lampu ruang tamu yang tiba-tiba menyala terang. Rupanya Mas Fadlan yang menyalakannya. Duh, aku jadi gugup dan salah tingkah sendiri. Merasa diri bersalah karena sudah mengingkari janji. Tetapi, kan, aku ada alasan kenapa terlambat pulang.
“Baru pulang?” tanya Mas Fadlan singkat.
“Ya, Mas. Maaf, aku terlambat. Butik rame tadi. Jadi, ya, a ....”
Ucapanku terpotong oleh Mas Fadlan yang menyahut, “Sudah jam berapa ini?”
“Jam sembilan.”
“Tadi janji pulang jam berapa?”
“Sebelum Maghrib. Maaf, Mas. Nad, kan, sudah minta maaf.”
“Nad sudah mengingkari janji. Tidak mengindahkan pesan suami. Tidak menelpon kasih kabar. Mas telpon, hp Nad nggak aktif. Dari tadi, Mas menunggu Nad pulang. Nad sadar nggak, kalau dikhawatirkan?”
“Iya, Mas, maaf. Hp Nad drop. Batrenya habis.”
“Pulang tidak mengucap salam. Langsung masuk kamar, tidak tanya suami dulu, sudah makan apa belum, makan apa. Bisa tidak, beri perhatian sedikit pada suami?”
Loh, loh, loh?
Aku, kok, jadi bingung sendiri, nih. Ada apa ini? Tumben banget, ya. Jangan-jangan Mas Fadlan baru kesambet. Kenapa tiba-tiba dia jadi marah-marah begini? Lebay banget. Menuntut ini itu. Dia lupa atau amnesia, sih.
Biasanya dia tidak seperti ini. Dia ini Mas Fadlan benaran, apa bukan, ya? Apa yang dia bilang semua tadi, tidak ada dalam perjanjian. Tidak ada! Enak saja, main tuduh dan menyalahkan. Sudah syukur tadi dimasakkan. Aku juga sudah minta maaf, kan?
Sungguh membingungkan. Aku tidak terima! Akan kutuntut dia atas tuduhan pencemaran nama baik dan pelanggaran pasal perjanjian yang telah kita tanda tangani berdua. Awas saja kamu, Mas!
***Bersambung***