Bab. 4.
Suami Istri Sama-sama Sibuk
Dua minggu sudah berlalu, sejak aku dan suami menempati rumah baru ini. Aku mulai terbiasa dan menyatu dengan suasana rumah. Ia tak lagi asing dan mencekam seperti malam-malam sebelumnya di awal pindahan.
Tidur sendiri? Ya. Aku sudah berani tidur sendiri di kamar. Tidak takut lagi. Hore! Rasanya wow, banget, bisa mengalahkan rasa takut. Semua perlu proses. Harus belajar.
Benar juga kata Ayah. Pindah rumah sekarang atau nanti, apa bedanya? Lebih cepat, lebih baik. Dengan begitu, aku bisa belajar mandiri dalam berumah tangga, bagaimana menjadi istri yang baik lagi salihah.
What?
Oh, no, no, no ...!
Ayah, Ibu, maafkan anakmu ini. Nad belum siap. Nad memang bukan istri yang baik. Belum.
Masih segar dalam ingatan, bagaimana malam pertama di rumah ini kulalui dengan insiden berbau horor. Sampai sekarang pikiranku masih diliputi tanda tanya tentang bunyi berdegum di atas genting. Suara apa ya, itu?
Saat kutanya sama Mas Fadlan keesokan harinya, eh, dengan arifnya, pak ustaz menjawab, “Takut itu wajar, sebagai sifat manusia. Kita harus yakin bahwa ada makhluk lain yang diciptakan Allah selain manusia, yaitu jin dan setan. Manusia adalah makhluk ciptaan Allah yang paling sempurna dan paling tinggi derajatnya di hadapan Allah. Di bumi ciptaan-Nya ini, kita hidup berdampingan, asalkan tidak saling mengganggu, Insya Allah aman. Rasa takut kita tidak boleh melebihi takut kepada Allah. Sebagai hamba Allah yang mengaku beriman, Nad harus berani mengalahkan rasa takut, dengan perbanyak zikir, berdoa, dan tidak lupa selalu kerjakan salat malam.”
“Iya, Mas. Insya Allah. Nad butuh waktu.”
Malam itu, masih dengan ketakutan yang mencekam, badan gemetar, keringat dingin bercucuran, Mas Fadlan berusaha menenangkan aku. Sambil memelukku erat, suami membimbingku ke ranjang.
“Sudah, jangan menangis terus. Tidurlah.”
Mas Fadlan mengusap keningku dan ... rambutku. Ya, jujur saja, selama menikah, sudah lebih dari satu bulan, baru malam itu untuk pertama kalinya, suami melihat rambutku.
Saat Mas Fadlan hendak berdiri setelah menyelimuti tubuhku, dengan refleks aku meraih tangannya.
“Mas, jangan tinggalkan aku. Temani aku. Please ...!”
Tanpa malu, aku memohon. Mas Fadlan menoleh dan memandangku lekat seperti ingin kepastian. Aku pun mengangguk pelan.
Terlihat sekali Mas Fadlan canggung naik ke ranjang, lalu perlahan merebahkan tubuhnya di sampingku.
Aku berani bersumpah, perasaan apa yang berkecamuk dalam d**a ini. Hati ini berdebar tak menentu. Jantung berdegup lebih kencang. Mengalahkan bunyi berdegum keras di atas genting sesaat tadi.
Ya, Allah, tolong hamba, jangan malam ini. Jangan ...! Hamba takut.
“Nad, masih belum tidur? Masih takut?” tanya Mas Fadlan membuat detak jantungku berhenti seketika.
“Ah, eh, i ... iya, aku takut, Mas. Takut sekali,” jawabku gelagapan.
Kenapa Mas Fadlan sepertinya selalu tahu dan bisa menebak, apa yang tersimpan di hatiku? Dia ini ustaz apa dukun, sih? Hatiku gusar, masih di sela-sela isak tangis yang tersisa. Padahal kali ini aku takutnya beda. Takut sama yang satu itu.
“Ya, sudah, sini, Mas peluk, boleh?”
Tanpa menunggu persetujuanku, tangan Mas Fadlan telah melingkar di atas tubuhku yang tidur dengan posisi terlentang.
Duh, sungguh, jantungku terasa copot. Wangi tubuh yang biasanya tercium dari jarak sekian senti meter, kini sangat dekat hampir tanpa jarak. Napasnya sangat dekat kurasakan, di samping kanan.
“Mas, berat. Eh, tangan, Mas, berat.”
Tiba-tiba Mas Fadlan tertawa, dengan tangan masih melingkar di atas tubuhku. Terdengar renyah di telinga. Baru kali ini juga, dia tertawa lepas. Biasanya Cuma tersenyum. Itu pun, mahal.
“Kamu itu, ternyata lucu juga, ya.”
Mas Fadlan melanjutkan tertawanya. Eh, kupikir dia akan tersinggung dan marah. Pribadi yang aneh. Aku pun jadi ikut tertawa. Malam itu kami berdua lewati dengan tidur satu ranjang. Eit, tapi aman, kok. Tidak terjadi apa-apa. Aku masih selamat. Entah sampai kapan. Aku tidak berani menjamin, akankah masih aman pada malam-malam selanjutnya.
Seperti hari-hari sebelumnya, kami berdua kembali disibukkan oleh rutinitas masing-masing. Mas Fadlan dengan ponpesnya dan aku dengan kuliah dan usaha butikku.
Setiap hari, jadwal Mas Fadlan selalu ke ponpes untuk mengajar sekaligus mengelola dan mengawasi kegiatan di pondok, dibantu asisten pribadi, para karyawan dan santri pilihan, yang tidak sedikit jumlahnya. Belum lagi memenuhi undangan mengisi tausiah yang tak jarang hingga ke luar kota. Namun, suami membatasi untuk undangan ceramah, karena lebih mengutamakan urusan di ponpes.
Sementara itu, aku pun tak kalah sibuk dengan kegiatanku di luar rumah. Jadwal kuliah yang semakin padat setiap harinya, kecuali hari Sabtu dan Minggu libur. Pulang kuliah, aku langsung ke butik. Meski aku sudah punya orang kepercayaan dan beberapa karyawan yang bisa handle, tapi aku harus turun langsung untuk memastikan semuanya berjalan sesuai schedule yang sudah kutetapkan, dari mulai ‘A’ sampai ‘Z’, dari mulai orderan yang masuk, sampai finishing dan siap kirim ke customers. Moto butik ‘Annisa’ adalah ‘Customer satisfaction with our products is the main thing for us’.
Biasanya aku dan Mas Fadlan pulang ke rumah sore hari. Terkadang dia sudah pulang lebih dulu, tak jarang pula, aku yang lebih dulu tiba di rumah. Perjanjiannya, siapa yang lebih dulu sampai di rumah, maka dia yang harus menyiapkan makan malam. Soal pekerjaan rumah yang lain, kami kerjakan bareng.
Oh, ya, aku jadi ingat mau laundry bed cover dan beberapa baju resmi. Sudah dua hari ini kusimpan, kotor. Aku ingat masih menyimpan kartu nama yang diberikan Linda tempo hari saat kami bertemu pertama kali pada acara party pembukaan perumahan. Jam segini masih buka, nggak, ya? Kulirik jam dinding di ruang makan, jarum jam menunjuk angka 16.30.
Ah, apa tidak sebaiknya kuantar sendiri saja, ya, ke tempat laundry. Tempatnya juga dekat, di seberang depan perumahan ini. Siapa tahu nanti di sana aku ketemu sama Linda langsung. Jadi enak kami bisa ngobrol lebih akrab.
Selama tinggal di sini sudah dua minggu lebih, aku belum banyak mengenal penghuni perumahan. Mungkin dari obrolan dengan Linda nanti, jadi bisa tahu lebih banyak.
“Nad, mau ke mana?” tanya Mas Fadlan, begitu melihatku menenteng dua tas bed cover.
“Oh, ini, Mas, aku mau laundry bed cover dan beberapa baju.”
“Di mana?”
“Itu, di depan perumahan, Mas. Yang punya adalah salah satu penghuni perumahan ini. Rumahnya di ujung itu, nomer empat belas.”
“Oh, Mas, antar, ya.”
“Beneran, nih, mau nganter?”
“Iya. Kenapa? Nggak mau diantar suami?”
Dih, tumben banget, sih, mau mengantar segala. Pake maksa, lagi.
“Hm, boleh. Pake mobil Nad, saja, Mas. Meski dekat, nggak mungkin, kan, kita jalan kaki dengan bawaan lumayan banyak gini?”
“Hm, ya. Tunggu, Mas ganti baju dulu sebentar.”
Aku pikir-pikir, nggak apa-apalah Mas Fadlan ikut ngantar ke laundry. Jadi sekalian launching perdana hubunganku dengan Mas Fadlan biar terlihat adem ayem, harmonis, dan ... mesra.
Uhuk! Hik ...!
Tidak cuma sinetron Ikatan Cinta saja, hubungan rumah tanggaku dengan Mas Fadlan juga perlu setingan.
***Bersambung***