Bab. 3.
Tidur Pisah Kamar, Pisah Ranjang
Ayah dan Ibu sepertinya lebih memihak dan mendukung rencana Mas Fadlan untuk pindah rumah. Mereka lebih menyayangi menantu ketimbang anak sendiri. Aku sendirian, tidak ada pendukung, apalagi pembela. Huh, Mas Fadlan jadi merasa berada di atas angin, tuh. Padahal, aku bukannya nggak mau pindah, tapi tunggu dulu. Jangan secepat ini. Susah amat, sih.
“Nad, apa yang dibilang Mas Fadlanmu itu benar. Di mana pun suami tinggal, Nad sebagai istri harus ikut serta mendampingi.”
“Iya, Ayah. Nad mau, kok. Tapi kenapa harus buru-buru, sih. Santai saja, kali.”
Kulirik suami yang duduk di sampingku. Bibirnya senyum-senyum penuh kemenangan. Ah, tidak. Lebih tepatnya, dia tengah mengejekku, mentang-mentang dapat dukungan dari Ayah dan Ibu. Awas saja nanti, bakal kubalas kamu, Mas.
“Kalau mau, ya, mau saja. Kenapa harus nanti-nanti. Apa bedanya sekarang dan nanti, Nad. Pada akhirnya juga kalian harus tinggal dan hidup mandiri. Membina rumah tangga sendiri, tanpa campur tangan orang lain, meski itu adalah orang tua sendiri. Maksud suamimu ini sudah betul. Ayah setuju sekali. Ini juga untuk mendidik kamu supaya bisa bersikap lebih dewasa dan belajar bagaimana menjadi istri yang baik lagi salihah.”
Duh, jadi ke mana-mana, kan, urusannya. Panjang dikalikan lebar, sama dengan luas.
Tanpa bisa mengelak lagi, pada akhirnya kami benaran pindah ke rumah baru di cluster elit itu.
Aku sungguh dikejutkan dengan penampakan dari luar, rumah baru kami. Perasaan, waktu datang ke party pembukaan perumahan dua mingguan yang lalu, penampakan luarnya enggak kayak gini. Kenapa sekarang berubah? Jujur, lebih bagus, sih. Warna cat temboknya didominasi putih bersih dipadukan dengan warna krem lembut.
Taman dengan kolam ikan berada di teras depan. Rumput hijau sintetis dan dua lampu taman cukup besar, ditambah lagi tanaman pohon palm tidak terlalu tinggi di pojok taman dan pohon cemara di tengah-tengahnya, sungguh tampak asri. Suara gemericik air terjun mini buatan, menyuarakan damai dan kesejukan bagi siapa yang memandang.
Siapa yang merancang ini semua? Mas Fadlankah? Hhmm, boleh juga seleranya.
Ketika Mas Fadlan membuka pintu dan mengajakku masuk, aku lebih dibuat surprise lagi. Design interior yang kuakui, oke punya. Warna dinding putih kombinasi cokelat dan perpaduan batu alam di dinding ruang keluarga, sungguh pas dan artistik.
“Bagaimana, Nad, kamu suka?”
Tanpa kusadari ternyata Mas Fadlan memperhatikanku sedari tadi. Aku buru-buru memperbaiki sikap. Menutupi kekagumanku. Jelas saja aku tidak mau Mas Fadlan mengetahuinya. Gengsi, dong. Bisa-bisa, makin besar kepala dia nanti. Dih!
“Oh, lumayan,” jawabku singkat.
“Hhmm ....”
Mas Fadlan lantas menunjukkan ruang makan, dapur, lalu kamar tidur.
“Ini kamar tidur kita, Nad.” Mas Fadlan membuka pintu dan membawaku masuk.
“Apa? Kamar tidur kita? Nggak salah dengar aku?”
“Oh, oke. Maaf. Nad tidur di kamar ini saja. Mas tidur di kamar sebelah.
Mas Fadlan menjawab dengan santai seperti tanpa ekspresi.
“Iya, Mas, nggak pa-pa.”
“Oh, ya, kapan Nad ada waktu, silakan kalau mau belanja barang-barang kebutuhan rumah. Karena, Mas belum begitu hafal selera dan kesukaan Nad. Ini atm Mas, Nad bawa saja.”
Aku tidak langsung menerima ATM yang disodorkan padaku. Sepertinya Mas Fadlan mencoba mengalihkan pembicaraan.
“Aku belanja? Sendiri?”
Aku buru-buru menutup mulutku dengan tangan. Duh, kenapa juga aku ngomong gitu? Seakan-akan aku minta untuk ditemani.
“Oh, Nad mau Mas temani?”
Tuh, kan, benar. Mas Fadlan salah tafsir.
“Ti ... tidak. Tidak usah, Mas. Nad bisa sendiri, kok.”
“Yakin?”
Aku menggangguk, pasti. Aku pasti bisa. Sebab selama ini aku sudah terbiasa mandiri.
“Mas Fadlan nggak perlu khawatir. Nad biasa ke mana-mana sendiri dan melakukan semuanya sendiri.”
“Itu, kan, dulu. Sekarang Nad sudah menikah. Tidak salah, kan, kalau Mas temani belanja?”
Tumben dia baik. Ada apa, nih. Eit, jangan-jangan di mau jebak aku aja. Hhmm ... enggak akan. Aku tidak se’bahlul itu, Mas.
“Kenapa Mas Fadlan jadi baik dan perhatian gini sama Nad? Sudah lupa dengan isi perjanjian kita?”
Aku pasang muka aksi. Biar nggak dikira aku ini cewek gampangan, begitu mudahnya diajak ke sana kemari.
“Tidak. Mas tidak lupa. Hanya saja bagaimana nanti kalau dilihat orang lain, Nad pergi belanja barang-barang sendiri. Ngapain aja suaminya, kenapa istrinya dibiarin pergi sendiri? Ingat kita penghuni baru di perumahan ini. Oke, Meskipun kita ini hanya bersandiwara dalam berumah tangga, tapi setidaknya jangan sampe orang lain tahu. Jadi kesepakatan tetap berlaku.”
Deg!
Tuh, kan. Bener dugaanku. Dia baik dan perhatian hanya karena sandiwara saja. Sandiwara dalam berumah tangga, terutama untuk menjaga nama baik keluarga besar kita. Oke, aku ikuti sampai di mana akhir dari kisah ini. Aku atau kamu yang akan luluh dan kalah.
Malam pertama tidur di rumah baru ... duh! Pasti aku bakal susah tidur malam ini. Penyakit anehku itu, tidak gampang tidur di tempat baru. Aku pun orangnya sangat penakut pula. Mana kemarin aku sudah tegaskan lagi, sama Mas Fadlan soal pemberlakuan pisah kamar dan pisah ranjang. Ya, sebagai syarat dan prasyarat sebelum menempati rumah ini.
‘Ayah, Ibu, tolong Nad. Nad takut tidur sendiri.’
Waktu tinggal di rumah orang tua, aku dan Mas Fadlan tidur dalam satu kamar. Karena tidak mungkin kami tidur beda kamar, bisa ketahuan sama Ayah dan Ibu. Tetapi meski satu kamar, aku tidur di ranjang, sementara dia tidur di sofa. Selama itu pula, keadaan aman-aman saja. Rahasia. Hanya kami berdua yang tahu. Sebab di hadapan orang tua dan keluarga besar, hubungan kami berdua tampak normal dan baik-baik saja.
Duh, kamar ini besar juga, ya, ternyata. Ranjang ini juga kebesaran untuk kutiduri sendirian. Ada kamar mandi di sebelah kiri. Satu lemari besar di tengah, satu meja rias menghadap ranjang, dan sofa panjang berikut mejanya.
Suara ketukan di pintu kamar yang tiba-tiba, cukup mengagetkanku.
Pasti itu Mas Fadlan. Siapa lagi kalau bukan dia. Perasaanku antara senang bercampur khawatir.
“Masuk, Mas. Pintunya nggak dikunci.”
“Nad, kamu belum tidur?” tanya Mas Fadlan begitu membuka pintu.
“Balum, Mas.”
“Kenapa? Takut?”
“Siapa yang takut? Aku? Enggaklah!” jawabku sedikit sewot.
Dari mana Mas Fadlan tahu, kalau aku penakut? Tidak. Jangan sampai dia tahu. Bisa tertawa kegirangan kalau dia sampai tahu kelemahanku. Aku harus bisa mengalahkan rasa takut ini. Harus!
“Oke. Bagus kalau begitu. Mas hanya mau mengingatkan, jangan lupa berdoa dulu sebelum tidur. Kalau sulit tidur, dibawa zikir, supaya hati tenang dan Insya Allah segera bisa tidur.”
“Iya, Mas. Terima kasih.”
“Ya sudah. Mas keluar dulu. Besok subuh bangun. Kita salat Subuh berjamaah.”
“Iya, Mas.”
“Assalamualaikum.”
“Waalaikum salam, Mas.”
Kali ini kuikuti nasihat pak ustaz. Mulut ini tak henti melafalkan doa-doa. Lalu zikir terucap tanpa jeda. Sekian detik, menit, bahkan hampir satu jam berlalu, mata ini masih enggan terpejam. Malam semakin larut. Suasana terasa sunyi.
Penghuni perumahan elit ini jumlahnya hanya sekitar tiga puluhan unit. Malam telah larut begini, sudah sunyi senyap, seperti tak ada kehidupan. Pasti semua penghuninya sudah pada tidur, ya. Mungkin hanya aku yang masih terjaga. Oh, ya, security di pos jaga, tentu saja masih ‘on’.
Mas Fadlan? Ya, dia sudah tidur apa belum, ya? Mungkin sudah, karena aku tak mendengar suara apa pun kecuali kesunyian.
Dalam hati kecilku, ingin mendatangi kamar sebelah, tempat Mas Fadlan. Aku benar-benar tidak bisa tidur, atau tepatnya ‘takut’. Tetapi aku malu dan gengsi untuk mengakuinya. Aku tidak mau dia mengira aku lemah, penakut, dan manja.
Tiba-tiba suara berdegum cukup keras di atas atap rumah, sungguh membuatku kaget, hingga terenyak dan melompat seketika dari ranjang, bergegas ke arah pintu. Aku pun spontan berteriak keras.
“Mas Fadlan ...! Tolong ...!”
Begitu pintu terbuka, kulihat Mas Fadlan sudah berdiri di depan kamar. Tanpa ba, bi, bu lagi, aku pun menghambur ke tubuh tegap dengan baju koko plus peci hitam itu. Kupeluk erat tubuh suamiku dan menangis sejadi-jadinya.
“Aku takut ...! Suara apa itu tadi, Mas.”
Mas Fadlan membalas pelukanku dan mencoba menenangkan.
Aku masih menangis sesenggukan. Mungkin pikir Mas Fadlan, istrinya ini nyatanya cengeng, hanya gayanya saja yang sok jagoan. Biarin! Aku nggak peduli!
***Bersambung***