Malam mulai turun perlahan, menyelimuti kota dengan gelap yang lembut. Dari balik jendela kaca besar di kamar kos semi-apartemen milik Alena, ribuan lampu kota terlihat berkelap-kelip, membentuk pemandangan yang indah namun entah kenapa malam ini terasa jauh.
Suasana di dalam kamar masih berantakan, mencerminkan kekacauan yang juga terjadi di dalam kepala pemiliknya. Kotak pizza bekas makan siang masih tergeletak di sudut ruangan, sepotong kue kering tersisa setengah di piring, laptop terbuka lebar dengan layar yang masih menyala, sementara lembaran-lembaran kertas berisi revisi skripsi berserakan di mana-mana, penuh coretan tinta merah yang seolah mengejek.
Namun, alih-alih duduk di meja dan menyelesaikan tugasnya, Alena justru berbaring tengkurap di atas kasur, pipinya menempel lembut pada bantal empuk, menatap layar ponselnya dengan pandangan kosong.
Suasananya terasa berat. Rasanya lelah, tapi ia tidak tahu pasti lelah karena apa. Pikiran terlalu penuh, sesak—tentang skripsi yang tak kunjung selesai, tentang pekerjaan yang belum jelas arahnya, tentang masa depan yang terlihat kabur dan menakutkan. Dan di antara semua itu, ada satu nama yang terus muncul tanpa diundang: Reno. Cowok yang beberapa hari ini bertingkah terlalu baik, terlalu perhatian, sampai bikin bingung setengah mati.
“Kenapa sih tuh cowok…” gumamnya pelan, suaranya terdengar mengeluh namun ada nada bingung yang terselip di dalamnya. “Kalau emang nggak suka… jangan sebaik itu dong… bikin bingung aja.”
Belum sempat pikirannya melayang lebih jauh, ponsel di tangannya tiba-tiba bergetar keras. Nama dan foto yang muncul di layar langsung mengubah ekspresi wajahnya yang semula murung menjadi cerah seketika.
Tante Mira Calling ❤️
“TANTE!” serunya antusias, segera mengangkat telepon itu secepat kilat. “Halo Tan!”
Di seberang sana, terdengar suara lembut dan hangat yang selalu berhasil menenangkan hatinya. “Halo Alena sayang… Lagi ngapain di sana?”
“Lagi rebahan, Tan,” jawab Alena sambil menyeringai kecil, merasa nyaman hanya dengan mendengar suara itu.
“Capek ya?” tanya Tante Mira lembut.
“Lumayan…”
Terdengar suara tawa kecil, lalu sebuah suara berat yang akrab terdengar samar-samar di latar belakang. “Itu Alena ya?”
Alena otomatis tersenyum lebar. Pasti Om Nathan.
“Om Nathan ada juga di sana?” tanyanya ceria.
“Ada dong,” jawab Tante Mira tertawa. “Tadi Om telepon Mama kamu, katanya kamu sudah mulai aktif lagi ke kampus ya?”
“Iya Tan… Udah mulai bimbingan lagi.”
“Gimana? Lancar?”
Alena melirik ke arah meja belajarnya, melihat tumpukan kertas yang penuh tanda silang dan coretan merah tebal. Dalam hati ia berteriak keras: Lancar dari mana, Tan? Ini rasanya mau gila! Namun seperti biasa, ia tidak pernah mau membuat orang-orang yang disayanginya khawatir. Ia menelan keluh kesahnya sendiri, lalu menjawab dengan nada ceria.
“Mmm… Lumayan kok, Tan. Masih banyak revisi sih… tapi Alena pasti bisa kok.”
Tante Mira langsung berbicara dengan nada lembut namun penuh keyakinan. “Nah, gitu dong… Anak Tante memang kuat. Tapi ingat ya, jangan terlalu dipaksa. Kalau lelah, istirahat. Tidak ada yang lebih penting dari kesehatanmu.”
“Iya, Tan,” jawab Alena tersenyum kecil, hatinya terasa lebih hangat hanya karena perhatian sederhana itu.
“Ngomong-ngomong…” Alena mengubah topik pembicaraan. “Kok tumben telepon? Biasanya kalau tidak ada perlu penting baru nelpon.”
Tante Mira seolah baru teringat sesuatu yang penting. “Ya ampun, iya! Hampir lupa tujuan utama nelpon. Besok kan malam Jumat, lusa Sabtu ya?”
“Iya?”
“Kamu tidur di sini saja ya? Temenin adikmu tuh…”
“Elio?” potong Alena sambil tertawa kecil.
“Iya… Dia tuh akhir-akhir ini aneh banget,” lanjut Tante Mira. “Bentar-bentar mengurung diri di kamar, bilang mau belajar buat ujian. Tapi Tante curiga dia cuma main game terus sampai lupa waktu.”
Dari kejauhan, suara berat Om Nathan terdengar lagi, terdengar kesal tapi bercanda. “Eh, jangan fitnah anak gue dong!”
Alena langsung tertawa lebar mendengarnya. “OMMM! Masih hidup ternyata Om di sana?”
“Kurang ajar,” balas Om Nathan dari kejauhan sambil tertawa juga. “Datang sini aja kalau berani!”
Tante Mira ikut tertawa kecil, lalu melanjutkan ucapannya. “Makanya, besok kamu datang ya? Kasihan Elio, dia pasti senang kalau kamu ada di sini. Biasanya dia lebih nurut kalau kamu yang ngomong.”
Alena terdiam sejenak. Jujur saja, rumah Tante Mira memang selalu terasa seperti rumah sendiri, tempat di mana ia selalu merasa nyaman, aman, dan diterima apa adanya. Dan Elio… meski sekarang anak itu sudah duduk di bangku kelas akhir SMA, makin tinggi, makin dewasa, tapi tetap saja tingkahnya menyebalkan tapi sangat dekat dengannya.
“Hmm… Iya deh Tan. Nanti sepulang dari kampus Alena langsung ke sana kok.”
“ASIK!” Suara Tante Mira terdengar sangat antusias. “Tante tunggu ya, Cantik. Nanti Tante masakin makanan kesukaanmu, mau apa?”
Mata Alena langsung berbinar, semangatnya muncul seketika. “STEAK! Yang tebal, banyak sausnya, dan kentang gorengnya banyak ya Tan!”
Dari seberang sana terdengar suara Om Nathan yang langsung protes keras. “YA ALLAH! Baru datang saja permintaannya sudah mahal-mahal!”
Tante Mira tertawa lebar mendengarnya. “Biarin saja… ini kan keponakan kesayangan Tante. Kalau Elio? Dia makan mie instan saja sudah bersyukur.”
“MAAAA!” Teriak suara cowok muda dari kejauhan, terdengar kesal namun terdengar jelas sekali.
Alena langsung tertawa terbahak-bahak. “Itu Elio ya? Dengeran banget!”
“Iya, dasar kupingnya kayak satelit,” jawab Tante Mira tertawa.
Tiba-tiba suara berat cowok muda itu masuk ke sambungan telepon. “HALO KAK ALENA!”
Itu suara Elio. Suaranya sekarang jauh lebih berat dan parau dibanding dulu, tanda ia sudah tumbuh dewasa. Tingginya pun sudah melebihi Alena, tubuhnya makin kekar, mau lulus sekolah sebentar lagi. Tapi di mata Alena, ia tetap saja anak kecil yang menyebalkan namun menggemaskan.
“Halo Dek… Masih hidup juga kamu?” goda Alena.
“Haha, lucu banget sih Kak,” jawab Elio nada datar. “Besok jadi kan datangnya?”
“Jadi dong.”
“Beneran janji?”
“Iya, janji.”
“YEAY!” Suara kegembiraan Elio terdengar jelas sekali, membuat Tante Mira tertawa di sampingnya.
“Tuh kan, senang banget dia cuma karena kamu mau datang,” kata Tante Mira.
Elio langsung berubah nada, terdengar gengsi setengah mati. “Biasa aja kali Ma… Orang dia selalu bawa makanan enak pas datang. Jadi aku senangnya karena makannya, bukan karena dia datangnya.”
Alena tersenyum miring. “Oh, jadi aku diundang cuma buat jadi pesan antar makanan ya? Dasar!”
Mereka semua tertawa bersama, suasana terasa begitu hangat, damai, dan penuh kasih sayang—sesuatu yang selalu dirindukan Alena di tengah kesibukan dan masalahnya.
Beberapa menit kemudian, percakapan diakhiri.
“Oke ya Sayang… Besok langsung datang saja habis dari kampus, jangan mampir-mampir dulu,” pesan Tante Mira.
“Iya Tan.”
“Hati-hati di sana, jangan telat makan, jangan begadang terus ya.”
“Iyaaaa… Denger kok!”
“Love you.”
“Love you too Tan… Sama Om sama Elio juga!”
Telepon dimatikan. Ruangan kembali sunyi senyap, namun suasana yang berat dan suram tadi seolah ikut lenyap bersama suara-suara hangat itu.
Alena menghela napas panjang, lalu tersenyum sendiri. Entah kenapa, hanya dengan berbicara sebentar saja dengan keluarga, rasanya beban di dadanya terasa jauh lebih ringan. Keluarga memang selalu punya cara ajaib untuk membuat hati kembali tenang.
Ia meletakkan ponselnya di samping bantal, lalu menatap langit-langit kamar yang remang.
“Elio sudah mau lulus SMA…” gumamnya pelan. “Cepat sekali waktu berjalan ya…”
Rasanya baru kemarin anak itu masih kecil, suka menangis, selalu mengikutinya ke mana-mana, berteriak-teriak keras, “Kak Alena tungguuu!” Sekarang? Sudah tinggi, suaranya berat, mau masuk kuliah, bahkan kadang tingkahnya sudah jauh lebih dewasa darinya.
Pikiran Alena terhenti ketika ponselnya bergetar lagi. Kali ini bukan telepon, tapi pesan masuk.
Reno Chat
Udah baikan moodnya?
JANTUNGAN.
Alena langsung terdiam, matanya melotot menatap layar. “IH! Kenapa sih dia… tahu-tahu aja nanya gitu,” gerutunya, namun tanpa sadar senyum kecil mulai mengembang di bibirnya. Padahal tadi masih merasa kesal dan bingung, sekarang rasanya campur aduk, tapi lebih banyak yang menyenangkan.
Dengan tangan yang sedikit gemetar karena gugup, ia mengetik balasan.
Mmm lumayan 😌
Balasan datang seketika, seolah cowok itu sudah menunggu di seberang sana.
Good
Tadi keliatan banget bete mukanya
Alena langsung mencebikkan bibirnya, merasa tersinggung sedikit.
Emang sejelek itu muka aku pas lagi bete 😭
Titik titik muncul, tanda Reno sedang mengetik. Lama sekali, membuat jantung Alena berdegup makin kencang, menunggu dengan tidak sabar.
Akhirnya pesan itu muncul.
Iya
Alena langsung melotot marah.
JAHAT BANGET KAMU!
Belum sempat ia mengirim pesan lain, titik titik itu muncul lagi, lalu pesan baru masuk.
Tapi tetep cantik
…
…
…
Dunia seolah berhenti berputar.
Alena terdiam, membeku. Matanya menatap kata-kata itu tanpa berkedip, otaknya seolah macet tidak bisa berpikir apa-apa.
“ASTAGA…” bisiknya, pipinya tiba-tiba terasa panas sekali, merona merah padam sampai ke telinga. “INI COWOK KENAPA SIH… BISA BIKIN JANTUNG BERHENTI KAYAK GINI…”
Jantungnya berdegup kencang, keras sekali sampai ia merasa bisa mendengar suaranya sendiri. Dan yang paling memalukan, ia tersenyum sendiri lebar-lebar seperti orang yang kesurupan, sampai pipinya terasa pegal.
Lima menit berlalu. LIMA MENIT. Baru Alena sadar kalau ia belum membalas pesan itu sama sekali. Dengan panik, jari-jarinya bergerak cepat mengetik, mencoba menyembunyikan rasa malunya.
Tumben banget baiknya 😒
Balasan Reno datang lagi, cepat sekali, seolah tidak pernah jauh dari ponselnya.
Gue emang baik
Lo aja yang gak sadar
JANTUNGAN LAGI.
Alena langsung menjatuhkan tubuhnya kembali ke kasur, lalu menutup wajahnya rapat-rapat dengan bantal, berteriak kecil di balik kain itu.
“YA ALLAH… GINI BANGET SIH… BIKIN BINGUNG TERUS!”
Namun di balik bantal itu, senyumnya makin lebar, tak bisa ditahan lagi.
Reno… cowok itu memang selalu begitu. Kadang dingin, kadang cuek, kadang membuatnya merasa tidak penting. Tapi sesekali, di saat-saat yang tidak terduga, ia berkata atau melakukan hal-hal yang membuat hati Alena berantakan, membuatnya berharap lebih, membuatnya bertanya-tanya tanpa henti.
Kadang perhatian, kadang menjauh. Kadang membuatnya senang, kadang membuatnya bingung. Tidak pernah jelas, tidak pernah bilang apa-apa, tapi tingkahnya selalu bikin hati tidak aman.
Namun malam itu, untuk pertama kalinya setelah seharian merasa lelah, pusing, dan berat, Alena tertidur dengan senyum kecil yang terukir di bibirnya.
Di kepalanya, satu pertanyaan terus berputar berulang kali, hangat dan manis.
“Apa… Reno sebenernya suka sama aku?”
Langit mulai menggelap sepenuhnya saat Alena melangkah keluar dari gerbang kampus. Hari ini terasa panjang dan melelahkan—mulai dari sesi bimbingan yang menuntut kesabaran, tumpukan revisi skripsi yang seolah tak ada habisnya, hingga mengurus berkas-berkas lamaran kerja yang bikin pusing. Belum lagi pikirannya yang belakangan ini selalu penuh sesak, dipenuhi berbagai kekhawatiran dan pertanyaan yang tak kunjung menemukan jawaban.
Namun setidaknya, ada satu hal yang membuat langkahnya tetap ringan dan hatinya bersemangat malam ini: ia akan pergi ke rumah Tante Mira.
Jujur saja, rumah itu selalu terasa seperti tempat pelarian terbaik. Tak ada drama yang bikin pusing, makanan selalu enak, suasananya hangat dan menenangkan, belum lagi obrolan seru—dan kadang menyebalkan—bersama Elio yang selalu berhasil mencairkan suasana.
Begitu tiba di kos, Alena segera bergegas mandi. Tak lama kemudian, aroma pewangi tubuh kesukaannya yang beraroma vanila yang lembut memenuhi seluruh ruangan. Malam ini ia memilih penampilan yang sederhana namun tetap enak dipandang: baju rajut longgar berwarna krem, celana panjang putih yang nyaman, dipadukan sepatu kets kesayangannya. Rambutnya diikat setengah, menyisakan beberapa helai yang menjuntai lembut di wajahnya. Selesai memastikan perawatan malamnya sudah dilakukan, ia segera membuka aplikasi pesan antar, memesan kendaraan.
“Gas, waktu istirahat dimulai,” gumamnya pelan sambil tersenyum kecil.
Tiga puluh menit kemudian, kendaraan yang ditumpanginya berhenti di depan sebuah rumah besar berwarna putih gading. Rumah Tante Mira memang selalu terlihat menawan—gaya arsitekturnya modern dan mewah, namun tetap memancarkan kesan hangat dan ramah. Halaman depannya luas dan tertata rapi, dengan lampu taman yang menyala lembut, menerangi jalan setapak menuju pintu utama.
Baru saja kakinya menginjak tanah, pintu rumah terbuka lebar.
“ALENAAAA!”
Tante Mira keluar lebih dulu, masih secantik dan semanis biasanya, dengan senyum yang selalu membawa kedamaian.
Alena langsung membalas senyum itu lebar-lebar. “Halo, Tan!”
Ia baru saja hendak melangkah masuk dan memeluk wanita itu, ketika sesosok tubuh tinggi muncul dari belakang. Laki-laki itu mengenakan baju bertudung berwarna hitam, rambutnya sedikit berantakan namun justru menambah kesan santai, dan—
Ya Tuhan.
Bocah itu makin tinggi saja.
“Elio?”
Laki-laki itu menyeringai lebar. “Hai, Kak.”
Alena menggeleng tak percaya, matanya terbelalak. “Ya Allah… Kok makin besar sih kamu? Rasanya baru kemarin masih sebatas bahuku, sekarang sudah menjulang begini.”
Elio tertawa renyah, lalu menyenggol bahu kakak perempuannya itu pelan. “Itu karena Kakaknya saja yang pendek, bukan aku yang terlalu tinggi.”
“WOY!” Tanpa pikir panjang, Alena memukul lengan laki-laki itu pelan, pipinya memerah karena kesal. “Kurang ajar! Baru saja mau bilang kamu makin sopan, eh mulutnya tetap saja begitu.”
Tante Mira hanya tertawa melihat tingkah keduanya, lalu mengajak masuk. “Sudah, ayo masuk. Jangan berdiri di luar terus, angin malam makin dingin.”
Begitu melangkah masuk, suasana hangat langsung menyelimuti seluruh tubuh Alena. Aroma makanan yang sedap segera tercium, membuat perutnya yang sudah keroncongan sejak tadi makin tak bisa diajak kompromi. Seperti biasa, rumah ini selalu terasa nyaman, seolah memeluknya erat begitu ia melangkahkan kaki masuk.
“Om Nathan tidak ada di rumah ya?” tanya Alena saat Tante Mira mengambilkan minuman untuknya.
“Iya, Om kamu berangkat mendadak keluar kota tadi siang,” jawab Tante Mira. “Ada rapat penting yang tidak bisa ditunda.”
“Oh, begitu…” Alena tersenyum miring. “Kirain Om Nathan lagi bersembunyi di mana, takut dia mendadak muncul dan mengganggu lagi.”
“Emang Papa gue makhluk halus apa, bisa sembunyi-sembunyi begitu?” potong Elio cepat, membuat Alena tertawa lebar.
“Siapa tahu saja,” jawabnya bercanda. “Ngomong-ngomong, Elio makin menyebalkan saja ya, Tan, makin besar makin banyak tingkahnya.”
“BANGET,” sahut Tante Mira seketika tanpa ragu. “Makin besar makin suka mengeluh dan membantah. Rasanya ingin sering-sering aku marahi.”
“Lah Mama juga yang setiap hari cerewet terus,” bantah Elio, membuat suasana makin riuh dengan tawa dan omelan kecil yang saling bersahutan.
Dan bagi Alena, momen-momen seperti inilah yang paling berharga. Rumah ini memang hidup, penuh dengan canda tawa, dan tak pernah terasa sepi atau dingin.
Jam menunjukkan pukul tujuh malam, dan seperti yang sudah diduga, malam ini mereka akan menikmati makan malam yang istimewa. Pilihannya? Pesta panggang di halaman belakang rumah.
Lampu-lampu gantung yang cantik dan hangat dipasang di sekeliling halaman, menciptakan suasana yang sangat menyenangkan. Di atas meja panjang tersedia berbagai macam hidangan—daging sapi berkualitas, ayam yang sudah dibumbui dengan sempurna, sosis, jamur, kimchi, hingga berbagai jenis makanan laut. Pemandangan itu membuat mata Alena berbinar antusias.
“YA ALLAH… Ini baru namanya istirahat yang sesungguhnya,” serunya, lalu segera duduk dengan semangat.
Elio yang duduk di sampingnya menyeringai. “Makanya sering-seringlah datang ke sini, Kak. Biar tidak stres terus mikirin skripsi dan masa depan.”
Alena langsung menoleh, keningnya berkerut bingung. “Eh, kamu tahu dari mana aku stres karena hal itu?”
“Mama yang cerita,” jawab Elio santai.
“TANTE!” seru Alena, pipinya memerah karena malu.
Tante Mira hanya tertawa polos tanpa rasa bersalah sedikitpun. “Hehe… Kan aku cerita supaya Elio bisa lebih perhatian sama kamu, Al.”
“Perhatian apaan sih…” gumam Elio pelan, wajahnya tiba-tiba memerah, membuat Alena tersenyum miring melihatnya.
“Oalah, ternyata bisa juga malu ya?” godanya. “Geli lihatnya.”
“Kak Alena jangan mulai deh…”
Mereka pun mulai memanggang makanan, suasana tetap hangat dan damai. Angin malam bertiup sejuk, membawa aroma rumput basah dan bunga, sementara tawa mereka tak henti terdengar.
Tiba-tiba Alena menoleh ke arah adiknya. “Eh El, kamu sudah tahu mau masuk universitas mana belum?”
Elio mengangguk santai sambil membalik daging yang sedang dipanggang. “Sudah dong. Kan pengumuman kelulusan sudah keluar kemarin.”
“Terus?”
“Masuk salah satu universitas ternama di ibu kota.”
Mata Alena langsung membelalak tak percaya. “SERIUS?! Wah, selamat ya El! Kamu hebat banget!”
Tanpa sadar ia berdiri sedikit lalu menepuk-nepuk bahu adiknya dengan antusias. Elio hanya menyeringai kecil, pipinya sedikit memerah karena dipuji. “Makasih, Kak.”
“Dia belajar terus sih, dari pagi sampai malam,” tambah Tante Mira dengan nada bangga. “Walaupun kadang tingkahnya masih kekanak-kanakan dan suka membuat drama sendiri, tapi usahanya sungguh-sungguh.”
“Ternyata Elio pinter juga ya,” goda Alena lagi.
“Ya iyalah,” jawab Elio sambil mengangkat dagu dengan gaya sok keren. “Kan ini bakat keluarga.”
“Najis, ngomongnya sendiri,” ejek Alena, membuat semuanya tertawa lagi.
Kemudian Tante Mira mengalihkan pandangannya ke arah Alena. “Kalau kamu, Al… Sudah ada gambaran mau bekerja di mana?”
Pertanyaan itu membuat Alena terdiam sejenak. Tangannya masih sibuk membalik-balik daging di atas panggangan, namun pikirannya melayang sejenak.
“Sebenarnya…” mulai Alena pelan, “Papa sudah menawarkan aku untuk bekerja di perusahaan keluarga. Tapi…” Ia tersenyum kecil, matanya menerawang jauh. “Al masih ingin mencoba jalan sendiri dulu. Mungkin bekerja di perusahaan lain di ibu kota, atau mungkin malah di kota lain. Jadi untuk sekarang, masih ada dua pilihan yang sedang aku pertimbangkan.”
Tante Mira mengangguk pelan, tatapannya lembut dan penuh pengertian. “Bagus sekali. Cobalah dulu, rasakan sendiri prosesnya. Kalau nanti gagal? Bangun lagi dan coba lagi. Kalau lelah? Beristirahatlah sepuasnya. Tapi ingat, jangan pernah menyerah sebelum mencoba.”
Hati Alena terasa hangat mendengar kata-kata itu. Tante Mira selalu tahu cara berbicara yang bisa menenangkan hatinya yang gelisah.
“Apapun keputusanmu nanti, Tante pasti mendukungmu sepenuhnya. Semangat ya, Nak.”
Alena tersenyum tulus, matanya sedikit berkaca-kaca. “Makasih banyak, Tan.”
Elio yang sejak tadi hanya diam tiba-tiba bersuara. “Kalau Kak Alena kerja jauh gimana?”
“Hm?” Alena menoleh.
Elio pura-pura sibuk memandangi daging di hadapannya, tidak berani menatap mata kakaknya. “Nanti siapa yang aku ganggu kalau Kak Alena pergi jauh?”
Alena tertawa lebar. “Ternyata kangen juga ya sama aku?”
“Bukan begitu!” bantah Elio cepat, wajahnya makin merah. “Cuma aku butuh orang yang sering mentraktir aku makan, itu saja.”
“Najis banget…” gumam Alena, sementara Tante Mira hanya menggelengkan kepala sambil tersenyum melihat tingkah anaknya.
Tiba-tiba Tante Mira teringat sesuatu, matanya berbinar. “Eh! Kalian kan satu sebentar lagi mau masuk kuliah, satu lagi mau mulai bekerja… Gimana kalau kita liburan dulu sebelum kesibukan baru itu dimulai?”
Mata Alena langsung bersinar terang. “Hah? Liburan? Boleh banget!”
“BOLEH MA!” jawab Elio seketika, sangat antusias.
Alena tertawa melihatnya. “Cepat sekali jawabnya.”
“Siapa tahu nanti kalau sudah sibuk, susah lagi kita bisa berkumpul dan pergi jalan-jalan bareng,” kata Elio.
“Bener juga… Terus kita mau pergi ke mana, El?” tanya Alena.
Elio langsung bersemangat, matanya berbinar penuh imajinasi. “Kita keliling Eropa yuk! Mulai dari London, terus Paris, Swiss, sampai Italia! Pasti seru banget!”
Mata Alena makin terbelalak tak percaya, namun hatinya sangat senang. “YA ALLAH… BOLEH-BOLEH! Kakak setuju banget! Kita lakukan saja!”
“FIX!” seru Elio, lalu segera mengangkat tangannya. Alena segera menepuknya keras-keras.
“Asik!”
Tante Mira hanya tersenyum bahagia melihat kegembiraan mereka. “Yaudah, nanti Tante yang urus semuanya. Yang penting kalian senang dan bisa menikmati waktu bersama dulu sebelum memulai babak baru dalam hidup.”
Memang, bagi keluarga mereka yang hidup berkecukupan, bepergian ke Eropa bukanlah hal yang sulit atau mustahil. Namun yang membuat hati Alena senang bukanlah soal kemewahan perjalanan itu, melainkan kesempatan untuk menghabiskan waktu berkualitas bersama orang-orang yang dicintainya.
Malam makin larut. Perut sudah terasa kenyang, pesta panggang sudah selesai, dan suasana masih hangat seperti sebelumnya. Mereka bertiga pindah ke kamar Elio.
Dan ternyata, kamar anak remaja laki-laki itu jauh berbeda dari apa yang dibayangkan Alena. Sangat rapi, bersih, dan tertata dengan baik.
“Buset… Kamarmu rapi sekali?” kata Alena tak percaya.
“Tentu saja,” jawab Elio dengan nada bangga. “Kan aku orang yang sempurna, jadi lingkungannya juga harus sempurna.”
Alena pura-pura muntah. “Ih, jijik sekali dengarnya.”
Tante Mira yang ikut masuk hanya menggelengkan kepala sambil tersenyum. “Kalian tidur di sini saja malam ini, ya. Seperti dulu ketika kalian masih kecil.”
Maka malam itu, ketiganya menghabiskan waktu bersama di kamar luas itu. Mereka duduk di atas kasur besar, menonton film yang seru, mengobrolkan hal-hal acak, tertawa melihat gambar-gambar lucu, hingga membahas hal-hal yang tidak penting namun menyenangkan.
Tiba-tiba Elio bersuara pelan. “Eh, Kak.”
“Hm?”
“Nanti kalau sudah bekerja, jangan lupa sama aku ya.”
Alena menoleh, menatap wajah adiknya yang tiba-tiba terlihat serius. “Lah, emang aku mau melupakanmu? Kamu adik kesayanganku selamanya, El.”
“Cuma takut saja…” gumam Elio pelan.
Alena segera mengacak-acak rambut adiknya. “Lebay banget. Kamu tetap adik kesayangan Kakak, tidak akan berubah.”
“Elah… Cringe banget ngomongnya,” kata Elio, namun senyum lebar tak bisa disembunyikan dari bibirnya.
Malam itu, untuk pertama kalinya setelah melalui hari-hari yang berat dan melelahkan, Alena tertidur dengan hati yang jauh lebih ringan dan damai. Tanpa sadar, ia bahkan lupa memikirkan Reno malam ini.
Namun di tempat lain, seorang laki-laki sedang duduk sendirian, menatap layar ponselnya dengan pandangan kosong. Pesan yang dikirimnya sejak sore hari masih belum dibalas, dan perasaan kesal sekaligus cemas mulai memenuhi hatinya.