Pagi di rumah Tante Mira selalu terasa berbeda. Udara terasa lebih sejuk, suasananya damai, dan entah kenapa tidur di sini selalu terasa jauh lebih nyenyak dibandingkan di tempat lain. Mungkin karena lingkungannya yang begitu menenangkan, atau barangkali karena semalam, untuk pertama kalinya dalam waktu lama, isi kepala Alena tidak lagi berisik dengan berbagai pikiran yang mengganggu.
Jam baru menunjukkan pukul setengah enam pagi ketika mata Alena perlahan terbuka. Kamar masih remang, hawa dingin dari pendingin ruangan masih terasa menyelimuti tubuh, dan di sebelahnya—Elio masih tertidur dengan posisi yang sangat kacau. Selimutnya hanya tersampir setengah di kakinya, rambutnya berantakan tak karuan, dan posisi tidurnya seolah baru saja bertarung hebat dengan mimpi-mimpi yang aneh.
Alena menahan tawa melihat pemandangan itu. “Ya Allah… Anak ini tidur apa melakukan gerakan senam lantai?” gumamnya pelan.
Dengan langkah hati-hati agar tidak membangunkan, ia turun dari kasur. Sebelum pergi, ia tidak lupa menarik selimut itu kembali hingga menutupi tubuh adiknya. Meskipun seringkali menyebalkan, baginya Elio tetaplah saudara sendiri, rasanya tidak tega membiarkannya kedinginan.
Begitu melangkah keluar kamar, rumah masih sunyi senyap, namun terdengar suara langkah kaki kecil yang berjalan santai dari arah lorong. Alena menoleh, dan senyum kecil terukir di bibirnya.
Ternyata itu Tante Mira. Wanita itu masih terlihat cantik meski baru saja bangun tidur, rambutnya dicepol asal, mengenakan baju tidur berbahan satin yang lembut.
“Loh, anak Tante sudah bangun?” sapa Tante Mira lembut.
Alena menyeringai. “Sudah, Tan… Memang sudah jadi kebiasaan bangun pagi.”
Tante Mira mengangguk puas. “Bagus itu. Eh, mandi dulu sana, nanti kita sarapan bareng.”
“Siap, Tan.”
Beberapa menit kemudian, Alena keluar dari kamar mandi dengan rambut yang masih sedikit basah. Ia mengenakan baju rajut tipis berwarna krem dan celana panjang santai—penampilan yang sederhana namun tetap terlihat manis dan enak dipandang.
Begitu menuruni tangga, matanya secara otomatis tertuju ke arah dapur, dan senyumnya makin lebar. Salah satu alasan utama mengapa ia betah sekali tinggal di sini adalah karena ia bebas berkreasi di dapur sepuasnya. Ia boleh mencoba resep apa saja, membuat dapur berantakan seolah sedang mengadakan acara masak-memasak di televisi, dan Tante Mira tidak pernah melarangnya, malah selalu mendukung.
Begitu masuk ke dalam dapur, sudah ada seseorang yang sibuk menata berbagai bahan makanan di meja.
“Mbak Putri!” panggil Alena ceria.
Wanita paruh baya itu segera menoleh, lalu tersenyum hangat melihat kedatangannya. “Loh, Nona Al! Selamat pagi.”
“Selamat pagi, Mbak Putriii!” jawab Alena sambil mendekat.
Mbak Putri tertawa kecil, matanya menyipit seolah sudah tahu apa yang ada di pikiran gadis muda itu. “Wah… Saya tebak ya… Pasti mau masak lagi ya?”
Alena menyeringai tanpa rasa bersalah sedikitpun. “Mmm… Ketahuan ya?”
“Tentu saja,” jawab Mbak Putri yakin. “Kalau Nona Al datang ke sini, dapur pasti tidak aman, nanti jadi berantakan semua.”
Alena tertawa renyah. “Ih, jahat sekali ngomongnya! Emang mau masak apa ya?”
Alena langsung bersemangat, matanya berbinar. “Hari ini aku mau bikin Soto Semarang, lengkap dengan pergedel kentang!”
Mbak Putri langsung tampak senang mendengarnya. “Wah, itu enak sekali! Mau saya siapkan semua bahannya dulu?”
Alena berpikir sejenak, lalu menggeleng. “Mmm… Hari ini aku mau masak semuanya sendiri. Boleh kan, Mbak?”
Mbak Putri tertawa lebar. “Ya boleh dong, Nona. Ini kan rumah Nona juga, terserah mau lakukan apa saja.”
Alena tersenyum puas. “Asik! Nanti kalau butuh bantuan aku panggil ya?”
“Boleh, boleh,” jawab Mbak Putri.
Alena mulai membuka pintu kulkas, matanya menyapu isinya sambil berpikir cepat. “Kalau begitu, Mbak tolong kupas kentangnya dulu ya, terus direbus. Sisanya biar aku yang kerjakan. Nanti setelah semuanya siap, kita sarapan bareng, baru Mbak bersihkan dapurnya.”
Mbak Putri tersenyum kagum, hatinya terasa hangat melihat sikap gadis itu. “Siap, Nona. Masya Allah… Nona ini sungguh baik sekali, sopan lagi.”
Alena hanya tertawa kecil, merasa malu dipuji begitu. “Ah, Mbak bisa saja.”
Dan mulailah momen spesial itu—mode koki dari Alena aktif sepenuhnya. Dapur yang tadinya sunyi kini mulai hidup, diisi dengan berbagai suara dan aroma yang menggugah selera. Bawang putih, bawang merah, jahe, serai, dan daun salam disiapkan dengan rapi, terdengar suara ulekan yang berirama saat bumbu dihaluskan.
Alena bergerak dengan lincah dan cekatan, tangannya terampil menangani setiap alat dan bahan seolah sudah bertahun-tahun bekerja di dapur. Sesekali ia menyibakkan rambutnya yang jatuh menutupi wajah, sesekali mencicipi kuah soto untuk memastikan rasanya pas, gerakannya luwes dan penuh percaya diri.
Mbak Putri yang melihat dari samping hanya bisa menggelengkan kepala takjub.
“Nona…” panggilnya pelan.
“Iya, Mbak?” jawab Alena tanpa berhenti mengaduk kuah.
“Jujur saja ya… Kalau saya punya anak laki-laki, saya sudah menikahkannya dengan Nona sejak lama.”
Alena langsung tertawa keras mendengarnya. “YA ALLAH, MBAK! Kok ngomongnya begitu?”
“Saya serius,” kata Mbak Putri dengan nada sungguh-sungguh. “Cantik, rajin, bisa masak, pintar, dan hatinya baik. Laki-laki mana yang tidak beruntung mendapatkan istri seperti Nona?”
Wajah Alena memerah karena malu, ia menundukkan kepalanya sedikit. “Ih, jangan begitu dong, Mbak… Nanti aku jadi sombong lho.”
“Ini kenyataan kok,” tegas Mbak Putri. “Nona itu beda sekali dengan anak orang kaya pada umumnya.”
Alena menoleh sedikit, penasaran. “Maksudnya bagaimana?”
“Biasanya anak orang kaya itu manja, sedikit saja hal tidak enak langsung menyuruh orang lain, bahkan ada yang tidak tahu cara memasak air pun tidak bisa. Tapi Nona malah sebaliknya, rajin, mau memasak sendiri, bahkan pernah saya lihat menyapu halaman juga.”
Alena terkekeh pelan sambil terus mengaduk kuah yang warnanya mulai berubah menjadi kuning bening yang cantik. “Itu karena Mama selalu mengajarkan aku untuk mandiri, Mbak. Mau kaya atau miskin, kita harus tetap bisa hidup sendiri dan mengurus diri sendiri.”
Mata Mbak Putri bersinar bangga. “Pantas saja. Orang tua Nona memang hebat sekali, mendidik anaknya dengan sangat baik.”
Tak lama kemudian, aroma harum soto mulai menyebar memenuhi seluruh ruangan, bahkan sampai ke luar dapur. Kuahnya bening kekuningan, diisi dengan suwiran daging ayam, tauge segar, taburan daun bawang, dan bawang goreng yang renyah. Belum lagi pergedel kentang buatan Alena yang baru saja digoreng—berwarna cokelat keemasan, bagian luarnya renyah, tapi di dalamnya terasa lembut dan gurih.
Mbak Putri kembali menggelengkan kepala takjub. “Masya Allah… Masakan ini enak dilihatnya saja, apalagi rasanya. Kalau dijual, pasti laku keras, Nona.”
Alena tertawa santai. “Boleh juga tuh idenya. Nanti kalau aku gagal cari kerja, aku buka warung soto saja. Pasti Tante Mira kaget setengah mati mendengarnya.”
Tiba-tiba terdengar suara berat dan mengantuk dari arah pintu dapur. “Hmm… Ada makanan enak ya…”
Alena menoleh dan langsung tertawa lebar.
Elio berdiri di ambang pintu dengan rambut yang masih acak-acakan, matanya setengah terpejam, baju kaosnya sedikit kusut, wajahnya masih terlihat seperti orang baru bangun tidur yang bingung.
“Ya ampun… Kamu ini kayak orang tersesat saja,” goda Alena.
Elio tidak menjawab, malah mengendus-endus udara di sekitarnya. “Baunya soto… Soto Semarang kan?”
Mendengar itu, mata Elio langsung terbuka lebar, kesadarannya kembali seketika. Ia berteriak antusias.
“WOY, KAK! AKU SAYANG BANGET SAMA KAMU!”
Alena tertawa melihat tingkahnya. “Apaan sih… Baru saja mau bilang kamu sopan, eh ternyata cuma karena makanan saja.”
“Memang Elio itu gampang disuap, Nona,” tambah Mbak Putri sambil tersenyum.
Elio tidak peduli, ia segera duduk di kursi meja makan dengan wajah berseri-seri. “Bodo amat, yang penting makanannya enak!”
Tak lama kemudian, Tante Mira juga muncul. Begitu melihat apa yang ada di meja dan siapa yang sedang sibuk di dapur, matanya terbelalak tak percaya.
“YA ALLAH… Alena masak lagi ya?!” serunya senang.
Alena menyeringai malu. “Hehe… Iya, Tan. Hari ini sarapannya kita makan Soto Semarang buatan aku, lengkap dengan pergedelnya.”
Tante Mira segera mendekat dan memeluk Alena dari belakang, pipinya menempel di bahu gadis itu. “Anak Tante kenapa sempurna sekali sih? Pintar, cantik, rajin, bisa masak lagi. Elio, kamu lihat tuh, belajar dari Kakakmu!”
“MAAA…” protes Elio, wajahnya cemberut. “Jangan bandingkan aku pagi-pagi begini, nanti aku malas makan!”
Semua orang tertawa mendengarnya, suasananya hangat dan menyenangkan.
Pagi itu, mereka akhirnya makan bersama di satu meja panjang. Soto yang hangat, pergedel yang renyah, teh manis hangat, dan canda tawa yang tak henti terdengar. Elio makan dengan lahap, bahkan sampai menambah porsi dua kali, diam-diam bahkan tiga kali.
“Enak banget, sumpah,” katanya dengan mulut masih penuh makanan.
Ia menoleh ke arah Alena, matanya berbinar. “Kak… Nikah jangan pergi jauh-jauh ya, tetap tinggal di sini saja. Biar aku bisa terus numpang makan masakan Kakak.”
Alena tertawa lebar, hampir tersedak makanannya. “Niat sekali hidupmu itu, El! Cuma mau makan saja kan alasannya?”
Tante Mira hanya duduk diam memperhatikan mereka sambil tersenyum manis. Entah kenapa, melihat Alena ada di rumah ini selalu membuat suasana terasa lebih hidup, lebih manis, dan lebih hangat. Gadis ini sederhana, rajin, tidak pernah memilih-milih pekerjaan, dan kehadirannya selalu membawa kebahagiaan bagi semua orang di sekitarnya.
Setelah sarapan yang enak banget tadi, mereka bertiga jalan pelan ke arah taman belakang rumah. Taman ini luas banget, banyak tanaman, ada bunga-bunga, dan yang paling penting ada beberapa pohon buah yang udah lama banget ditanam di sini.
Matahari pagi masih lembut, nggak terlalu panas, anginnya berhembus sejuk bikin badan seger banget. Baru masuk sedikit, Alena langsung berhenti dan matanya berbinar lihat dua pohon yang berdampingan.
"YA AMPUN!" teriak Alena antusias sambil nunjuk ke depan. "Lihat tuh! Pohon mangga sama pohon jambu airnya berbuah lebat banget dong!"
Elio langsung ikut lihat dan matanya melek lebar juga. "Wah beneran! Dulu pas lewat sini belum sebanyak ini, sekarang rimbun banget sampai batangnya kelihatan berat banget ditahan buahnya."
Mbak Putri ketawa lihat mereka yang langsung semangat kayak anak kecil dikasih mainan baru. "Iya Nona, udah beberapa hari ini emang makin banyak dan makin matang. Mangga itu jenis mangga manalagi, manis banget dagingnya tebal. Terus jambu airnya itu loh, warnanya merah merona, gede-gede, airnya banyak banget, manis seger gak ada asem-asemnya."
"Gas dong kita panen sekarang!" seru Alena sambil udah mau lari ke situ, ditahan dikit sama Mbak Putri.
"Hati-hati Nona, jalannya ada batu-batuan, nanti jatuh loh."
"Gak apa-apa Mbak, ini kan asik banget! Udah lama banget gak ambil buah langsung dari pohon lagi," kata Alena seneng banget mukanya berseri-seri.
Elio udah lari duluan ambil tangga kecil yang ada di pojokan taman terus dorong-dorong bawa ke situ. "Aku yang naik, aku tinggi kan! Biar aku ambil yang di atas, biasanya yang paling manis tuh yang kena matahari paling banyak kan?"
"Bener juga tuh," kata Mbak Putri sambil senyum. "Nanti aku yang bawa keranjang, terus Nona Al ambil yang di bawah yang gak perlu naik tinggi-tinggi ya."
Mereka mulai kerja. Suasana seru banget. Elio naik tangga, satu tangan pegang batang pohon satu lagi tangan jangkau ambil mangga yang kuning keemasan atau jambu yang merah segar.
"Hati-hati Elio!" teriak Alena dari bawah. "Jangan ambil yang masih hijau, yang udah matang aja! Kalau mangga yang kulitnya agak lunak dikit atau kuning tua itu yang enak."
"IYA KAK TAU!" jawab Elio dari atas sambil ketawa. "Wah ini ada satu yang gede banget, kayaknya juara nih! Lihat nih jatuh!"
Pluk!
Mangga itu jatuh pelan ditangkap Alena tepat di tangan. "Wih gede banget! Wanginya juga udah keluar loh, manis banget baunya."
Terus Elio ambil jambu air, satu-satu dia petik, warnanya merah menyala banget, kelihatan seger banget. "Ini juga banyak banget Kak, merah semua! Kayaknya manis ini, lihat aja bentuknya bulat sempurna."
Mbak Putri ketawa lihat mereka yang antusias banget. "Pelan-pelan ambilnya, jangan sampai jatuh kebawah terus pecah atau memar, nanti gak enak dimakan."
"Siap Mbak!" jawab mereka berdua bareng.
Selama panen itu mereka ngobrol terus.
"Kak dulu pas kecil kita sering main di sini kan?" kata Elio tiba-tiba. "Dulu aku sering naik pohon mangga ini, terus jatuh juga pernah, lupa?"
Alena ketawa inget kejadian itu. "Wah iya dong! Kamu jatuh terus nangis kenceng banget, bikin panik semua orang, pas di cek cuma lututnya lecet doang, tapi nangisnya kayak mau dipotong kaki. Lucu banget."
"Ya namanya juga masih kecil Kak, sakit loh," jawab Elio malu dikit tapi ketawa juga. "Tapi emang enak banget sih makan buah langsung dari pohon, beda rasanya sama yang dibeli di pasar atau di toko."
"Iya beda banget," kata Mbak Putri. "Ini kan ditanam sendiri, dipelihara sendiri, airnya dari sumur sendiri, pupuknya juga alami. Jadi rasanya lebih seger, lebih manis, lebih enak pokoknya. Belum lagi rasanya puas karena ambilnya sendiri, usaha sendiri."
Selang beberapa waktu keranjang udah penuh banget. Ada mangga gede-gede yang kuning manis, ada jambu air merah-merah yang seger banget.
Alena lihat keranjang penuh terus matanya berbinar dapet ide gila tapi enak.
"Eh... Eh... Aku punya ide!" kata Alena antusias.
"Apaan Kak?" tanya Elio.
"Kita bikin RUJAK!" teriak Alena seneng banget. "Bahan ada semua kan? Mangga ada, jambu air ada. Kita bikin rujak yang pedas manis asem gitu, wah pasti enak banget, seger banget dimakan pas pagi begini."
"ASIK BANGET IDENYA!" jawab Elio langsung setuju. "Aku suka rujak! Apalagi kalau pedesnya nampol, manisnya pas, asemnya nyegerin. Pasti mantap lah pakai buah segar begini."
Mbak Putri juga langsung seneng. "Wah itu ide bagus banget Nona! Rujak buah segar, bumbunya kita bikin sendiri, gak pakai yang instan. Pasti rasanya beda jauh, jauh lebih enak. Gas kita pulang sekarang terus langsung bikin!"
Mereka pulang ke dapur dengan semangat empat kali lipat. Mbak Putri siapin cobek, ulekan, terus bumbu-bumbunya: cabai merah keriting, cabai rawit merah yang pedas manis, gula merah yang kualitas bagus, sedikit garam, sedikit terasi bakar biar wangi, terus asam jawa dikit.
Alena cuci bersih semua buah, potong-potong mangga jadi potongan agak gede biar puas makannya, jambu air dipotong juga buang tengahnya. Bau buahnya udah enak banget sebelum dibumbuin.
Terus giliran bikin bumbu. Mbak Putri yang ulek dikit, terus Alena nyoba juga.
"Pelan-pelan uleknya Nona, jangan terlalu halus, agak kasar dikit lebih enak rasanya," kata Mbak Putri ngajarin.
"Siap Mbak!"
Elio cuma duduk di meja dapur ngawasin sambil senyum-senyum. "Wah wanginya udah enak banget loh, campuran cabai sama gula merah sama terasi bakar itu bikin laper aja."
"Kamu cuma bisa lihat doang kan? Gak bantuin?" goda Alena.
"Aku bantuin makan dong! Itu kerjaan paling berat dan paling penting!" jawab Elio pede banget bikin mereka ketawa.
Bumbu udah jadi. Warnanya merah cantik, teksturnya pas, baunya harum banget pedesnya keluar manisnya tercium. Terus bumbu itu dicampur ke dalam potongan buah, diaduk rata sampai semua buah kena bumbu sempurna.
Mata mereka semua terbelalak pas lihat hasilnya. Buah segar berbalut bumbu merah pedas manis itu kelihatan menggoda banget, bikin air liur keluar sendiri.
"AYO COBAIN!" seru Alena.
Mereka ambil masing-masing satu potong. Alena ambil jambu air yang dibalut bumbu, masuk mulut...
DUAR!
Rasanya meledak di mulut. Manisnya buah yang seger banget, dipadu sama pedasnya cabai yang nampol tapi gak nyakitin, manisnya gula merah yang alami, sedikit asem yang nyegerin ditambah wangi terasi bakar...
"MANTAP BANGET!" teriak Alena seneng banget. "Ini enak banget loh! Pedesnya pas, manisnya pas, asemnya pas, seger banget! Mangga manisnya keluar, jambu airnya renyah dan airnya keluar pas digigit. Wah ini juara!"
Elio juga makan lahap, matanya melek terus kepalanya angguk-angguk terus. "BENER BENER! INI PALING ENAK YANG PERNAH AKU MAKAN! Lebih enak dari yang dijual di luar, buahnya seger banget bumbunya juga enak banget. Pedesnya nampol tapi nagih gak berhenti makan."
Mbak Putri seneng banget lihat mereka suka. "Iya kan? Karena bahannya segar semua, bumbunya juga asli, bukan yang instan. Apalagi buahnya baru dipetik pagi ini juga, masih segar banget isinya. Wah beneran enak banget ya hasilnya."
Mereka makan bareng di meja dapur, makan lahap, ketawa-ketiwi, kadang bersaing ambil potongan yang paling gede atau paling banyak bumbunya. Suasana hangat, seru, enak banget.
"Besok kita panen lagi ya?" kata Elio sambil masih kunyah. "Masih banyak buahnya di pohon itu, masih bisa bikin rujak lagi."
"Gak cuma rujak, bisa bikin jus juga, manisan, apa aja," jawab Alena seneng banget. "Ini hari paling seru deh, panen buah terus bikin rujak enak banget. Mantap betul!"
Mereka bertiga terus makan sambil ketawa, menikmati momen sederhana tapi bahagia banget itu. Rujak yang enak, suasana yang seru, ditemenin orang-orang yang disayang... rasanya hidup ini sempurna banget.