Mereka membawa korban itu ke pos medis dengan ban dan tangan, melawan sisa arus yang masih kuat.
Ranu berlutut di lumpur saat tubuh itu diturunkan, dan untuk sesaat tangannya—tangan yang tak pernah gemetar—berhenti di udara.
Ia kenal wajah itu.
Tua, kurus, dengan tahi lalat di pelipis kiri dan bekas luka lama di dagu. Ranu pernah melihat wajah itu di sebuah foto kusam yang ditunjukkan seorang janda kepadanya setahun lalu, di ruang tunggu sebuah rumah sakit, saat perempuan itu menangis bertanya kenapa suaminya tidak diterima di mana pun sampai mati. Ini bukan Pak Darmaji—Pak Darmaji sudah mati. Ini saudaranya. Kakak Pak Darmaji, lelaki tua yang tinggal di bantaran Cibadak, yang malam ini terseret banjir yang sama yang menelan kampungnya.
Dari semua tubuh yang bisa diserahkan air kepadanya malam ini, kota memberinya yang satu ini.
"Ranu," Cempaka memanggil, sudah berlutut di sisi lain pasien. "Fokus. Dia sekarat."
Itu yang menarik Ranu kembali. Bukan ingatan, bukan kebetulan kejam itu—pasien. Selalu pasien. Ia membuang segalanya dari kepalanya dan membaca tubuh di depannya. Tak sadar. Paru-paru penuh air dari hampir tenggelam. Napas tersengal, dangkal, makin pelan. Kulit kelabu. Nadi cepat, tipis, melemah. Tubuh yang sedang menyerah.
"Oksigen," perintah Ranu. "Yang penuh. Semua sisa kita."
Gevira membawa tabung terakhir yang masih punya tekanan layak. Mereka memasang sungkup, membersihkan jalan napas, memiringkan tubuh untuk mengeluarkan air. Cempaka memantau, memompa saat napas korban tersendat. Pelan, sangat pelan, dada lelaki tua itu mulai bergerak sedikit lebih teratur. Tapi ini rapuh—lebih rapuh dari apa pun. Ia butuh lebih dari yang bisa diberikan tenda terpal di tengah banjir. Ia butuh rumah sakit. Sekarang.
"Pak Sulas nggak bisa nyetir, dia masih syok," kata Ranu cepat. "Aku yang bawa. Cempaka di belakang sama pasien. Gevira, jaga pos, kamu sudah bisa. Bu Harni—" ia menekan radio "—cari pintu. Sekarang. Yang mana pun yang paling dekat dan masih buka jalannya."
Mereka memindahkan lelaki tua itu ke Sangkala Satu, menembus jalan yang setengah tergenang menuju tanah yang lebih tinggi. Air masih menutup jalur utama. Pak Sulastomo, dibungkus selimut di kursi penumpang karena menolak ditinggal, menyebutkan rute dari ingatannya yang basah—"lewat punggung Cibadak, naik ke Jalan Gilang, itu nggak kerendam." Ranu mengikuti, tangannya mencengkeram kemudi, di belakang Cempaka memompa oksigen pada tubuh yang berjuang.
Lalu dimulailah putaran itu. Putaran yang Ranu kenal dalam tidurnya.
"Sentana nggak bisa, mereka sendiri kebanjiran di lantai bawah, IGD dipindah," suara Bu Harni di radio. "Aku coba Karyahusada." Jeda panjang yang membakar. "Karyahusada bilang penuh, korban banjir membludak, mereka stop terima sementara." Jeda lagi. "Bunda nggak ada fasilitas buat ini. Aku coba yang lain, tahan dulu, Ranu, tahan."
Satu per satu, lewat radio, pintu-pintu tertutup. Bukan dengan kejahatan, bukan dengan konspirasi—Ranu sudah berhenti mencari musuh berwajah. Hanya dengan kenyataan brutal sebuah kota yang sakit, sistem yang kewalahan, terlalu banyak yang roboh dan terlalu sedikit tempat untuk menampung. Alasan-alasan yang sama yang membunuh Pak Darmaji setahun lalu, kini berbaris lagi untuk kakaknya, malam ini, di brankar ambulans yang sama. Seolah waktu melingkar dan menyeretnya kembali ke titik terburuk hidupnya untuk diuji ulang.
"Oksigen, Ranu," suara Cempaka dari belakang, ditahan. "Tabungnya... tinggal beberapa menit. Ini yang terakhir."
Ranu melirik spion. Tabung itu—sahabat sementara yang selalu mengkhianati di saat terburuk—jarumnya merangkak ke merah. Beberapa menit. Beberapa menit udara untuk seorang lelaki yang paru-parunya tak bisa lagi mengambil sendiri, sementara setiap pintu kota tertutup satu per satu di radio.
Ia tidak akan membiarkan ini terjadi lagi. Tidak untuk yang ini. Tidak untuk keluarga yang sudah pernah ia gagalkan satu kali.
"Bu Harni," Ranu berkata ke radio, suaranya rendah dan rata, suara yang dipakai orang saat semua taruhan sudah dipasang. "Kasih aku satu pintu. Satu saja. Yang mana pun yang masih bisa kucapai sebelum tabung ini habis. Aku nggak peduli penuh, nggak peduli administrasi, nggak peduli apa. Aku akan bawa dia ke sana dan aku nggak akan pergi sampai mereka terima. Bukan kali ini."
Hening di radio. Lalu suara Bu Harni kembali—dan ada sesuatu di dalamnya, sesuatu yang patah dan tegas sekaligus.
"Puskesmas Cibadak Tinggi. Di atas bukit, deket masjid tempat pos kalian tadi. Mereka kecil, mereka bukan rumah sakit, mereka cuma punya satu dokter jaga dan alat seadanya. Tapi mereka satu-satunya yang nggak kerendam dan satu-satunya yang bilang... bilang 'bawa, kami terima, kami usahakan apa pun yang bisa'." Suara Bu Harni bergetar. "Itu pintu terakhirmu, Ranu. Nggak ada yang lain. Belok ke sana atau nggak ke mana-mana."
Satu-satunya pilihan tersisa. Bukan yang terbaik, bukan yang lengkap—tapi yang mau membuka pintu. Kadang, di kota seperti ini, di malam seperti ini, itu satu-satunya yang penting.
"Diterima," kata Ranu, dan ia membanting setir ke arah bukit.
Sangkala Satu menderu naik ke Jalan Gilang yang berkelok, sirene menjerit menembus sisa hujan dan air yang menggenang, lampunya menyapu pepohonan yang basah. Di belakang, Cempaka memompa tabung terakhir, menghitung setiap embusan. Pak Sulastomo, gemetar di sisi Ranu, menggumamkan arah dan doa bergantian. Roda ambulans menyibak genangan, membelok di tikungan tajam, naik dan terus naik menuju satu titik cahaya kecil di puncak bukit—puskesmas mungil yang bilang ya saat seluruh kota bilang tidak.
Lalu, dari balik—di belakang Ranu—monitor jantung tua itu mengubah nadanya. Bunyi yang naik-turun, bunyi yang sepanjang malam berarti masih ada harapan, melambat. Satu denyut. Jeda yang terlalu panjang. Satu denyut lagi.
Lalu menjadi datar.