Sirene itu membangunkan Ranu Anggara sebelum matahari sempat mengerti bahwa hari sudah dimulai. Pukul empat lewat, langit di atas Kota Sangkala masih sewarna abu basah, dan radio di Pos Sangkala berderak dengan suara Bu Harni yang tak pernah kehilangan ketenangannya meski di jam paling sepi.
"Sangkala Satu, ada yang jatuh dari perancah dekat Simpang Arteri Wanaraja. Proyek ruko tiga lantai. Penelepon bilang tidak sadar."
Ranu sudah berdiri sebelum kalimat itu selesai. Ia menyambar tas trauma sambil kakinya mencari sepatu, dan di sebelahnya Cempaka sudah mengikat rambut sambil setengah berlari ke pintu. Mereka tidak perlu banyak bicara. Dua tahun bekerja di kursi kanan dan kiri Ambulans Sangkala Satu mengajari tubuh mereka bahasa yang lebih tua daripada kata.
Jalanan subuh nyaris kosong. Lampu-lampu jalan menggantung seperti bola-bola redup yang lelah, dan sirene mereka memantul di antara toko-toko yang masih menutup mata. Ranu memegang kemudi dengan tenang yang dipaksakan. Ia tahu tenang adalah alat kerja, sama pentingnya dengan collar dan monitor jantung. Panik tidak pernah menyelamatkan siapa pun.
Di simpang, sebuah kerangka bangunan menjulang gelap. Beberapa pekerja mengerumuni sesuatu di dasar perancah, dan seorang mandor melambai-lambaikan senter ponsel seolah cahaya kecil itu bisa mempercepat waktu. Ranu memarkir ambulans miring, membuka pintu, dan udara dingin bercampur bau semen basah menyergap wajahnya.
Korban itu lelaki muda, mungkin dua puluhan, terbaring dengan satu kaki terlipat ganjil. Darah menggenang tipis di bawah kepalanya. Ranu berlutut, menempelkan dua jari di leher.
"Nadi ada. Cepat tapi ada." Ia mendekatkan pipinya ke mulut korban. "Napas juga. Cempaka, collar."
"Sudah." Cempaka sudah menyelipkan penyangga leher, menahan kepala lelaki itu seakan menahan sesuatu yang bisa pecah bila digerakkan salah semilimeter. "Tulang belakang kita amankan dulu. Jatuh dari ketinggian, jangan ambil risiko."
Ranu mengangguk. "Papan spinal."
Mereka bekerja seperti dua tangan dari satu tubuh. Log roll pelan-pelan, papan diselipkan di bawah punggung, tali-tali dikencangkan melintang dada dan pinggul. Ranu memasang sungkup oksigen, memutar kran tabung, dan mendengar desis lembut yang selalu terdengar seperti janji. Monitor jantung dipasang, angka-angka melompat di layar kecil. Tekanan menurun. Ranu tidak menyukai angka itu.
"Namanya siapa?" tanya Ranu pada mandor.
"Sugeng, Pak. Dia manjat perancah mau benerin terpal. Talinya... talinya kami memang kurang." Suara mandor itu tercekat oleh sesuatu yang mirip rasa bersalah.
"Kita bawa sekarang." Ranu dan Cempaka mengangkat brankar, roda-rodanya menggerit di tanah berlumpur. "RS Sentana paling dekat. Lima menit kalau lancar."
Di dalam kabin, Cempaka menahan infus sambil menyebut angka-angka pada Ranu yang kini memegang radio. "Nadi seratus dua puluh. Tekanan sembilan puluh per enam puluh. Turun terus."
Ranu menekan tombol. "Sentana, ini Sangkala Satu. Membawa laki-laki dewasa, jatuh dari ketinggian tiga meter, dugaan cedera kepala dan tulang belakang, tekanan menurun. Minta persiapan trauma. ETA empat menit."
Hening sejenak. Lalu suara petugas menjawab, datar, seakan membaca dari kertas. "Sangkala Satu, mohon tunggu. Kami perlu konfirmasi data pasien dulu. Nama lengkap, nomor identitas, penjamin biaya."
Ranu merasakan sesuatu yang dingin merayap di tengkuknya, sesuatu yang lebih tua daripada pagi ini. "Petugas, pasien tidak sadar. Kami belum punya identitas lengkap. Ini gawat darurat, tekanannya terus turun. Tolong siapkan mejanya dulu, administrasi menyusul."
"Prosedurnya harus ada penjamin sebelum masuk ruang tindakan, Pak. Kalau tidak ada penjamin, kami perlu instruksi dari dokter jaga penerimaan. Beliau sedang dihubungi."
"Hubungi sekarang. Kami sudah di jalan." Ranu melepas tombol radio dan menatap jalanan yang mulai menyempit oleh lampu merah pertama.
Cempaka mengangkat wajah. Ia tidak berkata apa-apa, tapi Ranu tahu ia sedang memikirkan hal yang sama. Empat menit. Kadang empat menit adalah seluruh dunia.
Ambulans membelok ke pelataran RS Sentana. Pintu kaca IGD menyala terang, tapi tidak ada brankar penjemput, tidak ada perawat yang bersiap. Hanya seorang petugas di balik meja penerimaan yang mengangkat tangan, isyarat menahan, ketika Ranu mendorong brankar mendekat.
"Pak, sabar dulu. Dokter penerimaan belum memberi izin. Belum ada kepastian penjamin."
"Ini orang bisa mati sementara Anda mengurus kertas." Suara Ranu tidak meninggi, justru menajam, seperti pisau yang diasah pelan. "Tekanannya delapan puluh. Kepalanya berdarah. Saya paramedis, saya laporkan kondisinya, dan saya minta ruang tindakan."
Petugas itu menelan ludah. "Saya cuma menjalankan aturan, Pak."
Aturan. Kata itu mengendap di dada Ranu seperti batu yang sudah lama ia kenal beratnya. Ia menatap wajah Sugeng di balik sungkup, wajah yang masih muda, yang punya mandor yang menyesali tali yang kurang, yang mungkin punya ibu yang tidak tahu subuh ini anaknya jatuh.
Cempaka menyela dengan tenang yang justru lebih menekan. "Monitor menunjukkan aritmia. Kalau kalian tunda lagi, saya minta nama kalian dicatat untuk laporan. Semuanya."
Entah karena kata "laporan", atau karena akhirnya dokter jaga muncul dari balik tirai dengan langkah tergesa, meja itu bergerak juga. Seorang dokter perempuan melambai. "Bawa masuk. Cepat, ke bed tiga."
Brankar meluncur melewati pintu kaca. Ranu menyerahkan Sugeng, menyebut angka-angka, menyerahkan pula sungkup dan monitor, dan mundur selangkah ketika tangan-tangan lain mengambil alih. Dadanya naik turun. Bukan karena berlari. Karena marah yang tak punya tempat untuk ditumpahkan.
Di pelataran, langit mulai memerah tipis di ujung timur. Cempaka bersandar di pintu ambulans, mengelap tangan dengan lap basah.
"Berapa menit tadi?" tanyanya, tidak benar-benar bertanya.
"Terlalu banyak." Ranu menatap pintu IGD yang kini menelan pasiennya. "Dia hidup. Kali ini."
Cempaka memandangnya, membaca sesuatu yang tak diucapkan. "Kali ini," ulangnya pelan.
Ranu naik ke kursi kemudi. Ia mencatat waktu di run sheet dengan tangan yang stabil, angka demi angka, jam berapa mereka tiba, jam berapa pintu itu akhirnya terbuka. Selisih di antara keduanya terasa seperti luka kecil yang ia sengaja biarkan tercatat. Ia belum tahu untuk apa. Tapi ia tahu, entah bagaimana, bahwa selisih itu akan menuntut jawaban suatu hari.
Sirene dimatikan. Radio berderak lagi. Kota Sangkala mulai bangun, dan pagi baru saja dimulai.