Pagi merangkak masuk ke Pos Sangkala lewat celah jendela yang catnya sudah mengelupas, jatuh sebagai garis kuning tipis di lantai semen. Ranu meletakkan tas trauma di sudut, masih dengan bau subuh melekat di seragamnya—campuran keringat, debu perancah, dan disinfektan murahan. Panggilan pertama tadi menyisakan pegal di bahunya, tempat ia menahan papan spinal si pekerja bangunan selama tiga puluh menit di depan pintu RS Sentana yang seakan sengaja memperlambat langkah.
Cempaka melempar diri ke kursi plastik, menyeruput kopi yang sudah dingin. "Kalau tiap subuh begini, aku pensiun sebelum ujian keperawatanku keluar," katanya, setengah bercanda, setengah tidak. Ranu tak menjawab. Ia hanya menuang air ke gelasnya sendiri dan membiarkan diam mengisi ruang, seperti biasa.
Bu Harni duduk di meja dispatch, punggungnya bungkuk di depan buku log yang tebalnya seperti kitab. Radio berderak pelan di sisinya, mengeja kode-kode wilayah dengan suara serak petugas lain. Perempuan itu sudah dua puluh tahun menjaga meja ini; jari-jarinya hafal tiap kolom tanpa perlu melihat. Ia sedang menyelaraskan catatan pekan lalu—pekerjaan yang tak disukai siapa pun, membandingkan jam panggilan masuk dengan jam ambulans tiba, mencari selisih yang harus dijelaskan ke atas.
"Ranu," panggilnya, tanpa mengangkat kepala. "Kemari sebentar. Kau ingat panggilan Selasa lalu? Yang malam."
Ranu mendekat, menyandarkan pinggul ke tepi meja. Bu Harni menunjuk sebaris tulisan tangannya sendiri, tinta biru yang mulai pudar. Jam masuk: 21.14. Jam berangkat: 21.52. Jam tiba: 22.40. Di kolom keterangan, tulisan pendek: unit jauh, macet, sesak napas—stabil saat serah terima.
"Selisih hampir sembilan puluh menit dari masuk sampai tiba," kata Bu Harni. "Aku tak suka angka ini. Terlalu lama. Waktu itu kita cuma punya satu unit yang bebas, dan dia ada di ujung utara." Ia menghela napas. "Aku mau mencatat alasannya lengkap sebelum Pak Damar minta laporan bulanan. Biar kalau ditanya, ada jawabannya."
Ranu mengangguk, matanya menelusuri baris itu dengan setengah perhatian. Angka-angka semacam ini melintas ratusan kali dalam kepalanya. Selisih waktu adalah bahasa yang ia mengerti, kadang terlalu baik. Ia hendak mengembalikan buku itu ketika matanya turun satu baris, ke kolom yang belum sempat dibaca Bu Harni keras-keras.
Alamat pemanggil: Gang Kenanga Tiga, RW 4, Tambaksari.
Sesuatu di dadanya mengencang, seperti collar yang dikancingkan terlalu rapat di leher orang lain. Ruangan tidak berubah—radio tetap berderak, Cempaka tetap menyeruput kopinya—tetapi bagi Ranu udara mendadak menipis. Nama gang itu tercetak di kertas dengan tinta biasa, sama seperti puluhan alamat lain, dan justru kebiasaannya yang membuatnya kejam. Gang Kenanga Tiga. Ia tahu belokannya, tahu selokan yang selalu tersumbat di mulut gang, tahu betapa sempitnya jalan itu hingga brankar harus dimiringkan untuk lewat.
Dua tahun. Ia mengira jarak itu sudah cukup jauh.
"Ranu?" Suara Bu Harni terdengar dari kejauhan, meski perempuan itu hanya sejengkal darinya. "Kau kenapa?"
"Tidak apa-apa." Suaranya keluar datar, terlatih. Ia melepaskan tangannya dari tepi buku, sadar jemarinya sempat menekan halaman itu sampai memutih. "Cuma... gang itu memang susah dijangkau. Selokannya jebol, jalannya sempit. Wajar kalau lama."
Ia mengucapkannya seakan menjelaskan geografi, bukan luka. Tapi Bu Harni mengangkat kepala sekarang, dan pandangan perempuan tua itu—yang sudah dua puluh tahun membaca wajah orang di ujung radio—menetap sejenak di wajah Ranu. Bu Harni tak berkata apa-apa soal itu. Ia hanya menutup pena, pelan, seakan tak ingin membuat suara.
"Pasiennya sesak napas," kata Bu Harni akhirnya, hati-hati. "Perempuan. Bertahan. Sampai tiba masih bisa bicara." Ia berhenti. "Kali ini bukan yang buruk, Ranu."
Kali ini. Kata itu menggantung di antara mereka, tak terucap penuh, tapi keduanya tahu ke mana ia menunjuk. Ranu merasakan panas naik ke belakang matanya dan menekannya kembali dengan cara yang sudah ia kuasai bertahun-tahun—menahan napas satu hitungan, melepaskannya perlahan, seperti mengajari pasien panik agar tenang. Wira. Nama itu tidak diucapkan siapa pun di ruangan ini, tapi ia berdiri di sana, di belokan sempit Gang Kenanga Tiga, di sembilan puluh menit yang lewat, di garis biru pudar pada buku log.
"Sembilan puluh menit," ulang Ranu, lebih kepada dirinya sendiri. "Kalau bukan cuma sesak. Kalau jantung. Kalau ada yang menunggu di gang itu sekarang—"
"Ranu." Cempaka sudah berdiri, gelas kopinya ditaruh. Ia tidak tahu apa yang barusan terjadi, tapi ia mengenali nada partnernya, dan nada itu tidak pernah membawa kabar baik. "Pasiennya selamat. Sudah lewat."
"Aku tahu." Ranu menarik diri dari meja. "Aku cuma bertanya, kalau lain kali bukan sesak. Kalau lain kali kita telat lagi ke sana."
Tak ada yang menjawab. Bu Harni menutup buku log dan meletakkan telapak tangannya di atas sampulnya, seakan melindungi sesuatu yang lebih dari kertas. Radio berderak lagi, mengeja wilayah lain, panggilan orang lain.
Ranu kembali ke sudut, ke tas traumanya, dan mulai memeriksa isinya satu per satu meski ia sudah memeriksanya semalam—sungkup oksigen, selang, collar ukuran anak dan dewasa, plester. Tangannya bergerak sendiri sementara pikirannya jauh, di gang yang berbau tanah basah dan sabun cuci, di brankar yang harus dimiringkan, di monitor yang pernah menampilkan garis yang tak mau ia ingat.
Alamat itu hanya sebaris di antara ribuan baris. Namun sepanjang pagi itu, sementara sinar kuning bergeser menyeberangi lantai semen, Ranu tak bisa berhenti memikirkan berapa banyak nama lain yang tak sempat masuk ke dalam buku Bu Harni sama sekali—yang selesai sebelum ada yang sempat mencatatnya.